
Setelah pertemuanku dengan Mas Hilman waktu itu aku menjadi merasa lega. sudah tidak memiliki lagi beban pikiran di dalam hati ini. Sangat lega sekali rasanya. Kini aku menjalani hidupku dengan santai bersama dengan suami dan juga putraku.
Usia kehamilanku kini semakin bertambah, semakin membulat juga perut ini. Aku dan Arga seakan tidak ada bedanya. Dia dan aku sama-sama suka makan sehingga kini berat badan kami juga naik dengan pesat.
Saat ada pergerakan di dalam perutku aku merasakan linu, anak yang sangat aktif sekali. Akan tetapi, tidak membuat aku mengeluh. Justru ini adalah sakit yang membawa nikmat. Nikmat apa lagi yang kau dustakan? Disaat lebih 7 tahun aku menunggu kehadiran seorang anak, kini aku akan menjalaninya dengan tanpa mengeluh.
Duduk bersama dengan Arga di taman belakang rumah, Gara tengah bermain dengan ikan-ikannya yang sudah semakin banyak. Anak itu terlihat sangat bahagia sekali memberi makan ikan-ikannya yang besar dan juga kecil. Aku bersandar pada pilar besar yang ada di sana, kaki aku selonjorkan tengah Arga pijat. Rasanya sangat nyaman sekali.
"Kaki kamu kok makin bengkak, ya?" tanya Arga masih mengusap kakiku dengan kayu putih.
"Namanya juga ibu hamil ya wajarlah kalau kakinya bengkak," jawabku seperti apa yang kata dokter katakan kemarin.
"Sakit apa tidak?"
"Kalau sakit nggak, cuma agak pegal aja," jawabku lagi.
Kedua kaki dia urut dengan bergantian. Dia melakukannya dengan sangat lembut sekali. Aku menikmati pijatannya sambil memperhatikan Gara yang kini mencelupkan tangannya ke dalam air.
"Pa, kapan kita akan belanja kebutuhan bayi?" tanyaku padanya.
"Dengan kondisi yang seperti ini apa kamu bisa belanja?" Dia balik bertanya.
"Kalau hanya sebentar saja bisa. Kenapa tidak bisa?" tanyaku.
"Ya aku takut saja kalau kamu tambah sakit kakinya. Nanti biar saja bibi yang mencarikan pakaian untuk bayi kita."
"Jangan lah. Aku nggak mau merepotkan bibi. Sudah terlalu banyak bibi aku repotkan."
"Memangnya kenapa? Toh, bibi juga tidak masalah kalau direpotkan. Kan dia juga senang akan mendapatkan cucu dari kita," ucapnya sambil tersenyum.
"Ya sebenarnya bukan cuma itu saja sih. Aku juga kan pengen belanja sendiri." Aku merengut. Sepertinya sangat seru jika belanja kebutuhan bayi.
"Oke deh kalau begitu. Besok saja ya, tunggu kaki kamu agar baikan dulu," ucapnya. Aku mengangguk dengan bersemangat seraya tersenyum kepadanya.
Keesokan harinya kami pergi lagi ke mall. Arga sudah tidak lagi mempermasalahkan jika aku akan bertemu dengan Mas Hilman kembali. Bagi kami masalah yang terdahulu itu sudah selesai dan tidak akan kami ungkit lagi.
Siang ini dia tidak kelihatan saat kami melewati tempat di mana aku bertemu dengannya kemarin. Kami bertiga berjalan ke dalam mall dan mencari toko pakaian bayi. Memilih dan memilah baju yang ada di sana. Segala sesuatunya yang akan dipakai oleh calon anak kami.
"Mama nanti Dede bayinya cewek atau cowok sih?" tanya Gara kepadaku sambil menatap dua pakaian bayi di tangannya. Berwarna biru dan juga pink.
"Tidak tahu," ucapkan.
"Kok bisa nggak tahu?" Gara terlihat bingung. "Tapi teman Abang kok bisa tahu ya kalau adiknya cewek padahal masih ada di perut ibunya?" Kalimat itu seakan menjadi kalimat tanya kepada kami.
"Ya mungkin saja ibunya sudah periksa kalau bayi yang ada di perut itu laki-laki atau perempuan," terangku.
"Loh, kan Mama juga periksa ke dokter setiap bulan? Berarti harusnya Mama juga tahu dong kalau Dede bayi yang ada di perut itu perempuan atau laki-laki?"
Aku menatap Arga, sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan dari anak pintar ini. "Iya itu kan karena ibunya cari tahu dan tanya sama dokter. Kalau mama Ayu kan tidak," jawab Arga. Matanya bergerak-gerak seakan sedang mencari jawaban yang lainnya.
"Terus kenapa Mama tidak cari tahu? Kan kalau sudah cari tahu tidak akan bingung untuk memilih baju bayi." Gara masih menatap pakaian bayi yang ada di tangannya, sepertinya dia masih bingung akan memberikan warna apa untuk adiknya nanti.
__ADS_1
"Mama lupa nggak tanya." Aku menjawabnya begitu saja. Berharap jika memberikan jawaban seperti itu dia tidak akan bertanya lagi. Pasalnya aku sedikit pusing jika menjawab pertanyaan dari Gara.
"Huh, kenapa juga mama tidak bertanya? Coba kalau ditanyain sama ibu dokternya kan Abang nggak akan pusing cari warna buat dede," ungkapnya sedikit kesal. Dia menyimpan baju itu ke dalam keranjang yang dia bawa sendiri. Arga membebaskannya untuk mengambil apapun yang dia mau untuk adiknya nanti.
"Papa juga kenapa nggak ingetin mama?" tanya anak itu sambil menatap ayahnya dengan tajam. Arga dan aku saling berpandangan, terlalu pintar anak ini berbicara sampai kami tidak bisa menjawabnya lagi.
"Ya kalau begitu Abang carikan saja warna yang bisa masuk ke cewek atau ke cowok." Arga kini berbicara sambil menunjuk warna-warna yang ada di hadapannya.
"Kalau cewek masa dikasih warna biru? Kalau beli pink nanti dedeknya cowok gimana?" tanya anak itu kembali bingung.
"Abang, pilih yang mana saja juga bisa kok. Lagian kalau cewek pakai biru atau cowok pakai pink juga tetap lucu kan? Kan masih bayi," ucapku berharap dia menerima perkataanku barusan.
Gara terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya dia memutuskan untuk mengambil warna yang lain.
"Hijau sama kuning aja deh, biar netral," ucapnya yang membuat aku dan Arga saling berpandangan satu sama lain. Dari mana anak ini mengetahui kata netral?
Aku memilih yang lain, yang sekiranya sangat dibutuhkan jika nanti anak kami lahir. Pakaian, celana, sarung tangan, sarung kaki, dan juga topi, juga gendongan. Sedangkan harga di sebelah sana sedang melihat-lihat kereta dorong berwarna hitam. Sebenarnya aku tidak terlalu suka dengan adanya kereta dorong, aku lebih ingin menggendong anakku. Bukankah jika seorang bayi di dalam dekapan akan lebih nyaman?
Aku mendekati Arga, dia masih terlihat bingung dengan barang yang dipilihnya.
"Navy atau hitam?" tanyanya kepadaku.
"Kalau nggak beli bagaimana? Lagian beli yang kayak gini juga dipakainya kan nggak lama. Nanti sayang kalau harus disimpan di gudang," ucapku kepadanya.
"Ya nggak apa-apa lah. Ini juga biar kamu nggak capek kalau gendong dia. Kira-kira yang mana yang cocok Nevi atau hitam?" Tunjuknya lagi.
Aku terdiam ikut merasa bingung. Sebenarnya warna apapun tidak masalah, sama-sama gelap juga.
"Oke deh, ambil yang warna hitam saja." Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil warna hitam itu. Aku tidak bisa lagi melarang. Takut juga jika dia kecewa karena tidak boleh.
Barang belanjaan telah banyak kami dapatkan. Kami memutuskan untuk menghentikan pencarian kami. Bingung juga bagaimana nanti kami akan membawanya ke bawah karena Arga tidak membawa sopir ke sini.
Kali ini aku langsung ikut ke basement, karena jujur saja kaki ini rasanya sangat sakit sekali dibawa berjalan tadi di atas. Hanya satu toko yang kami datangi karena menurutku di sana sudah cukup lengkap dan tersedia segala apa yang aku butuhkan.
Sampai di depan mall, melewati parkiran yang biasanya aku lihat, di sana sedang berkumpul banyak orang entah sedang berkumpul apa. Akan tetapi, satu orang yang aku rasanya kenal kini sedang dilemparkan ke lantai aspal oleh seseorang yang berbadan kekar. Beberapa orang yang ada di sana menyingkir karena takut terkena pukulan sepertinya.
"Pa, berhenti!" seruku saat aku yakin dia adalah orang yang kenal, apalagi dengan seragam khas nya yang berwarna oranye.
"Ada apa?" tanya Arga kini menghentikan laju kendaraannya refleks, untung saja tidak ada kendaraan di belakang kami.
"Itu ... Itu Mas Hilman, kan?" tanyaku padanya. Arga mencoba melihat ke kerumunan tersebut. Aku melihat di sana dia si berbaju oranye sedang dipukuli beberapa kali, tidak ada perlawanan darinya.
Aku membuka sabuk pengaman, dan hampir turun. "Jangan turun. Biar aku saja yang ke sana," ucapnya lalu menggerakkan mobil ini ke tepian dan kemudian pergi ke arah kerumunan orang tersebut.
Aku menurut saja, mengingat bagaimana keadaan diriku sekarang ini dan juga ada Gara di kursi belakang. Arga telah sampai di sana, aku memperhatikannya dengan dada yang berdebar.
"Ada apa sih, Ma?" tanya Gara padaku.
"Tidak tahu."
"Terus Papa kenapa ke sana?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Aku hanya diam, tidak menjawabnya, hanya berdoa semoga saja tidak ada hal yang gawat yang terjadi pada suamiku atau pada Mas Hilman.
Aku terus memperhatikan. Doa tidak henti aku lantunkan di bibir ini. Tak lama, kerumunan itu perlahan menguar. Semakin hilang orang yang ada di sana, dan hanya menyisakan beberapa orang saja dengan laki-laki yang tadi kini duduk di lantai mall bersandar pada pilar.
Aku memperhatikan, beberapa orang yang ada di sana kini adalah orang yang tadi menghajar Mas Hilman. Sebenarnya ada apa dengan dia? Siapa mereka?
"Abang tunggu di sini sebentar, ya?" pintaku pada Gara. Beruntung sekali Gara adalah anak penurut dan bersedia menunggu di sini. Tak lupa aku mencabut kunci mobil yang masih menempel di tempatnya. Antisipasi saja karena tidak ingin ada hal yang buruk terjadi.
"Saya akan transferkan. Berapa banyak uang yang dia pakai dari kalian?" Sekilas aku mendengar suamiku mengucapkan hal itu saat aku mendekati mereka.
Ada apa ini? Tentunya sesuatu dengan uang, apakah Mas Hilman sedang berurusan dengan rentenir?
"Banyak sekali, apa Bapak sanggup membayarnya?" tanya laki-laki dengan tubuh tegap berpakaian ala preman. Potongan rambutnya sangar bagai tentara atau polisi.
"Saya tanya, berapa banyak yang dia pakai?" tanya Arga sekali lagi.
"Tiga puluh juta."
"Hutangnya tidak sebanyak itu. Kalian gila, ya? Hanya sepuluh juta, kenapa bisa jadi banyak seperti itu?" teriak Mas Hilman tidak terima. Laki-laki tinggi besar itu mendekat pada Mas Hilman dan hampir meraih kerah bajunya. Akan tetapi, Arga menahan laju tangan laki-laki itu dan menyingkirkannya.
"Sepuluh juta itu hanya pinjaman, belum termasuk bunga!" Laki-laki itu berteriak tak kalah kerasnya sehingga mengundang beberapa orang pengunjung kini kembali diam untuk menyaksikan. Aku mendekat pada Mas Hilman dan melihat luka memar dan juga berdarah pada keningnya. Kasihan sekali dia.
Aku mengeluarkan sapu tangan yang aku punya dan memberikannya pada Mas Hilman, menunjuk luka berdarah yang ada di keningnya agar dia menekan luka itu yang masih mengeluarkan darah.
"Hanya tiga puluh juta, kan? Apa kalian tidak punya hati menagih dengan cara yang seperti ini? Kalian bisa saja menghilangkan nyawa orang lain!" ucap Arga menunjuk laki-laki besar tersebut dengan tanpa takut. Jika dibandingkan dengan dua laki-laki yang kini berdiri dengan muka seram, tentu Arga bukan tandingan mereka.
"Saya menagih Pak. Dia punya hutang, tentu saya harus menagihnya. Dia sudah terlambat dari waktu yang kami berikan," ucap laki-laki itu.
"Iya, tagih lah dengan cara yang baik, tapi jangan dengan kekerasan seperti ini."
"Kalau tidak dengan kekerasan dia tidak akan membayarnya. Lihat saja dia, saya sudah kasih peringatan beberapa minggu yang lalu, tapi dia tidak menggubrisnya sama sekali."
Mas Hilman terlihat emosi kini, dia berdiri dan menunjuk dengan lantang kepada dua laki-laki yang tadi telah menghajarnya. "Bukan aku yang meminjamnya! Kenapa kalian tidak tagih saja kepada orang yang bersangkutan, hah!" teriak Mas Hilman yang kemudian menyulut emosi kedua orang itu kembali.
"Tapi kamu adalah adiknya, kami tidak mau tahu, uang telah dia pakai dan kamu harus kembalikan tepat waktu, atau kalau tidak kamu harus terima kalau hutang itu akan terus membesar jumlahnya!" teriak laki-laki itu membalas Mas Hilman.
"Kalian cari saja kakakku. Jangan ganggu hidup aku, brengs*k!" racau Mas Hilman kasar.
Aku jadi paham, ternyata masalah uang ini bukan Mas Hilman yang meminjamnya.
"Aku akan bayarkan!" teriak Arga dengan lantang membuat suasana menjadi tenang seketika.
"Sudah aku bilang aku yang akan bayarkan." Arga kini mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada salah satu laki-laki itu.
"Datang ke kantorku, besok selesaikan di sana," ucap Arga lagi dengan emosi. Laki-laki dengan badan besar itu kini mengambil kartu yang ada di tangan Arga dan membaca tulisan yang ada di sana.
"Apa ini asli?" tanyanya tidak percaya.
"Suruh saja bosmu yang datang dan pastikan. Sekarang pergi dari sini. jangan ganggu dia lagi karena urusan kalian sekarang sama aku!" teriak Arga dengan lantang. Aku tersenyum bangga. Suamiku, lelaki ku, berani maju untuk membela laki-laki yang pernah menjadi suamiku dulu. Dalam diam aku mengusap air mata yang menetes. Bangga dan bahagia sekali rasanya.
"Kami akan pastikan, kalau ini hanya penipuan, awas saja. Laki-laki ini akan masuk ke dalam berita penemuan jenazah lusa!" teriaknya dengan ancaman. Dua laki-laki itu kemudian pergi setelah membuang ludahnya ke lantai.
__ADS_1
Astaghfirullah. Ya Allah, lindungilah kami dari orang-orang yang jahat.