Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
77. Izinkan Saya ....


__ADS_3

"Sinta yang sopan kalau makan! Mbak Ayu juga belum makan itu kok kamu yang makan terus!" tegur sang ibu ketika Sinta mengambil potongan brownies kedua.


"Hehe, enak, Bu!" seru sang putri.


"Gak pa-pa, Budhe. Ada rezeki ya dinikmati. Jangan disia-siakan."


"Tapi ya gak sopan juga. Orang lain sedang tegang dia malah enak-enakan makan!" cerca Yu Tarni menunjuk anak perempuan satu-satunya itu.


"Ibu kan tau, Sinta kalau panik dan tegang ya makan biar gak tegang lagi!" seru Sinta tampak tak peduli. Dia menghabiskan potongan kue itu ke dalam mulutnya. Yu Tarni tetap tidak terima dengan kelakuan anaknya sedangkan Pak Handoyo hanya diam sambil menggelengkan kepala mendengar debat anak dan istrinya.


Hampir menunggu satu jam dan aku sudah mulai panik. Lampu di atas pintu itu tidak kunjung juga padam. Pak Handoyo yang tadinya akan pulang untuk memeriksa anak-anak yang lain mengurungkan niatnya karena khawatir dengan keadaan Ibu.


"Budhe, ada apa ya? Ini sudah lebih dari tiga jam kok operasi belum selesai juga?" tanyaku pada Yu Tarni. Rasa khawatir semakin mengganggu relung hati.


Semua yang ada disini juga sama, terlihat tegang dan juga khawatir di wajahnya.


"Tenang ya, Yu. Kita doa saja, semoga Ibu kamu baik-baik saja," ucap Yu Tarni menenangkan ku. Aku terpaksa mengangguk karena tidak mau menambah kekhawatirannya.


Kami msih menunggu dan menunggu dengan cemas. Yu Tarni pun kini sama, tapi berusaha untuk tidak memperlihatkannya kepadaku. Sinta sudah pulang karena disuruh sang ayah untuk memantau keadaan adiknya, takut jika tidak ada orang di rumah mereka malah belum pulang menjelang malam begini.


Rasa takut jelas ada dan sangat besar kurasakan. Ini termasuk operasi besar dan juga rawan, Dokter Hendra sudah mengatakan resiko jika sesuatu yang buruk terjadi. Semoga saja semua berjalan dengan lancar.


"Alhamdulillah!" Yu Tarni berseru mengagetkanku. Seketika aku menoleh ke arahnya dengan bingung, tapi Yu Tarni menatap pintu ruangan itu. Lampu sudah padam, artinya operasi sudah selesai. Rasa senang tapi juga takut bercampur menjadi satu, menunggu pintu itu terbuka.


Aku menunggu dengan jantung yang berdebar, tak sabar hingga berdiri di depan pintu itu bersama dengan Yu Tarni.


Pintu terbuka. Dokter Hendra keluar dari dalam sana. Dia membuka masker yang menutupi wajahnya.


"Dokter bagaimana keadaan Ibu?Apakah semua baik-baik saja? Tidak ada masalah, kan?" tanyaku memberondong pertanyaan pada Dokter Hendra.


Dokter Hendra tersenyum. "Alhamdulillah, semua baik-baik saja, Mbak Ayu. Meski tadi ada sedikit kendala karena jantung Bu Diah kumat, tapi semua baik-baik saja," ucap Dokter Hendra padaku.


Aku dan Yu Tani mengucap syukur atas suksesnya operasi ini. kami saling berpelukan saking senangnya.

__ADS_1


"Kami akan memindahkan Bu Diah sebentar lagi ke ruang ICU. Masih ada beberapa persiapan yang kami lakukan di dalam sana. Saya permisi, Mbak Ayu." Pamit Dokter Hendra terhadapku. Aku mengangguk mempersilahkan dokter untuk kembali ke dalam ruangan itu.


Ibu kini telah dipindahkan ke ruang ICU, sebelum Ibu siuman Ibu akan menjadi penghuni di ruangan ini. Tentunya Dokter dan perawat akan rutin mengecek keadaan Ibu setiap lima belas menit sekali.


Yu Tarni memutuskan untuk menginap disini, sementara suaminya memilih pulang karena khawatir dengan kedua anak lelakinya yang masih kecil. Kami tidur di ruang tunggu. Tidak nyaman, tapi apalah daya, ini bukan hotel. Perawat dengan baik hati memberikan selimut tambahan untuk Yu Tarni. Kini wanita paruh baya yang usianya di bawah Ibu sudah terlelap dengan tas yang menjadi alas kepalanya.


Aku tidak bisa tidur, sesekali mengecek keadaan Ibu dari luar jendela. Memastikan jika Ibu bisa saja sadar sewaktu-waktu.


Suasana di rumah sakit ini sudah sepi. Hanya sesekali perawat yang datang untuk mengecek keadaan Ibu. Beruntung ruang ada fasilitas ruang tunggu ini hingga kami tidak perlu tidur di lorong rumah sakit yang gelap.


Pintu ruangan terbuka. Suara langkah kaki terdengar mendekat, terdengar berat. Aku mengalihkan pandanganku karena penasaran dengan siapa yang datang karena perawat baru saja keluar dari ruangan ini.


Doker Wira mendekat dengan senyuman tersungging di bibirnya.


"Mbak Ayu belum tidur?" tanya Dokter Wira padaku.


"Belum, Dokter." Aku menggeserkan tubuh, memberikan tempat untuk Dokter Wira duduk.


"Ini. Saya belikan kopi." Satu botol plastik kopi merk ternama dia berikan kepadaku.


"Eh iya, tentu saja boleh. Tapi kenapa dokter tidak pulang? Bukankah harusnya dokter pulang ke rumah?" tanyaku padanya.


"Saya ingin memantau keadaan Bu Diah sampai sadar. Takut terjadi sesuatu dengan jantungnya."


"Oh, terima kasih banyak dokter sudah perhatian dengan Ibu saya," ucapku padanya.


"Sebenarnya tadi di dalam sana sempat terjadi hal yang tidak diinginkan, tapi Alhamdulillah kondisi Ibu Diah cukup stabil dan operasi bisa diselesaikan meskipun jamnya menjadi mundur," terangnya.


"Iya, dokter. Saya tadi sempat panik, takut terjadi sesuatu. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak kepada semua dokter yang telah menangani Ibu Saya."


Kami terdiam setelah itu. Suasana malam yang sepi, hanya sesekali terdengar suara roda bergesekan di luar sana.


"Bagaimana proses perceraian Mbak Ayu? Apakah sudah di mulai?" tanya Dokter Wira.

__ADS_1


"Belum. Dua hari lagi sidang itu dilaksanakan," jawabku. Jujur aku bingung sekarang ini. Bagiamana aku akan menjaga Ibu kalau aku juga harus sidang lusa?


"Dokter apakah ada kemungkinan Ibu akan pulih dengan cepat?" tanyaku.


"Aku pasti akan sibuk beberapa hari ke depan dan takut kalau tidak bisa dengan segera kembali ke rumah sakit."


Ah ya ampun, kenapa terdengar seperti aku sedang mengeluh?


"Dokter Hendra sudah menjelaskan bukan? tergantung keadaan pasien. Pasien akan dipantau tiga sampai sekitar lima belas hari di rumah sakit."


"Aku khawatir dengan keadaan Ibu, tapi aku juga tidak bisa terus menjaga Ibu karena aku harus menguruskan sidang itu dengan segera."


"Tidak apa-apa. Mbak Ayu fokus saja dengan urusan Mbak Ayu. Biar disini Ibu Diah saya yang jaga."


"Ah, saya sudah banyak merepotkan Dokter." ucapku dengan tak enak hati.


"Tidak apa-apa. lagipula Ibu Diah masih tanggung jawab saya. Saya tidak masalah."


"Terima kasih."


Kami kembali lagi terdiam.


"Mbak Ayu,"' panggilnya.


"Iya?"


"Setelah perceraian Mbak Ayu nanti ... saya ...." Dokter Wira menghentikan ucapannya sejenak. Terlihat dia membuang wajahnya ketika aku menatapnya. Meski sinar di ruangan ini temaram, tapi aku bisa melihat wajahnya yang bersemu malu.


"Izinkan saya untuk bisa dekat dengan Mbak Ayu."


****


mampir sini, ya

__ADS_1



__ADS_2