
Sibuk memilih pakaian untukku sedangkan Risma sedang mencoba pakaian di ruang ganti. Ku lihat ada sepatu kecil di bawah gantungan pakaian yang banyak. Aku penasaran dengan sepatu kecil di bawah sana.
Ku sibakkan baju-baju itu dan terkejut karena melihat ada seorang anak laki-laki di antara baju-baju itu. Wajahnya dia tutupi hingga tak jelas aku melihatnya.
"Dek?" Aku menyentuh bahunya yang kecil. Dia malah tertawa dengan tawa anak kecil yang khas. Menggoyangkan bahunya dengan cepat hingga tanganku terlepas darinya.
Dia bukannya menangis, tapi malah tertawa riang seperti itu. Apakah dia sedang bermain petak umpet?
Aku mengedarkan pandangan ke semua arah, tak ada seorangpun yang mencari anak ini.
Aku berjongkok dan sekali lagi memegang bahunya, mecoba menarik tubuh kecil itu hingga berhadapan denganku.
"Kamu sedang apa disini? Kamu dengan siapa? Mana ayah dan Ibu kamu?" tanyaku. Dia memutar tubuh kecilnya, kedua telapak tangannya masih menutupi wajah. Perlahan jari-jari tangannya merenggang sedikit hingga aku bisa melihat mata bulatnya.
"Tante!!" serunya berteriak lalu memelukku. Sontak aku terkejut hampir terjatuh menerima tubrukan dari tubuh kecilnya itu. Untung saja aku bisa menahan diriku meski pergelangan tangan ini terasa sedikit sakit akibat menapak di lantai dengan kasar.
"Aku kangen Tante!"
Eh, siapa ini? Tiba-tiba saja panggil tante dan memeluk serta bilang kangen?
"Aku seneng ketemu Tante!" serunya di belakang kepalaku. Tangannya yang kecil memelukku erat hingga mencekikku.
"Aduh, ini ... maaf, Dek. Tante kecekik ini!" Aku sampai terbatuk karena dia memeluk serta melompat-lompat hingga membuat sesak dan sakit di leher.
"Maaf," ucapnya. Anak kecil itu menarik drinya dan tersenyum kecil. Aku hanya melongo menatap wajahnya yang tampan. Tak menyangka akan bertemu dengan dia di sini.
"Ga-Gara! Kamu ... kamu sedang apa di sini?" tanyaku padanya.
__ADS_1
Aku segera berdiri untuk mencari pengasuhnya. Siapa tahu Nira, itu nama yang aku ingat, sedang mencari Gara di sini.
"Kamu sedang apa? Mana Tante Nira?" tanyaku khawatir. Kini menatap ke arah anak yang sedang menggoyang-goyangkan lenganku. Dia hanya tersenyum ke arahku dan kini menggelengkan kepalanya.
"Sedang petak umpet!" jawabnya riang.
"Aduh, main petak umpet di sini bahaya, Gara! Mana Tante Nira?" tanyaku lagi. Kepalanya menggeleng lagi dengan cepat hingga poninya bergerak-gerak.
"Garrlla gak datang sama Tante. Sama Papa!" Tunjuk Gara ke arah luar. Seketika aku melihat ke arah yang dimaksud Gara, tapi tak ada seorangpun yang datang mendekat ke arah kami.
Aku berjongkok lagi, menyetarakan tinggi dengan anak usia empat tahun ini.
"Mana Papa? Gak ada? Terus, kamu kenapa main petak umpet di sini? Itu bahaya, Gara! Bagaimana kalau Papa mencari kamu? Papa pasti akan sedih," ucapku padanya. Gara menundukkan kepala. Bibirnya sedikit maju dan sedikit bergerak, wajahnya hampir memerah. Duh, apa aku salah bicara hingga membuat dia hampir menangis? Aku sangat khawatir dengan dia yang seorang diri di sini.
Segera aku memeluk dia dan menggendongnya.
"Terus? Papa dimana sekarang?" tanyaku lagi. Dia menggelengkan kepalanya. Aku mengedarkan pandanganku lagi, siapa tahu ada yang datang untuk mencari anak ini.
"Mbak aku sudah selesai. Eh ini anak siapa?" Risma datang ke arahku dengan memakai baju yang tadi dia coba, sangat pas menurutku di tubuhnya yang kecil. Gaun panjang di bawah lutut, berwarna biru langit, tanpa lengan dan berenda di depan dada sangat indah dia pakai.
"Eh, ini Mbak juga gak tau, tapi Mbak pernah ketemu dia sih sekali dulu." terangku pada Risma. Dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Tampannya!" seru Risma menjawil pipi tembam Gara dengan gemas. Gara yang tak terima perlakuan dari orang yang asing darinya menepis tangan Risma dari wajahnya.
"Kamu sama siapa Dek kesini?" Risma sama bertanya sepertiku tadi, tapi Gara malah berbalik arah dan memelukku dengan erat, lagi-lagi mencekik leherku.
Aku meminta Risma untuk cepat memilih baju yang akan dia beli. Dia bilang cukup dengan baju yang baru saja dia coba, dia suka dengan yang aku pilihkan barusan.
__ADS_1
Kami keluar dari toko baju itu dan berjalan ke arah sekuriti yang berjaga di dekat sana, untuk menanyakan tempat pusat informasi. Untuk saat ini sangat tepat jika membuat pengumuman atas hilangnya Gara.
Kami diantar oleh sekuriti menuju ruang informasi dan setelah aku menyebutkan nama Gara, petugas segera menginfokan kepada para pengunjung mall dari pengeras suara, menyebut nama Gara dan juga ciri-ciri dari pakaian yang Gara kenakan.
Gara tidak mau diam, dia menunjuk ke tempat wahana permainan yang ada tak jauh dari ruangan tersebut. Dia menarik tanganku sementara aku bingung nanti jika Ayahnya Gara datang kami tidak ada di ruangan itu.
"Gak apa-apa, Mbak. Risma aja yang nunggu di sini. Mbak bawa Gara saja ke tempat mainan. Nanti kalau Bapaknya datang, Risma ajak ke sana," tutur Risma. Aku mengangguk dan membawa Gara ke tempat permainan. Tak banyak permainan yang ada di lantai ini dibanding dengan lantai yang paling atas, tapi cukup untuk membuat anak ini menjadi senang.
Kolam bola plastik yang lumayan cukup besar bagi ukuran Gara menjadi tempatnya bermain kini. Dia berlari ke sana dan kemari terkadang keluar dari area kolam bola itu dan main mobil kecil yang ada di sana, lalu kembali lagi melompat dan tenggelam di antara ratusan bola yang berwarna warni. Beberapa anak kecil juga ikut bergabung dengan Gara, tapi anak ini sepertinya menghindari beberapa anak-anak itu, memilih menyingkir dan main sendiri.
Aku duduk di bangku kecil yang aku tarik dari area permainan pasir, memperhatikan Gara yang terus saja menjauh saat ada anak lain yang mendekatinya. Gara terlihat lebih senang dan lebih nyaman main sendirian. Sesekali anak itu berteriak dan melambaikan tangannya ke arahku. Aku balas melambai ke arahnya.
Melihat Gara saja aku menjadi senang. Perasaan ini ... entahlah. Seperti ada rasa yang tak bisa aku jabarkan terhadap anak ini. Mungkinkah rasa sayang?
Senyum dan tawa anak itu membuat aku ikut merasakan senang begitu saja. Jika saja aku dan Mas Hilman mempunyai anak, mungkin anak kami bisa lebih besar atau lebih kecil dari Gara. Perceraian juga tidak akan terjadi jika aku bisa mempunyai anak.
Mas Hilman, kamu pasti senang ya sekarang akan mempunyai anak dengan Hana. Aku hanya bisa mendoakan supaya kamu dan keluarga kecil kamu bahagia.
Seseorang terlihat berlari di depanku dengan kencang, secepat kilat dia sudah ada di tengah kolam bola dan memeluk Gara.
"Gara!"
***
Mampir ke karya Kak Aveeii yuk, sambil nunggu Ayu up lagi
__ADS_1