
Aku menunggu. Sebenarnya sedang resah dan juga khawatir, jika Azka tetap menangis dan rewel terus aku akan meminta Bi Sari untuk memanggil ustadz ke sini. Ustadz saja, karena kalau dukun ... entah lah, rasanya aku kurang percaya dengan hal yang seperti itu. Akan tetapi, Azka tidak rewel lagi, juga tidak demam, malahan dia kini tengah tertidur dengan sangat pulas sekali.
"Kayaknya gak apa-apa deh, Yu. Azka gak rewel dari tadi siang," ucap ibu sambil mengelus kepala Azka dengan lembut. Telapak tangannya ditempel di kening Azka. "Gak panas lagi, tuh. Gak usah panggil ustadz juga kayaknya," ucap ibu lagi.
"Iya, Bu. Sepertinya gak perlu, kalau malam ini rewel besok aja lah ke rumahnya sekalian," ucap ibu.
"Atau mau sekalian rumah ini di selamatkan? Yang punya rumah dulu udah hajatan belum ya? Takutnya kalau ada apa-apa, kan bikin rumah juga perlu selamatan dulu," ujar ibu lagi.
"Gak tau," ucapku sambil menggelengkan kepala. "Nanti deh, Ayu tanya dulu sama Arga."
"Iya, tanyakan dulu. Mumpung kita ada di sini, hitung-hitung untuk saling mengenal sama tetangga juga," ucap ibu lagi.
"Iya, Bu. Ayu ke kamar dulu, ya. Tidurin Azka," pamitku pada ibu.
"Iya."
Aku membawa Azka ke kamar, terlihat Arga sedang berada di depan laptopnya. Dia menoleh saat aku baru saja masuk ke dalam kamar. "Sudah tidur?" tanya Arga.
"Sudah. Tolong dong, selimutnya." Pintaku agar menarik selimut besar yang ada di atas kasur. Aku membaringkan Azka dengan hati-hati, jangan sampai dia terbangun.
__ADS_1
"Pa, ibu tadi nanya," ucapku lalu duduk di sampingnya.
"Nanya apa?" Laptop yang ada di meja kini dia pangku kembali.
"Vila ini apa sudah di selamatkan? Doa dan sebagainya?" tanyaku. Arga hanya diam lalu menggelengkan kepalanya dan menjawab tidak tahu.
"Memangnya kenapa?" tanyanya lagi.
"Enggak, cuma ibu tadi bilang kalau punya rumah baru kan biasanya di selamatkan dulu. Kalau sudah sih gak apa-apa, kalau belum sekalian mengundang tetangga untuk silaturahmi saja," ucapku lagi menyampaikan maksud ibu tadi.
"Tapi, kalau sudah gak usah juga gak apa-apa, kok," ucapku dengan cepat. Tidak mau jika dia tidak berkenan dan malah membuatnya terpaksa.
"Eh, jangan. Uang yang ada di ATM ku juga masih ada kok, masih banyak. Kamu gak perlu transfer," ucapku enggan. Rasanya sedikit tidak enak hati saja kepadanya.
"Enggak apa-apa, uang yang ada di ATM nanti untuk tambahan saja kalau aku ini kurang. Sepuluh juta cukup?" tanyanya lagi.
"Kayaknya sih masih lebih," jawabku.
"Oh ya sudah. Nanti kalau kurang kamu tambahin ya, atau kamu bilang sama aku nanti aku yang tambahin kurangnya," ucapnya lagi. Aku hanya mengangguk. Tidak berapa lama terdengar suara notifikasi di hp-ku. Kulihat nominal jumlah yang Arga kirimkan barusan.
__ADS_1
"Sudah sampai?" tanya Arga kepadaku.
"Sudah Pa. terima kasih banyak."
"Kenapa juga harus berterima kasih? ini juga kan untuk kebaikan kita semua," ucapnya dengan enteng sambil mengelus kepalaku.
"Jadi mau kapan? mengundang siapa saja?" tanya Arga ingin tahu.
"Kalau soal itu aku juga kurang paham palingan nanti ibu sama Bi Sari yang mengurusnya. Mungkin kalau soal undangan diserahkan kepada Mamang," jawabku. Arga hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu. Gara ke mana aku belum lihat dari tadi?"
"Sudah tidur dari selepas isya."
"Oh tumben sekali. Biasanya dia ingin tidur di sini. Sudah sekarang kamu tidur, biar malam ini aku yang jaga Aska."
"Kamu lembur ya malam ini?" tanyaku.
"Iya, banyak kerjaan, sana tidur. Jangan begadang kamu sudah capek seharian jagain Azka." titahnya kepadaku.
__ADS_1
"Aku belum ngantuk. Nanti saja sambil temenin kamu," ucapku. Aku memang sedang tidak ingin beristirahat sama sekali. Ingin bertanya lebih lanjut tapi tidak jadi karena kasihan terhadap Arga.