
Aku menyandarkan diri dan memutuskan untuk memejamkan mata pada akhirnya, lelah dengan perjalanan yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Memang dulu, sebelum ini aku bisa tahan di dalam kendaraan meski semalaman, tapi di kehamilan kedua ini baru naik mobil sebentar saja sudah merasakan mabuk kendaraan yang lumayan hebat. Perutku benar-benar diuji sekarang ini.
"Apa aku perlu pindah ke belakang?" tanya Arga padaku saat aku sudah merasa mengantuk.
"Gak usah, kamu di depan aja. Nanti gantian kalau pak sopir capek kamu yang setir mobilnya," ucapku. Arga mengangguk dan kembali fokus dengan jalanan di depannya.
...***...
Aku terbangun saat seseorang mengguncang bahuku.
"Ma, mau ikut turun gak?" Arga terlihat di pintu dan mengguncang bahuku dengan pelan.
"Sampai?" tanyaku, aku mengalihkan tatapan ke arah lain, Sari dan Gara sudah tidak ada, mobil juga berhenti di suatu tempat.
"Belum, kita makan dulu, ini sudah siang," ucapnya lagi. Aku menganggukkan kepala. Lapar juga perut ini setelah perjalanan jauh yang rasanya tidak sampai-sampai. Mana yang katanya hanya empat jam? Nyatanya kami belum sampai ke sana setelah berangkat jam tujuh tadi pagi. Untung saja Azka dan Gara tidak rewel.
"Sebenernya masih jauh gak sih? Aku dah capek, Pa," keluhku. Duduk sedari tadi di dalam mobil membuat pinggangku terasa pegal sekali.
"Sabar, kan kita juga gak ngebut, dari tadi mobil jalannya pelan," ucapnya. Aku juga paham kalau itu. Memang mobil jalannya pelan sampai aku sendiri gregetan.
"Pinggangku sakit." Aku mengeluh lagi sambil berjalan beriringan dengannya. Cukup enak juga berjalan kaki meluruskan tulang punggung.
"Nanti aku oles pake kayu putih," ucapnya sambil meraih pinggangku dan membawaku masuk ke dalam rumah makan sederhana yang ada di depan kami.
Suasana di dalam sini sama seperti rumah makan pada umumnya, banyak kursi dan meja, tapi aku heran saat Arga tidak berhenti dan juga aku tidak melihat Sari dan yang lainnya di sana.
"Mau kemana?" tanyaku pada Arga.
"Makan di belakang. Pemandangannya bagus," ucapnya sambil tersenyum dan terus melangkah membawaku.
__ADS_1
Benar saja apa yang Arga bilang tadi, aku terpana dengan keadaan di belakang sini. Pemandangan alam indah tersedia di depanku. Gunung dengan hutan yang rindang nan hijau terlihat di kejauhan sana. Langit pun mendukung, cerah, tanpa awan hitam sama sekali.
"Ayo duduk." Arga membuyarkan kekagumanku terhadap alam di depan sana. Sari, Azka, Gara dan pak sopir sudah menunggu kami di sebuah saung yang ada di sana, saung dengan lantai kayu lumayan lebar sehingga kami berenam cukup duduk di sana. Azka dibaringkan di lantai kayu oleh Sari dengan alas selimut hangat, anak itu berbalik sehingga kini dia menjadi tengkurap.
Aku duduk di sana bersama keempat orang yang lain, pelayan datang dan menanyakan pesanan kami.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Arga padaku, juga pada yang lainnya membebaskan untuk memilih. Sari dan pak sopir menyerahkan pilihan sama sepertiku. Sepertinya mereka masih segan untuk memesan sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Terkadang aku kesal jika sudah seperti itu.
"Ya sudah lah, aku pesan nasi liwet saja, ayam bakar, sama ikan bakar. Kalian terserah mau pesan apa, pesan sendiri, jangan selalu bergantung ikut saya," ucapku pada keduanya dengan kesal. Mereka tersenyum dengan malu, kemudian menyebutkan jenis makanan yang mereka mau. Kan, mereka pesan makanan yang lain, ada yang tidak sama denganku. Dasar!
Kami menikmati makanan ini dengan khidmat, rasanya luar biasa saat makan sambil menatap indahnya pemandangan gunung di kejauhan sana. Etika saat makan kami buang jauh-jauh, kami makan sambil mengobrol, ingin lebih santai saja dengan yang lainnya.
Perut kenyang, hati pun riang. Baru kali ini aku makan dengan puas, entah apakah nanti kan keluar lagi atau tidak, aku tidak peduli. Yang terpenting enak untuk aku makan.
Rasa kantuk kembali menyerang saat menikmati pemandangan di depan sana, apalagi angin yang sepoi-sepoi terasa membuat damai. Ingin berbaring dan kemudian tidur di sini.
"Aku akan jawab nanti kalau kamu tanya," jawabku sambil memejamkan mata, punggung bersandar pada dinding saung yang terbuat dari anyaman bambu.
"Terus, kapan kita akan sampai?" tanya Arga.
Aku berdecak kesal. "Kalau tau gak akan sampai kenapa juga masih tanya berangkat nanti atau sekarang?" tanyaku dengan skeptis. Arga terkekeh, dia mengulurkan tangannya padaku.
"Kalau gitu ayo berangkat, biar cepet sampai di tempat tujuan," ucapnya.
"Hem, ya." Aku malas meninggalkan tempat indah ini, tapi aku juga ingin segera sampai di sana, andaikan saja ada pintu yang bisa membawaku ke sana secara langsung, aku pasti akan sangat senang sekali tidak perlu naik kendaraan lagi.
Aku menyambut tangan Arga, kami bersiap untuk pergi dari sini, sebelumnya memastikan jika tidak ada barang yang tertinggal.
"Sari, sepatu Azka gak ada satu," ucapku saat melihat Azka hanya memakai satu sepatunya di gendongan Sari.
__ADS_1
Sari melihat kaki Azka dan berseru, "Eh, iya. Saya cari dulu," ucap gadis itu. Sepatu kami cari dan ternyata ada di bawah meja tempat kami makan tadi. Aku membantu memasangkan kembali sepatu milik Azka. Setelah itu kami kembali ke mobil.
Perjalanan kami lanjutkan kembali, melewati jalanan rusak membuat aku terombang ambing di dalam sini, rasanya ....
Aku menutup mulutku dan memukul sandaran kursi pak sopir yang tepat ada di depanku. Arga menoleh dari tempatnya.
"Kenapa?" tanyanya, aku tidak berani menjawab, takut. Hanya bisa menunjuk mulut yang aku bekap dengan sebelah tangan.
Pak sopir menghentikan mobil di tepi jalanan yang memang sepi, hanya ada hutan di samping kanan dan kiri kami. Aku segera turun dan keluar dari mobil, mencari tempat untuk bersembunyi dari pandangan orang lain.
Ah, percuma. Semua terbuang sia-sia. Aku hanya bisa meratapi makanan yang tadi sudah aku nikmati kini terbuang dengan percuma.
"Kamu parah banget sih, mabok terus," ucap Arga seraya mengurut leherku.
"Wajar lah, namanya juga ibu hamil," ucapku dengan sedikit kesal kepadanya. Aku menepuk dadaku sedikit keras, masih ada yang menyangkut di tenggorokan sehingga membuat tak nyaman.
Perjalanan kami lanjutkan kembali, aku tidak tahu apakah tempat yang kami tuju masih jauh atau tidak. Yang jelas aku tidak bisa menikmati pemandangan ini dengan baik.
Aku memilih tidur kembali, berharap semoga saja perjalanan tidak akan lama lagi, dan berharap saat bangun nanti kami sudah sampai sana.
"Ayu, kita sudah sampai." Suara Arga terdengar lagi, aku membuka mataku dan menatap bangunan mewah di depan sana. Indah sekali. Dia keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untukku turun.
"Ini hotel?" tanyaku padanya, tapi lebih mirip seperti rumah mewah daripada hotel.
"Masuk, yuk. Semoga saja kamu akan suka dengan tempat ini," ucapnya seraya menarik tanganku untuk masuk ke dalam sana.
Aku terpana ketika melihat-lihat semua yang ada di luaran sana, indah sekali dengan taman nan hijau dan rumput yang luas, juga dengan berbagai bunga yang tumbuh dengan sangat cantik.
Pintu besar yang ada di depanku Arga buka. Terkejut aku sehingga tidak bisa berkata apa-apa saat melihat seseorang di dalam sana.
__ADS_1