Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
75. Keputusanku Sudah Bulat!


__ADS_3

"Hilman, kalau kamu mau cari ribut dengan kami, lebih baik kamu pulang saja. Saya gak akan izinkan kamu untuk ada disini!" Pak Handoyo kini berbicara dengan tegas pada Mas Hilman. Terlihat sikapnya kini waspada.


Pria yang ada di depanku ini hanya bergeming di tempatnya, tapi pandangannya kini beralih pada orang tua itu. Wajah lelah dan kurus terpampang di depanku. Baju kusut yang membuat penampilannya tidak sekeren biasanya.


"Saya hanya ingin mendampingi Ayu Bukan mencari onar disini. Tolong izinkan saya untuk ada disini sampai operasi Ibu selesai," ucap Mas Hilman dengan menghiba.


Terdengar helaan napas dari Pak Handoyo mendengar ucapan Mas Hilman barusan.


"Oke. Saya tidak akan mengusir kamu, tapi tentunya itu juga jika Ayu mengizinkan kamu untuk tinggal," ucap Pakde Yo pada Mas Hilman.


"Biarkan saja, Pakde. Ayu gak apa-apa, kok." Pak Handoyo menatapku dengan tatapan yang tidak mengerti, tapi dia hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan. Menyetujui apa yang aku katakan barusan.


Mas Hilman tersenyum senang. Dia duduk tepat di sebelahku, tapi aku beringsut menjauh darinya, berpindah ke kursi yang lain. Kini dia tidak berusaha untuk menggeser tubuhnya, hanya menatapku dengan wajah yang kecewa.


Kami masih terdiam tanpa kata. Entah sudah berapa lama, tapi hanya keheningan yang ada di antara kami berlima.


"Sinta, kamu dan Ibu pergi cari makan." Terdengar Pakdhe berkata pada putrinya.


"Ih, kok Sinta sih, Pak? Sinta mau disini nemenin Mbak Ayu!" seru sang putri protes.


"Sinta! Dengar apa kata Bapak kamu! Ayo cari makan. Mbak Ayu juga pastinya lapar sekarang!" tegur sang ibu. Sinta tidak terima, tapi dia bangkit juga dan mengikuti langkah Ibunya pergi.


"Yu, Pakdhe telepon dulu, ya. Takut adiknya Sinta gak ada di rumah," ucap Pak Handoyo lalu dia sedikit menjauh setelah mendapatkan anggukan kepala dariku. Pak Handoyo hanya berjarak sekitar sepuluh meter dari kami, memilih ke depan jendela dan kemudian terdengar suaranya yang bertanya pada salah satu anaknya.


"Yu, apa kamu sudah benar-benar yakin untuk pisah sama aku? Apa kamu sudah memikirkan dengan baik soal perpisahan ini?" tanya Mas Hilman tiba-tiba. Terlihat tubuhnya yang kini sedikit miring ke arahku.

__ADS_1


"Aku gak mau pisah sama kamu, Yu. Kamu jangan ceraikan aku, ya." Pintanya.


"Aku janji akan jadi suami yang baik buat kamu, aku gak akan nuntut kamu apa-apa. Soal anak aku juga gak pernah kan salahin kamu? Aku terima kamu apa adanya. Aku—"


"Aku sudah tetap pada keputusanku, Mas. Lagipula aku sudah mengajukan surat gugatan ceraiku di pengadilan. Kamu harus datang jika sudah mendapatkan surat panggilan," ucapku tanpa menatap ke arahnya.


"Yu, kamu kok tega sih sama aku? Aku cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu, kenapa kamu ingin cerai dari aku? Kalau masalah aku tidak adil, aku akan belajar adil. Kalau kamu gak mau aku cerai dengan Hana karena alasan bayi itu, aku gak akan ceraikan. Aku akan tempatkan Hana di rumah kontrakan, seperti yang kamu mau," ucapnya dengan memohon.


"Yu,"


Dia beringsut mendekat ke arahku. Aku kembali menjauh darinya, untung saja kursi tunggu ini masih panjang di arah kiriku.


"Sekarang bukan masalah itu lagi, Mas. Aku sudah tidak ingin dengan siapapun, apalagi untuk kembali sama kamu. Aku mohon kamu mengerti dengan keinginanku. Apalagi Ibu juga sudah hilang rasa sama kamu."


"Yu ...."


"Aku belum bisa cinta sama dia."


Aku refleks menoleh kepadanya dan menutup mulutku yang tertawa. Mas Hilman menatapku dengan bingung. Geli sekali mendengar ucapannya barusan.


"Kamu ini aneh ya, Mas. Sudah berapa bulan kamu menikah dengan Hana dan kamu juga sudah tidur dengan dia, sampai kalian sebentar lagi akan punya anak dan kamu bilang gak cinta sama dia?" tanyaku dengan tidak percaya.


"Lalu kamu ini menganggap Hana itu apa? Apakah kamu dengan Hana hanya mengandalkan na*su saja?" Kini kepala itu tertunduk.


"Maaf," ujarnya.

__ADS_1


"Simpan saja maaf kamu, Mas. Aku sudah tidak ingin mendengar kamu memohon lagi sama aku. Kamu dengan hidup kamu, dan aku dengan hidup aku."


"Sudah aku tidak mau mendengar kamu memohon lagi. Keputusan aku sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat," ucapku yang berkata dengan cepat ketika mulut itu hendak terbuka.


"Yu, sulit mendapatkan orang lain yang akan menerima kamu dengan kondisi kamu. Aku bisa terima kamu apa adanya, Yu."


Aku geram terhadapnya. Belum kering bibir ini berkata untuk tidak memohon lagi, tapi apa yang dia katakan barusan membuat aku ingin mengusirnya dari sini.


"Tidak masalah. Kalau tidak akan ada yang mau menerimaku dengan keadaanku, aku tidak keberatan kalau harus terus sendiri. Masalah keturunan, aku bisa mencarinya di panti asuhan," jawabku. Aku berdiri, Mas Hilman menatapku hingga kepalanya terdongak ke atas.


Pak Handoyo sudah selesai menelepon sedari tadi, tapi pria itu hanya diam di tempatnya mengamati kami yang sedang berbicara berdua. Melihatku yang kini berdiri, Pak Handoyo mendekat.


"Pakdhe, Ayu mau ke toilet. Nanti kalau Ayu lama di toilet, tolong suruh Sinta menyusul, ya." Pintaku pada pria paruh baya itu. Ayah dari empat anak itu menganggukkan kepalanya.


Aku melewati Mas Hilman untuk pergi ke toilet.


Bukan karena aku benar-benar ingin ke toilet, tapi aku tidak mau lagi bicara panjang lebar dengan dia dan berujung dengan debat panjang yang membuat aku pusing.


Jika saja dia sebelum ini bisa bersikap adil, aku mungkin bisa menerima maduku, tapi adil yang bagaimana? Jika pun adil apakah yakin akan sama rata?


Mas Hilman, orang yang aku percayai sejak dulu, yang aku sayangi dan aku cintai. Pernah ku labuhkan semua rasa ini terhadapnya. Sampai mati ingin terus bersamanya. Akan tetapi, sejak aku melangkahkan kaki dari rumah itu, aku sudah bertekad untuk mengubur rasa cintaku dan aku juga ....


Bruk!


"Aww!" Aku berjalan sambil berpikir, tidak melihat jalan dengan baik sehingga menabrak seseorang.

__ADS_1


"Maaf ...."


__ADS_2