Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
174. Hadirnya Sosok Lain.


__ADS_3

"Apa kepala kamu terasa sakit?" tanya Arga saat aku dan istri dokter baru saja keluar dari kamar mandi. Tidak ada orang lain di sini selain Arga.


"Lumayan. Perih," jawabku. Raut wajah Arga terlihat menyesal, menatapku dengan sorot mata bak anak kecil yang merasa bersalah.


"Maaf, ya."


"Gak apa-apa," jawabku lagi.


Istri dokter membantuku mengusap rambut dengan perlahan, sedikit sakit di area luka, sesekali aku meringis kecil saat rambutku sedikit tertarik oleh handuk. Arga duduk di tepian ranjang, memperhatikanku dengan seksama.


Hairdryer menyala, membuat rambutku sedikit kering setelah beberapa saat lamanya.


"Silahkan Mbak Ayu ganti pakaian terlebih dahulu. Saya akan keluar. Panggil saya dan suami jika Mbak Ayu sudah selesai, ya." Wanita itu menyimpan hairdryer di atas meja rias.


"Iya, Mbak. Terima kasih," ucapku padanya. Wanita yang berusia tidak jauh dariku kini pergi ke luar dari kamar.


Arga berdiri, membantuku menyiapkan pakaian yang akan aku kenakan, termasuk pakaian dalam yang ada di dalam tas.


Hwaaa, aku malu disiapkan hal yang sangat pribadi seperti itu!


"Mau kemana?" tanya Arga saat aku hendak pergi ke kamar mandi.


"Ganti baju." Ku gerakkan kepala menunjuk kamar mandi dengan menggunakan daguku.


"Kenapa harus di kamar mandi? Di sini saja," ucapnya. Aku menggelengkan kepala.


"Enggak, ah. Di sana saja," ucapku.


Arga tersenyum, wajah yang tadi terlihat menyesal kini berubah drastis bak seorang yang mempunyai kepribadian ganda. Cepat sekali raut wajahnya berubah.


"Kenapa? Apa kamu takut aku akan ...." Dia berhenti berbicara, menggerakkan kedua alisnya naik turun dengan cepat. Aku jadi takut, melangkah mundur. Jujur saja, takut jika dia akan menerkamku.


"Iya, aku memang takut sama kamu. Sudah, kalau kamu suruh aku ganti baju di sini kamu keluar dulu, deh." Usirku padanya. Bukannya marah, dia malah tertawa dengan keras dan kemudian berdiri.


"Oke, aku keluar. Kamu ganti baju. Nanti kalau kamu butuh bantuan panggil aku, ya."


Arga pergi dari kamar ini. Segera aku memakai pakaianku dan pakaian khusus yang Mbak Yeni buatkan. Bukan gaun, tapi sebuah kain segi empat berkancing di bagian depan dada untuk menutupi tubuhku selama aku di rias nanti. Dia bilang supaya aku tidak kepanasan saat di rias oleh MUA nanti dan lebih mudah untuk mengganti pakaian setelah itu.


Dokter kembali masuk ke dalam ruangan bersama dengan Arga dan juga istrinya. Waktu masih cukup untuk memeriksa, sekedar memberi salep dan mengganti perban.

__ADS_1


"Lain kali jangan lakukan lagi." Tunjuk dokter tepat di depan wajah Arga. Arga tersenyum malu. "Kalau kalian tidak bisa menahan diri dan Mbak Ayu harus terus basah rambutnya kapan lukanya akan kering? Bukankah kalau belum kering juga senam bersama gak akan enak? Gak boleh terlalu bersemangat, kecuali kalau Mbak Ayu yang pegang kendali, sih." Dokter tertawa keras setelah mengatakan hal itu, membuat sang istri kini tertawa kecil, terdengar tawanya yang renyah. Tidak seperti tadi saat awal bertemu yang hanya mengulum senyuman.


"Mbak Ayu, apa kepalanya masih sakit?" tanya Dokter padaku menepis rasa malu karena ucapannya tadi.


"Sedikit perih, sih. Tapi tidak terlalu juga," ucapku jujur.


"Baiklah. Saya akan mendampingi selama acara nanti, kalau Mbak Ayu ngerasa sakit jangan dipaksakan, ya. Bilang sama saya," ucap dokter itu lagi.


"Baik, Dokter."


"Saya dan istri pamit dulu. Silakan Mbak Ayu bersiap. Mbak Yeni, Mbak Farah, tolong nanti lebih hati-hati saat memasangkan kerudung, ya." Pinta dokter itu pada dua wanita yang sedari kemarin membantuku.


"Baik."


"Iya, Dokter."


Dokter dan istrinya keluar dari ruangan ini, di temani oleh Arga. Mbak Yeni dan Mbak Farah –MUA– membantuku untuk bersiap.


Hampir dua jam lamanya aku berkutat dengan make up yang diberikan Mbak Farah. Dengan teliti dan juga hati-hati wanita itu sangat lihai menggerakkan tangannya pada kuas di wajahku. Mbak Yeni menunggu gilirannya sambil mempersiapkan apa yang akan aku pakai.


Aku sudah selesai dengan riasan dan mengganti pakaian. Mbak Yeni pamit ke tempat lain untuk memanggil Arga. Suamiku juga akan memakai pakaian yang Mbak Yeni bawa dan juga akan sedikit di rias oleh Mbak Farah.


"Cantik," ucapnya lirih, tanpa berkedip sama sekali. Aku tersenyum senang dengan pujiannya. Dipuji oleh suami sendiri tidak memungkiri jika di dalam hati ini rasanya bunga-bunga mendadak tumbuh dan berkembang dengan sangat indah dan juga wangi.


Arga tidak berhenti menatapku, tidak juga aku lihat dia mengedipkan kelopak matanya. Senyum tersungging di bibirnya semakin lebar kini.


"Pak Arga, boleh ganti pakaiannya?" Suara Mbak Yeni membangunkan Arga yang seperti dipaksa kembali ke alam sadar. Wanita itu mendekat dan membawakan jas berwarna hitam untuk Arga pakai.


"Iya.


Arga mundur dari hadapanku dan memakai pakaian tersebut dibantu Mbak Yeni dan juga asistennya. Setelah itu dia duduk di kursi dan wajahnya dirias oleh Mbak Farah dengan make up tipis.


Aku memperhatikan dari tempatku berdiri, memang pada dasarnya wajah Arga sudah tampan, ditimpa make up semakin tampan saja seperti Oppa Korea.


"Kenapa lihatin aku?" tanya Arga setelah dia selesai dengan make up-nya.


Aku menggelengkan kepala, malu rasanya ketahuan mengagumi dia. "Kamu mirip Oppa Korea," ucapku. Arga tertawa kecil, begitu juga Mbak Yeni dan yang lainnya ikut tertawa mendengar ucapanku.


"Aku lebih dari sekedar Oppa-mu. Aku suami mu," ucapnya ketus. Aku menangkap ada nada cemburu darinya. Apakah aku salah bicara? Aku kan hanya bilang 'seperti'.

__ADS_1


Aku dan Arga turun dari lantai atas menuju ke aula di mana tempat acara kami dilaksanakan. Dengan bantuan Mbak Yeni dan asistennya, gaun yang aku pakai kembali dirapikan. Sedikit sulit untuk berjalan karena aku memakai heels yang sangat tingi menurutku. Semoga saja tidak ada hal yang bisa membuat Arga malu nantinya.


Banyak tamu yang sudah datang saat kami masuk ke dalam gedung aula. Semua mata tertuju kepada kami yang berjalan berdampingan di atas karpet merah yang sudah terbentang di lantai. Gugup, malu, dan juga bahagia bercampur baur di dalam hati ini.


"Ga, kakiku lemas," ucapku pada Arga. Banyak orang penting dengan pakaian yang sangat rapi membuat dadaku berdebar tidak karuan.


"Tenang, aku ada di sini," ujar Arga, menepuk tanganku yang ada di lengannya. Ku tarik napas ini dengan perlahan dan membuangnya dengan perlahan juga.


"Pengantin sudah datang. Berikan tepuk tangan meriah untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia!" teriak suara MC dari atas panggung dengan suara yang sangat riang. Riuh tepuk tangan terdengar di seluruh penjuru aula ini. Senyum bahagia semua tamu bisa aku lihat dengan sangat jelas sekali.


Kami berjalan dengan perlahan masuk ke dalam sana. Langkah demi langkah mendekat ke arah panggung yang aku rasakan sangat jauh jaraknya, perasaan saat tadi sebelum acara aku melihat panggung tersebut tidak begitu jauhnya. Kenapa sekarang rasanya tidak sampai-sampai?


Suara iringan lagu cinta dengan irama lembut terdengar mengiringi langkah kaki kami berdua. Para pengiring pengantin yang terdiri dari saudara-saudara Arga dan juga saudaraku, putra dan putri dari paman dan tante Arga, serta putra putri uwak dan juga Bibi, juga terlihat Gara dan Widi yang datang menghampiri kami dengan membawa keranjang bunga serta buket bunga. Mereka kompak dalam balutan gaun berwarna peach, serta untuk para lelaki jas dengan warna yang sama pula.


"Ga, siapa yang kasih ide ini?" Tidak tahan aku bertanya kepada Arga dengan berbisik, keluar dari rasa terkejutku dengan semua yang terjadi di hadapanku begitu 'wah!'. Aku tidak menyangka jika sebelumnya akan ada hal yang seperti ini. Ku kira, kami hanya akan masuk dan duduk saja di atas panggung.


"Tentu saja Papa dan yang lainnya. Aku juga tidak tau kalau akan ada sambutan yang meriah seperti ini," ucap Arga. Aku meliriknya sedikit. Arga menatap lurus ke depan dengan senyuman bahagia yang terpancar pada wajahnya.


Gara dan Widi terlihat sangat tampan dan juga cantik dengan balutan busana jas peach dan Widi yang memakai gaun setinggi lutut juga berwarna peach. Mereka semakin mendekat. Gara mengulurkan buket bunga itu padaku.


"Selamat hari pernikahan, Mama, Papa!" ujar anak itu dengan senyum merekah di bibirnya. Aku menunduk, mengambil buket bunga itu dan mencium pipi Gara dan Widi bergantian.


"Terima kasih, Sayang," ucapku pada Gara. Widi mengambil segenggam bunga mawar merah dan membuangnya ke udara sehingga kelopak bunga mawar itu beterbangan dan jatuh berserakan ke lantai.


Aku mengulurkan tanganku pada Widi dan mencium pipinya, mengucapkan kata terima kasih atas sambutan dari mereka berdua. Arga pun sama. Mencium pipi kedua anak itu bergantian.


Kami berjalan bersama dengan perlahan menuju pelaminan melewati para tamu undangan yang berdiri menyaksikan langkah kaki kami. Di ujung sana sudah menunggu, Ibu, Mamang, Papa, dan Mama dari Arga yang duduk di atas kursi roda. Senyum mereka mekar saat melihat kami semakin mendekat. Rasa haru mengalahkan rasa gugup yang tadi sempat aku rasakan.


Sekilas, apa yang aku lihat di belakang Mamang dan Ibu membuat aku berhenti melangkah. Rasa panas menyebar di bola mataku dan membuat cairan bening mendesak ingin keluar.


"Kenapa, Yu?" tanya Arga yang juga ikut berhenti melangkahkan kakinya. Terlihat bingung di wajahnya.


Aku menatap Arga yang menjadi sedikit buram karena terhalang oleh air mata.


"Aku lihat di belakang Mamang, seperti ada bayangan Bapak di sana," ucapku pelan pada Arga sambil mencoba menahan suaraku yang tercekat di tenggorokan.


...***...


Pernah mendengar dari seorang teman. sewaktu dia menikah. Berasa melihat bayangan ayahnya yang sudah tiada di hari bahagianya. Entah apakah memang karena kerinduan atau apa.

__ADS_1


Semoga saja yang memiliki pengalaman seperti Ayu –atau pun tidak–, dan kita semua, berbahagia dengan kehidupan kita masing-masing. Aamiin.


__ADS_2