
Masa laluku yang kacau membuat aku terjerumus dalam dunia obat-obatan, hingga aku harus rehabilitasi. Sudah ku bilang pada papa jika aku bukan pengguna aktif. Aku juga masih bisa menahan diri untuk tidak mengkonsumsi obat-obat terlarang itu, tapi papa tidak percaya dan memasukanku ke tempat rehabilitasi, setelah itu papa mengirimku ke tempat kakek. Dari sana, aku sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Ayu, semua di batasi oleh papa, termasuk tidak memperbolehkan aku memiliki ponsel.
Bayangan rasa bersalah terhadap Ayu dan juga rasa rindu yang menggunung, membuat aku frustasi, tapi kakek selalu menyemangatiku, jika jodoh tak akan kemana. Dan aku berjanji seelah itu, aku akan menjadi lebih baik nanti dan aku akan menyusul Ayu kembali. Akan tetapi, aku terlambat. Saat aku mencari tahu tentang Ayu, wanita ini sudah menikah dengan seorang pria bernama Hilman.
Sudahlah, patah hatiku saat itu hingga aku memutuskan untuk kembali pada Papa dan menjadi anak baik yang seutuhnya. Menikah dengan wanita yang Papa pilihkan yang untungnya seiring waktu aku bisa mencintainya walau terlambat. Haifa, meninggal saat melahirkan Gara, dan itu menjadi rasa penyesalanku karena aku sangat terlambat mencintainya.
Haifa, gadis manis yang sangat sabar menghadapiku, yang telaten mengurusku kala aku sakit, yang selalu saja menyunggingkan senyum meski aku cuek, tapi dia ikhlas dan rela mengorbankan nyawanya demi Gara. Andai aku tahu sakit yang dia derita, pasti aku akan berusaha untuk mengobatinya. Sayang, Haifa lebih memilih diam agar aku atau keluarga tak menyuruhnya untuk mengugurkan Gara saat semasih di kandungan. Istriku yang malang.
Aku masih melajukan kendaraan, entah kemana. Hanya mengukur jalan dengan kecepatan sedang. Gara terlihat sangat ceria di belakang sana. Bibirnya terus mengoceh dengan segala hal yang pernah dia alami, baik di sekolah maupun di rumah. Tak pernah aku melihat Gara yang seperti ini. Sangat ceria sekali dengan nada yang riang bercerita.
Sesekali mereka yang di belakang tertawa. Aku melirik mereka dari spion yang ada di depanku, tapi lebih jelas yang kulihat adalah Ayu. Sudah sangat lama sekali aku tidak melihatnya tertawa seperti itu.
Hampir satu jam lamanya Gara terus saja berbicara dan Ayu atau gadis muda itu menanggapinya dengan sabar, hingga akhirnya tak terdengar lagi suara Gara.
"Apa Gara tidur?" tanyaku pelan pada Ayu tanpa menoleh.
"Iya, Gara sudah tidur, " jawabnya dari belakang.
"Maaf, ya. Jadi merepotkan kamu dan Risma. Maaf sekali," ucapku tak enak hati.
"Sudahlah, Ga. Gak apa-apa. Sekarang bagaimana ini?" tanya Ayu.
"Aku akan antar kalian ke balik ke mall, maaf karena kalian jadi terlambat pulang karena kami."
__ADS_1
"Gak apa-apa, Mas. Tapi ini Gara gimana kalau Mas antar kami kembali ke mall? Gara ditinggal sendiri di jok belakang gitu? Kasihan banget kalau sampe jatuh, Mas. Mending kalau rumah Mas gak jauh bawa Gara pulang dulu, deh. Udah itu baru antarkan kami balik ke mall," ujar Risma. Memang benar Gara bisa saja terjatuh jika ditinggal, dia tidak pernah tenang tidurnya.
"Em ... itu ... tidak apa-apa, deh. Kalau ke rumah kami dulu kalian bisa lebih malam pulangnya," ucapku semakin tak enak hati.
"Gak apa-apa, Ga. Bener kata Risma. Gara bisa jatuh kalau di tinggal di belakang. Kami akan ikut antar kalian pulang dulu." Ayu angkat bicara membuat aku menoleh padanya dari kaca spion.
"Eh, tapi kalian gimana nanti? Ini sudah mau jam delapan malam."
"Gak apa-apa, urusan nanti saja. lagipula kasihan Gara kalau sampai jatuh." Ayu berbicara lagi.
"Iya, deh. Terima kasih banyak, aku akan cepat kalau begitu." Aku segera melajukan mobil ke arah rumah, memang tak jauh, hanya sekitar dua puluh lima menit dari daerah sini. Apalagi dengan kendaraan yang tak begitu ramai, mungkin bisa dicapai dengan lebih cepat lagi.
...*...
"Aku antarkan pulang," ucapku saat Ayu sudah berada di dekatku. Dia hanya mengangguk sebelum menutup pintu kamar Gara.
Ku panggil Nira untuk menjaga Gara, takut jika anak itu nanti menangis.
"Mama sudah tidur?" tanyaku pada Nira.
"Sudah, Pak."
"Saya mau antarkan Mbak Ayu dulu. Kamu jaga Ibu dan sesekali lihat Gara, ya." Pintaku pada Nira.
__ADS_1
"Baik, Pak." Nira menunduk sebelum aku berlalu pergi darinya.
Sejak menikah dengan Haifa, dia yang selalu bicara tentang pengorbanan seorang Ibu. Tentang hangat dan luar biasanya kasih sayang seorang Ibu membuat aku ingin kembali dekat dengan Mama.
Semua pemikiran tentang Mama yang meninggalkan kami di masa lalu aku enyahkan, itu semua karena sifat Papa yang keras, membuat Mama pergi meninggalkan kami. Papa yang selalu menyalahkan kepergian Mama, aku tak hiraukan lagi saat beliau mengatakan kesalahan Mama. Aku sudah dewasa dan aku juga tahu apa yang salah dan benar. Sekarang Papa tidak pernah lagi membahas semua itu, karena aku sudah tidak peduli lagi.
Aku juga ingin merakan kasih sayang dari Mama meski kini kondisi Mama terkadang lupa denganku. Akibat usia dan juga trauma yang Mama derita membuat Mama terkadang tak mengenali aku, tapi Mama masih mengenali Gara.
"Risma, kita pulang!" Ajak Ayu pada anak tetangganya yang masih menikmati suasana taman di depan rumah.
"Sekarang, Mbak?" tanya gadis itu.
"Iya, sekarang."
Risma menyusul kami dan masuk ke dalam mobil. Sengaja aku membawa sopir untuk membantu membawakan motor Ayu nanti. Biar Ayu dan Risma aku antar pakai mobil. Tidak etis rasanya meninggalkan mereka setelah membantu menenangkan Gara tadi.
Kami hanya diam selama dalam perjalanan menuju ke mall untuk mengambil motor. Rasanya canggung sekali untuk memulai pembicaraan dengan dua wanita ini.
Sesekali Risma yang terdengar berbicara dengan Ayu. Dan aku hanya mendengar Ayu menjawab tanpa bisa meliriknya dari spion. Hah, sayang sekali.
"Mas Arga, kan sudah lama menduda, nanti kalau Mbak Ayu selesai masa iddah, sama Mbak Ayu aja. Gara kan juga kelihatannya senang dengan Mbak Ayu. Lagian kalian kelihatan cocok loh, tadi Risma lihat!" seru anak itu dengan kekehan. Aku memalingkan wajah ke arah jendela. terasa aneh di dada saat mendengarnya.
"Risma! Kamu apa-apaan, sih. Gak sopan!" Suara Ayu terdengar memberi peringatan pada gadis itu, dengan bisikan tentunya, tapi aku bisa mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
"Hehe, kan Risma cuma mengeluarkan pendapat aja, Mbak. Daripada Mbak sendiri, Mas Arga juga sendiri. Lagian kan kalau Mbak sama Mas Arga, maaf-maaf nih ya, Mbak. Kan Mas Arga sepaket sama Gara. Kalau di mall kan istilahnya buy one get one free."