
Hari ini kami memutuskan untuk pulang, keluarga yang ada di sini tidak rela melepas kami sebenarnya, meminta kami untuk lebih lama lagi tinggal di sini. Akan tetapi, kami tidak bisa melakukan hal itu, banyak pekerjaan yang harus Arga lakukan dan juga Gara harus bersiap untuk kembali ke sekolah esok lusa.
Persiapan untuk bekal di jalan telah selesai, makanan berat maupun ringan dimasukkan ke dalam wadah oleh bibi, khawatir jika kami akan merasa lapar saat di jalan nanti padahal Arga sudah berbicara pada bibi jika tidak perlu repot untuk menyiapkan itu semua. Akan tetapi, bibi memaksa dan bilang sedih jika kami tidak menerima pemberian darinya.
Beras satu karung ada di mobil belakang. Hasil kebun seperti pepaya, manggis, buah mangga, dan tebu juga ada di sana, sebagian ada juga di mobil kami berupa kerupuk mentah yang sengaja bibi buat untuk kami bawa. Rangginang kesukaan Arga dan Gara, opak singkong gurih juga tidak ketinggalan, dan entah macam-macam kerupuk mentah apa lagi, aku tidak terlalu melihatnya saat tadi bibi memasukkan paksa ke dalam mobil.
Arga sebenarnya kasihan dengan bibi, ingin memberinya uang untuk mengganti semuanya, tapi bibi menolaknya dengan tegas dan tidak mengharapkan kembali atas apa yang telah diberikannya.
Sedih juga rasanya meninggalkan kampung ini, banyak orang baik yang kami temui. Para tetangga yang tahu kami akan pulang ke kota, berdatangan untuk memberikan buah tangan untuk kami bawa pulang. Hasil dari kebun yang mereka miliki diberikan kepada kami.
"Jangan kapok ya buat kesini lagi," ucap salah satu tetangga yang memelukku dengan sedih. Aku pun sedih jika seperti ini, merasa berat untuk meninggalkan mereka palagi mereka ini adalah rang-orang yang sangat baik sekali.
"Iya, Bi. Gak akan kapok, kok. Nanti kalau ada kesempatan yang lain Ayu dan keluarga datang lagi. Bibi baik-baik di sini ya," ucapku pada beliau. Wanita ini yang paling sering menemani ibu selain Bi Sari.
Kami juga pamitan dengan yang lainnya, ibu terlihat menangis berpisah dengan para tetangga. Seperti tidak ingin pergi dari sini. Andai ibu mau, tentu aku tidak akan keberatan jika ibu mau tinggal di sini, ada mamang dan kerabat lainnya yang bisa menemani ibu, meski berat berjauhan dengan orang tua kita. Ibu nampak bahagia. Akan tetapi, ibu ingin pulang saja, siapa yang akan menjenguk makam bapak jika ibu tinggal di sini, katanya.
Sebelum kami meninggalkan kampung, kami singgah dulu ke rumah kakek untuk berpamitan, semua yang ada di sana kami temui tanpa terkecuali. Kakek memberi kedua cicitnya uang untuk jajan di jalan, baik Gara maupun Azka tidak dibedakan berapa yang diberi, semua mendapatkan jatah yang sama. Begitu juga dengan yang lainnya, meski yang mereka kepalkan hanya sedikit, tapi namanya rejeki tidak untuk ditolak juga. Bentuk kepedulian mereka terhadap cucu saudaranya.
Bibi, dan Widi menangis hebat ketika kami berpamitan kembali, tidak rela kami pergi lagi. Gara-gara itu, ibu juga menangis. Drama orang tua terjadi di tempat ini, yang katanya tadi tidak akan menangis, tapi nyatanya sekarang seperti drakor saja!
Aku pun sedih, tapi menahan kesedihan ini karena biasanya Azka akan ikut menangis juga. Hanya bisa mengusap pelan air mataku dengan diam-diam. Azka menatapku dan mulai terlihat tidak enak di wajahnya.
__ADS_1
Pamit dengan kakek, aku mendapat nasihat, begitu juga dengan para bibi dan juga uwak. Akan tetapi, aku tidak menangis, tapi dengan Bi Sari rasanya aku sedih sekali berpisah dengan oang yang banyak sekali membantu kami.
"Mang, titip vila ya. Sesekali dilihat, kalau ada kabar soal sawah juga hubungi saya," ucap Arga meminta tolong pada mamang.
"Beres kalau soal itu. Serahkan saja pada Mamang," ucapnya seraya menepuk dadanya dengan keras.
"Jangan banyak ngerokok, Mang. Ingat, ada anak gadis yang harus bikin Mamang sehat buat jadi wali nikahnya," ucap Arga lagi. Aku menoleh ke arah mereka berdua, mamang tidak menjawab hanya tertawa dan menepuk pundak Arga cukup keras. Kedua laki-laki itu seakan dua orang teman baik sekarang ini.
"Iya, Mamang akan coba buat kurangi rokok."
"Jangan cuma ingat, tapi juga kerjakan!" ujar Arga lagi.
"Iya," jawab mamang terlihat sedikit kesal karena dinasehati oleh suami keponakannya.
Kami dibagi dalam dua mobil, aku bersama pak sopir, Arga dan Azka, sedangkan di mobil belakang ada ibu, Mbak Sari, Gara, dan juga tetangga kami yang merentalkan mobilnya untuk kami pulang ke kota. Ibu meminta Gara menemaninya selama di dalam perjalanan dan untungnya Gara mau bersama dengan ibu.
Saat ibu ke kampung bapak, ibu dijemput oleh bawahan Arga dan ditinggalkan di sana, maka dari itu kini Arga sengaja menyewa mobil demi kenyamanan bersama, tidak mungkin kami semua masuk ke dalam satu mobil yang sama dengan barang dan oleh-oleh pemberian tetangga dan juga kerabat.
Aku seperti biasa, mabuk saat perjalanan. Beberapa kali kami berhenti di pinggir jalan demi untuk mengeluarkan hasr*at akibat mual muntah yang tiba-tiba saja muncul.
Beberapa kali juga kami berhenti di rest area, lebih kepada memberi kesempatan untukku rehat dari mual yang sangat parah, juga untuk mengisi perut yang lain karena lapar.
__ADS_1
"Ibu kerok, mau?" tanya ibu yang kini ada di dalam mobilku. Kami masih beristirahat di rest area dan menunggu Gara yang masih makan bersama dengan ayahnya.
"Gak ah, Bu. Ini masih di jalan, lagian bukan masuk angin juga," ucapku menolak.
Ibu mengeluarkan koyo hangat dari dalam tasnya. "Ini tempelin ke pusar, biar gak masuk angin. Kalau perut hangat gak akan muntah," ucap ibu. Aku meraih lembaran koyo hangat tersebut dan menuruti apa kata ibu, menempelkannya di balik baju.
"Sini punggungnya ibu balur juga." Ibu juga mengeluarkan minyak urut yang baunya khas sekali, aku menggeleng keras. Aroma itu tidak akan membuatku aman selama di dalam perjalanan.
"Kayu putih saja, Bu." Pintaku. Aku memunggungi ibu yang kulihat mengambil kayu putih dari tas kecil pada saku belakang kursi pengemudi.
"Apa sering muntah? Tadi makan dulu gak waktu mau berangkat? Barusan juga kamu makan sedikit sekali. Orang hamil itu kalau makan harus banyak, jangan cuma dikit gitu," ucap ibu. Bukan hanya itu saja, banyak kata yang terucap, bertanya, tapi tidak menjeda ucapannya dan memberiku kesempatan untuk menjawab.
"Kalau ditanya itu jawab, Yu! Gak sopan diam terus! Kayak Ibu gak pernah ajarin kamu perilaku saat bersama orang tua saja!" cecar ibu kesal sambil mengusap punggungku dengan lembut. Rasa hangat seketika terasa di sana. Hangat kayu putih dan hangat perhatian ibu.
"Ayu mau jawab gimana? Orang dari tadi ibu gak berhenti ngomong!" ujarku kesal.
Ibu tertawa terkekeh, lantas dia menarik tangannya. "Nih, permen. Makan ini, kali aja gak akan muntah lagi," ucap ibu seraya memberikanku beberapa bungkus permen yang ada di tangannya. Aku tersenyum senang, ingat ini adalah permen kesukaanku sedari kecil. Permen dengan bungkus warna warni dan di kedua sisinya di pelintir, masing-masing warna berbeda dengan rasa aneka buah tropis yang ada di negara ini.
"Ibu ingat kamu suka permen ini, tadi nemu di warung tapi lupa buat kasih," ucap ibu sambil terkekeh.
"Ibu masih ingat Ayu suka permen ini?" tanyaku.
__ADS_1
"Ingat lah, siapa juga yang gak ingat, semua yang ada sama kamu masih ibu ingat dengan baik. Kamu suka apa, tidak suka apa, ibu ya masih ingat lah. Rasanya malah baru kemarin kamu bayi, sekarang malah sudah punya bayi sendiri," ucap ibu lagi sambil tertawa.
Aku ingat dengan kata orang lain, di mata seorang ibu, setua apa pun anaknya tetaplah menjadi anak kecil di mata ibunya.