
...**Terima kasih atas doa dari teman semua. Alhamdulillah, Othor bisa kembali melanjutkan cerita Ayu. Semoga semua juga sehat, ya. Jaga kondisi tubuh supaya gak sakit. Cuaca sedang tidak menentu. Semoga semua dilindungi dari segala penyakit....
...Aamiin**....
...***...
Ustadz Zain dan keluarga telah berlalu dari hadapan kami. Aku dan Ibu menatap kepergian mobil itu yang kini telah berjalan menjauh.
"Memang dia Bu yang memberikan barang-barang itu," ucapku pada Ibu, masih menatap ke kejauhan sana.
"Barang yang dikirim itu?"
"Iya."
"Sudah Ibu duga. tapi kenapa ya Ibu lebih berharap barang itu diberikan oleh Dokter Wira," gumam Ibu pelan seakan berbicara pada dirinya sendiri.
"Apa, Bu?" tanyaku, pura-pura tidak mendengar Ibu.
"Eh, tidak. Ayo masuk," aja Ibu padaku.
"Lalu bagaimana dengan barang itu?" tanya Ibu lagi, kami mulai masuk ke halaman rumah.
"Ayu akan kembalikan, Bu. Ibu tau alamat rumah Kyai Amrul?" tanya ku pada Ibu.
"Tidak tau, tapi kalau pondoknya Ibu tau," ucap Ibu.
"Nanti bantu Ayu mengemasi barang-barang itu ya, Bu. Ayu gak mau terikat dengan siapapun meski dia bilang ikhlas memberi barang itu," ucapku.
"Ya."
...***...
Kantor jasa pengiriman barang ada di depanku, aku melangkah masuk ke dalam sana denan membawa satu paket besar dengan kardus mie instan yang ada di warung, sudah aku lakban dengan erat setiap sisinya. Baju, sepatu, tas dan sebagainya yang Ustadz Zain kirimkan padaku selama ini akan aku kembalikan saja. Tak lupa di dalam sana sudah aku berikan tulisan tangan berisi permintaan maaf.
"Eh, Ayu juga disini?" Seorang tetangga menghentikan langkahku. Dia baru saja selesai, kami berpapasan di pintu kantor tersebut.
"Bu Lina." Aku mengangguk seraya tersenyum dengan sopan.
"Kirim barang?" tanyanya, matanya menatap tajam kotak yang aku bawa.
"Iya," aku menjawab lagi.
"Ini kan nama pesantrennya Kyai Amrul," tunjuknya pada benda yang ada di tanganku, aku kembali tersenyum.
"Waah, jadi sama anak bungsunya Kyai? Mau jadi Bu Ustadz, dong!" serunya dengan nada yang terdengar tak enak di telinga. "Bener kata yang lain kalau kamu dilamar sama Kyai?" tanya Bu Lina ingin tahu.
Aku tersenyum lagi.
__ADS_1
"Katanya kamu menolak ya? Ih rugi loh! Kamu pake menolak segala, kan dia itu ganteng, baik, terkenal lagi. Pemuka agama," ucapnya menyayangkan.
Padahal tadi dia banyak bertanya, tapi dia jawab sendiri. Berarti bukannya dia sudah tahu dengan apa yang terjadi?
"Gak apa-apa, Bu. Bukan jodoh saya aja. Maaf ya, Bu. Saya masuk dulu, sudah ini saya mau ada urusan mendesak." Aku memilih pergi meninggalkan dia, daripada di sini ditanya berbagai macam pertanyaan yang dia jawab sendiri dan ujung-ujungnya aku merasa dipojokkan.
Aku meninggalkan Bu Lina dan masuk ke dalam kantor itu menemui petugas yang melayani pengiriman barang.
Mungkin iya apa kata orang, kalau aku terlalu sayang melewatkan kesempatan yang ditawarkan oleh Kyai untuk menjadi menantunya, tapi aku juga tidak mau memaksakan diriku sendiri untuk bersama dengan lelaki tanpa aku menyukainya, Dokter Wira saja yang aku kenal aku tolak, apalagi orang yang tidak aku kenal.
...***...
Badanku sedang tidak terlalu enak, demam sedari kemarin, mungkin karena aku memaksakan diri begadang untuk menyelesaikan tulisanku beberapa malam ini. Rasa mual di perut membuat aku muntah sedari bangun tidur tadi.
"Yu, kamu gak buka warung?" tanya Ibu yang melongok dari ambang pintu.
"Enggak, Bu. Hari ini tutup saja lah," ucapku malas. Kepala ini pusing dan perutku juga mual.
"Kamu sakit?" tanya Ibu sambil mendekat dengan khawatir.
"Pusing, Bu. Mungkin masuk angin," ucapku. Selimut aku naikkan hingga menutupi leher. Ibu memegang keningku, lalu memegang keningnya sendiri.
"Demam, Yu. Ibu kerok ya?"
"Hem," jawabku. Ibu pergi ke luar lalu tak lama kembali ke kamar dengan membawa mangkok berisi minyak urut dengan bawang merah.
"Yu, kamu yakin hanya masuk angin biasa? Kok Ibu denger tadi pagi kamu muntah-muntah?" tanya Ibu menyelidik.
"Iya lah, Bu. Hanya masuk angin biasa. Emang Ibu pikir aku kenapa?" tanyaku pada Ibu.
"Enggak. Ibu cuma mikir kamu ada yang lain," ucap Ibu lagi. Tangannya tidak berhenti mengerokkan koin lagi di punggung.
"Hamil maksud Ibu?" tanyaku. Ibu hanya diam.
"Enggak, Bu. Ayu cuma masuk angin biasa aja. Udah dua hari Ayu halangan, kok. Ini saja masih belum selesai," tuturku. Terdengar helaan napas Ibu, tapi aku tidak tahu apa artinya helaan napas kasar itu.
"Oh, ya sudah."
Ibu keluar dari kamar setelah selesai mengerok punggungku, tadi Ibu bilang akan membuatkan sayur sop kesukaanku, dengan baso dan juga sayap ayam. Untung stok di dalam kulkas tidak kurang aku sediakan.
Suara telepon berdering, panggilan dari Diana.
"Apa, Di?" tanyaku setelah mendengar suaranya. Tisu bekas aku buang setelah membuang cairan dari hidung.
"Jorok!" serunya dengan nada terdengar jijik. "Kamu buang ingus, ya? Aku lagi makan tau!" kesal Diana.
"Hehe, aku lagi gak enak badan. Ada apa?" tanyaku.
__ADS_1
"Yaaah, padahal aku mau kasih kabar buat kamu," ucapnya dari seberang sana.
"Kabar apa?"
"Di kantor pusat, ada lowongan untuk akunting, coba gih," ucapnya lagi.
"Di kantor mana? Di kota kamu sekarang? Gak ah jauh. Masa aku ninggalin Ibu? Mana Sinta belum balik dari KKN lagi," ucapku.
"Bukan, ada disana kok, mungkin dari rumah gak jauh amat, satu jam setengah lah," ucapnya lagi.
"Oh, mau kalau gitu, nama perusahaannya apa?"' tanyaku antusias, senang karena mendapatkan kabar baik dari Diana. Diana menyebutukan nama perusahaan dan nama jalan dimana perusahaan itu berada. Eh, baru tau kalau perusahaan itu adalah kantor pusat dari cabang perusahaan Diana bekerja.
"Oh. RC. Kalau itu aku tau. Asli itu sedang butuh karyawan? Kok aku cari di internet ga ada," tanyaku.
"RC gak sembarangan cari karyawan. tau sendiri kan kalau RC perusahaan yang cukup besar. Pabriknya aja ada beberapa di luar kota," ucapnya dengan bangga.
''Iya, tau. Makasih infonya. Besok aku kesana."
"Iya deh, besok kesana. Tapi ya harus sembuh dulu, jangan kelihatan kalau sedang sakit, kesempatan ini jarang banget loh ada," ucapnya lagi.
"Iya."
"Cepet sembuh deh, Cinta. Semoga lamaran besok sukses."
"Iya makasih, Di."
Sambungan telepon mati.
Dengan memaksakan diri, aku segera turun dari kasur dan menuju lemari, mencari surat lamaran kerja yang harus aku siapkan untuk besok. Semoga saja ada rezeki ku di perusahaan itu.
"Ngapain, Yu?" suara Ibu terdengar di belakangku. Di tangan Ibu membawa nampan berisikan mangkok, piring dan gelas.
Aku tengah berjongkok di bawah lemari, memilih dan memilah kertas yang aku butuhkan untuk aku isi.
"Siapin lamaran kerja, Bu."
"Kamu kan sakit, mau lamar kerja kemana?" Ibu terdengar khawatir.
"Buat besok, kok. Bukan sekarang," ucapku.
"Istirahat saja dulu, jangan dulu melamar kerja."
Aku bangkit, di tangan sudah menemukan apa yang aku cari.
"Mumpung ada kesempatan, Bu. Tadi Diana telepon, katanya RC sedang cari karyawan untuk akunting," ucapku. Aku duduk di samping tempat tidur. Ibu mendekat dan memperhatikan aku yang membaca kertas di tangan.
"Besok juga sembuh kok, Bu. Tenang aja," ucapku menenangkan Ibu.
__ADS_1