
Arga membangunkan aku yang tak sengaja tertidur tadi. Rasanya mata ini sedikit berat untuk terbuka, tidak rela untuk kehilangan rasa nyaman akibat suasana yang tenang seperti ini. Mamang terlihat tertawa saat aku baru saja membuka mata.
"Enak ya di sini? Sampai ketiduran gitu," ucapnya sambil tertawa kecil.
Aku malu, mengangguk sambil menjawab. "Iya, Mang. Ayu ngantuk banget, enak suasananya di sini," ucapku.
"Ya sudah, Mamang mau lanjut jaga. Nanti banyak burung yang hinggap, habis padi Mamang gak akan bisa panen," ucapnya sambil turun dari saung.
Gara dan Widi tidak terlihat di tempatnya tadi, aku mengedarkan pandanganku ke arah lain untuk mencari mereka.
"Anak-anak udah pulang," ucap Arga sambil membereskan wadah makanan yang tadi kami bawa. Sebagian wadah dibawa oleh bibi, sisanya yang tidak terbawa ditinggal untuk kami bawa pulang.
"Eh, aku ketiduran apa lama?" tanyaku malu.
Arga tertawa kecil. "Ya, lumayan lah, setengah jam lebih."
Duh, malu rasanya. Bagaimana kalau mamang melihat tidurku yang tidak cantik? Bagaimana kalau mulutku terbuka tanpa aku sadari? Ya, meskipun rasanya aku akan menolak jika tidur dengan mulut terbuka, tapi bisa saja kan itu terjadi?
"Mau pulang atau lanjut tidur di sini?" tanya Arga. Semua barang telah selesai dimasukkan ke dalam kresek besar.
"Pulang lah. Di sini nanti gimana aku mau pulang? Sama siapa?" tanyaku seraya mencari gelang karet yang aku ingat tadi ada di sekitaran kami.
"Cari apa?" tanya Arga saat melihatku tengah mengedarkan pandang di tempat kami duduk.
"Karet," jawabku. Dia kembali mengulik kantong kresek putih dan mengeluarkan gelang karet berwarna merah.
"Buat apa?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Aku tertawa, menyeringai tanpa malu lagi. "Buat ini." Gelang karet tersebut aku masukkan ke dalam lubang kancing celana, satu sisinya untuk kaitan kancing. Lumayan membuat sedikit longgar dan tidak membuat sesak perut.
"Astaghfirullah, trend baru? Haruskah aku bikin juga buat di pabrik?" candanya.
Aku menatapnya dan tertawa garing. "Haha, gak lucu!" ucapku.
Arga tertawa dan mengelus kepalaku yang tertutup jilbab. Dia memang tidak pernah marah jika aku menjawabnya dengan ketus seperti itu.
Kami turun dari saung. Lumayan celana ini menjadi longgar, aku juga tidak perlu takut akan terlihat oleh orang lain, karena pakaian yang aku pakai ini panjangnya sampai setengah paha.
"Ayo pulang. Mang!" teriak Arga sambil melambaikan tangannya ke arah kejauhan. Mamang yang ada di sisi lain sawah balas melambai. "Kami pulang, ya!"
"Iya!" balas teriak laki-laki yang usianya di bawah lima tahun dari bapak.
Dengan hati-hati kami berjalan menyusuri pematang sawah dan akhirnya sampai di jalan kampung, lanjut berjalan kaki menuju ke vila.
"Orang di sini ramah semua," ucap Arga saat kami melanjutkan perjalanan.
"Iya, aku senang di sini. Damai rasanya," tuturku.
"Suatu saat kalau kita tua nanti, tinggal di sini, yuk. Urus sawah kayak mamang, kamu bawakan nasi liwet buat makan siang aku," ucap Arga membuat aku tertawa mendengarnya.
"Serius kamu mau jadi petani?" tanyaku tak percaya.
"He-em, serius," jawabnya. Aku kembali tertawa saat membayangkan Arga dengan seragam kebangsaan ala tani hadiah dari membeli obat tanaman, banyak orang yang sama memakai pakaian tersebut ke sawah.
"Kok ketawa?" tanya dia dengan heran.
__ADS_1
"Lucu aja. Kamu yang kerjanya di depan laptop dan komputer, pegang laporan tiap hari mau jadi tani? Waaaw, emejing!" ucapku dengan sedikit mengejeknya. Bukan mengejek, sih, tapi lebih ke tidak percaya dia punya pemikiran itu.
"Memangnya kenapa? Kamu nyangka aku pasti gak bisa kan kayak gitu?"
"Enggak, semua orang bisa kok kalau mau belajar. Tapi, kamu yakin mau nyebur ke sawah? Sawah kan banyak lumpur, banyak hewan kecil. Kamu gak tau aja kan nyebur, tangan dan kaki belepotan?" tanyaku.
"Kata siapa? Pernah kok dulu, waktu sekolah. Rekreasi ke sawah juga. Lagian, Ma. Aku jenuh juga kalau kerjaan terus kayak gini. Rasanya pengen cepet anak-anak gede aja biar bisa pegang pabrik dan aku bisa menikmati masa tua kita di sini," harapnya.
"Ish, kamu ini. Mereka masih kecil, masih butuh waktu berapa lama lagi tuh buat sampai mereka dewasa. Azka saja masih belum satu tahun. Nih, yang ada di perut aja belum keluar!" ucapku sambil menunjuk perut yang sedikit buncit.
Arga tertawa lagi. "Iya, ya. Sekarang kalau mikir masa depan nanti, pengen cepet anak besar, biar bisa mandiri dan sukses. Tapi katanya, kalau anak dah besar, malah kangen pengen mereka balik kecil lagi," ujarnya masih sambil tertawa.
Aku setuju dengan itu, Gara saja aku suka melihatnya saat dulu. Bukan berarti sekarang pun tidak suka, tapi Gara kecil lebih menggemaskan. Terutama saat sedang merajuk dan menganggap dirinya akan nakal saja jika keinginannya tidak dituruti.
"Kenapa kamu ketawa sendiri?" tanyanya, aku tersadar dan menghentikan tawa ku.
"Aku inget Gara waktu dulu. Gak kerasa aja sekarang udah gede, kangen Gara yang dulu," jawabku.
"Kalau aku?" tunjuknya pada dirinya sendiri.
"Kamu kenapa?" tanyaku bingung. Sepertinya tidak ada yang salah dengan dia, lantas kenapa?
"Kamu gak kangen sama aku?" tanyanya dengan cemberut.
Aku tertawa, tersadar jika dia juga ingin diperhatikan.
"Ih, kamu nih ya. Dasar!" Lengan yang kekar aku cubit dengan cukup keras sampai dia mengaduh. Tidak peduli dengan kami yang masih di jalanan dan beberapa orang berlalu lalang di dekat kami. Aku dan dia kini seperti anak ABG yang sedang pulang dari nge-date.
__ADS_1