
Kami menghabiskan waktu sangat lama di supermarket ini, selain berbelanja pakaian Arga juga membebaskanku untuk belanja apapun yang aku mau. Aku malah bingung saat dia mengatakan hal itu. Jadilah aku mengambil keranjang belanjaan dan memilih sayur yang ada di lantai bawah. Di sana sangat lengkap sekali sehingga aku bisa mengambil apapun yang aku mau.
"Kenapa tidak jadi mengambil jajan?" tanya Arga saat ia mendorong troli yang masih kosong.
Aku hanya mengangkat kedua bahuku bersamaan. "Nggak tahu rasanya bingung pengen jajan, kayaknya mendingan sayuran jadi aku bisa masak," ucapku lalu mengambil beberapa sayuran hijau yang ada di sana.
Arga mengikuti dengan sabar, dia terus mendorong troli yang semakin lama semakin banyak isinya. Bukan hanya sayuran saja, tapi aku juga ingat dengan beberapa barang yang hampir habis di rumah. Sekalian saja aku mengambilnya di sini. Aku lebih senang menghabiskan uang untuk keperluan rumah daripada untuk keperluanku sendiri.
Troli yang Arga dorong semakin banyak isinya, untuk hal ini aku tidak perlu khawatir akan membuat bangkrut suamiku. Dia kan seorang pengusaha!
Kami berjalan menuju tempat daging-daging segar berada, udang, ikan, dan aneka sayur lainnya sudah berpindah kini ke dalam troli. Jika menurutku harga-harga di sini lumayan mahal, tentunya tidak bisa untuk ditawar. Lagi-lagi aku memikirkan jika aku bisa berbelanja di pasar tradisional. Di sana lebih murah dan bisa ditawar, setidaknya kalau tidak bisa ditawar juga sensasi saat menawarnya itu loh yang membuat aku kangen.
Lain kali aku akan ajak Arga ke sana.
"Apa lagi?" tanya Arga saat melihat aku bingung mencari barang-barang yang lain. Aku sedang mengingat-ingat, barang apa saja di rumah yang kini telah habis. Sepertinya ada beberapa tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan baik karena tidak dibuatkan list terlebih dahulu.
"Aku bingung, kamu sih ngajak aku ke sini dadakan," ucapku kepadanya. Lagi-lagi dia hanya tertawa kecil.
"Memangnya kenapa? Kan aku ajak kamu ke sini biar kamu bisa jajan banyak-banyak, di sini lebih lengkap. Lagian kamu tumben banget Yu, biasanya juga nggak minta jajan, tapi jajan sendiri." Dia mengambil salah satu barang yang ada di hadapannya dan memasukkannya ke dalam troli.
__ADS_1
"Lagi pengen aja, emang kenapa?"
"Ya nggak apa-apa sih, tapi heran aja."
"Sayang, sudah ini kita pergi ke bioskop yuk," pintaku kepadanya. Dia menatapku heran. Mungkin tidak biasanya hari ini aku banyak meminta kepada dia. Arga masih terdiam melihatku, aku balik menatap heran kepadanya.
"Kenapa?" tanyaku kepada dia. Dia hanya menggelengkan kepala sambil menatapku. Entah apa yang dia pikirkan di dalam kepalanya, tapi aku juga merasa aneh dengan diriku sendiri.
Kami telah selesai berbelanja, lumayan banyak sehingga kami sedikit kewalahan membawa belanjaan tersebut. Setelah dari sini Arga membawaku ke tempat yang lain. Untuk menonton bioskop tentunya. Padahal aku tidak pernah menyimak film apa yang terbaru yang keluar dari bioskop tersebut. Aku tidak pernah menyimak atau bahkan melihat-lihat, hanya saja sesekali melihat di postingan orang lain. Sebelumnya tidak pernah terpikirkan juga oleh untuk menonton ke dalam sana.
"Memangnya ada film apa sih?" Dia bertanya kepadaku, aku menggelengkan kepala. Benar-benar tidak tahu apa yang sedang tayang di dalam sana.
"Memangnya kenapa kalau nggak tahu ada film yang terbaru? Itu tuh aku suka lihat tuh di media sosial yang penari-penari gitu loh. Kok spoiler yang aku lihat di iklan kayaknya menarik gitu," ucapku kepada Arga. Arga melirikku dari belakang kemudinya.
"Itu film hantu loh," ucap Arga memberi peringatan kepadaku.
"Memangnya kenapa kalau film hantu? Kayaknya seru juga sih," ucapku kepada Arga. Dia menepuk keningnya.
"Nanti kalau kamu takut terus nangis bagaimana di dalam sana?" tanya dia lagi. Tatapannya kini dialihkan pada jalanan yang ada di depan sana. Beberapa mobil melewati kami, sesekali memberikan klakson entah kepada siapa. Jalanan sudah mulai ramai karena sekarang ini waktunya telah menjelang sore di mana banyak orang-orang yang bekerja kini pulang dari tempat bekerjanya itu.
__ADS_1
"Nggak akan nangis, please," ucapku dengan memohon kepadanya. Sesekali melihat iklan itu di laman media sosial sepertinya rasanya seru juga menonton film tersebut.
"Ya aku sih oke-oke aja, tapi kalau nanti malam kamu sampai nangis karena mimpi didatengin hantu, aku nggak mau tanggung jawab loh, ya!" ujarnya dengan jari telunjuk yang dia tunjukkan di depan wajahku.
"Iya nggak akan. Aku nggak akan nangis kok janji," ucapku kepada laki-laki ini.
"Oke kalau begitu. Tapi memang kamu nggak mau itu lihat film romantis? Yang bucin-bucin gitu?" Tanya dia lagi.
"Nggak seru nonton film bucin. Lebih seru nonton itu tuh yang Desa Penari," ucapku lagi kepadanya.
Arga sudah tidak bisa mengelak lagi. Dia terpaksa setuju mengikuti kemauanku.
Kami kini telah sampai di sebuah mall terbesar di kota ini. Tempat dulu aku bersama dengan Dini dan anak-anak bermain di sini. Di lantai yang sama dengan tersebut adalah bioskop. Kami berdua berjalan dengan mesra ke lantai atas. Jujur saja aku tidak peduli dengan para muda-mudi yang menatap kedekatan kami. Bukan hanya mereka saja yang bisa bergandengan tangan dengan pasangannya masing-masing, tapi kami pun juga bisa.
Tiba di lantai atas, kami segera melihat-lihat film yang ada di dinding. Judul dan daftarnya sudah tertera di sana. Ini bukan akhir pekan jadi tidak banyak film yang diputar.
"Bagaimana ini kamu lihat kan? Film yang kamu mau kamu tonton itu adanya nanti jam tujuh malam, apa kamu mau tetap menontonnya juga?" tanya suamiku terdengar sedikit kesal, pasalnya aku tidak mau menonton film yang lain. Aku tetap penasaran dengan film penari itu.
Jujur saja aku kecewa, aku ingin melihatnya!
__ADS_1