
Malam harinya, di rumah sudah banyak orang yang datang. Mereka adalah kerabat dan keluarga Arga. Arga bilang ada beberapa orang yang tidak datang.
Mereka sudah berkumpul di ruang keluarga, saking banyaknya, entah, aku kira sampai lebih dari lima belas, sampai sofa yang ada tidak cukup untuk menampung keluarga besar kami. Karpet besar tergelar di lantai, suguhan makanan dan minuman sudah ada di atas meja. Aku tidak tahu kapan Arga menyiapkannya, mungkin saja saat aku tadi tidur, karena saat aku bangun dia sudah tidak ada di sampingku.
"Ini ada apa sih? Kok kami disuruh datang ke sini? Ada yang ulang tahun, kah?" tanya Bibi sambil menyuapi cucunya yang masih usia batita.
"Iya, nih. Aku sampai batalin janji sama ayang karena kamu minta kami kumpul," ucap salah satu sepupu Arga. "Awas saja kalau gak ada hal yang penting, aku gantung kebalik kamu!" ancamnya dengan kesal.
Arga hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya ke atas, membuat adik sepupunya itu menjadi kesal.
"Nanti, kalau Papa udah datang aku kasih tau," ucap Arga dengan santainya. Dia pergi meninggalkan aku dan keluarganya, masuk ke dalam kamar.
"Ada apa sih, Yu?" tanya Bibi padaku. Aku menggelengkan kepala, tidak ingin apa yang Arga lakukan untuk memberi kejutan gagal karena ulahku.
"Tunggu papa datang," ucapku pada bibi sambil tersenyum padanya. Anak batita berusia hampir tahun tahun itu aku cubit cubit pipinya, rasanya gemas sekali. Kedua pipinya sangat gembil dan sangat enak untuk aku cubit. Sesekali anak itu menggerakkan tangannya mengusir tanganku, merasa terganggu dengan apa yang aku lakukan.
"Bakalan lama dong. Lagian kenapa juga main rahasiaan segala?" tanya Bibi sedikit kesal dan juga penasaran.
"Ya kalau nggak dirahasiain bukan kejutan lagi lah namanya," ucapku dengan tawa kecil.
Tidak lama dari itu Papa datang bersama dengan sopirnya. Aku menyambut kedatangan papa dengan mengulurkan tangan untuk salim kepadanya. Begitu juga dengan yang lainnya. Kami kembali duduk di karpet membuat lingkaran yang besar.
"Ini ternyata semua kumpul di sini, ada apa sebenarnya?" tanya papa kepada kami.
"Nggak tahu tuh si Arga. Minta kami untuk datang ke sini," ujar seseorang yang lain. Papa dengan cepat duduk di antara kami, mengambil alih anak perempuan berusia dua tahun itu ke atas pangkuannya.
"Kakek!" teriak Gara yang baru saja turun dari lantai atas, ank itu baru saja selesai belajar bersama dengan Mbak Sari. Gara berlari dengan cepat saat sudah sampai di lantai bawah dan memeluk Papa dengan erat.
"Cucu jagoan Kakek!" Papa memeluk dan mencium Gara. Sedikit berhati-hati juga supaya tidak menindih anak batita di pangkuannya.
__ADS_1
Arga baru saja keluar dari dalam kamar kami, membawa sebuah papan besar, aku tidak paham dengan apa yang ada di sana. Papan besar itu terdapat beberapa kotak-kotak kecil dengan berbungkus kertas kado, kalau aku perhatikan kotak itu sebesar bungkus rokok.
"Papa sudah datang," sapa Arga, dia menyimpan papan tersebut di atas meja dan memeluk ayahnya.
"Ada apa? Kenapa kami diundang ke sini?" tanya papa dengan penasaran. Arga bangun, berdiri di hadapan kami semua. Dia hanya tersenyum dan menatap kami.
"Sudah kumpul semua?" tanya Arga kepada kami. Dia layaknya pemimpin dalam sebuah majelis.
"Mana kita tau, kan kamu yang tau kita ada semua apa enggak," jawab salah seorang yang ada di belakangku.
"Ah, ya. Ada beberapa yang gak datang," ucap Arga lagi sambil tersenyum dengan malu.
"Jadi ada apa nih? Jangan sok misterius deh!" salah satu yang lain menyahut.
"Sabar," ucap Bibi, memang bibi selalu menjadi orang yang sangat sabar dan juga bijak.
"Ini apaan juga?" Sepupu Arga bertanya sambil memperhatikan kotak yang ada di tangannya, dia sudah mulai mencoba untuk membuka kotak tersebut.
"Hei, jangan dibuka dulu," cegah Arga dengan berang. Dia melotot pada sepupu laki-laki yang memang tidak pernah bisa sabar.
"GJ, ah!" jawab laki-laki itu dengan kesal.
"Isinya apa emas?" tanya Bibi.
"Bukan, tapi lebih dari emas."
"Berlian dong?" sahut yang lain dengan riang.
"Lebih dari itu," ungkap Arga.
__ADS_1
Beberapa dari mereka sudah mendapatkan benda tersebut sehingga apa yang ada di papan besar itu tidak bersisa lagi.
Aku menatap Arga yang tersenyum ke arahku dan menyimpan satu jari telunjuknya di depan mulutnya pada Gara.
"Apa sih ini?" tanya bibi dan juga yang lainnya saling berbisik.
"Itu kejutan!" ucap Gara. Arga sudah mulai terlihat tidak enak wajahnya kala aku lihat dia masih di tempatnya.
"Wah, kejutan apa?" tanya yang lain, Om kesayangan Gara.
"Lihat aja, pasti Om dan Nenek bakalan seneng deh. Di sana ada kejutan kalau Gara akan punya adik!" ucap Gara dengan riangnya membuat Arga kini terlihat menahan kesal karena ulah Gara.
"Ha? Adik? Gara akan punya adik? Beneran ini Yu? Arga?" tanya bibi kepada kami bergantian. Begitu juga papa dan yang lainnya. Terlihat senyum dan juga ragu karena belum mendapatkan jawaban yang pasti.
Ku lirik Arga yang masih kesal di sana, tapi tersenyum dan dengan menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah!" seru Bibi, lalu memelukku dengan erat dan mencium pipiku kanan dan kiri.
"Akhirnya ... akhirnya kamu hamil?" tanya bibi dengan tidak percaya. Aku mengangguk membuat bibi kembali memelukku dan terisak.
Arga mendekat dan duduk di dekat papa, menepuk pelan lengan Gara dengan terlihat kesal.
"Gara kenapa bilang sih? Kan bukan lagi kejutan namanya!" Arga dengan nada geramnya. Gara hanya melongo menatap sang ayah.
"Loh kan bisa dilanjut lagi, Pa. Itu belum di buka kadonya kan? Kan kejutannya masih ada di dalam sana," ucap Gara dengan polosnya. Beberapa dari kami tertawa mendengar ucapan Gara, sedangkan Arga terlihat semakin kesal. Apa yang dia rencanakan digagalkan semua oleh ulah putra kesayangannya.
"Astaghfirullah. Dah gak jadi kejutan itu mah!" kesalnya sambil mengusap wajahnya. Aku menahan senyum melihat wajah suamiku yang tengah kesal.
"Sabar," bisikku padanya.
__ADS_1