Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
235. Sosok Suami Idaman


__ADS_3

Aku terbangun kala merasakan gerakan halus di sampingku. Saat aku membuka mata, Arga baru saja turun dari atas kasur.


"Eh, kamu bangun? Ini baru satu jam loh dari kamu tidur tadi," ucapnya sambil berpakaian.


"Kamu mau kemana?" tanyaku bingung, tanpa menggubris ucapannya tadi.


"Ke kantor, ada urusan mendadak. Gak pa-pa kan aku tinggal?" tanya Arga lagi. Aku menggelengkan kepala.


"Gak apa-apa. Pergi saja, tapi kamu belum makan, kan?" tanyaku lagi.


Arga tersenyum, kancing kemeja dia selesaikan hingga ke bawah. "Nanti saja di kantor, aku harus cepat pergi sekarang." Dia mendekat ke arahku.


Cup.


Satu kecupan hangat nan singkat di bibir membuat aku terdiam. Merasa bersalah karena tadi aku menahannya di sini.


"Aku berangkat, ya. Kamu hati-hati di rumah. Jangan banyak bergerak, di tempat tidur saja sampai aku pulang nanti," ucapnya sambil menjepit hidungku.


"Iya, kamu juga. Hati-hati di jalan. Minta pak sopir jangan ngebut. Hubungi aku kalau sudah sampai, ya." Pintaku. Arga tersenyum dan mengangguk. Dia berdiri dan mengambil jasnya yang tergantung di ujung ruangan. Langkah kakinya yang sudah menjauh kini berbalik arah, mendekat kembali dan mengelus perutku.


"Aku lupa. Sayangnya Ayah, jangan nakal ya. Kasihan Mama. Papa pergi dulu. Babay!" bisiknya di depan perutku lalu menciumnya lembut.


Aku melihat Arga kini pergi menjauh, menghilang di balik pintu kamar.


Aku kembali merebahkan diri, menarik selimut di atas tubuh Gara. Hingga sore menjelang aku masih ada di atas kasur, bukan karena ingat dengan ucapan Arga tadi, tapi karena Gara yang memeluk leherku dengan erat dan membuatku tidak bisa bergerak bangun.


Arga tidak menghubungiku, padahal sedari tadi aku menunggu telepon darinya.


[Kamu kok gak telepon? Sibuk banget, ya?] tanyaku di sebuah pesan yang barusan aku kirimkan. Tak lama centang dua itu berubah biru.


[Maaf, Sayang. Aku masih ada klien penting.] jawab singkat pesan itu.


[Jangan lupa nanti makan, ya.]


[Ya, tentu.]


Perlahan aku menggeserkan kepala Gara dari lenganku, rasanya kesemutan menahan kepalanya selama hampir dua jam.


Akhirnya aku bisa bangun juga. Selimut yang melorot aku tarik kembali ke tubuhnya. Gara sangat nyenyak sekali tidur, jika dihitung sudah hampir tiga jam. Akan tetapi, aku tidak punya niat untuk membangunkan dia. Biarkan saja bangun dengan sendirinya.


Perlahan aku berjalan ke kamar mandi, sedari tadi menahan hasrat ingin buang air kecil.


Telepon berdering saat aku baru keluar dari kamar mandi. Sedikit cepat aku berjalan dan meraih hp yang aku simpan di atas nakas. Ibu meneleponku.


"Assalamualaikum. Ya, Bu?" Terdengar suara ibu di kejauhan sana menjawab salam dan menanyakan kabarku.


"Alhamdulillah, baik. Ibu sendiri bagaimana?" tanyaku. Padahal baru beberapa hari yang lalu kami dari rumah ibu.


"Baik. Yu, kan bulan ini kandungan kamu sudah jalan empat bulan, rencana Ibu pengennya adakan selamatan ngupati, Nduk. Bagaimana?" tanya Ibu. Aku terdiam, tidak tahu harus bagaimana.


"Itu juga kalau kamu setuju, kalau tidak ya ... Ibu akan adakan pengajian saja di rumah," ucap Ibu lagi.

__ADS_1


"Ayu gak bisa mutusin, Bu. Harus bicarakan dulu sama Papanya Gara."


"Oh, ya sudah. Kalian bicarakan dulu. Kalau mau, nanti Ibu cari orang buat bantu masak dan siapkan acara," ucap Ibu.


"Iya, nanti malam Ayu bicara sama Arga."


Telepon ibu matikan, beliau pamit dan berkata akan pergi ke dapur. Aku mengambil handuk dan akan mandi.


Air hangat aku isi di bathtub. Beberapa tetes bubble bath dan aromatherapy aku teteskan di air hangat. Sedikit lelah badan ini.


"Ma!" teriak suara Gara saat aku sudah masuk ke dalam bathtub. Pintu diketuk dengan keras dari luar. "Mama mandi?" tanya suara itu lagi.


"Iya, Mama lagi mandi. Ada apa, Sayang?" tanyaku seraya berteriak.


"Oh. Gak ada. Abang ke kamar dulu, ya!"


"Iya!" balasku berteriak. Suara itu tidak terdengar lagi hingga aku menunggu beberapa saat lamanya.


Aku tidak ingin tergesa dalam mandiku, lagipula Gara juga sudah terbiasa mandi sendiri. Mbak Sari juga biasanya sigap mengurus Gara.


Perut yang rata aku elus dengan perlahan, senang dengan pencapaianku kali ini. Di dalam sini ada buah hati aku dan suamiku, sedikit bergerak halus yang membuat perasaanku kini bahagia sekali. Aku masih berpikir, tujuh tahun aku berumah tangga dengan Mas Hilman, tapi aku tidak bisa hamil. Apakah dulu ada yang salah? Padahal Mas Hilman bisa cepat membuat Hana hamil.


Lebih dari setengah jam aku mandi sambil terus berpikir. Ku putuskan untuk menyudahinya karena air juga sudah mulai terasa dingin.


Panggilan telepon dari Arga aku lewatkan. Aku hanya mengetik pesan sambil memakai baju, sebelumnya tak lupa pintu kamar aku kunci. Takut jika tiba-tiba ada yang masuk ke dalam kamar.


[Ma, malam ini aku pulang agak terlambat, gak apa-apa, kan?] tanya di dalam pesan tersebut.


[Belum. Jangan tunggu Papa untuk makan malam, ya. Kamu dan Gara duluan makan. Tidur jangan larut, kalau sudah selesai papa akan segera pulang.] balasnya lagi.


[Iya. Hati-hati.]


Hanya itu balasan yang aku ketik untuknya. Dalam hati ini terkadang sering merasa sepi jika tidak ada Arga. Inginnya dia di rumah terus setiap hari, tapi tidak mungkin juga jika aku menyuruhnya tinggal di rumah. Dia juga punya tanggung jawab lain selain padaku dan Gara.


Aku dan Gara makan malam hanya berdua saja.


"Papa kemana, Ma?" tanya Gara padaku.


"Masih ada pekerjaan."


"Sampai malam begini. Biasanya juga enggak pernah sampai malam," ujarnya sambil memainkan makanan di piringnya.


"Namanya juga papa orang yang sibuk dan juga punya tanggung jawab besar, makanya papa gak bisa selalu pulang tepat waktu."


"Kalau sudah besar nanti, Gara gak mau jadi bos ah," ucapnya sambil mengetuk piring dengan sendoknya.


"Loh, kenapa?" tanyaku bingung.


"Kalau Gara jadi bos, Gara akan sibuk, terus Gara akan pulang malam, gak bisa jagain Mama sama dedek bayi!" ujarnya membuat aku gemas. Padahal jika di pikirkan saat dia besar nanti tentu adiknya juga akan sudah besar sama seperti dia. Akan tetapi pemikiran anak-anak tentu saja selalu berbeda.


"Ih, kamu ini lucu banget sih." Pipinya yang gembil aku cubit pelan sambil kugerakkan ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


"Sakit, Mama!" ucapnya kesal. Pipinya yang merah dia usap, bibirnya mengerucut lucu. Protes akan apa yang aku lakukan tadi.


"Ya kamu habisnya lucu. Terima kasih, ya. Sudah mau jagain Mama dan dedek bayi." Bahagia sekali rasanya hati ini. Meskipun Gara bukan anak kandungku, tapi kasih sayangnya tidak bisa diragukan lagi.


"Dedek bayi kapan sih Ma keluarnya? Kok belum keluar juga?" tanyanya lagi.


"Masih lama."


"Iya, tapi kapan? Temen Abang aja udah punya dedek bayi, rasanya cepet deh, baru kemarin dia bilang ada di perut ibunya sekarang kalau jemput dibawa ke sekolah," ucapnya lagi.


Aku menggaruk kepala, sedikit bingung menjelaskan harus bagaimana. Tidak pernah ada pengalaman untuk menjawab hal yang seperti ini.


"Nanti, Abang. Di dalam sana juga dedeknya kan masih sangat kecil sekali. Masih belum bisa dipeluk." Suara Mbak Sus terdengar kini mendekat ke arah kami.


"Kalau belum bisa dipeluk gimana nanti Abang pengen peluk dedeknya? Kan sekarang masih sangat keciiiiil sekali," ucap Mbak Sus sambil memperlihatkan ujung kuku ibu jarinya.


"Nanti, kalau udah sebesar boneka kelinci punya Abang tuh yang ada di kamar, baru deh dedeknya lahir," ucap Mbak Sus.


"Ooh, begitu." Gara menganggukkan kepalanya, meski dengan nada yang sedikit bingung. Aku menghela napas lega mendengar Gara tidak lagi bertanya.


Entah, apakah penjelasan Mbak Sus bisa Gara terima atau tidak, tapi aku sedikit lebih tenang karena ada yang membantuku bicara dengan Gara.


"Sudah, selesaikan makannya, nanti belajar sama Mama," ucapku yang kemudian mendapatkan anggukkan kepala dari anak itu.


Gara sudah selesai belajar, dia juga sudah tidur bersama dengan Mbak Sari yang menemaninya.


Aku kini menunggu Arga pulang ke rumah. Ini sudah jam sembilan malam. Aku menjadi khawatir padanya. Pesan aku kirimkan, bertanya mengenai keadaannya. Dia membalas, kini sedang berada di perjalanan pulang. Syukurlah.


Daripada banyak pikiran, kuputuskan untuk menulis saja. Kehamilan ini membuatku menjadi sosok yang pemalas. Dalam minggu ini hanya beberapa kali update saja. Mungkin aku akan membuat ceriaku ini tamat lebih cepat.


"Assalamualaikum." Suara salam terdengar setelah pintu kamar terbuka lebar. Aku mengalihkan tatapanku dari laptop dan mendapati suamiku yang pulang bersama dengan beberapa berkas di tangannya.


"Waalaikumsalam. Pa, baru pulang?" Aku beranjak bangun dan menyambut tangannya untuk aku cium. Tas kerjanya aku ambil, menyimpannya di atas meja tempatku duduk tadi. Arga kini duduk di samping tempat tidur, membuka jasnya, terlihat pada wajahnya yang sangat kelelahan. Dasi yang miring dan longgar menandakan jika laki-laki ini telah bekerja dengan sangat keras.


Aku segera berjongkok untuk membantu membuka sepatunya. Akan tetapi, dia menahan tanganku dan menarikku ke sampingnya.


"Tidak usah. Sudah aku bilang kan, kamu tidak perlu membukakan sepatu ku," ucapnya.


"Gak apa-apa, biar cepet. Kamu kan capek, lagian ini kan tugas aku," pungkasku.


"Tapi aku gak mau. Aku butuh kamu untuk menjadi seorang istri. Bukan pelayan!" ucapnya marah.


"Duduk!" tunjuknya pada tepian kasur yang dia tepuk. Nada suaranya sangat tegas sehingga membuat aku menjadi sedikit takut. Arga membuka sepatunya sendiri dan menyimpannya di rak. Dia kembali ke tempat ku duduk.


"Maaf," ucapnya sambil mengambil tanganku dan dia cium punggung tangannya beberapa kali. Rasa hangat dari perlakuan laki-laki itu membuat aku menjadi sedih karena haru.


"Maaf. Aku gak bermaksud bentak kamu, Yu. Maaf, maaf," ucapnya lagi. Tanganku tak henti dia ciumi lagi.


"Aku minta maaf, aku gak sengaja bentak kamu. Aku cuma gak mau kamu lakukan hal yang seperti tadi. Maaf, ya?" pintanya dengan memohon. Aku tersenyum padanya dan menganggukkan kepala.


***

__ADS_1


Maaf Terlambat update. Tunggu bab selanjutnya ya, masih dalam proses ngetik 👋


__ADS_2