Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
106. Paket Misterius


__ADS_3

Aku pergi ke tempat yang di rekomendasikan oleh teman Diana. Sebuah perusahaan besar yang ada di salah satu kota ini. Dari rumah Ibu tempatnya cukup jauh juga, tapi tak apa, jika memang disini adalah rejeki ku, aku akan mencobanya. Setiap hari harus bangun lebih pagi agar tidak terlambat datang kemari.


Bismillahirrahmanirrahim.


Dengan mengucap bismillah, aku melangkah masuk. Mendekat ke arah resepsionis untuk menanyakan apakah benar di perusahaan ini memang sedang ada lowongan pekerjaan.


Hatiku harus kecewa karena setelah wawancara aku tidak diterima di kantor ini. Pengalaman ku yang belum terlalu lama di masa lalu membuat aku harus kembali pulang ke rumah dengan kecewa.


Jalanan sudah mulai panas, debu kotor beterbangan bersamaan dengan asap kendaraan yang membuat sesak pernapasan.


Di sebuah taman kecil aku berhenti. Melepaskan lelah dan kecewa. Jam masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Mau menelepon Diana, tapi dia pasti sedang bekerja sekarang ini. Ku putuskan untuk kembali saja ke rumah. Mencari perusahaan lain pun juga ini sudah siang. Mana ada yang mau menerima pelamar kerja di jam menjelang siang seperti ini.


Sambil pulang aku juga berharap mungkin ada toko atau pabrik yang sedang menerima pekerja. Terserah ku mau ditempatkan di bagian mana, aku hanay ingin mendapatkan pekerjaan sekarang ini. Akan tetapi, sampai di rumah pun aku tidak menemukan tempat yang sedang menerima karyawan.


Motor aku dorong ke halaman rumah setelah menutup pintu pagar. Rasanya malu juga dengan Ibu jika beliau tanya kenapa aku sudah pulang. Aku yang tadinya yakin jika akan diterima di perusahaan itu, kini hanya bisa pasrah dengan penolakan.


"Sudah pulang?" Yu Tarni ada di rumah saat aku masuk ke dalam.


"Eh, Yu? Disini?" tanyaku.


"Ya disini lah, kan kamu yang minta saya buat temenin Ibu kamu," ujar Yu Tarni, tangannya sedang memegang sapu, mengayunkannya ke depan dan belakang.


Aku bodoh sekali, kan memang aku yang tadi pagi pergi ke rumah Yu Tarni dan meminta beliau untuk menemani Ibu.


"Hehe, Ayu lupa. Ibu mana?" tanyaku.


"Di belakang. Kasih makan ikan di kolam," ujarnya. Aku hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamar. Ingin merebahkan diriku terlebih dahulu sebelum nanti siang membuka warung.


Entah berapa lama aku rebahan, suara ketukan di pintu kamar terdengar. Yu Tarni memanggil namaku. Gegas aku bangkit dan membuka pintu.


"Itu, ada Bang Kurir di depan. Kirim barang," ucap Yu Tarni.


"Iya." Aku berjalan ke depan dan menemukan seorang pemuda dengan memakai jaket sebuah perusahaan ekspedisi.

__ADS_1


"Dengan Mbak Ayu?" Dia bertanya.


"Iya. Saya."


"Ini ada paket." Dia menyerahkan kotak yang di bungkus berwarna cokelat. Aku menerimanya tapi tak ada kertas atau tulisan nama si pengirim, hanya ada namaku dan juga alamat rumah ini di sana.


"Dari siapa, ya?" tanyaku.


"Kok gak ada nama dan alamatnya?" Jujur aku bingung. Tidak memesan barang di toko online atau semacamnya.


"Saya tidak tau, Mbak. Ini dari pengirim, tapi dia minta di rahasiakan nama dan alamatnya."


"Laki-laki atau perempuan?" tanyaku lagi. Dia hanya menggelengkan kepala.


Aku ragu dan juga takut, tapi tetap menerima kotak tersebut. Pria itu pamit setelah kotak itu berpindah tangan.


"Dari siapa, Yu?" tanya Ibu yang tiba-tiba ada di ambang pintu ruang tengah.


"Gak tau, Bu. Bang kurir juga gak tau ini dari siapa," jawabku. Aku duduk di sofa, sedangkan Ibu masih terdiam di tempatnya.


Sebuah sepatu dengan merk ternama kini terpampang di depan ku. Berwarna hitam, ada hak sedikit tinggi di belakangnya sekitar tiga senti. Bahan sepatu itu terlihat kokoh, tapi lembut saat ku sentuh.


Aku terdiam, menatap Ibu dan juga Yu tarni yang kini ada di belakang Ibu.


"Wah, bagus sekali sepatunya." Yu Tarni berseru melihat hal yang sama denganku. Jujur aku juga mengagumi desain sepatu itu, tapi dengan pengirim yang aku tak tahu siapa, aku harus bagaimana?


Nomor sepatunya juga itu adalah ukuranku.


Siapa yang mengirimkan sepatu ini?


Gegas aku memasukkan sepatu itu ke dalam dusnya kembali.


"Dari siapa ya, Bu?" tanyaku pada Ibu. Ibu kini menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Aku kembali ke kamar dengan membawa sepatu ini. Menyimpannya di bawah kasurku.


Kembali aku berbaring di atas ranjang. Memikirkan siapa yang mengirimkan sepatu ini. Seorang pria kah? Atau seorang wanita? Tapi jika wanita ... rasanya tidak mungkin juga jika harus dirahasiakan namanya.


Aku melamun dan tersadar saat sebuah telepon terdengar nyaring. Diana.


"Yu!!" Teriak Diana dari kejauhan sana. Telingaku rasanya sakit mendengar teriakan dia. Suara-suara berisik terdengar dari tempat Diana.


"Apa? Jangan teriak-teriak, Di. Sakit telingaku," ucapku dengan kesal.


"Gimana lamaran kerjanya?" teriaknya lagi. "Maaf aku teriak, disini berisik!"


Aku sedikit menjauhkan hp itu dari telinga, mendengar suara Diana dan beberapa suara lain membuat telinga ini sakit.


"Gak diterima!" ucapku sedikit berseru.


"Kok, gak diterima? Apa gak ada lowongan?" tanyanya lagi.


"Bukan gak ada lowongan, tapi memang mereka dari yang pengalamannya banyak, lebih lama dari aku," ucapku.


Tak lama kami berbicara, karena disana Diana juga harus makan siang dan segera kembali ke bekerja. Dia berjanji akan membantu mencarikan lagi perusahaan lain.


Hampir setiap hari aku mencari pekerjaan dari sebuah website, beberapa lowongan pekerjaan tersedia, tapi kurasa bukan bidangku juga. Aku mundur karena banyak yang meminta pendidikan S2.


Selang lima hari setelah kedatangan Bang Kurir yang mengantar sepatu, hari ini dia datang lagi kebetulan aku ada di rumah dan menjaga warung.


"Ini gak ada namanya lagi?" tanyaku pada pria itu. Sebuah kotak dengan bungkus berwarna cokelat sama seperti beberapa hari yang lalu.


"Gak ada, Mbak." Pria itu bicara sambil menggelengkan kepalanya.


Aku menatap horor pada kotak di tanganku, menyodorkan kembali kotak itu pada si Abang Kurir.


"Bang saya gak mau terima barang yang gak jelas asal usulnya. Abang bawa saja, deh!" ucapku menolak barang tersebut. Dia jadi serba salah tingkah. Wajahnya kebingungan saat aku menolak yang dia antarkan.

__ADS_1


"Eh, tapi, Mbak. Ini mau gimana. Aduh. Kalau barang ini gak sampe sama orang yang terima saya bisa di marahin, Mbak," ucapnya dengan bingung.


Aku dan si Abang terdiam, aku takut dan jelas tidak tau ini dari siapa dan apa isinya, tapi si Abang juga sedang melaksanakan tugasnya sebagai pengantar batang. Duh, Gusti. Siapa yang kirim barang ini? Apa ini isinya?


__ADS_2