
Setelah sampai di rumah, Arga menelepon papa dan juga kerabat yang lain. Aku dengar dia meminta semua orang untuk datang ke rumah ini. Sangat bersemangat sekali dia menelepon semua orang. Sehingga setelah hampir satu jam lamanya dia baru selesai menelepon.
"Kamu itu telepon siapa aja sih? Kok lama banget?" tanyaku kepadanya sambil duduk di samping Arga. Tidak menunggu lama laki-laki itu tiduran di atas pangkuanku dengan wajah menghadap ke arah perut.
"Aku mau kasih kabar sama semua orang kalau kita sebentar lagi akan punya bayi," ucapnya dengan senang. Aku mengelus rambut nya dengan lembut. Dia juga tidak berhenti menciumi perutku.
"Emang kamu yakin semua orang bakalan datang ke sini? Mereka kan bisa saja sibuk," ucapkan kepadanya.
"Tidak apa-apa. Meskipun hanya beberapa orang saja, tapi aku sangat ingin sekali mereka tahu kalau kita akan punya bayi sebentar lagi." Dia kembali mendekat dan mencium perutku dengan lembut.
"Masih lama 8 bulan lagi," terangku mengingatkan.
"Ah, 8 bulan ya? Lama sekali ternyata."
"Nggak akan lama juga, nggak akan kerasa kok sampai nanti 8 bulan ke depan," ucapku sambil tersenyum.
"Kamu sudah minum obat belum? Vitamin yang tadi dokter berikan?" tanya Arga mengingatkan. Aku menggelengkan kepala, memang belum aku minum karena tadi aku tidak membawa tas ke dalam rumah ibu, tas aku tinggalkan di dalam mobil.
"Di mana tasnya? Aku ambilkan." Arga bangkit dari atas pangkuan ku. Aku menunjuk meja kecil di samping ranjang. Beberapa obat harga keluarkan dari dalam tasku.
"Aku ambil minum sebentar," ucapnya lagi lalu dia pergi keluar dari kamar.
Sementara Arga pergi ke luar untuk mengambil air minum, aku menghubungi Diana lewat pesan chat, memberitahukan kabar berita ini kepadanya. Ternyata, dia sedang tidak bekerja karena demam. Membuat aku sangat khawatir padanya.
"Sudah ke dokter?" tanyaku saat sudah mendengar alasannya sakit demam.
"Sudah, obatnya bikin mual. Kayaknya bakalan sakit lama deh, keracunan obat daripada masuk angin," ucapnya terdengar kesal. Aku hanya tertawa mendengarnya.
"Kalau deket aku, aku kerok punggung sampai belang kayak harimau."
"Hehe, iya. Di sini gak ada yang bisa ngerokin. Ada juga tetangga, gak ada tenaganya kerok punggung aku, percuma," ucapnya sambil tertawa,
"Ada apa telepon aku? Tumben siang dah chat?" tanya dia lagi.
"Aku mau kabarin kamu sesuatu."
"Apa?"
"Tapi jangan teriak, ya.
__ADS_1
"Apa sih? Mau beli rumah baru?" tanya dia.
"Bukan."
"Mau beliin aku mobil baru? Kali aja hadiah buat sahabat gitu, kan sekarang dah jadi ibu boss, hehe."
"Hehh, keenakan kamu. Kalau mau mobil, kerja lah. Atau, cari suami yang bermobil juga," ucapku padanya.
"Dih, ya doakan aja deh, moga suami ku orang kaya, bisa beliin pesawat sekalian," ucapnya kesal.
"Ini ada kabar apaan? Cepetan deh bilang, jangan bikin aku penasaran," ucapnya lagi.
"Kamu seneng gak kalau aku bilang akan punya ponakan?" tanyaku pelan.
"Heh? Apa? Serius?" tanya Diana dengan berteriak kencang padaku di telepon.
"Serius, Di. Lima minggu," ucapku padanya.
Bukannya berbicara, Diana terdengar berteriak dengan penuh kebahagiaan di seberang sana sambil terus mengucapkan kata selamat untukku dan juga Arga. Aku senang sekali mendengar dia juga bahagia atas kabar ini.
Diana mengalihkan panggilannya pada panggilan video, segera aku menggeserkan layar ke atas sehingga kini terpampang wajah Diana yang semakin bulat tapi terlihat pucat.
"Lihat, Di. Kelihatan, gak?" tanyaku dengan senang menunjuk satu titik di dalam frame hitam tersebut.
"Waaah, iya, Kelihatan!" ucapnya dengan antusias, terlihat dengan sangat jelas sekali keningnya yang lebar, sepertinya dia sedang mendekatkan dirinya untuk melihat gambar di layar hp-nya dengan jelas, seperti apa yang aku lakukan setiap kali tak jelas melihat sesuatu gambar di hp. Sedetik kemudian dia menjauhkan hpnya sehingga kini terlihat jelas wajahnya yang sudah tidak lagi pucat.
"Waaaah, bentar lagi dong. Sebelum tahun baru dah lahir tuh," ucapnya lagi.
"Iya, dokter bilang sekitar bulan November atau Desember lah."
"Selamat, ya. Gak sabar pengen lihat ponakan baru. Eh, jangan lupa itu hasil USG fotoin sini, ya." Pintanya. Aku menganggukkan kepala dengan semangat.
"Telepon siapa?" bisik Arga yang baru saja masuk ke dalam kamar. Sebelum aku menjawab, dia sudah duduk di sampingku setelah menyimpan air dan buah di samping tempat tidur.
"Eh, Di. Makin bulet aja," ucap Arga membuat Diana kini cemberut. Memang, Arga seringkali membuat Diana kesal sedari dulu hingga sekarang.
"Tandanya bahagia. Emang kenapa?" tanya Diana kesal.
"Ya gak apa-apa, inget diet. Tuh pipi dah kayak bakpao!" seru Arga lalu di susuk dengan tawa yang sangat keras darinya. Aku menoleh, menatap Arga dengan bingung. Suamiku yang katanya pendiam, yang katanya tidak banyak bicara, tapi kenapa sekarang malah begini? Tidak terlihat dia introvert.
__ADS_1
"Eh, kamu gak mau apa kayak kami?" tanya Arga, tidak aku sangka jika dia akan mencium pipiku live di hadapan Diana. Aku terkejut karenanya.
"IIhh! Kalian jahat! Kenapa juga harus membuat jijo ku mencuat lagi ke permukaan!" teriak Diana.
"Apa itu Jijo?" tanya Arga bingung.
"Jiwa Jomblo!" seru Diana dengan nada kesal dan tangisnya. Arga tertawa mendengarnya, terpingkal sampai dia memegangi perutnya sendiri.
"Ya lagian, Jijo dipelihara!" Arga tertawa lagi, dia kemudian mengalihkan layar hp itu untukku sendiri. Aku baru akan melanjutkan bicara dengan Diana, tapi Arga mengambil hpku dan berbicara kembali dengan Diana.
"Hei, pemilik Jijo. Udah dulu, ya. Ayu harus makan vitamin dan istirahat," ucap Arga, tanpa menunggu jawaban dan persetujuanku, dia sudah mematikan panggilan video kami.
"Arga, ih! Kok di matiin!" protesku kesal saat dia menyerahkan hp padaku.
"Kamu belum makan obat, kalau gak aku matiin, mau sampai kapan kalian ngobrol? Tau sendiri kalau kalian dah ngobrol sampai lupa dunia," ujarnya dengan kesal.
Aku tersenyum meringis, memang benar jika kami sudah berbicara maka tidak ada yang bisa menghalangi kami. Dua jam juga masih kurang untuk pembahasan yang unfaedah.
"Ayo, sekarang simpan hpnya dan minum obatnya." Arga memberikan beberapa bungkus obat dan juga vitamin kepadaku beserta segelas air minum hangat. Dia juga memberikan pisang dan roti di tangannya, meminta aku memilih mana yang akan menemani obatku masuk ke dalam tenggorokan. Aduh, padahal aku tidak sulit memakan obat. Tidak seperti dirinya.
Obat dan vitamin yang aku minum lumayan banyak, itu terdiri dari pil dengan asam folat yang bisa menutrisi janin di dalam kandungan dan vitamin lainnya, juga ada vitamin untuk penambah napsu makan yang cocok untuk wanita hamil. Delapan bulan ke depan, semua ini harus aku konsumsi dengan rutin.
Arga melihat ku yang meminum obat dengan ngeri. Dia memang sedikit sulit menelan obat, maka dari itu setiap aku sedang meminum obat, dia memperhatikan dengan seksama.
"Sudah selesai? Lihat," ucapnya. Aku diminta membuka mulut dan melihat ke dalam sana.
"Bagus, sekarang kamu tidur siang, ya. Dokter bilang tadi kan jangan capek-capek," ucapnya lagi.
Aku mengangguk saja dan menurutinya berbaring dengan nyaman di atas kasur. Aku yang tidak biasa tidur siang, kini dipaksa untuk beristirahat siang.
Arga berdiri dengan membawa nampan di tangan berisi gelas bekasku barusan.
"Papa! Temenin tidur!" Ku tahan laju kakinya dengan menarik sedikit bajunya di bagian pinggang.
***
Udah double bab ya.✌️
Untuk yang ingin cerita Hina (Hilman-Hana) tunggu ya, Othor lagi bikin part di mana mereka akan bertemu, jadi biar nyambung ya, jangan tetiba ada di sana, menclak menclok tapi gak jelas 🤭
__ADS_1