
Aku memberi kabar pada ibu tentang kehamilan ku yang kedua ini. Awalnya ibu berkata tidak percaya, tapi kemudian berucap syukur saat aku meyakinkannya. Arga memberi kabar pada bibi, dan benar saja apa yang aku perkirakan kemarin, bibi mengomel dan mengatakan kasihan kepada Azka yang masih bayi.
Berbeda dengan kehamilan pertama yang hilang selera makan, kehamilan kedua ini justru aku suka makan dan juga suka memuntahkannya. Dalam artian baru makan belum sampai lima menit sudah kembali makanan satu piring itu keluar lagi.
Rasanya menyebalkan sekali. Bagaimana perutku ini akan terisi jika apa yang masuk keluar kembali. Jika keluar masuk yang 'itu' sih aku suka, tapi jika makanan yang masuk dan keluar aku tersiksa.
"Huweekkk!" Suara lengu*an kesakitan terdengar dari mulutku, tidak bisa aku tahan sama sekali. Air mataku keluar saat kali ini apa yang aku makan keluar lagi dengan utuh. Nasi hangat satu piring dengan tahu panas campur sambal kecap yang tadi aku makan dengan nikmat keluar dengan sia-sia, membuat aku sedih karenanya. Rasanya tidak rela saat keinginan makan tidak ada halangan, tapi akhirnya malah terbuang juga.
"Kamu ini kenapa? Apa obat yang dokter berikan gak mempan?" tanya Arga sambil mengurut belakang leherku dengan lembut. Aku menggelengkan kepala, tidak bisa menjawab karena masih ada yang ingin aku keluarkan lagi dari dalam perutku.
Entah berapa lama aku berjongkok di depan kloset, sampai rasanya perut dan tenggorokanku kini terasa sakit. Lemas tubuhku saat Arga memapahku ke tepian ranjang.
"Ke dokter lagi, yuk," pintanya dengan memohon saat aku baru saja duduk. Dia mengusapkan minyak telon milik Azka di belakang leherku sedikit banyak. Ku gelengkan kepala ini. Obat yang dokter berikan masih banyak, karena kami baru saja ke dokter minggu lalu saat setelah aku yakin jika garis dua ada di test pack yang aku pakai.
Usia kehamilanku masuk di enam minggu, rasanya sedikit sulit karena makanan yang aku makan keluar lagi, dan juga saat malam tidur ku tidak nyaman, sehingga aku lebih banyak begadang sekalian menemani Azka yang seringkali bangun dan mengoceh di tengah malam. Siang pun tidak tenang tidur karena aku juga harus mengurus Gara dan juga Azka.
Memang ada Mbak Sari dan juga Mbak Sus yang bisa membantuku, tapi rasanya aku tidak tega juga dengan anak-anakku.
"Ke dokter lagi, yuk!" ajaknya sekali lagi meminta padaku dengan nada yang terdengar khawatir.
"Gak mau, nanti dikasih obat lagi," ucapku dengan nada yang sama memohon.
"Tapi kan daripada kamu muntah terusโ,"
"Pokoknya gak mau!" teriakku dengan marah dan tidur membelakanginya, selimut yang ada di kakiku aku tarik hingga membungkus kepala.
"Yu," panggilnya sambil mengguncang bahuku. Aku diam, sebal rasanya jika dia terus memaksaku sedangkan aku tidak mau.
"Hei, aku cuma kasihan sama kamu kalau kamu gini terus. Kan kalau kita ke dokter mungkin dokter bisa bantu untuk mengurangi mual muntah kamu," ucapnya dengan lembut.
"Tapi aku gak mau obat, Arga!" ucapku dengan nada yang sedikit tinggi. Aku akui, di kehamilan kedua ku ini mood ku naik turun, tidak bisa menjaga sikap ku dengan baik, lebih kepada emosian dan juga sensitif jika ada Arga.
"Aku harus gimana bantu kamu? Aku gak bisa bantu apa-apa selain bawa kamu ke dokter aja. Ya, Ma. Yuk ke dokter yuk, setidaknya dokter bisa berikan solusi kalau kamu gak mau dikasih obat juga," ucapnya dengan penuh kelembutan. Aku yang egois dan juga marah kini menjadi luluh juga. Dia hanya ingin yang terbaik buat aku masa aku malah tidak peduli kepadanya.
"Tapi aku gak mau obat, ya," ucapku masih dalam selimut.
"Iya."
__ADS_1
"Kalau dikasih obat kamu yang harus makan!" ucapku lagi dengan nada yang ketus.
"Iya. Apa sih yang enggak buat kamu?" ucapnya masih dengan lembut penuh kesabaran. "Yuk, berangkat." Selimut yang aku pakai merosot, membuat bebas kepalaku. Dia mengulurkan tangannya. "Ayo dong, Sayang. Manisku, cintaku, Ibu dari ketiga anakku," ucapnya yang membuat hatiku kini melayang. Dia menggerakkan tangannya memintaku untuk menyambut dia.
Aku mengulurkan tangan, dan dia segera menarikku yang malas untuk bangun. Segera setelah aku duduk di tepian kasur dia mengambil kerudung yang ada di lemari.
"Mau ganti baju, gak?" tanyanya masih di depan lemari yang terbuka.
"Gak usah, malas," ucapku.
"Oke, pakai jaket?" tanyanya lagi.
"Hemm," jawabku masih malas. Dia kemudian datang dengan jilbab warna coklat susu dan jaket levis di tangan.
Aku masih diam, dia memasangkan jilbab instan di kepalaku dan memasukkan rambutku agar tidak terlihat, begitu juga dengan jaket dia pasangkan melewati tanganku dan merapikannya.
"Minyak wangi?" tanyanya. Aku menggelengkan kepala. Aroma minyak wangi tidak cocok untukku sekarang ini.
"Minyak telon," ucapku. Arga mengambil minyak telon yang tadi dia simpan di meja lalu memberikannya padaku. Benda itu aku masukkan ke dalam saku jaket, persiapan nanti jika ada aroma yang membuat ku mual, aroma minyak telon yang akan membantuku.
"Mau digendong juga?" tanya Arga lagi sambil berdiri memunggungiku saat aku berdiri.
"Terus aku keramas pake apa kalau gak pake sampo?" Arga protes sambil mengikuti langkahku.
"Ganti sampo Azka."
"Yaaah, masa sampo bayi juga," ucapnya dengan nada tak suka.
"Terserah, yang penting aku gak suka bau sampo kamu," ucapku dengan kesal. Mendahului dia keluar dari dalam kamar.
Mbak Sus dan Sari ada di ruang bermain anak-anak. Sebelum aku pergi aku menemui mereka terlebih dahulu. Gara sedang mengajak bermain Azka, memutarkan mainan berwarna merah agar adiknya terfokus pada mainan yang ada di tangannya, berputar seraya mengeluarkan bunyi gemerincing yang nyaring.
"Mbak Sus, Sari. Saya titip anak-anak dulu, ya," pintaku pada keduanya.
"Mama mau kemana?" tanya Gara menoleh ke arahku, begitu juga dengan Azka yang tiba-tiba menoleh saat mendengar suaraku.
"Mau ke rumah sakit sebentar."
__ADS_1
"Mama sakit, kah?" tanya Gara sambil berdiri.
"Enggak, cuma Mama mau tanya ke dokter aja. Gak sakit kok," ucapku menenangkan anak itu, terlihat di wajahnya yang khawatir.
"Abang di sini jaga Azka, ya?" pintaku lagi. Dia mengangguk dan kembali sibuk mengajak adiknya bermain.
Aku dan Arga pergi ke rumah sakit.
Perjalanan terlalu lama bagiku, padahal saat aku melihat berapa kecepatan mobil kami seperti biasanya, tapi memang dasar aku yang sedang tidak baik keadaannya sehingga mudah sekali bosan dan ingin turun saja.
"Kamu mau makanan? Kali aja ada yang mau dibeli?" tanyanya sambil menunjuk beberapa penjual yang ada di pinggir jalan. Aku menggelengkan kepala, tidak ingin makanan yang ada di sana. Inginnya bubur kacang hijau, sepertinya enak.
"Ada yang jual bubur kacang hijau?" tanyaku.
Arga menatap ke luar jendela, mobil dia lajukan dengan kecepatan agak pelan, melihat ke kanan dan ke kiri tenda yang sekiranya menjual makanan tersebut.
"Biasanya kan yang jual bubur kacang hijau itu sore, siang begini gak ada, Sayang," ucapnya. Aku menghela napas dengan sedikit sebal. Di saat aku ingin malah tidak ada.
"Aku kasih tau Mbak Sus biar dibuatkan di rumah nanti ya?" tanya Arga sembari melirikku.
Aku hanya mengangguk pasrah. Perut ini rasanya lapar setelah makanan yang tadi aku makan keluar lagi.
"Kamu gak mau makanan yang lain gitu? Perut kamu pasti lapar, kan?" tanyanya.
"Rasanya pengen baso tapi apa kamu izinkan?" tanyaku padanya seraya menatapnya.
Dia mengusap lehernya, aku paham dengan tanda itu, bukan sebentar juga aku bersama dengan dia. Satu tahun lebih telah membuat aku paham dengan sikapnya.
"Boleh, deh. Tapi jangan pakai micin saos dan sambal ya," ucapnya. AKu tersenyum senang karenanya.
***
Maafkan baru nongol, setelah tanggal 1 tepar dan tanggal 2, 3 bantu di hajatan, malam ini sempetin update, meski telat ๐ .
Maaf ya, kalau mungkin ada yang bilang Ayu lebay dengan kehamilan keduanya (sebenernya gak ada yang bilang gitu, sih. Tapi kan siapa tahu gitu nanti akan ada yang komen begitu. Dah suudzon duluan nih si Othor๐คฃ)Bukan hanya Ayu, tapi juga dengan Arga yang punya sosok yang terlalu baik.
Ini real. ini pengalaman Othor pribadi sebenarnya di kehamilan pertama dan kedua Othor, manja pas hamilnya. Kalau lahiran mah beda masih bagusan nasib Ayu di rumah sakit ๐ .
__ADS_1
Alhamdulillah, dapat bebeb yang penyayang meski rezekinya belum kayak Arga, tapi Alhamdulillah, gak kerja di orang lain, tapi bos di dalam usaha sendiri, meski masih kecil dan gak punya bawahan๐ . Penggambaran Arga di sini adalah perhatian bebeb atas diriku dan itu real. ๐
Cieee, jangan iri loh ya. Yang masih sendiri Othor doakan segera dapat yang baik dan juga perhatian serta penyayang. Yang sudah berdua, hasil jadi tiga empat dan banyak, Othor doakan semoga semakin langgeng, semakin banyak kasih sayang di antara kalian.๐๐