Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
244. Arga Si Pelindung


__ADS_3

"Kamu lihat apa?" tanya Arga saat masuk ke dalam mobil dan melihatku masih menatap ke arah yang tadi.


"Eh, tidak. Tidak apa-apa," jawabku dengan cepat.


"Oh, kita makan di luar atau pulang saja, nih?" tanya Arga lagi saat mobil baru saja keluar dari mall tersebut.


"Tanya Abang aja deh."


"Pulang aja. Kasihan Mama kayaknya capek," ucap Gara dengan cepat.


"Beneran ini pulang? Gak makan dulu di restoran?" tanya Arga lagi.


"Gak lah. Eh, Mama apa mau makan di luar?" tanya Gara kini kepadaku.


"Mama terserah kalian saja, sih. Nurut," ucapku.


"Kalau begitu, Pa. Makan di luar ya?" Mohon Gara pada ayahnya.


"Oke kalau begitu. Makan di tempat biasa?" tanyanya lagi.


"Oke!" seru Gara dengan setengah berteriak membuat pengang telinga sehingga Arga menegurnya untuk tidak lagi berteriak.

__ADS_1


Kami makan di restoran yang tidak begitu jauh dari rumah.


...*** ...


Aku masih kepikiran dengan laki-laki tadi, jelas aku tidak mungkin salah dalam mengenali orang. Lagi pula, tadi itu masih terang. Matahari jelas belum tergantikan dengan bulan. Aku juga berdiri hanya berjarak sekitar lima belas meter darinya, mana mungkin salah mengenali orang yang sudah tujuh tahun hidup bersamaku dulu.


"Ada apa? Kok melamun?" tanya Arga setelah keluar dari kamar mandi. Handuk kecil dia usapkan di rambutnya yang basah.


"Gak apa-apa, kok."


"Gak apa-apa kok melamun? Tadi aku panggil kamu gak noleh." ucapnya.


"Eh, emang tadi kamu panggil aku ya? Maaf," ucapku bingung. Apa benar aku melamun sampai tidak dengar dia?


Aku bingung, haruskah aku bicarakan ini dengan dia? Aku penasaran, tapi ... Arga marah apa tidak?


"Tuh, kan. Melamun lagi," ucapnya mencolek pipiku.


Aku tersenyum kaku. Rasa tidak enak hati ingin menyampaikannya.


"Kenapa? Jujur sama aku daripada aku berpikiran yang tidak-tidak," ucapnya lagi.

__ADS_1


Aku menunduk, menghindari tatapan matanya. Pakaian tidur dengan bahan tipis menerawang aku mainkan dengan jari-jariku.


"Anu ... tadi waktu di mall aku lihat Hilman di sana. Tapi aku gak tau apa itu memang dia atau bukan," ucapku akhirnya. Arga terdiam, lalu tak lama tersenyum dan mengelus kepalaku dengan lembut.


"Itu memang dia. Dia sudah keluar dari penjara," terang Arga.


"Hah? Beneran? Kapan?" Tiba-tiba aku antusias, senang mendengar mantanku itu sudah keluar dari tempat yang mengerikan. Sadar dengan tatapan suamiku, aku kini kembali menundukkan kepala lagi. Aku salah, kenapa harus berekspresi seperti itu. Aku hanya senang saja. Tidak ada maksud apa-apa.


"Sudah lama, kok. Ada tiga bulan lebih. Gak lama setelah kita menikah, polisi yang menangani kasus Hilman telepon aku dan bilang kalau keluarganya sudah tebus dia," terangnya lagi. Aku mengangguk paham, itu sebabnya dia sudah keluar dari penjara. Dulu Arga bilang Hilman akan dipenjara selama lebih dari lima tahun karena mencoba untuk menculik dan melecehkanku.


"Alhamdulillah kalau dia sudah bebas."


"Tadi kamu lihat dia jadi tukang parkir?" Aku mengangguk menjawab pertanyaannya.


"Orang yang telah memiliki catatan hitam memang akan sulit untuk kembali bersih namanya. Biar dia tau konsekuensi dari apa yang pernah dia lakukan kepada kamu, hal buruk itu tidak akan aku maafkan jika sampai dia lakukan lagi. Bahkan, jika dia berani melakukan yang buruk yang lain dan coba untuk celakain kamu, aku gak segan untuk berikan sematan nama almarhum di depan namanya," ucapnya dengan serius. Aku menjadi takut mendengar dia mengucap hal itu. Tatapan yang lembut kini berubah menjadi kebencian yang mendalam.


Aku memeluknya, menyandarkan kepalaku pada dadanya yang bidang. Ingat dengan apa yang Arga lakukan dulu kepadaku, membelaku sampai dia pun terluka.


"Aku akan jaga diri dari dia," ungkapku. Satu buah ciuman lembut mendarat di kepala.


"Harus, karena aku gak mau kamu terluka. Apalagi sekarang ada anakku yang kamu bawa."

__ADS_1


...***...


Bersiap dengan pov Hilman ya, bab selanjutnya. 😘


__ADS_2