
"Harusnya Ayu bisa menjaga marwah suami dong sebagai istri yang baik. Ini malah bicara dengan ketidakadilan di depan umum. Tentu nama Hilman jadi buruk di mata masyarakat dan akhirnya di pecat. Mbak tahu kan kalau Hilman banyak tanggungannya. Sama Ayu, sama Hana yang sedang hamil, sama kami, Mbak juga sering mendapatkan jatah bulanan kan dari Hilman? Terus sekarang ini gimana? Hilman sudah tidak bekerja, siapa yang mau menanggung hidup kita, Mbak? Ini semua salah anak Mbak!" Bumer bicara panjang lebar menjelaskan apa yang menjadi unek-uneknya. Dia menudingku dengan segala apa yang terjadi pada putranya.
"I ...."
"Maaf, Mbak. Dari pengamatan saya yang ada di video ini, kesalahan tidak hanya ada pada Ayu." Ibu bicara dengan cepat sehingga aku kini menjadi terdiam.
"Dari pakaian Hilman, dia memakai jas kerja. Dari suasana yang ada di sana, bukankah kejadian itu masih siang? Bukankah itu berarti jika Hilman seharusnya berada di kantor? Lalu kenapa Hilman berada di sebuah tempat makan dengan istri mudanya? Jika seharusnya dia izin dari kantor dan berniat keluar dengan kedua istrinya, tidak akan anak saya melakukan pemberontakan seperti itu! Saya kenal dengan Ayu. Ayu gak akan protes kalau Hilman masih dalam garis toleransi. Ayu lakukan itu karena dia sudah menganggap Hilman dan istri mudanya keterlaluan. Apa anak saya salah bicara seperti itu di depan umum?" Ibu balik bertanya pada Bumer.
"Lalu, apa Mbak menganggap perlakuan kasar Hilman pada Ayu wajar dilakukan di depan umum? Jangankan di depan umum, di tempat yang tidak ada orang sekalipun, seorang lelaki haram hukumnya menyakiti fisik apalagi hati seorang istri!" cecar Ibu dengan nada yang kuat. Ibu terlihat sangat tegas di wajah maupun di nada suaranya.
"Saya. Ibu yang sudah membesarkan Ayu, tidak pernah main tangan terhadap anak saya sendiri! Dan Mbak telah membukakan hati saya yang selama ini tertipu oleh sikap baik anak Mbak. Dengan adanya bukti video ini saya harap perceraian Ayu dengan Hilman bisa terlaksana dengan baik!"
"Loh, kenapa anak saya yang jadi disalahkan?" Bumer tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Ibu.
"Jelas-jelas disini Ayu yang penyebab semua ini, kalau saja Ayu gak bicara yang macam-macam pastilah Hilman juga gak akan kasar sama Ayu! Ini kan sem ...."
"Bu! Tolong Ibu tidak lagi banyak bicara. Semua yang saya lakukan karena saya sudah merasakan hidup didua dengan ketidakadilan. Jika Ibu bisa merasakan apa yang Ayu rasakan kenapa Ibu tidak minta Bapak untuk menikah lagi? Dan rasakan oleh Ibu bagaimana rasanya hidup dengan orang ketiga!" ucapku pada Bumer.
"Ayu, kamu gak sopan bicara sama yang lebih tua!" bentak Bumer padaku.
"Ayu akan sopan kalau yang ada di depan Ayu juga sopan, Bu!"
__ADS_1
"Ibu selalu saja menyalahkan Ayu dengan apa yang terjadi tanpa Ibu tahu permasalahannya! Apa Ibu tidak tahu kalau anak Ibu tidak pernah adil?"
"Wajar dong, Hana sedang hamil."
"Maka dari itu wajar juga kalau aku protes sama dia!" teriakku tak tahan, membuat dua org wanita yang ada di depanku ini menatapku dengan tajam. Sinta seketika melongokkan kepalanya di balik pintu dengan hanya setengah badan yang terlihat.
Dadaku kembang kempis karena berbicara dengan keras seperti itu. Aku tidak takut lagi dengan apa yang aku bicarakan barusan. Sedikitpun tatapan tajam yang diberikan oleh wanita itu tidak aku gubris sama sekali.
Bumer kini bangkit berdiri dengan membawa tas tangannya.
"Percuma saya bicara dengan kalian. Kamu seharusnya minta maaf sama Hilman karena telah membuat hidup orang lain sengsara. Kamu tau, Ayu. Bukan hanya kamu yang tidak diberi nafkah oleh Hilman, tapi kamu juga sudah menyengsarakan hidup orang yang lain!" seru Ibu dengan tatapan membara terhadapku.
"Meskipun Ayu tidak lagi diberikan nafkah oleh Hilman, toh sekarang ini kebutuhannya masih tercukupi. Mbak lihat disini dia kurus kering? Tidak kan? Jadi, Ayu, ada atau tanpa Hilman, tetap bisa hidup dengan baik!"' ujar Ibu dengan nada penuh ketegasan.
"Dan untuk apa Ayu minta maaf? Jika pun Ayu minta maaf dengan apa yang dia lakukan kepada Hilman, lalu bagaimana dengan Mbak sendiri? Bukankah Mbak yang menginginkan cucu dan menyuruh Hilman menikah lagi? Semua ini berasal dari siapa akar dari masalahnya?"' tanya Ibu dengan menatap Bumer dengan tajam.
Aku berkaca-kaca mendengar Ibu yang dengan segala kekuatannya membelaku. Di tengah sakit yang mendera, Ibu masih bisa begitu kuat untuk anaknya yang tak berguna ini.
"Kalian ini memang dua orang yang keras kepala! Aku doakan supaya setelah bercerai dengan Hilman nanti, kamu akan terus menjanda seumur hidup dan tidak akan pernah memiliki anak, Ayu!" tunjuk Bumer pada ku dengan lantang.
Aku yang sedari tadi berdiri di samping Ibu kini menatap Bumer tepat pada matanya.
__ADS_1
"Terima kasih atas doanya, Ibu. Tapi aku bisa yakinkan kalau aku bukanlah wanita mandul! Semua belum jelas karena anak Ibu yang tidak mau menuruti apa kata dokter!"
"Hah!" Bumer terlihat marah, dia menjejakkan kakinya ke lantai dengan cukup keras. Tanpa pamit dia melangkahkan kakinya dengan raut wajah yang marah terhadapku. Suaranya masih terdengar di luar seraya dia memakai sandalnya dan kemudian dia menghilang bersama langkah kakinya yang lebar.
Terdengar helaan napas Ibu yang kuat. Ibu terduduk di kursi, segera meraih minum yang tadi Sinta bawakan.
"Ibu gak apa-apa?" tanyaku dengan khawatir. Ibu menggelengkan kepalanya dan mengelus pipiku dengan lembut.
"Ini yang sakit, Nak?" tanya Ibu dengan mata yang berkaca-kaca. "Ini sakit?" tanya Ibu sekali lagi. Baru aku sadar dengan pertanyaan Ibu. Aku menggeleng pelan seraya menyentuh tangan Ibu yang kurus.
"Gak sakit kok, Bu. Gak sakit," ucapku. Air mataku kini turun tanpa bisa aku tahan lagi. Ibu mengambilku ke dalam pelukannya dan menangis di bahuku.
"Maafin Ibu. Ibu gak tau kalau kamu mengalami hal sulit seperti ini. Maaf." Ibu menangis dengan hebat masih sambil memelukku.
"Tidak apa-apa, Bu. Tidak apa-apa," jawabku seraya mengelus punggung Ibu dengan lembut.
**********
Huwaaaa ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
Dua bab loh ya ini. Yang kemarin minta 2 bab kasih like nya ya dan komen 😘
__ADS_1