
Arga.
Gawat! Sepertinya Ayu marah! Terlihat dari caranya duduk yang kasar dan juga tidak mau menatapku sama sekali. Ku panggil namanya juga dia tidak menjawab, hanya lirikan tajam dengan ujung matanya. Sangat singkat.
Duh, aku salah. Memang salah dengan jawabanku tadi terhadap Letta. Bukan apa-apa, aku terlalu takut dan juga tidak bisa bergerak karena ulahnya tadi yang tiba-tiba. Tidak aku sangka jika dia akan mencium pipiku kanan dan kiri. Sungguh jawaban itu juga refleks keluar begitu saja dari mulutku. Bukan maksud apa-apa, hanya saja aku tahu Letta seperti apa. Dia wanita yang cukup terobsesi sehingga tidak bisa ditolak secara langsung. Hubungan kami saja selama ini terjaga karena aku sedikit demi sedikit menjauh darinya.
Aku cukup hapal dengan sikap Letta, semakin dia dijauhi dengan cara terang-terangan semakin dia sengaja mendekatiku. Aku pernah merasakan dekat dengan dia, maka dari itu aku hapal dengan sikapnya.
"Yu," panggilku.
"Hem," jawabnya.
"Kamu marah?" tanya ku, ku tatap dia, berharap jika wanita cantik bak bidadari ini tidak marah.
Dia tidak menjawab, hanya melirikku sekilas sekali lagi lalu memanggil Gara untuk duduk di atas pangkuannya.
Dia marah! Huft, apa yang harus aku lakukan? Wanita ini tidak pernah aku lihat dia marah.
Ku colek lengannya, dia beringsut menjauh. Ku colek lagi pinggangnya, tidak akan aku lepaskan dia dan terus marah seperti ini. Rasanya salah tingkah juga di cuekin istri. Ayu malah menyimpan Gara di antara kami berdua.
Duh, nasib! Baru saja mendapatkan bini kok malah dicuekin!
"Gara tadi kemana saja?" tanya Ayu. Syukurlah dia mau bicara.
"Tadi Garrlla sama Teh Widi, makan puding." Kulihat Gara menunjuk ke arah stand makanan dengan seorang penjaga wanita di sana.
"Puding apa?" tanyanya lagi dengan lembut. Memang tidak salah aku memilih Ayu sebagai pendamping hidup. Rasanya tenang sekali melihat Gara bisa dekat dengan Ayu. Alasan kenapa aku tidak menikah sedari dulu, karena Gara tidak mudah menerima orang asing di dekatnya.
"Puding Strrlloberrlli. Ada coklat juga!" seru putraku dengan senyum bahagia. Gara memang penyuka puding. Jika dia sulit makan maka puding menjadi jalan lain untuk dia tidak kelaparan.
"Mama Ayu, memangnya besok Teh Widi mau pulang?" Gara menatap Ayu, terlihat dia sedikit sedih saat menanyakan hal tersebut.
"Iya, Teh Widi besok pulang ke kampung."
Wajah Gara menjadi sedih. Tidak banyak teman yang dia miliki selama ini. Bahkan di playgroup pun dia lebih sering terlihat sendirian daripada bersama dengan temannya.
__ADS_1
"Papa, Garrlla boleh ikut Teh Widi, gak?" Gara beralih bertanya padaku.
"Ehm, Teh Widi kan harus sekolah, Gara juga harus sekolah, nanti ya kalau liburan sekolah kita pergi ke sana." Wajah itu memberengut, tanda tidak suka dengan apa yang aku katakan.
"Lama!" protesnya.
"Gara, denger Mama, Sayang. Kan Gara anak yang pinter, anak yang baik, anak yang soleh. Kalau Gara ikut ke kampung Teh Widi, sekolah Gara gimana, dong? Gara mau izin sekolah? Nanti ketinggalan pelajaran, Sayang. Dan lagi kan Teh Widi juga sekolah, mau ya Gara bikin Teh Widi gak sekolah? Nanti kalau kalian di hukum sama bu guru bagaimana?" tanya Ayu mencoba memberi pengertian pada Gara. Ayu tidak punya anak, tapi caranya memberi tahu pada Gara sangat lembut, seperti pada putranya sendiri.
"Garrlla dak suka sekolah! Jangan sekolah saja ya Mama! Atau, Garrlla mau sekolah sama Teh Widi saja!" ucap anak itu.
Duh, Gara kalau sudah ada maunya agak sulit untuk dibujuk kembali.
"Gara mau pindah sekolah? Terus sekolah yang di sini gimana?" tanya ku pada Gara, tidak mau juga jika sampai anak itu merengek ingin ikut dengan Widi.
"Pindah lah!" ujar anak itu lagi.
"Ya, Pa! Garrlla mau sekolah sama Teh Widi!"
Gara mulai merengek, tidak menghentikan ucapan permintaannya. Semakin berisik saat aku tidak memberi jawaban.
"Gara mau pergi sama Teh Widi, terus Mama sama siapa?" Ayu bertanya, membuat anak itu terdiam dan terlihat seperti berpikir.
"Tapi kalau cuma Papa doang gak seru dong! Mama kan mau asuh Gara, tidur sama Gara! Kalau Gara gak ada Mama mau sama siapa?" tanya Ayu.
Ya ampun, jawaban Ayu bisa gak sih yang lain. Masih ada aku jika Gara tidak ada, masih bisa urusin aku juga, kan?
"Iya, juga! Gak jadi pindah, deh. Tapi Mama Ayu setiap malam tidur sama Garrlla ya!"
Hei, Papa tidur sama siapa!
"Anak pintar!" ucap Ayu sambil melirikku, terlihat wajah itu sebal.
Sampai pesta berakhir, dia masih seperti itu. Hanya tersenyum jika ada tamu yang datang. Setelah itu dia kembali cemberut di dekatku.
Tahu bagaimana rasanya hati ini dicuekin sama istri sendiri?
__ADS_1
Kena mental, Bro!
Pesta berakhir saat menjelang malam. Kami memang sengaja hanya sampai di jam sembilan malam, karena melihat dari kesehatan Ayu dan juga Gara yang pasti lelah. Mama sudah pulang sedari sore tadi, Papa dan juga Ibu Diah yang terlihat lelah ikut hadir dan menyambut tamu yang ada. Tidak tega rasanya membiarkan para orang tua kelelahan.
Ayu sedang dibantu memakai sandal jepit oleh Mbak Yeni. Para tamu sudah pulang, meninggalkan kami dan para kerabat terdekat saja yang masih ada di dalam ruangan ini.
"Yu, kamu masih marah?" tanyaku setelah Mbak Yeni pergi dan Ayu bersiap untuk berdiri.
"Pikir saja sendiri!" ucapnya ketus lalu mengangkat sedikit gaun panjangnya bagian depan dan melangkah meninggalkan ku sendirian. Aku diam, mengusap kepalaku yang tiba-tiba pusing. Punya istri ternyata bikin galau kalau dia marah.
"Kamu kenapa? Kenapa gak bantu Ayu ke kamar?" Tanya suara Papa dari belakangku.
"Papa, aku kira Papa sudah ke kamar duluan."
"Tadi mau ke kamar, tapi gak jadi. Ada Pak Burhan sama istrinya ngajak ngobrol," ucap Papa.
"Ayu dari tadi kayak bete gitu. Kenapa?" tanya Papa.
"Gak pa-pa kok."
"Arga!" suara Papa mulai terdengar tegas.
"Seorang pengantin itu harusnya bahagia, tapi wajah Ayu kayaknya sedang kesal. Kenapa?" tanya Papa, nada suaranya meminta jawaban.
"Emh, anu ... kayaknya Ayu marah, deh."
"Marah kenapa?"
"Letta, anaknya Pak Wahyu, tadi waktu pamit sempet cipika-cipiki sama Arga, dan Ayu kayaknya marah karena itu deh," ucapku jujur.
Papa melotot, menatapku, tiba-tiba matanya yang sipit menjadi sedikit lebar.
"Astaga! Kamu ini. Bikin ulah saja!" tangan Papa terangkat ke udara dan dengan cepat mendarat di lenganku. Sakit!
"Ah, sakit, Pa! Kok aku dipukul?" tanyaku protes, mengusap lengan yang sakit akibat ulah laki-laki tua ini. Papa masih terlihat kesal sekali.
__ADS_1
"Salah kamu! Kenapa juga gak menghindar! Pokoknya awas saja kalau kamu kayak gitu lagi dan buat Ayu marah, Papa gantung kamu di luar!" ujar Papa dengan kesal lalu pergi dari sini.
Eh, kok. Pa! Aku anakmu! Kok kejam!