Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
340. Adopsi Untuk Vano


__ADS_3

Kehadiran Vano bagi kami sekarang ini benar-benar membuat kami bahagia. Benar apa yang dikatakan Dewi dan juga ayah mertua padaku, rezeki memang sudah ada yang mengatur, terbukti semenjak Vano ada bersama dengan kami toko semakin hari semakin ramai. Pemasukan semakin berangsur membaik. Aku juga lebih mudah untuk menghitung penghasilan dan menyisihkannya untuk selain pengeluaran. Meski kebutuhan Vano cukup besar untuk susu dan sebagainya, tapi jelas kami tidak kesulitan dengan hal itu.


Dewi terlihat lelah, setiap malam kurang tidurnya karena menjaga Vano yang masih sering terbangun tengah malam, baik untuk menggantikan popok dan juga membuatkan susu untuknya. Aku juga ikut andil untuk menjaga putra kami, jangan hanya Dewi yang merawatnya. Siang hari Dewi sudah cukup lelah membereskan rumah dan menjaga dua anak kami. Vita juga baik terhadap Vano, jika adiknya menangis dia akan datang meski langkah kakinya masih pelan, jika aku lihat pernah dia berusaha memberikan botol susu pada adiknya atau sekedar menepuk perutnya hingga tertidur kembali.


Keputusan untuk mengadopsi Vano masih belum kami uruskan, takut jika orang tua Vano datang dan mengambil dia dari kami. Kami akan menunggu sebentar lagi untuk hal tersebut. Dewi pun yang awalnya ingin segera menguruskan surat pengesahan adopsi menurut kepadaku, meski terlihat dia marah, tapi dia tidak pernah mendebatku. Entah jika di belakang, apakah dia membicarakanku dengan yang lain atau tidak. Jelas meskipun dia adalah istriku, aku tidak tahu bagaimana hatinya.


...***...


Sudah hampir tiga bulan Vano bersama dengan kami, tidak ada tanda jika ibunya atau keluarganya yang lain mencari baik dari media sosial atau pun yang lain. Kadang aku berpikir dengan artian di dalam surat yang tersemat di balik selimut Vano dulu, seakan seperti anak ini sedang disembunyikan atau tidak diinginkan oleh yang lain.


Jelas jika dia menuliskan jika dirinya adalah istri siri dari seorang laki-laki dan keluarganya tidak menghendaki adanya anak ini. Apakah dia sedang ada di dalam bahaya?


Sempat aku berpikir seperti itu, tapi entahlah. Pikiranku tidak bisa lebih jauh lagi selain seperti cerita novel yang Ayu buat di judulnya novelnya yang baru. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi terhadap ibu Vano di tempat lain.


"Wi, besok bikin surat pengesahan adopsi Vano," ucapku pada Dewi yang baru saja menyimpan segelas kopi di depanku.


"Besok? Beneran sudah boleh?" tanya Dewi, aku menganggukkan kepala. Dewi seketika menubrukkan dirinya ke tubuhku. Dia tersenyum dengan bahagia.


"Kalau sudah sah gak bisa diambil orang lain kan?" tanya Dewi dengan sorot mata yang besar. Aku mengangguk saja.


"Beneran, jadi kalau ibunya datang juga gak ada hak buat ambil Vano, kan?" tanya Dewi lagi.


"Iya," ucapku meraih pinggangnya yang ramping.

__ADS_1


"Aaahhh! Aku seneng. Makasih, Mas!" serunya. Aku menyimpan jari telunjuk di depan bibirku.


"Jangan berisik, nanti anak-anak bangun." Aku bicara dengan pelan. Dewi langsung menutup mulutnya rapat dan mengangguk cepat.


"Mau hadiah, dong." Pintaku.


"Hadiah apa?" tanya Dewi bingung.


"Kamu kan udah aku kasih izin buat adopsi Vano, aku minta hadiah." Aku ingin menggodanya kali ini.


"Hadiah apa? Baju baru? Jaket? Motor baru? Oh, aku minta mobil sama bapak!" ucapnya kembali berseru. Dewi hendak bangkit, tapi aku menahan pinggangnya lebih erat lagi.


"Bukan baju, motor, atau mobil."


"Aku minta kamu luangkan waktu jam sekarang ini."


"Hah?"


"Kita kan udah lama gak main-main, boleh dong malam ini kita main kuda-kudaan," ucapku sambil mengangkat alis turun naik dengan cepat. Pipi Dewi memerah mendengar permintaanku.


"Ih, Mas. Gimana kalau anak-anak bangun?" tanya wanita ini dengan malu.


"Ya jangan kencang-kencang, dong. Kamu jangan teriak," ucapku. Dewi semakin bersemu di wajahnya.

__ADS_1


"Siapa juga yang teriak? Aku gak pernah teriak, ih," ucapnya malu.


"Gak pernah teriak, tapi ... ah ... Mas! Uuhhhh ... Aahhh," ucapku sambil menirukan suaranya yang khas. Ah, menirukan hal tersebut menjadikan milikku menegang.


"Enggak ih, aku gak gitu!" protesnya merajuk. Aku tertawa melihat wajahnya yang marah dan kesal.


"Iya, beneran gitu, masa kamu gak ingat?" Aku tidak mau kalah.


"Enggak, ih!" serunya semakin kesal dan malu. Dewi berusaha menjauh dariku, tapi aku tidak ada niatan untuk melepaskan dia sebelum apa yang aku mau tercapai.


"Wi, pengen ih. Ini sudah seminggu loh gak dapat jatah. Gak kasihan apa?" tanyaku memelas. Dewi menggelengkan kepalanya.


"Gak. Biar kamu tahan aja tuh sampai besok pagi!" ucapnya masih kesal.


Aku tidak mau menunggu sampai besok pagi, dengan cepat aku membalikkan diri sehingga dia jatuh di bawah tubuhku.


"Aww, Mas!" teriak Dewi dengan terkejut.


"Aku gak mau sampai besok pagi, aku maunya sekarang." Aku memaksa dia, membuka kancing piyamanya dengan paksa.


Dia menahan tanganku. "Jangan di sini, dong. Masa di ruang tamu?" tanyanya.


Aku tersenyum. "Gak apa-apa, sesekali di ruang tamu mah sah aja kali!" ucapku lalu meneruskan membuka kancing pakaiannya.

__ADS_1


Dewi tidak lagi membantah, dia menurut dan menjadi anak yang manis di malam ini. Sesekali aku yang berada di atas, dan lanjut dengan dia yang mengambil kendali. Permainan ranjangnya sudah meningkat banyak sekali karena kegiatan kami berpeluh lumayan sering di setiap minggunya.


__ADS_2