
"Jadi itu menurut Mbak Ayu yang baik? Bagaimana kalau aku tidak merasa baik dengan salah satu dari mereka?" tanya Dokter Wira padaku.
Aku membeku mendengar pertanyaannya. Tentang baik atau tidaknya tentu saja dia juga bisa memilih.
"Tapi ada salah satu dari mereka yang lebih baik dan pantas bersama dengan Dokter Wira. maafkan saya, Dokter. Mengenai hal ini, saya kira saya sudah menyakiti perasaan Dokter Wira. Maaf saya tidak bisa membalas perasaan Dokter Wira. Saya ingin fokus terlebih dahulu dengan hidup saya," ucapku padanya.
Jika disebut tak enak hati, aku memang tak enak hati padanya. Dia sudah baik dan membantu aku dan juga Ibu. Akan tetapi, bagaimana lagi jika hati ini tak ada sama sekali getar yang aku rasakan? Bukankah jika aku memberinya kesempatan juga malah akan membuatnya semakin sakit hati?
Terdengar gelak tawa dari Dokter Wira, membuat aku heran hingga menatap ke arahnya.
Dia membuka kacamatanya dan menyusut sesuatu di sudut mata.
"Maafkan saya. Apakah saya sudah membuat Mbak Ayu tidak enak hati? Seharusnya saya melakukan hal ini pelan-pelan. Saya terlalu terburu-buru mengatakan hal ini demi ingin mendapatkan Mbak Ayu. Maafkan saya. Saya mengerti dan saya pasrah," ucap Dokter Wira. Aku menatapnya dengan tidak mengerti.
"Maaf, saya gak akan memaksa Mbak Ayu lagi. Memang perasaan tidak akan bisa dipaksakan. Segigih apapun saya mendekati Mbak Ayu, jika Mbak Ayu tidak berkenan dan tidak ada rasa dengan saya, bukankah itu juga percuma? Saya akan berubah menjadi air atau angin saja. Mengalir dengan pelan, dan tidak akan memaksakan kehendak lagi pada Mbak Ayu," ucapnya lagi. Hatiku lega mendengar hal ini, tapi kasihan juga terhadapnya karena cintanya ditolak.
"Maafkan saya, Dokter," ucapku padanya.
Dokter Wira menganggukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Memang sedari awal bukan Mbak Ayu yang salah. Saya lah yang terlalu memaksa ingin Mbak Ayu menerima saya."
Kami terdiam setelah itu.
"Saya percaya, jika jodoh tak akan kemana, termasuk jika Mbak Ayu adalah jodoh saya kelak. Saya akan merasa sangat senang, tapi jika bukan, saya akan tetap senang karena sudah kenal dengan Mbak Ayu," ujar Dokter Wira.
Betapa tulusnya ucapan pria ini, tapi aku sama sekali tidak ada rasa terhadapnya. Jika saja ada sedikit rasa getar di dalam hati untuk dia, aku mungkin akan memberikannya kesempatan.
...***...
__ADS_1
Semenjak pertemuan dengan Dokter Wira di hari pesta ulang tahun keponakannya itu, aku merasa tak enak hati. Takut jika dia masih menyimpan kesal apalagi sampai dendam terhadapku.
"Kamu kenapa sih, Yu? Ibu lihat dari beberapa hari yang lalu kok murung terus?" tanya Ibu padaku. Warung sedang sepi dan aku hanya duduk sambil menonton film, tapi entah lah, Film yang aku tonton rasanya hanya berjalan tanpa bisa aku nikmati.
"Gak apa-apa, Bu."
"Kamu ada masalah?" tanya Ibu lagi.
Aku menggelengkan kepala.
"Semenjak kamu pulang dari diantar Dokter Wira kamu kok kelihatan murung terus."
Duh, apa kelihatan sekali, ya?
"Ada apa, sih?" desak Ibu.
Aku mematikan laptop dan duduk menghadap ke arah Ibu.
"Memangnya kamu melakukan apa?" Ibu terlihat bingung. Aku menceritakan apa yang terjadi diantara kami menjelang malam itu. Aku tidak menceritakan soal sambutan kedua orangtuanya, takut jika nanti Ibu malah berharap banyak.
Ibu mendengarkan dengan seksama, lalu terdengar helaan napasnya yang berat.
"Dokter Wira memang baik, Yu. Dia kelihatan tulus sekali sama kamu, tapi kalau kamu gak mau sama dia ya mau gimana lagi? Memang hati gak bisa dipaksakan. Toh Ibu juga gak mau paksa kamu supaya dekat dengan dia meski Ibu juga ingin," ucap Ibu. Wajah Ibu terlihat seperti kecewa. Ini karena aku yang tidak mau dekat dengan siapapun, termasuk Dokter Wira.
"Ya, sekarang pikir saja lah, Yu. Apa yang terbaik buat kamu. Dokter Wira sudah baik, tampan, tulus, mapan juga. Apa yang kurang dari dia? Apa karena dia pakai kacamata? Suruh saja operasi mata biar gak usah pakai kacamata!" ujar Ibu terdengar kesal.
Eh, kenapa Ibu singgung soal kacamata?
"Bu, aku dah gak masalah kok sama laki-laki yang berkacamata," ucapku protes.
__ADS_1
"Hem, bukannya dulu kamu nolak si Ardi karena kacamata ya?" tanya Ibu kini bangkit dan pergi.
"Bu! Itu kan Ardi! Ibu gak tau aja kalau dia lagi gak pake kacamata kayak apa. Lihat aku aja yang ada di depannya masih gak kelihatan jelas!" Aku berteriak dengan keras pada Ibu yang kini menghilang di balik pintu ruangan tengah.
Astaghfirullah, kenapa juga Ibu mesti samakan Dokter Wira dengan Ardi? Dia anak tetangga, tak jauh rumahnya dari sini. Laki-laki seumuranku dan memakai kacamata dengan lensa tebal. Kami cukup berteman baik dari SD sampai SMP, SMA kami sekolah di tempat terpisah. Ardi memang menyukaiku sejak dulu, tapi aku menolak dia karena dulu aku memang berpikir pria dengan kacamata itu tidak keren.
Ibu menyukai Ardi karena dia anak yang baik, dulu berharap aku berjodoh dengan laki-laki itu, tapi aku tegaskan pada Ibu aku tidak suka laki-laki dengan kacamata dan aku jabarkan juga alasannya. Bagaimana jika dia kehilangan kacamata? Bukankah dia akan seperti kelelawar di siang hari? Mungkin terdengar konyol alasanku, tapi aku dulu berpikir begitu.
Mengenai Dokter Wira, aku tidak berpikir seperti itu. Dia memang tampan, ku pikir juga kacamata mendukung penampilannya. Mau pakai kacamata atau tidak dia memang tampan. Akan tetapi, ini masalah hati. Bukan lagi masalah penampilan. Apa lagi aku harus sadar diri dengan siapa diriku, statusku.
...***...
Aku sudah mengurus KTP dan memindahkan KK menyatu kembali dengan Ibu. Rasanya lega juga setelah aku benar-benar bebas dari semua itu. Tidak terlalu sulit karena Pak RT membantuku hingga proses sampai di kantor Dispendukcapil. Di sana aku mengurusnya sendiri karena ada arahan dari petugas.
Berkas lamaran kerja telah aku siapkan dari semalam. Hari ini aku akan melamar pekerjaan di perusahaan yang Diana ajukan semalam. Rekomendasi dari seorang temannya.
Jam sudah menunjukkan angka tujuh pagi, aku harus bergegas supaya sebelum jam delapan pagi aku sudah sampai di sana.
"Jadi berangkat?" tanya Ibu dari ambang pintu, terlihat dari cermin yang ada di depanku. Tanpa menoleh aku menjawab pertanyaan Ibu.
"Jadi lah, Bu. Gak apa-apa, kan Ayu tinggal? Ayu sudah bilang sama Yu Tarni minta tolong temenin Ibu di rumah," ucapku. Satu jarum tajam dengan bendul bulat berwarna putih aku sematkan pada kain di bawah dagu.
"Jangan selalu repotkan yang lain, Yu. Ibu gak apa-apa kok ditinggal di rumah sendiri," ucap Ibu.
Tas yang ada di atas kasur aku ambil beserta map lamaran kerja.
"Ayu gak mau terjadi apa-apa sama Ibu. Ibu itu kan orangnya bandel, gak mau diam!" ucapku kesal.
"Semua pekerjaan rumah sudah Ayu kerjakan, masak juga sudah tadi. Ibu tinggal sarapan, piring jangan dicuci, biar nanti saja Ayu pulang kerja yang cuci," titahku. Ibu hanya mendengkus sebal.
__ADS_1
"Ibu ini sehat, bukan cacat, bukan struk!" ucap Ibu dengan kesal.