
Aku telah sampai di rumah. Dengan tersenyum lebar aku mencari Ibu. Ibu sedang menyiapkan masakan untuk makan malam nanti. Segera aku mendekati Ibu dan memeluknya dari belakang.
"Eh, Ayu!" seru Ibu yang terkejut dengan perlakuanku.
"Ayu seneng, Bu. Tadi Ayu sudah mengajukan surat permohonan perceraian ke pengadilan agama," ucapku kepada Ibu.
Ibu menghentikan laju tangannya yang menyiangi sayuran.
"Secepat itu proses dari kantor polisi?" tanya Ibu.
"Bukan, tadi Ayu ketemu sama Hana, dan Hana memberikan buku nikah punya Ayu," jawabku.
Ibu membalikkan tubuhnya dan menatapku dengan tidak percaya.
"Alhamdulillah, semoga saja urusan kamu cepat disetujui. Aamiin," ucap Ibu dengan doa, Ibu tersenyum bahagia.
"Aamiin, Bu. Semoga saja doa Ibu cepat terkabul," ucapku mengaminkan.
"Ya sudah. Kamu mandi dulu. Ibu mau selesaikan ini." Tunjuk Ibu pada pekerjaan di depannya. Aku mengangguk.
"Sinta mana?" tanyaku saat tidak melihat gadis mungil itu.
"Ibu suruh ke warung sebentar buat beli gula merah sama kacang ijo, Ibu mau bikin bubur kacang buat nanti malam," jawab Ibu.
"Oh, ya sudah. Ayu mandi dulu, terus mau selesaikan pekerjaan," ucapku pada ibu. Ibu memang sekarang sudah tahu dengan pekerjaan freelanceku.
Aku bergegas pergi ke kamar Ibu yang sekarang ini juga adalah kamarku, sedangkan kamarku menjadi kamar Sinta. Aku terlalu khawatir dengan Ibu sehingga setiap malam tidur bersama dengan beliau.
Selepas mandi aku menyelesaikan pekerjaanku di depan laptop. Perasaan hati yang senang membuat diri ini menjadi ringan dalam berpikir.
Tidak terasa, sudah satu jam lebih aku menggeluti duniaku di dalam kamar Ibu hingga suara ketukan di pintu terdengar pelan.
Sinta memanggilku untuk makan malam.
Percakapan terjadi antara kami berdua, sedangkan Sinta pulang ke rumahnya. Sesekali aku mengingatkan dia untuk ingat pulang ke rumah. Jangan sampai keluarganya menyangka jika Sinta lebih senang hidup dengan kami daripada dengan keluarga sendiri.
"Kok bisa Hana kasihkan buku itu?" tanya Ibu padaku.
__ADS_1
"Ya bisa saja, Bu. Siapa juga yang rela suaminya punya istri dua, ya dia ingin punya Mas Hilman sendirian, lah!" ucapku pada Ibu. Teringat jika dulu aku juga tidak menginginkan hal itu.
"Kira-kira kapan sidangnya?" tanya Ibu lagi. Aku menggelengkan kepalaku.
"Nanti ada yang menghubungi, Bu. Ayu juga belum tau nanti gimana," jawabku.
"Ibu juga belum tau, Ibu gak pengalaman soal perceraian begini. Ibu kan dicerai mati Bapak kamu," ucap Ibu dengan wajah yang sedih.
"Semoga saja nanti berjalan dengan lancar, Bu. Kemarin ...." Aku terdiam, ragu untuk meneruskan.
"Itu ... Dokter Wira juga ...." Aku terdiam lagi hingga membuat Ibu menjadi bingung dengan tatapannya terhadapku.
"Kenapa Dokter Wira?" tanya Ibu dengan penasaran.
"Ternyata Dokter Wira tau perihal Ayu akan cerai. Siapa yang bilang ya, Bu? Ayu gak tau kalau dokter itu sampe tau," ucapku pada Ibu.
Ibu terlihat tidak nyaman dalam duduknya. Senyum kikuk terlihat di bibirnya.
"Itu ... maaf, Yu. Ibu salah bicara waktu itu sama Dokter Wira. Ibu gak sengaja keceplosan."
"Ibu gak sengaja bilang sama Dokter Wira kalau kamu sudah tidak tinggal lagi dengan Hilman. Maafkan Ibu ya," ucap Ibu sekali lagi. Ingin aku menepuk keningku, tapi gak jadi kasihan Ibu nanti merasa tambah bersalah.
"Yu, sepertinya Dokter Wira suka sama kamu, deh. Ibu sering loh gak sengaja lihat dia sedang perhatikan kamu," ucap Ibu terdengar antusias. Ibu sampai membenarkan posisi duduknya sehingga tegak dan sedikit condong ke arahku.
"Sepertinya dia suka sama kamu," ucap Ibu seraya tersenyum menggoda. Binar matanya terlihat lain dari beberapa hari ini.
"Ibu apaan sih? Kalau sering lihatin juga belum tentu dia suka sama Ayu!" seruku tidak suka.
"Kamu ini apa tidak percaya sama ibu? Ibu ini sudah hidup lebih lama dari kamu!" Ibu tidak kalah bicara dengan nada berseru seraya menunjuk ke arahku.
"Ibu yakin kok. Lha wong tatapan matanya itu beda loh!" ucap Ibu lagi.
Aku merasa aneh dengan pembahasan ini. Membawa nama orang asing dalam pembicaraan kami. Ah ... salah ku juga tadi menyebut nama dia.
"Udah deh Bu. Kita ini lagi makan malam, kok bahas Dokter Wira." Aku mencoba untuk mengakhiri pembicaraan ini.
"Lah kan kamu tadi yang duluan membicarakan dia."
__ADS_1
"Ayu tidak membicarakan dia, cuma tadi menyebut nama dia sedikit saja, kenapa ibu malah menyambung ke sana?" tanyaku tidak suka.
"Ya kan Ibu bicara fakta."
"Fakta apanya? Belum jelas kok. Lagian ibu ini dokter Wira kan sudah mapan dan juga matang, mungkin dia sudah punya calon. Jangan sampai Ibu berpikiran yang tidak-tidak ya!" Aku menatap malas kepada ibu yang kini mengerucutkan bibirnya. Semoga saja yang aku pikirkan barusan tidak ada dalam pikiran ibu.
"Kata siapa dia punya calon? Ibu dulu pernah tanya, dia bilang tidak dekat dengan siapapun. Kalau dia mau mendekati kamu, kamu mau tidak?" tanya ibu padaku dengan sorot mata yang penuh dengan harap.
Aku menggaruk alisku, mendadak gatal di sana.
"Ibu jangan ngaco, deh. Ayo ini belum bercerai dari Mas Hilman."
"Kan sebentar lagi, Yu. Sebentar lagi kamu mau bercerai dengan Hilman. kalau Dokter Wira mendekati kamu, itu kan bagus. Rasanya Ibu bisa tenang kalau kamu dengan orang sebaik dia," ujar Ibu lagi.
Aku menghembuskan nafas mendengar ucapan Ibu barusan. Perceraianku saja entah kapan dilaksanakan, ini Ibu mau menjodohkan aku dengan dia.
"Bu, jangan seperti itu lah. Pertama, Ayu belum cerai. Kedua, dokter Wira belum tentu suka dengan Ayu. Ketiga, apa pandangan orang lain kalau Ayu baru saja bercerai terus menikah dengan laki-laki lain? Ibu tahu kan bagaimana orang-orang sini? Ayu ingin rehat, Bu." Aku menatap ibu dengan sedih. Bukan maksudku untuk melawan kepada ibu, tapi rasanya apa yang Ibu katakan tadi terlalu berlebihan.
Ibu menundukkan kepalanya, wajah yang tadi berbinar kini menjadi suram.
"Maaf Bu. Maafin kalau Ayu membuat Ibu bersedih, tapi Ayu hanya ingin beristirahat dulu sebentar dari berhubungan dengan orang lain," ucap kepada ibu.
Ibu menghela nafasnya dengan kasar. "Iya, maafkan Ibu kalau ibu berpikiran seperti itu. Ibu hanya takut jika umur Ibu tidak panjang, kamu dengan siapa? Tidak ada yang melindungi kamu yu." Ibu mengusap sudut matanya. Suasana yang tadi baik-baik saja ini diliputi oleh kesedihan.
Aku mendekat kepada ibu dan memeluk tubuhnya yang ringkih.
"Ibu bisa tidak jangan bicara seperti itu? Ibu akan panjang umur, dokter akan membantu operasi ibu. Jangan bicara seperti itu lagi lah Bu. Ibu harus positive thinking!" ucapku kepada ibu dan meyakinkannya. Aku sungguh tidak mau Ibu mempunyai pemikiran pendek seperti itu.
"Apa Ibu tega meninggalkan aku sendiri?"
"Justru karena Ibu tidak tega meninggalkan kamu Ayu. Ibu ingin kamu dengan orang yang baik, biar Ibu bisa tenang." Ibu mengelus lenganku dengan lembut.
Air mataku tidak bisa kubendung lagi. Aku mencoba untuk kuat tapi tidak bisa. Memikirkan ibu yang akan menghadapi meja operasi, tentu aku merasa takut juga.
"Ayu tidak mau mendengar Ibu bicara seperti itu lagi. Meskipun ia memang umur tidak akan ada yang tahu, tapi Ayu nggak mau mendengarnya dari ibu," ucapku memohon.
Malam ini penuh dengan haru. Rasa sedih yang menyeruak di hati masing-masing. Aku memikirkan kesehatan ibu dan berpikir dengan siapa aku nanti jika tidak dengan ibu.
__ADS_1