Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
88. Mengantar Risma ke Mall


__ADS_3

Karena kedatangan Kyai Amrul ke rumah beberapa hari yang lalu, di kampung menjadi heboh. Jika aku pergi ke tempat lain, banyak para Ibu yang sengaja bertanya, padahal aku yakin jika mereka sudah tahu dengan maksud kedatangan Kyai itu ke rumah. Toh, tanpa aku bicara juga sudah terdengar desas desus aku yang akan di pinang ustadz kondang itu.


Ya ampun. Kabar yang di bawa angin terlalu cepat untuk menjadi berita menyenangkan untuk para penggosip.


Aku sedang berada di warung sayur. Stok makanan di kulkas sudah mulai menipis. Beberapa orang wanita sedang berjajar memilih dan memilah sayur yang ada di depannya. Sama seperti aku juga kini sedang memilih bawang merah.


"Kapan tuh Kyai akan datang lagi? Saya dengar kamu belum mengiyakan ya?" tanya seseibu padaku.


"Rugi loh, Yu. Kalau kamu menolak. Lagian kan Ustadz Zain itu orangnya cakep, baik, ramah, terkenal lagi. Kalau kamu mau tau, rumahnya itu besaaaarr! Mobilnya banyaaaakk! Bu Nyai juga baik, sabar banget orangnya," ucapnya lagi dengan membesar-besarkan.


Aku tersenyum ketika mendengar yang lain mengiyakan ucapan ibu itu.


"Benar, Yu. Rugi kalau gak di terima. Kapan lagi dipinang orang terkenal dan berpengaruh kayak keluarga Kyai Amrul." yang lain setuju.


"Maaf, Bu. Tapi Ayu kan juga belum selesai masa iddah. Masa mau menerima pinangan seseorang. Kan ya gak baik, Bu!" Aku abaikan mereka dan menyerahkan sekresek kcil bawang merah untuk di timbang.


"Kalau sudah masa iddah, kamu maukan terima lamaran Kyai Amrul? Kan kalau kamu menikah dengan anak Kyai, nama kampung kita juga terangkat, Yu. Kamu bakalan dihormati sama yang lainnya. Nanti kan jadi istri ustadz dan menantu Kyai." yang lain menambhakan. Duh ini bakalan panjang kalau aku masih tetap disini.


"Gimana nanti saja lah, Bu. Lagipula masa iya, orang yang baru cerai sama suaminya sudah mau menikah lagi. Nanti kalau orang yang gak tau, dikiranya saya cerai karena ngebet ingin menikah sama anak Kyai kondang lagi," ucapku. Ku percepat memilih sayuran agar lebih cepat pula pergi dari sini. Apa saja yang bisa ku raih, ku ambil saja dan menyerahkannya pada pemilik warung.


Selesai di hitung segera aku membayar belanjaanku.


"Sudah selesai aja, Yu? Padahal kita jarang-jarang loh ngobrol sama-sama." Mbak Tina, Ibu muda dua anak menahan tanganku.


"Eh, iya sudah selesai kok. Ini mau masak buat makan siang nanti. Masih banyak juga pekerjaan di rumah. Silakan kalau kalian mau mengobrol lagi." Aku pamit pada semua orang yang ada di sana.


"Sombongnya, padahal kalau hidup enak kan juga buat siapa!" terdengar ucapan dari seseorang saat aku keluar dari warung itu.


Ah, sudahlah. Kenapa dengan mereka ini? Aku yang menjalani hidupku, kenapa mereka yang riweuh?


Sebuah mobil terparkir di halaman rumah. Aku tidak tahu itu mobil siapa karena baru pertama kali ini melihatnya. Segera aku masuk lewat pintu belakang. Ku lihat di ruang tamu beberapa orang sedang berbicara bersama dengan Ibu. Aku hanya kenal dengan satu orang laki-laki yang duduk di sana, yakni adik dari Bapak, Mamang yang tempo hari membantu menjualkan tanah di kampung Bapak.


"Mang!" Aku keluar dari tempat persembunyianku dan mendekat ke arah Mamang, mengulurkan tangan untuk salim padanya dan juga pada beberapa orang yang ada di sana. Dua orang anak muda itu menyambut salam dari jauh.

__ADS_1


"Ayu! Sudah sangat lama ya tidak bertemu!" Mamang berdiri dan memelukku dengan singkat. Canggung sekali karena sudah sangat lama sekali kami tidak bertemu, terakhir dua tahun setelah aku menikah.


Minuman belum tersedia di atas meja, itu tandanya para tamu belum lama baru saja datang. Aku pergi ke warung sayur juga tidak sampai setengah jam yang lalu.


"Ayu buatkan minuman dulu," ucapku dan diangguki tiga orang pria yang ada di sana.


Minuman dan makanan ringan kini telah tersedia di atas meja. Aku kembali pamit ke dapur untuk menyiapkan makanan, tapi Mamang menolak karena beliau akan kembali berangkat. Datang kesini hanya untuk melihat keadaan ku dan juga Ibu.


Tak sampai setengah jam, Mamang dan kedua orang temannya pamit. Tiga orang itu kini berjalan ke arah mobilnya. Selain bertani, Mamang juga bekerja sambilan mencarikan orang yang ingin ikut bekerja proyek di kota, teman Mamang adalah mandor proyek, lumayan untuk menambah penghasilan Mamang, dihitung dari satu orang pekerja yang Mamang dapatkan.


"Ada apa Mamang kesini, Bu? Tumben sekali," ujar ku bertanya kepada Ibu.


"Oh, itu. Gak ada apa-apa. Cuma menengok kita saja dan bicara soal mengurusi surat pindah nama. Sudah itu saja." jawab Ibu.


"Ooh, ya sudah Ayu mau masak dulu." Pamitku pada Ibu.


Aku pergi ke dapur sambil membawa minuman yang tadi ku suguhkan.


Sedang asyik memasak. Ku dengar ada suara dari luar yang memanggilku. Segera ku matikan kompor dan berjalan ke depan.


"Bantu apa ya?" tanyaku padanya.


"Ini, em ...." Dia menunduk, terlihat malu.


"Iya?"


Wajahnya seketika berubah merah.


"Ini kan kemarin ... anu ... Tolongin dong. Antar Risma ke mall," ucapnya sedikit terbata.


"Mau ada perlu apa?" Aku yakin jika gadis muda ini pernah ke mall dan kenapa harus minta aku antarkan?


"Itu ... kan Risma. Emh ... Risma diajak ke pesta sama calon pacar, minta tolong Mbak Ayu pilihkan baju!" ucapnya dengan cepat. Wajahnya semakin merah saat setelah mengatakan itu.

__ADS_1


Hah, lucu sekali anai ini, hanya membeli baju saja harus minta tolong aku.


"Kan style Mbak Ayu bagus, modis. Risma suka. Ya, Mbak. Mau, ya!" pintanya memohon dengan kedua tangan tertangkup di depan dada.


Aku menggaruk kepalaku yang mendadak gatal. Perasaan style ku biasa saja, sama seperti orang kebanyakan, hanya saja lebih berhati-hati dengan warna agar tidak bertabrakan.


"Mau, ya. Please!" pintanya lagi. Matanya bulat menatap penuh harap kepadaku.


"Eh, oke deh. Boleh. Kapan?" tanyaku.


"Nanti sore? Bisa gak? Soalnya besok mau aku pakai bajunya. Dadakan soalnya Bapak baru kirim uang semalam," ujarnya menjelaskan.


Aku tersenyum seraya menganggukkan kepala. Kasihan juga kalau tidak dibantu.


"Nanti sore pake motor Mbak Ayu, ya? Aku traktir makan nanti!" serunya senang.


Lagi aku menganggukkan kepala. Gadis berusia delapan belas itu kini berlari dengan wajah yang tersungging senyuman.


Sore hari, aku menutup warungku lebih cepat meskipun Ibu bilang akan mengurusnya, tapi aku kasihan juga kalau istirahat Ibu terganggu.


Aku dan Risma kini dalam perjalanan ke mall, sengaja aku membawanya ke mall yang agak jauh, di tengah kota karena di sana lebih lengkap dan variatif pilihan pakaian atau apapun. Dari segi harga juga sepadan engan kualitas, tidak terlalu mahal menurutku.


Risma seperti orang yang kalap, mau ini dan itu saat melihat pakaian yang ada di etalase. Aku hanya menggelengkan kepala tak setuju saat dia menunjuk dan menginginkan pakaian dengan style rame seperti itu. Dia sedikit cemberut, tapi menurut saat aku bilang tidak.


Aku membawa Risma ke tempat pakaian langgananku dulu saat aku masih sering berbelanja. Sedih rasanya sudah lama tidak berbelanja.


Risma semakin kalap melihat pakaian yang ada di sini. Aku biarkan saja dia melihat terlebih dahulu. Dia sangat sibuk sekali melihat dan menempelkan pakaian di hanger itu pada tubuhnya. Aku juga sama, melihat dan memilih pakaian untukku dan Ibu. Duh, niat mau antar saja malah jadi ikutan belanja. Haha.


Sibuk memilih pakaian untukku sedangkan Risma sedang mencoba pakaian di ruang ganti. Ku lihat ada sepatu kecil di bawah gantungan pakaian yang banyak. Aku penasaran dengan sepatu kecil di bawah sana. Tidak biasanya ada sepatu anak disini.


****


Hai-hai, mari mampir sini sambil nunggu Ayu update.

__ADS_1



__ADS_2