
Aku keluar dari kamar itu dengan langkah yang tertatih. Rasa sakit sangat terasa di tubuh bagian bawahku. Tentu saja, pria itu melakukan hal yang sangat tidak manusiawi, membolak balikkan diriku seperti roti yang di panggang di wajan yang datar. Lihatlah dia sekarang, tidur dengan sangat nyenyak setelah melakukan hal mengerikan itu padaku.
Wanita itu duduk di sofa, Kedua tangannya terlipat di depan dada. Dia menatap nyalang kepadaku. Terlihat rahangnya yang mengeras, juga dengan matanya yang memerah. Bekas tamparan yang aku buat tadi masih ada di pipinya.
"Kalian tega! Aku sedang kesakitan kalian malah berduaan di dalam kamar!" Teriaknya marah seraya bangkit dari duduk.
"Salahkan saja suami kamu Hana. Dia yang memulai semuanya, dan itu karena kamu!" Ingin aku berteriak tapi tidak bisa, hanya mendesis sedikit keras sambil mengeratkan gigiku. Lelah yang mendera tubuh ini sangat terasa sekali, Mas Hilman seperti orang yang kerasukan.
Aku menyeret langkah kaki ini ke arah kamar mandi, tidak peduli dengan suara Hana yang masih saja mengomel di tempatnya. Aku tidak terlalu suka dengan tubuh yang lengket ini, ingin segera aku bersihkan.
"Mbak kamu dengar nggak sih?!" tanya Hana sekali lagi dengan marah.
Hampir satu jam aku berada di dalam kamar mandi, belum aku buka baju ini, tapi sudah basah dengan air yang aku guyurkan sedari tadi. Tidak ada lagi air mata yang keluar, ataupun isakan dari bibir ini. Semua ini salahku, harusnya aku memang meninggalkan dia sedari dulu.
Aku segera menuntaskan mandiku dan kembali ke dalam kamar itu. Ragu sebenarnya, merasa takut juga. Mas Hilman masih berada di dalam kamar.
Perlahan pintu kamar aku buka, tidak ada orang di dalam sana. Aku menghela nafas lega. Dengan segera aku melangkahkan kaki ke dalam dan mengunci pintu. Kali ini aku harus benar-benar membentengi diriku dari hal yang tidak diinginkan. Dia memang suamiku, tapi tidak sepantasnya melakukan hal seperti itu dengan kasar.
Dengan cepat aku memakai baju setelah itu mengeluarkan tas besar dan kuambil beberapa pakaian yang ada di lemari. Tas sudah hampir penuh ketika aku mengingat sesuatu. Kembali aku berdiri untuk mendekat ke lemari, mengangkat beberapa helai pakaian dari dalam sana.
Aku menggelengkan kepala tidak percaya mengusap wajahku dengan kasar dan kembali menyimpan baju-baju itu pada tempatnya. Benda penting yang baru aku ingat kini sudah tidak ada, padahal selama ini aku sudah menyembunyikannya. Memasukkan benda penting itu di antara lipatan baju di bagian paling bawah lemari. Di sana adalah tempat baju-baju yang sangat lama tidak terpakai. Kenapa aku berpikir jika tempat itu adalah tempat yang aman?
__ADS_1
Aku bodoh. Bodoh. Bodoh. Dasar bodoh! Kenapa aku tidak mengambilnya sedari dulu dan menyimpannya di rumah Ibu? Aku selalu berpikir, jika Mas Hilman tidak akan mencari buku ini sampai ke tempat terpencil.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Aku menoleh ke arah jam dinding. Ini sudah malam, tapi masih aman untuk melakukan perjalanan. Malam ini juga aku akan pulang ke tempat Ibu. Mungkin memang aku egois, tidak mendengarkan kan ucapan dokter waktu itu. Ibu tidak boleh dibuat berpikir keras, tapi aku sudah tidak tahan!
Sekali lagi aku mencoba untuk mencari buku nikah, siapa tahu memang terselip di suatu tempat. Aku kembali mengambil baju-baju itu dan mengeluarkannya, menatanya di atas kasur. Satu persatu aku lihat lipatan baju itu, meski aku yakin dulu aku menyimpannya di bajuku yang berwarna hijau. Mas Hilman tidak suka aku memakai baju itu.
Pencarianku percuma, satu persatu baju sudah aku cek, tapi yang aku cari tidak kunjung ketemu juga. Hampir semua pakaian sudah aku keluarkan, semua lipatan baju sudah aku buka. Tidak ada.
Ingin aku berteriak, tapi tidak bisa. Hanya menggumam dan merutuki kebodohanku sendiri.
Aku kini bangkit dengan membawa tas di punggung, tidak lupa dengan membawa serta laptop, dompet, dan juga hp, juga tidak lupa dengan kunci motor.
Segera aku keluar dari rumah itu dan membawa motorku melaju ke jalanan.
Udara yang dingin dan air yang turun rintik kecil dari langit, tidak menyurutkan aku untuk tetap pergi ke rumah ibu. Rumah yang akhirnya aku harus kembali ke sana. Hal yang tidak pernah aku pikirkan selama ini karena aku selalu berpikir kalau selamanya aku akan bahagia bersama dengan mas Hilman.
Aku menghentikan laju motorku pada jalanan yang cukup sepi. Air mata yang sedari tadi menggenang menghalangi pandangan mata bisa saja membuat aku celaka. Sejenak aku terdiam untuk menenangkan hati ini. Lampu-lampu dari mobil yang menyorot dari depan maupun belakang tidak kuhiraukan.
Setelah beberapa saat lamanya aku kembali melajukan kendaraan ku. Ini sudah hampir jam sepuluh malam. Aku tidak tahu apakah Ibu sudah tidur apa belum.
__ADS_1
Lewat dari jam sepuluh malam aku sampai di rumah ibu. Dengan pelan membuka pintu pagar dan memasukkan motorku yang sengaja aku matikan. Takut jika membuat berisik para tetangga.
Beruntung aku mempunyai kunci cadangan pintu belakang yang terhubung langsung ke dapur. Segera aku masuk ke dalam sana.
Tenggorokanku terasa kering, meski malam ini sangat dingin, tapi rasa yang ada di dalam dada terasa panas dan meminta didinginkan. Aku segera mengambil air untuk minum.
Lampu dapur tiba-tiba saja menyala membuat aku terkejut hingga air yang aku minum meleleh di sudut bibir.
"Ayu?" Suara Ibu memanggilku. Aku menolehkan kepala sambil menyusut sudut bibirku yang basah.
"Ibu?" Aku menyimpan gelas di tanganku dan kemudian mendekat ke arahnya untuk mencium punggung tangan Ibu.
"Kamu ngapain ada disini?" tanya Ibu dengan bingung.
"Ayu ... Ayu pulang, Bu." ucapku kepada Ibu.
"Ada apa? Apa kamu sedang bertengkar dengan Hilman?" Ibu bertanya balik dengan bingung. Aku hanya diam. Tidak ingin menjawab, sebenarnya rasa yang ada di dalam dada sangat sesak sehingga aku tidak bisa berkata apa-apa.
"Ibu ... Bu ...!" Aku menghambur menangis ke dalam pelukan Ibu. Merasa tidak kuat lagi, mengeluarkan rasa sesak yang ada di dalam dada ini. Terisak dengan hebat di dalam dekapan hangat Ibu.
"Ayu kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?" tanya Ibu dengan nada yang bingung, tapi kedua tangannya yang kurus merengkuh diriku.
__ADS_1
Aku masih tidak bisa berkata, hanya isak dan tangis yang keluar dari mulut ini. Kurasakan tangan Ibu yang kini mengelus rambut kepalaku. Ibu tidak berkata apa-apa lagi, hanya tindakannya yang mewakili rasa simpati dan empatinya kepadaku.
"Maafkan aku, Ibu. Ayu minta maaf!" tangisku semakin pecah kala mengingat apa yang Mas Hilman lakukan kepadaku.