
Setelah kejadian tiga hari yang lalu, Mas Hilman tidak pernah lagi ke rumah. Telepon darinya juga aku abaikan karena aku merasa pusing dengan pertanyaannya yang selalu sama. 'Kapan kamu akan pulang?' Dan aku menjawab, 'Aku tidak akan pulang ke rumah itu lagi.'
Aku juga meminta dia menyerahkan buku nikah itu, tapi dia tidak pernah menggubrisnya. Aku sudah pusing dengan semua yang terjadi ini. Lusa aku akan menguruskannya ke kantor polisi. Sudah cukup aku memberikan dia waktu, tapi memang dia sepertinya tidak ada niatan untuk memberikan aku kebebasan.
Dokter Wira juga sudah menelepon kemarin dan menyuruh aku untuk datang ke rumah sakit bersama ibu hari ini. Ini mengenai operasi yang akan Ibu laksanakan. Aku harap akan ada kabar baik mengenai hal itu.
Agak siang seperti yang disampaikan oleh Dokter Wira aku dan Ibu berangkat ke rumah sakit. Kami menggunakan taksi online karena tidak mungkin aku membawa ibu dengan menggunakan motor.
Tidak berselang lama, kami sampai di rumah sakit itu dan langsung bertemu dengan dokter Wira dan dokter Hendra. Ibu sedang diperiksa oleh Dokter Hendra untuk mengetahui kesehatannya, sedangkan aku memilih menunggu di ruangan lain bersama dengan Dokter Wira.
"Bagaimana keadaan ibu selama berada di rumah?" tanya dokter itu kepadaku. Dokter Wira memilih dan memilah berkas yang ada di depannya.
"Ibu baik, Dokter. Alhamdulillah," ucapku menjawab pertanyaannya.
Dokter muda itu menganggukkan kepala, dia menaikkan kacamata yang melorot di hidungnya. Entah kenapa aku selalu suka jika dia sedang melakukan itu, aku jadi teringat dengan artis Korea yang pernah aku tonton tahun lalu.
"Alhamdulillah kalau begitu. Kita hanya harus menunggu apa yang dikatakan Dokter Hendra. semoga saja operasi bisa dilakukan di bulan ini. Apa Ibu masih sering mimisan?" tanyanya lagi.
Aku menggelengkan kepala. "Seingatku tidak sih," jawabku.
Dokter itu mengalihkan pandangannya dari berkas yang ada di tangannya, dia menatap ke arahku dengan bingung.
"Mbak Ayu ada di rumah terus?" tanya dokter itu.
Kali ini aku menganggukan kepala. "Iya, Dokter. Saya lebih sering berada di rumah untuk mendampingi Ibu."
"Oh, baguslah kalau begitu. Biasanya Ibu akan lebih senang kalau ada anak yang menemani. Ibu sering cerita kalau dia sangat senang Mbak Ayu menginap di rumah." Dokter itu kembali mengarahkan pandangannya pada kertas di tangannya. Dia membaca kertas itu dengan tanpa suara.
"Bagaimana kabar Mas Hilman?" tanya dokter itu tiba-tiba.
"Eh?" Aku menoleh ke arah dokter itu, tidak menyangka Dokter Wira akan bertanya.
__ADS_1
"Em ... baik. Mas Hilman baik," jawabku singkat.
Dokter Wira menganggukan kepalanya lagi.
"Saya dengar Mas Hilman sudah tidak bekerja lagi di perusahaan?" tanya dokter itu yang membuat aku tercengang. Bingung, dari mana dia tahu kalau Mas Hilman tidak bekerja.
"Maaf kalau saya lancang. Saya tahu kalau Mas Hilman tidak bekerja karena salah satu teman saya ada di perusahaan itu. Saya turut sedih dengan hal yang menimpa suami Mbak Ayu," ucap Dokter Wira lagi.
Dokter Wira berkata seperti itu berarti dia tahu dengan permasalahan yang menimpa kepada kami.
"Iya Dokter, terima kasih atas perhatian Dokter," ucapku kepadanya. Malu rasanya dokter muda ini berkata seperti itu. Aku sedikit menyesal karena ternyata video itu telah banyak tersebar.
"Saya dengar Mbak Ayu juga tidak lagi tinggal di sana? Maaf kalau saya bertanya lagi. Ini memang bukan urusan saya, saya sempat mendengar dari seseorang kalau Mbak Ayu ingin berpisah dengan Mas Hilman?" Dokter itu bertanya lagi membuat aku menjadi tidak enak.
Ini adalah ranah pribadi kenapa dokter bisa tahu dengan apa yang terjadi? Siapa juga yang bilang pada dokter ini kalau aku ingin berpisah dengan Mas Hilman?
Sadar dengan kecanggungan yang aku rasakan dokter itu kembali meminta maaf.
"Sekali lagi saya meminta maaf," ucap dokter muda itu dengan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, Dokter. Terima kasih karena dokter sudah kasih perhatian kepada saya dan ingin membantu saya. Saya akan terima tawaran dari Dokter bilamana saya mendapati kesulitan. Tapi untuk sekarang ini saya akan mencoba melakukannya sendiri dulu," ucapku kepadanya. Dia tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Dokter Wira kemudian terlihat mengeluarkan dompetnya.
"Ini. Kontak milik teman saya." Dokter itu memberikan sebuah kartu nama padaku. Aku menerimanya tanpa ragu.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih Dokter, atas kebaikan dokter selama ini kepada saya dan juga Ibu."
Dokter Wira kembali tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Saya senang membantu Mbak Ayu, Semoga dengan bantuan kecil ini Mbak Ayu bisa meraih kebahagiaan Mbak Ayu sendiri," ucapnya. terdengar nada yang tulus dari suaranya. Aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya barusan, juga merasa senang dengan bantuan yang diberikan baik itu kepada ibu dan sekarang kepadaku.
Senyum Dokter Wira sangat manis, wajahnya terlihat bersemu merah.
__ADS_1
Aku menyimpan kartu nama itu di dalam dompet, jaga-jaga jika suatu saat nanti aku merasa kesulitan dan membutuhkan bantuannya.
"Apakah ada yang mau dokter tanyakan lagi?" tanyaku kepadanya saat dia tidak mengalihkan pandangannya dariku. Dokter Wira sedikit terkejut dan tersenyum kikuk.
"Eh, tidak. Sudah cukup. Ini laporan milik Ibu, tolong nanti berikan kepada Dokter Hendra," ucapnya seraya menyerahkan map warna biru kepadaku.
"Iya terima kasih. Kalau begitu saya akan kembali ke ruangan Dokter Hendra," ucapku seraya menerima map tadi. Aku bangkit berdiri, dia juga sama berdiri.
"Saya permisi ya, Dokter. Sekali lagi terima kasih."
Dokter Wira mengantarkan aku sampai ke pintu, bahkan dia yang membukakan pintu itu dan membiarkan aku lewat.
"Mbak Ayu, saya harap kalau Mbak Ayu menemukan kesulitan, jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada saya. Saya akan membantu Mbak Ayu sebisa saya," ucapnya sebelum aku mulai melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu.
Tatapan dokter Wira dan senyumnya terlihat lembut dan penuh kesungguhan, dengan wajah yang masih merah.
Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih banyak atas keinginannya yang tulus.
Aku bersyukur karena bertemu dengan orang-orang yang baik dan tulus membantu. Sempat aku bingung kemarin mengenai pengacara. Aku tidak pernah berurusan dengan hukum hingga rasanya masih bingung untuk mencari orang yang bisa membantuku.
Dengan langkah yang cukup cepat aku kembali ke ruangan dokter Hendra dan mendapati keduanya sedang berbincang.
"Sudah selesai?" tanyaku kepada Ibu.
"Sudah," jawab Ibu.
"Ibu sudah menunggu lama? Apa Ayu tadi kelamaan di sana, Bu?" aku bertanya lagi. Tiba-tiba Tidak enak hati jika keduanya menungguku.
"Ah tidak. Pemeriksaan juga baru selesai. Bisa kita bicara sebentar?" tanya Dokter Hendra seraya menunjuk ke arah kursi yang berada di samping ibu.
Aku mengangguk dan mendengarkan penjelasan Dokter Hendra selanjutnya.
__ADS_1