Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
186. Merasa Belum Baik


__ADS_3

"Tidur siang," ucap Arga lalu merebahkan dirinya di sampingku. Dengan nyamannya dia memelukku dari samping memejamkan matanya.


"Hei, kita baru saja makan siang dan kamu mau tidur?" tanyaku heran. Apakah ini memang kebiasaan dia selama ini?


"Memangnya kenapa? Aku mau tidur siang dengan istriku apakah salah?" tanyanya lagi.


"Tidak, tapi ya ...."


"Apa, hem?" tanya Arga lagi masih dengan memejamkan matanya.


"Em, tidak sih. Tapi ya heran saja. Kamu sudah makan siang lalu tidur."


"Aku cuma ingin berbaring di dekat kamu saja dan menikmati waktuku sama kamu. Ya ... berhubung aku ini sudah menduda selama hampir lima tahun lamanya, sekarang aku gak mau sia-siakan waktuku dengan istriku tercinta," ucapnya, lalu mengeratkan pelukannya pada tubuhku, bahuku dia jadikan alas kepalanya.


Aku terdiam, memikirkan dan sekaligus menikmati apa yang dia lakukan terhadapku kali ini. Memang benar apa yang dia katakan. Dia mungkin sangat kesepian selama ini, meski pernikahannya dengan Haifa tanpa cinta, tapi mendengar cerita tentang kebaikan Haifa padanya membuat aku yakin jika almarhumah dari ibunya Gara memperhatikan Arga dengan baik.

__ADS_1


"Kenapa diam?" tanya Arga, dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan bingung.


"Gak apa-apa." Aku menggeserkan tidurku, kini menghadap ke arahnya, menjepit kedua tanganku di bawah kepala.


"Aku mau kamu cerita soal masa lalu. Apa kamu mau?" pintaku.


"Masa lalu yang mana?" Dia melakukan hal yang sama, tidur miring menghadap ke arahku dan juga menjepit kedua tangannya di bawah kepala.


"Kamu dengan Haifa dulu?"


"Bukan apa-apa, aku cuma ingin tahu sebaik apa dia, dan aku juga tidak mau membuat kamu kecewa."


"Kenapa kamu ingin tau sebaik apa dia?" tanya Arga, memang dari nada suaranya dia terdengar tidak suka. Aku jadi terdiam. Apakah dia marah?


"Hanya ingin menjadi yang terbaik buat kamu. Aku takut kalau aku gak bisa melayani kamu dengan baik, Ga."

__ADS_1


Arga masih menatapku dengan tatapan yang dingin, membuat aku merasa bersalah karena menanyakan hal itu. Ku tundukkan pandangan ini sehingga aku hanya melihat dadanya dari balik kemeja yang sudah terbuka dua kancingnya. Rasa di dalam dada sudah tidak karuan. Apa yang akan terjadi? Dia hanya diam. Apakah dia benar marah?


"Kamu hanya cukup melayani aku sebagai istrimu, juga sebagai ibu untuk Gara. Kami hanya butuh perhatian dan kasih sayang. Kamu tidak perlu menyiapkan makanan atau membersihkan rumah, semua itu sudah ada yang mengerjakan. Yang aku cari adalah istri dan ibu untuk anakku, bukan yang lainnya. Hanya itu, Yu. Aku yakin kamu bisa memberikan perhatian itu pada kami," ucapnya panjang dan lebar.


"Hei, aku bicara kenapa kamu hanya menunduk?" Tangannya mengambil daguku dan memaksaku untuk menatap matanya.


"Aku cuma takut gak bisa menjadi yang terbaik buat kamu dan Gara," ucapku lirih.


Arga tersenyum dengan tipis, dia mendekat dan mencium keningku dengan lembut.


"Kenapa takut? Kamu belum lakukan hal itu, kan? Aku juga sebenarnya takut gak bisa jadi suami dan imam yang baik buat kamu, tapi aku akan berusaha buat lakukan yang terbaik untuk kamu, untuk kita."


Aku tersenyum mendengar ucapannya. Tidak ada yang salah dengan hal itu, ternyata bukan hanya aku saja yang merasakannya.


"Ayo kita buat keluarga yang bahagia," ucapnya. Aku mengangguk pelan seraya memberikan senyuman untuk dia. Sekali lagi Arga mendekatkan dirinya dan mencium bibirku singkat.

__ADS_1


__ADS_2