Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
165. Keluarga Yang Sangat Menyenangkan


__ADS_3

Acara di rumah telah selesai pada menjelang Ashar. Keluarga Arga telah kembali pulang sedari tadi dan meninggalkan Arga bersama dengan Gara di sini. Papa sudah mengajak Gara untuk pulang, tapi anak itu tidak mau ikut dan terus saja menjadi primadona di sini. Ketampanan dan pesonanya seakan mengalahkan sang papa yang kini sedang duduk di sampingku.


Rumah kami sangat ramai, penuh sesak oleh kerabat kami dari kampung. Rasanya sulit sekali ingin melangkahkan kaki. Maklum, rumah kami tidak terlalu besar jika diisi oleh banyak orang seperti ini. Padahal, beberapa orang sudah berangkat menuju ke hotel tempat acara besok dilaksanakan.


Ya, Arga memang memesan beberapa kamar di hotel untuk kerabat dan keluarga yang ingin menginap. Tidak mungkin rasanya jika mereka tidur berjejer di lantai karpet rumah ini, kasihan, beberapa orang sudah berumur.


Hari sudah menjelang malam, kami sedang duduk di tengah rumah dengan alas karpet, mengelilingi Gara yang sedang bermain bersama dengan Widi. Anak-anak itu terlihat sangat senang sekali, terutama Widi, yang mendapatkan mainan baru dibelikan oleh kerabat Arga tadi. Ina pun ikut serta memainkan benda tersebut, sehingga ketiga orang itu menjadi fokus utama kami yang ada di ruangan ini. Ibu, Bibi dan beberapa orang lain masih berada di dapur, entah mereka membicarakan apa, hanya terdengar suara tertawa yang sangat jelas sekali terdengar sampai ke sini.


"Ramai sekali, ya. Kalian keluarga besar sangat kompak. Aku suka," ujar Arga sambil tertawa kecil.


"Iya, kalau dikumpulkan semua tentu saja banyak, kayak warga se RT," ucapku yang disambut tawa oleh Arga, terlihat sangat manis dia saat tertawa kecil seperti itu.

__ADS_1


"Keluarga kamu juga banyak, Ga. Aku gak nyangka sebanyak ini yang datang. Besok apakah akan lebih banyak lagi?" tanyaku padanya. Arga menggelengkan kepala.


"Tidak tahu. Jika keluarga dikumpulkan dari pihak Papa dan juga Mama tentu juga bakalan sama, banyak sekali. Tapi keluarga dari pihak Mama tidak bisa datang untuk menghadiri pernikahan kita, mereka terlalu sibuk dengan kegiatannya," ucap Arga dengan sedikit kepala yang tertunduk. Terlihat dia sedikit sedih saat mengucapkan hal itu.


"Tidak apa-apa. Memang urusan orang kadang gak bisa buat ditinggalkan. Yang terpenting kan masih ada juga keluarga yang lain yang bisa hadir di sini," ucapku, seraya mengusap lengannya yang terasa keras.


"Iya, aku senang, masih ada saudara Papa yang mau hadir di sini. Mereka sangat antusias sekali saat aku bilang akan menikah lagi. Aku juga sudah mengabari keluarga Haifa, tidak apa-apa kan kalau mereka datang ke acara kita besok?" tanya Arga padaku.


"Loh, tentu tidak apa-apa, lah. Kamu berhak kasih undangan siapa pun, aku tidak akan melarang. Apalagi keluarga Haifa, mereka juga berhak tau, karena Gara akan ada di bawah asuhanku selanjutnya." Arga menatapku dan tersenyum dengan sangat mansi.


"Ekhem!" Suara deheman terdengar. "Hei, kalian kalau mau melakukan sesuatu lihat sikon dong. Kalian mau apa jadi tontonan anak dibawah umur!"

__ADS_1


Aku tersadar saat mendengar perkataan itu, sadar juga jika jarak wajahku dan Arga sudah sangat tipis, tidak sampai satu jengkal sehingga aku dan Arga refleks menjauhkan diri masing-masing. Wajahku terasa panas, semoga saja tidak berubah berwarna merah. Ingin bersembunyi saja.


Duh, apa yang sudah aku lakukan?


Malu sekali rasanya saat ketahuan seperti ini. Kenapa juga aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan barusan dengan Arga, padahal aku tidak merasa mendekat dan hanya menatap senyumannya saja. Akan tetapi, kenapa bisa jarak kami jadi setipis itu?


"Makan malam dulu, sudah itu pergi istirahat. Terserah deh kalian mau gimana, biar nanti Gara tidur sama Widi. Ya, Gara. Mau tidur sama teh Widi, gak?" Bibi tiba-tiba datang dari arah belakang dan berkata padaku dan juga bertanya pada Gara.


"Eh, gak apa-apa, Bi. Biar Gara tidur sama Ayu aja. Takut Gara gak bisa tidur nanti," ucapku dengan cepat. Aku sedikit khawatir jika Gara bisa saja rewel dan menangis tengah malam dan mengganggu istirahat yang lainnya.


"Garrlla mau tidur sama Teh Widi! Ya Teh Widi, nanti main ini lagi, ya!" ujar anak itu dengan semangat sambil menunjukkan mainan yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Oke," jawab Widi, tersenyum senang.


"Mama sama Papa tidur barrlleng aja, biarrll Garrlla besok punya adik!"


__ADS_2