
Aku berjalan ke kamar untuk menemui Arga. Suamiku itu sedang berada di dalam kama mandi kini. Suara air terdengar dengan jelas dari dalam sana saat aku menempelkan telingaku di daun pintu.
Rasanya sikapnya kali ini sedikit berbeda, biasanya dia akan mencium keningku jika pulang bekerja, mengelus perutku dengan lembut, dan mengatakan sayang dan kata manis lainnya.
Arga telah keluar dari dalam kamar mandi, segera aku memberikan pakaian ganti untuknya.
"Kamu kenapa, Pa? Gak biasanya begitu," tanyaku.
"Apanya yang gak biasa?" tanya dia balik.
"Sikap kamu, hari ini cuek sama aku. Aku ada salah, kah?" tanyaku lagi.
Arga memakai pakaiannya di depan lemari dan melepaskan handuk setengah basah dari tubuhnya.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa, aku cuma capek aja," jawabnya.
"Iya, tapi kamu gak biasanya begitu. Secapeknya kamu juga gak akan cuek, kamu ...." Tiba-tiba saja aku tidak bisa berbicara, suara ini tercekat di dalam tenggorokan. Rasanya ingin menangis dengan perlakuan dia sore ini yang abai terhadapku. Inginnya protes, tapi aku tidak bisa mengeluarkan suaraku lagi.
Arga telah selesai dengan pakaiannya, handuk miliknya dia gantungkan pada tiang gantungan bersama dengan jas yang tadi dia akai dan dasinya, selanjutnya berjalan ke arahku.
"Kamu itu kenapa? Kok sensitif hari ini? Aku gak apa-apa, loh. Cuma capek aja karena pekerjaan," ucapnya sambil duduk dan mengambilku ke dalam pelukannya.
"Kok malah nangis? Aku minta maaf, besok aku gak akan gitu lagi, deh. Maaf ya," ucapnya membujuk. Wajahku yang basah dia usap perlahan. Aku menganggukkan kepala. Rasanya hari ini sungguh lelah dengan semua yang aku lakukan dan aku dapatkan.
"Kamu lagi, tumben banget sih nangis? Biasanya aja gak gitu," ujar dia. Aku memilih memeluknya, tidak ingin berbicara jika hari ini aku sangat lelah dengan urusan rumah dan juga ke rumah sakit. Kakiku sakit, aku juga sangat lapar sekali, tapi tidak ada yang bisa aku makan.
"Hei, kok malah nangis lagi?" Sudah dong, kenapa sih?" tanya Arga dengan lembut. Aku kembali menggelengkan kepala. Dia tidak lagi bertanya dan hanya membelai kepalaku dengan lembut.
__ADS_1
Hampir sepuluh menit sepetinya, aku menangis di pelukannya, sudah lumayan tenang diri ini. Aku tidak ingin bicara tentang lelah yang mendera, urusannya saja sudah banyak jangan sampai aku menambah bebannya lagi.
"Aku bawain air minum ya?" Dia bertanya lagi, aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Tak lama Arga datang kembali dengan air di tangannya. Dia memberikannya kepadaku.
"Kamu besok gak usah ke rumah sakit, ya. Aku tadi sudah bilang sama Mbak Sus kalau dia saja yang ke rumah sakit dan bantu Nira buat jagain mama," ucapnya. Aku mengangguk dan tersenyum.
"Aku khawatir kalau kamu pulang pergi ke rumah sakit, perut kamu itu sudah besar. Kamu juga butuh istirahat dengan baik," ucapnya.
"Iya, aku juga tau, tadi Mbak Sus juga bilang kalau besok Mbak Sus aja yang pergi ke rumah sakit."
"Maaf, Pa. Maaf soal sikap ku tadi. Aku lagi sensitif dan capek sepertinya," ucapku dengan jujur.
Arga tersenyum dan memelukku dengan erat. "Iya, aku tau. Maaf ya, soal sikap ku tadi," ucapnya.
__ADS_1