Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
195. Dua Lelaki Sumber Kebahagiaan


__ADS_3

Jujur aku pusing dengan tingkah Arga selama aku memasak, dia tidak melepaskan pinggangku sama sekali, membuat aku tidak bebas bergerak ke sana dan kemari. Ku dapati asisten yang beberapa kali melirik ke arah kami dan terlihat wanita itu memalingkan wajahnya ke arah lain sambil mesam mesem.


Duh, malunya aku!


"Ga, bisakah kamu lepaskan aku? Aku malu, Mbak lihat sedari tadi." Pintaku padanya. Arga menggelengkan kepalanya. Tetap tidak mau melepaskan aku sama sekali.


"Gak mau. Biarin aja. Mbak juga pernah merasakan masa pengantin baru, iya kan, Mbak?" tanya Arga saat wanita itu lewat di dekat kami.


"Iya, silakan kalau mau lanjut, asal ingat tempat saja jangan lakukan yang lebih daripada itu, ya." Mbak tertawa kecil sambil melengos meninggalkan kami di depan kompor. Aku paham maksud ucapannya, membuat pipi ini rasanya semakin panas. Gombalannya, rayuannya, belum lagi dengan tatapan Mbak yang seperti tadi. Aaaaa .... ingin aku sembunyi saja!


Akhirnya dengan perjuangan yang sangat keras, aku bisa menyelesaikan masakanku dengan baik. Entahlah, semoga saja tidak asin.


Jam yang ada di atas kulkas sudah menunjuk angka setengah tujuh. Aku meminta Arga untuk melepaskan aku. Ini waktunya Gara untuk bangun dan mandi. Dia harus mulai sekolah pagi ini karena kemarin izin cuti karena urusan orangtuanya.


"Bantu aku mengganti bajuku," ucap Arga.


"Tapi setelah ini lepaskan aku, ya?" pintaku.


"Iya," jawabnya dengan nada yang panjang.


Lagi-lagi dengan tidak aku duga, Arga mengangkatku, menggendong ala bridal. Bahkan, aku saja belum melepaskan celemek dari tubuhku.


"Nakal!" ucapku. Aku harus sudah terbiasa dengan kelakuannya yang seperti ini, bukan? Tatapan dari asisten sudah harus biasa juga untukku. Percuma juga aku bilang padanya untuk melepaskan ku. Arga tidak akan mendengarnya!


Di dalam kamar, aku menyiapkan pakaian kerja suamiku, sedangkan dia kini sedang berada di dalam kamar mandi. Tak lama, dia keluar dengan wajahnya yang terlihat segar.


"Nanti kamu mau antar Gara ke sekolah?" tanya Arga, dia mulai membuka kaos yang dia pakai dan menggantinya dengan kemeja putih yang aku siapkan.


"Ya, sekalian juga perkenalan dengan wali yang lain," jawabku. Arga tersenyum senang,


"Gara pasti akan sangat senang sekali," ucapnya.


Aku mendekat, membantu Arga mengancingkan kemejanya. Ini adalah hal yang biasa aku lakukan dulu, tidak aneh dengan tugas istri yang seperti ini.


"Aku harus belajar membaur dengan yang lainnya juga, bukan?"

__ADS_1


"Iya. Tapi aku minta untuk kamu berhati-hati ya. Ya, kamu tau lah. Kadang di depan kita mereka sangat baik, tapi di belakang kita mereka jahat," ucapnya. Dia menengadah saat aku memasukkan kancing yang paling atas, dilanjut dengan memasang dasi berwarna biru dengan garis putih di lehernya. Aku sedikit jinjit saat memasangnya.


"Bisakah kamu menunduk sedikit?" pintaku.


Arga menunduk, tapi bukannya diam. Dia malah mencium ku dengan singkat.


"Arga!" seruku dengan tidak terima. Nakal sekali laki-laki ini, mencuri ciuman dariku.


Dia malah terkekeh dengan pelan, tidak aku sangka dia mengambil tengkuk leherku dan menarikku sehingga bibir kami kembali saling berpag*tan.


Aku terkejut, sontak memukul dadanya. Lagi-lagi dia menciumku dengan ganas seperti tadi subuh.


Oh, apakah aku melakukan kesalahan lagi? Dia membuatku sesak napas lagi!


Giginya menggigit bibir bawahku, sedikit perih sehingga aku tak tahan untuk mer*ntih. Sakit!


Lidahnya dia lesakkan masuk ke dalam rongga mulutku. Aku masih tidak bisa mengimbangi ciumannya yang ganas, sehingga kini pasrah dan merasakan sesuatu yang basah di bawah sana. Jiwa haus belaian sepertinya mulai muncul. Oh, tidak!


"Ah!" Udara yang dingin kini aku hirup dalam-dalam setelah Arga melepaskan ku. Sedikit kesal, karena sakit di bibir ini akibat ulahnya. Aku menyusut sudut bibirku dan menatapnya dengan kesal.


"Hehe, menang banyak pagi ini," ucapnya dengan tidak menanggapiku. Dia malah tersenyum dengan nakal.


"Ya ampun! Apa aku akan dihukum seperti itu terus kalau panggil nama kamu?" tanyaku kesal. Ku lanjutkan mengikat dasinya yang belum rapi. Arga tidak menjawab, dia hanya mengangkat kedua bahunya seraya mencebik.


"Aku sampai sesak napas! Apa kamu gak bisa lembut sedikit?" tanyaku lagi.


"Bisa, tentu saja bisa. Kalau aku sedang ada di atas kamu, tentu aku akan sangat lembut sekali," ucapnya dengan bisikan di telingaku.


Aku mendorong dadanya, mundur satu langkah dari dia. Ucapannya terdengar mengerikan untuk saat ini. Lukaku belum dinyatakan kering, bagaimana kalau malah aku yang terkam dia?


"Kamu lanjutkan saja sendiri, ya. Aku mau bangunkan Gara," ucapku lalu berbalik tanpa mempedulikan panggilannya yang dibarengi tawa ringan.


Dada ini berdebar keras, bukannya apa-apa. Sedikit-sedikit masa dihukum? Dan lagi apa itu tadi? Lembut kalau dia ada di atasku? Dasar mesum!


Langkah kaki aku percepat naik ke lantai atas. Gara masih tertidur pulas saat aku membuka pintunya. Kembali anak itu dengan pelan aku bangunkan.

__ADS_1


"Sudah siang, ya Ma?" tanya Gara saat aku membangunkan dia. Pandangannya dia edarkan ke sekeliling, lalu terhenti pada jendela besar dengan tirai putih.


"Iya, bangun. Mandi, yuk. Sarapan terus sekolah," ucapku. Gara bangun dengan malas, dia membuka baju koko yang tadi dia pakai saat subuh. Mulutnya menguap dengan lebar. Matanya masih belum terbuka dengan sempurna saat dia mulai melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


"Mau Mama mandikan?" seruku berteriak saat Gara belum masuk ke kamar mandi.


"Gak usah," ucapnya. Pintu dia buka, lalu tidak terlihat lagi dia dari balik pintu yang kini tertutup.


Aku membuka lemari, bingung dengan seragam yang akan dia pakai hari ini. dengan langkah yang cepat aku turun dan mencari pengasuh Gara, memintanya untuk membantu menyiapkan alat sekolahnya.


"Sudah, terima kasih. Biar Gara saya yang pakaikan baju," ucapku pada gadis muda ini. Dia menganggukkan kepalanya dan pergi dari ruangan ini.


Gara sudah selesai mandi, terlihat sangat segar sekali dengan rambutnya yang basah. Dia mendekat ke arahku dengan senyum tercetak pada bibirnya.


"Hebat sekali anak Mama ini," ucapku memujinya. Aku mengambil handuk lain dan mengeringkan rambutnya yang masih basah. Gara terlihat sangat menikmati sekali dengan perlakuanku sehingga memejamkan matanya.


"Iya, dong. Garrlla kan sudah mau enam tahun!" ucap anak itu sambil mengangkat enam jarinya.


"Wah, iya kah?" Gara mengangguk.


"Kapan?" tanyaku lagi.


"Delapan belas September!" jawabnya dengan senang.


Delapan belas September adalah tiga hari lagi. Bahkan di tanggalan yang ada di samping tempat tidurnya sudah dilingkari dengan spidol berwarna merah.


"Oh, sebentar lagi. Gara mau hadiah apa dari Mama?" tanyaku padanya. Gara menggelengkan kepalanya dengan gerakan cepat. Dia tiba-tiba saja memeluk pinggangku.


"Gak usah kasih kado. Kan Mama kadonya!" ucap anak itu sambil menatapku dan tersenyum.


Melihat senyumnya yang sangat bahagia seperti itu membuat aku jadi semakin terharu. Bagaimana bisa dia yang seorang anak kecil, yang biasanya masih suka dengan hadiah mainan dan sebagainya malah mengatakan aku sebagai hadiahnya.


Aku terharu dan menangis karena mendengar ini. Rasa bahagia muncul hanya karena ucapan anak sekecil Gara. Tulus sekali.


Aku terisak, meraih Gara ke dalam pelukanku dan menciumi pipinya dengan banyak-banyak.

__ADS_1


"Terima kasih. Terima kasih, Nak," ucapku. Kupeluk anak itu dengan erat, merasakan indahnya menjadi sosok seorang ibu yang sesungguhnya.


__ADS_2