Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
143. Menikah Di Pos Satpam?


__ADS_3

"Saya ... jika Ibu mengizinkan, saya akan mendatangkan orang tua saya secepatnya untuk melamar putri Ibu."


Semakin tidak percaya aku mendengar hal itu dari mulut Arga. Sumpah, aku tidak mengira dia akan berkata secepat ini untuk memintaku pada Ibu.


"Iya, tentu saja. Datangkan mereka secepatnya kepada kami. Jangan ditunda lagi," ucap Ibu dengan senyum. Arga mengambil kedua tangan Ibu yang ada di pangkuan dan menciumnya dengan khidmat seraya mengucapkan kata terima kasih.


Aku terpaku, tidak bisa mengatakan apa-apa mengenai hal ini. Sangat bahagia tentunya mendengar hal yang baik seperti sekarang ini. Setitik air mata bahagia lolos dari pelupuk mata.


"Terima kasih, karena Ibu sudah mau mempercayakan Ayu sama saya," ucap Arga lagi.


Setelah kejadian haru tadi, aku dan Ibu mengantarkan Arga ke luar rumah. Ibu hanya menatap Arga dari teras, sedangkan aku mengantar Arga hingga ke mobilnya.


"Aku pulang, ya," pamitnya.


Aku mengangguk sambil menggenggam besi pagar. Rasanya masih tidak percaya bisa mendapatkan lampu hijau dan melihat Arga dan Ibu berbicara dengan santai tadi.


"Kamu jangan lupa tidur yang nyenyak. Jangan begadang," ucapnya sambil tersenyum. Tangannya terulur ke dekat kepalaku, tapi dia tarik kembali.


"Lupa," cicitnya malu.


Aku tersenyum dada ini berdebar tidak karuan, memang sedari tadi takut jika malam ini tidak akan bisa tidur dengan nyenyak, memikirkan semua hal indah yang terjadi.


Terpikir dengan kejadian hari ini, terbersit di dalam kepalaku sebuah ide untuk cerita baru.


"Kenapa senyum-senyum?"


"Eh?" Aku terbangun dari lamunan. Bisa-bisanya Arga masih ada di sini, tapi pikiranku sudah ada di dalam dunia halu membayangkan sebuah setting adegan di dalam cerita.


"Tidak apa-apa. Ya sudah, kamu pulang. Hati-hati di jalan."


Arga mengangguk. Dia tersenyum tapi terlihat seperti tidak rela, langkah kakinya pelan, tubuhnya juga tidak lantas berbalik dan masuk ke dalam mobil, padahal sopir sudah menunggu dan membukakan pintu di belakangnya.


"Aku ... rasanya gak mau pulang, hehe. Boleh gak sih kalau besok atau lusa aku datang bawa kedua orang tuaku ke sini dan langsung melamar kamu? Minggu depan kita menikah?" tanya Arga yang membuat aku terkejut, terkesima, terpana dan ter-ter yang lainnya.


Aku menunduk, tidak ingin dia tahu bahwa aku sedang malu. Panas terasa di pipi sampai ke telinga. Semoga saja lampu jalanan yang ada tidak jauh dari kami bisa menyamarkan wajahku yang mungkin saja sudah memerah.


"Itu ... ya terserah kamu. Kan Ibu juga sudah bilang tadi," jawabku malu.


"Ibu bilang apa?" tanya Arga seraya menyeringai, sedikit mendekatkan wajahnya hingga jarak kami tidak terlalu jauh.

__ADS_1


Ah, dia ini. Aku yakin jika dia pun tidak lupa dengan apa yang Ibu katakan tadi di dalam.


"Ibu bilang apa?" tanya dia dengan tegas dan menuntut jawaban.


"Kamu ini, belum satu jam bicara sama Ibu masa lupa?" Aku enggan menjawab. Semakin malu saat melirik dia yang hanya tersenyum mengganggu.


"Itu ... Ah kamu ini. Sudah sana pulang!" usirku, tapi jujur itu hanya di bibir saja. Aku juga tidak mau cepat berpisah dari dia sih, hehe.


"Oke, karena Ibu tadi bilang secepatnya, maka aku akan mengusahakan secepatnya agar aku bisa membawa Papa ke sini. Kamu tunggu aku, ya. Jangan nakal!" ucapnya seraya menunjuk ke arah hidungku. Aku mencebik kesal, yang nakal di sini siapa? Dia yang banyak sekali fans-nya!


"Kamu yang gak boleh nakal. Kamu kan di mana-mana selalu jadi bahan omongan orang!"


"Haha. Cemburu, ya?" Arga tertawa kecil, membuat aku salah tingkah. Aku berbicara seperti itu adalah fakta, bukan karena aku cemburu!


"Enggak. Enak saja! Itu kenyataan. Kamu gak tau apa kalau di pabrik kamu jadi bahan omongan orang? Beberapa jadikan kamu bahan fantasi dia lagi," ucapku.


"Itu kan bukan kemauan ku. Mereka saja yang berpikiran nakal memikirkan aku. Orang yang aku pikirin cuma satu, kok. Kamu!"


Aaahhhhhh!


Aku ingin meleleh ....


"Ehem!"


Suara deheman membuat aku dan Arga menoleh ke arah asal suara, terlihat Ibu yang masih di tempatnya menatap kami di sini.


"Sudah malam. Gak baik kalau kelamaan di luar. Mau kalian nikah di pos satpam?" ujar Ibu berbicara sedikit keras, tapi jelas terdengar oleh kami.


Arga tersenyum malu dan mengangguk pada Ibu dalam-dalam, menundukkan hingga setengah tubuhnya. Dia tersenyum malu.


"Aku pulang, ya. Meskipun sebenarnya aku senang sekali kalau menikah sekarang juga di pos satpam," ucapnya sambil menggaruk belakang kepalanya dengan tersenyum canggung.


Aku melotot padanya, meskipun aku juga ingin segera dihalalkan, tapi tidak mau juag menikah di pos satpam. Aku tetap ingin pakai gaun atau kebaya saat menikah nanti!


"Sudah sana pulang dari pada Ibu cabut restunya!"


Arga memanyunkan bibirnya, tidak terima dengan pengusiranku.


"Ya sudah, deh. Gak ada ciuman selamat malam dulu gitu?"

__ADS_1


"Arga! Belum muhrim!" Aku menatap Arga dengan geram. Dia menatapku dengan wajah yang memelas, mirip seperti Gara saat meminta sesuatu padaku.


"Iya, deh. Aku pulang, ya." Arga mulai mundur satu langkah, satu tangannya melambai di depan dada. Tatapannya sendu, seakan tidak rela untuk dia pergi dari sini.


Akhirnya mobil itu pergi dari hadapanku dengan tatapan Arga yang sendu dari kursi penumpang.


"Ya ampun. Ibu kira Arga gak akan pulang. Ternyata orang seperti dia bisa bucin juga toh?" ucap Ibu saat aku masuk ke dalam rumah. Aku malu mendengar ucapan Ibu. Tidak bicara apa-apa, aku segera masuk ke dalam kamar dengan wajaa yang semakin panas.


Satu notif pesan terdengar di hp-ku. Ku buka pesan dari orang yang baru saja ku antar kepergiannya.


[Jangan rindukan aku. Kata Dilan, rindu itu berat!]


Astaghfirullah!


Aku ingin tertawa, malu juga. Siapa yang rindu? Tidak, kok!


[Gak rindu!]


[Masa?]


[Hem!]


[Yakin?]


[Yakin!] jawabku.


Arga tidak mengirimkan pesan chat lagi, tapi kini sebuah foto terpampang di layar hp-ku dengan senyum coolnya.


[Kalau kamu kangen, lihatin aja wajah aku.]


Tanpa sadar aku tersenyum membaca chat dia. Lucu rasanya berkirim pesan seperti anak ABG labil.


[Iya, gimana nanti aja. Kalau kangen aku lihatin.] Ku kirim juga gambar stiker tertawa dengan menutup mulut.


[Ya sudah, selamat malam. Aku akan tahan rinduku sampai besok di kantor.] Emoji hati merah di ujung tulisannya.


Aku tidak membalas lagi, akan tidak ada habisnya jika aku terus melakukan hal itu dengan Arga sementara malam kian merangkak naik.


Aku membaringkan diri, memeluk bantal guling teman setia setiap malamku. Membayangkan bagaimana hidupku di kemudian hari. Aku, Arga, dan Gara. Aku juga akan meminta Arga untuk membawa Ibu serta tinggal bersama dengan kami.

__ADS_1


Akan tetapi, apakah Arga akan setuju?


__ADS_2