
"Ini sudah malam, loh. Gak capek apa?" tanyanya lagi. Aku menggelengkan kepala lalu bersandar pada bahunya dan memperhatikan pekerjaan pada laptop yang dia pangku.
"Kamu ini. Azka tidur pakai waktunya buat kamu istirahat, nanti kalau sakit yang rasakan kamu loh, aku gak bisa sembuhin sakit kamu, cuma bisa bawa kamu ke dokter aja," ujarnya. Aku menarik tubuhku dan menatapnya dengan sebal.
"Kamu kayak doain aku biar sakit aja bilang begitu," ucapku dengan ketus.
Sadar dengan ucapanku barusan membuatnya menolehkan kepala.
"Eh, bukan begitu. Kamu ini kenapa punya pikiran jelek sih sama aku. Maksudku aku bilang gitu biar kamu gak kecapean. Biar kamu istirahat dengan baik, bukan doakan kamu yang tidak-tidak," ucapnya dengan cepat.
"Aku tuh belum tidur karena mau nemenin kamu bekerja, malah kamu bilang aku sakit." Aku merajuk. Niat ingin menemaninya sebagai istri yang baik malah mendapatkan ucapan seperti itu. Dengan cepat aku membalikkan tubuhku dan tidur di samping Azka, menarik selimut yang ada di kakinya dengan kasar.
"Eh, kok gitu aja ngambek." Khawatir dan dengan nada yang bersalah, dia mencolek bahuku yang kemudian aku tepis dengan kasar.
"Ma, Sayang," panggilnya. Aku tidak menoleh, tidak mau! Kesal sekali rasanya. Aku belum lelah bagaimana bisa tidur dengan nyaman, apalagi suamiku yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
"Eh, sayang. Ih gitu aja marah. Beneran marahnya ini?" tanya suamiku dengan nada khas merayu.
Aku masih sebal, tidak mau menjawabnya.
"Yaah, beneran marah. Maksud aku kan baik, Ma. Kamu itu gak boleh sakit, ingat kamu kan lagi hamil, jangan sampai kamu kelelahan," ucapnya lagi. Tidak salah memang, tapi tidak tahu juga kenapa aku masih belum mau berhenti marah terhadapnya.
"Ma, Mama Sayang," panggilnya lagi sambil mencubit pipiku pelan beberapa kali. "Ma."
__ADS_1
"Awas ah! Aku tuh mau nemenin kamu kerja, malah di suruh tidur, kamu aja gak tidur kenapa juga nyuruh aku istirahat!" seruku marah terhadapnya.
"Oh, sebab itu toh. Ya sudah, Papa gak jadi kerjanya deh, udahan. Sudah, ya. Jangan marah lagi. Papa gak mau Mama marah, yuk tidur aja lah," ucapnya, entah dia sedang apa tapi selanjutnya beberapa detik kemudian tangannya yang besar melingkar di depan perutku.
"Ya ampun, istriku ini kenapa kalau marah malah bikin gemes ya. Bikin pengen ngegoyang aja," ucapnya terdengar ambigu. Aku menolehkan kepala jauh ke belakang, terlihat dia yang kini sedang menempelkan kepalanya di leherku.
"Minggir! Goyang apaan, gak ada!" ucapku kesal.
"Goyang gergaji, Ma. Kayak kemarin itu tuh, kamu yang goyang di atas, kan enak tuh. Kayak artis dangdut siapa itu namanya?" tanyanya padahal dia jelas juga tahu siapa artis yang dia maksudkan barusan.
"Ma, yuk. Kita goyang lagi, udah berapa malam nih gak nengokin si adek. Kangen, Papa. Mumpung Azka juga tidurnya nyenyak." Dia merayu, tangannya yang besar sudah mulai masuk ke dalam bajuku. Terasa hangat sekali, dan .... Ah, gerah!
"Boleh gak?" tanyanya lagi. Bibirnya mulai menyusuri leherku dengan lembut, kumis tipis yang belum dicukur membuat geli-geli nikmat di sana. Merinding jadinya.
"Yuk, Papa minta jatah boleh, gak nih?" tanyanya lagi. Aku marah sebenarnya, menggelengkan kepala menolak permintaannya, tapi tubuhku berkhianat malah mengerang dan mengeluarkan suara desis dari dalam mulut. Sedikit tidak bisa diam saat sentuhan itu malah berbalik memabukkanku.
Arga tidak menghentikan kegiatannya, dia malah semakin gigih berusaha keras menaklukanku.
Jujur saja pikiranku berkata tidak, tapi tubuhku merespon dengan sangat baik sehingga entah kenapa tanganku malah tidak menyingkirkan lengan itu dari dalam pakaian.
Aku semakin terbuai dengan apa yang Arga lakukan sehingga kini pasrah dengan perlakuannya. Baju daster yang aku pakai kini telah tersingkap, kain di bagian dalam entah pergi kemana, tidak terasa saat dia melepaskannya.
Tanpa permisi, dia merebahkanku telentang, dan aku hanya bisa menurut saja. Perlahan, tapi pasti perlakuannya tersebut telah membuatku kalah dan juga pasrah.
__ADS_1
Kami melakukannya dengan sangat pelan, masih tersadar jika di samping ada Azka yang telah tertidur dengan lelap. Rasanya seperti main kucing-kucingan meski kami tidak haram melakukannya.
"Jangan terlalu lincah. Nanti Azka bangun," ucapku sambil menahan pinggangnya yang naik turun, rasa geli, perih, dan nikmat kini terhenti di bawah sana. Ku lirik Azka yang masih tertidur dengan lelap, takut jika dia terbangun.
"Gak lincah, gak enak," bisiknya menjawab ucapanku tadi, kini menggerakkan pinggulnya kembali dengan sangat pelan sambil merengut sebal.
"Nanti kalau Azka bangun malah gak bisa tuntas."
"Iya, aku gak akan terlalu keras juga," ucapnya lagi berbisik.
Kami melanjutkan permainan kami, sesekali berhenti saat Azka yang tengah tidur memutar tubuhnya. Menelisik di dalam remang cahaya lampu tidur, takut apa bila Azka membuka mata, meski dia belum mengerti apa yang kami lakukan, tapi rasanya aneh juga jika dilihat oleh yang lain.
Memang tidak nyaman, tidak seenak, senikmat, dan sebebas saat Azka berada di box-nya, tapi mau bagaimana lagi. Suara-suara kami harus ditahan di dalam mulut, gerakan juga dijaga supaya melakukannya dengan sangat lembut.
"Pindah ke sofa yuk, Ma! gak enak kalau pelan banget kayak gini," pintanya. Aku mengangguk, memang rasanya tidak nikmat selain hanya geli saja, lebih banyak khawatir jika Azka bangun dari tidurnya dan kami tidak bisa mendapatkan kepuasan kami.
Arga menggendongku di depan, sesuatu 'itu' terasa masih keras menempel di bawah pantatku. Dia mendekatkan bibirnya dan memagut pada bibirku dengan lembut sekali. Ciumannya semakin lama semakin membuaiku, semakin terasa manis padahal tidak ada yang lain di sana.
Perlahan dia merebahkanku di sofa yang empuk dan kami melanjutkan permainan yang tadi tanpa khawatir akan merasa terganggu.
...****...
Hayooo, nungguin ya? Mentang-mentang malam jumat. Dah lah, Othor gak kuat lanjutkan ceritanya, bebeb gak ada.
__ADS_1
Kaboooorrrr ....
🏃🚴🚴