
"Apa maksud kamu, Ayu? Apa maksud kamu mau menyerah?" tanya Mas Hilman dengan marah. Aku yakin dia juga tidak bodoh hanya untuk mengerti dengan apa yang aku maksud tadi.
"Kamu tau apa yang aku maksudkan, Mas. Aku memberi kalian izin dan juga memberi kalian waktu dan kesempatan untuk bersama tanpa aku ada di antara kalian," ucapku dengan pelan.
"Tolong kamu keluar dari sini. Mulai sekarang, aku ingin sendiri saja," ungkapku memohon.
"Ayu! Aku gak mau!" seru Mas Hilman dengan nada yang bergetar. "Kamu butuh waktu buat sendiri? Aku akan berikan kamu waktu, tapi tidak untuk pisah!" serunya.
Aku menggelengkan kepalaku. Kali ini aku sudah mantap untuk melakukan hal ini, lagi pula dekat-dekat ini Ibu akan melaksanakan operasi pengangkatan sel tumor di kepalanya. Aku akan bisa memberitahu Ibu dengan leluasa nanti. Semoga saja jantungnya juga kuat untuk menerima kenyataan jika anaknya ini telah dimadu dan juga memutuskan untuk berpisah.
"Aku sudah bulat dengan keputusan aku, Mas. Tolong mengerti. Dan tolong kamu keluar dari kamar ini." Usirku padanya.
Terdengar helaan napas yang panjang darinya.
"Baiklah. Aku akan keluar, tapi kamu jangan pikirkan hal itu, Yu. Aku mohon. Aku gak mau kamu pergi dari aku."
Mas Hilman kemudian terdiam.
"Kalau memang Hana yang menjadi masalah di antara kita, aku akan selesaikan hubungan ini dengan Hana setelah anak itu lahir. Mari kita hidup bahagia dengan anak itu. Hanya kita bertiga. Tanpa ada Hana."
Ucapannya membuat aku refleks menatap ke arahnya dengan tidak percaya. Bukan perkara anak itu.
"Kamu keterlaluan, Mas. Kamu mau buang dia setelah dia memberikan kamu hal yang sangat berharga? Pikiran kamu sehat gak sih?" tanyaku dengan marah.
"Kamu tega mau pisahkan anak kalian dengan ibunya? Jangan gila kamu, Mas!" seruku dengan menatap dia tajam.
"Dimana pikiran kamu sampai kamu ada rencana untuk melakukan hal itu? Kamu ...." Aku tidak tahu lagi apa yang akan aku bicarakan. Orang yang ada di depanku ini serasa sudah tidak waras saja. Apakah dia masih Hilman yang aku kenal?
"Aku akan lakukan apapun Yang penting kamu nggak pergi dari aku. Kalaupun aku harus menceraikan dia, yang penting bukan kamu yang pergi dari aku," ucapnya dengan nada yang mantap.
Dia bukan Hilman. Entah siapa yang kini ada di depanku. Aku serasa tidak mengenalinya.
__ADS_1
"Pergi kamu dari kamarku, Mas. Tolong pergi saja sekarang," ucapku memohon padanya. Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya dulu, daripada aku harus emosi berdebat dengan dia mengenai hal ini.
"Tapi aku tidak ingin berpisah sama kamu, Yu. Aku tidak mau," ucapnya mengulang.
"Kamu yang pergi dari kamar ini, atau aku yang pergi dari rumah ini!" ancam ku setengah berteriak.
Dia menatapku dengan tatapan sedih, "Aku akan keluar."
Kulihat pintu kamar yang kini menutup. Segera aku mengunci kamar ini, tidak ingin kita dia kembali masuk lagi di dalam sini. Aku benar tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Mas Hilman. Bagaimana dia bisa memiliki pemikiran seperti itu, tega memisahkan ibu dari anaknya.
...***...
Kondisi Mas Hilman yang tidak bekerja membuat keadaan kami menjadi buruk juga. Uang yang diberikan dari perusahaannya sebagai pesangon ... tidak. Itu bukan pesangon, itu hanya uang ucapan terima kasih atas kerja kerasnya selama ini.
Uang itu kini semakin hari semakin menipis. Besar pasak daripada tiang, itu yang jelas kami rasakan sekarang ini. Bahkan, pasak ini hampir roboh jika saja aku tidak menggunakan uang itu seminim mungkin. Tentu saja itu adalah uang yang Mas Hilman berikan kepadaku, sedangkan uang yang Mas Hilman berikan pada Hana, aku tidak tahu dia belikan untuk apa.
Aku pernah meminta Hana untuk memberikan setengah dari yang Mas Hilman berikan padanya, tapi wanita itu menolak. Alasannya dia sedang hamil dan butuh untuk pergi ke dokter dan sebagianya. Mas Hilman juga tidak bisa melakukan apa-apa jika dia sudah bicara.
"Waalaikum salam," ucapku. Aku tidak mendekat, masih berkutat dengan masakanku.
"Dapat kerjaannya, Mas?" tanyaku padanya. Mas Hilman hanya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Gak dapat, Yu. Susah sekali cari kerjaan sekarang ini," keluhnya. Dia menelungkupkan kepalanya di atas kedua tangan yang ia lipat di atas meja. Melihatnya seperti itu aku merasa kasihan, tapi mau bagaimana lagi? Ini memang resiko yang harus dia tempuh menjadi seorang pria beristri.
"Mas, uang yang kemarin itu udah tinggal sedikit loh," ucapku melapor padanya. Mas Hilman mengangkat wajahnya.
"Tinggal berapa?" tanya Mas Hilman.
"Semingguan lagi, ada lah," jawabku.
"Oh, nanti lah aku akan pikirkan lagi. Aku pusing sekarang ini. Capek."
__ADS_1
Aku melanjutkan memasak, sementara Mas Hilman meminum air yang dia ambil sendiri di dalam kulkas.
"Mas, bagaimana ini?" Hana tiba-tiba datang mendekat ke arah Mas Hilman dengan wajah yang sedih.
"Ada apa?" tanya Mas Hilman, gelas yang kosong ia simpan di atas meja.
"Ibu ... minta uang. Buat bayar ujian Fika," ujar Hana. Terlihat Mas Hilman mend*sah pelan mendengarnya.
"Apa tidak bisa lain kali?" tanya Mas Hilman pada Hana.
"Gak bisa. Ujiannya aja lusa. Fika harus bayar ujian, hari ini terakhir, Mas!" seru Hana dengan sedikit merengek, menarik-narik tangan Mas Hilman bak anak TK yang meminta dibelikan mainan.
"Hana, aku gak punya uang sekarang ini. Uaang yang aku dapat dari kantor kan sudah aku berikan sama rata untuk kalian berdua. Aku mana ada uang untuk bayar ujian adik kamu," ujar Mas Hilman memberikan pengertian pada Hana. Wajah yang lesu itu kini semakin terlihat menyedihkan.
"Kenapa gak uang kamu aja yang kamu pakai untuk bayar ujian adik kamu? Toh uang yang Mas Hilman kasih kamu juga masih utuh kan? Belum kamu pakai? Kamu aja gak kasih aku buat makan," tanyaku pada Hana. Wanita itu menunduk memainkan ujung bajunya.
"Uang itu udah hampir habis, Mbak," ucapnya membuat aku menggelengkan kepala tidak mengerti. Tidak asih uang buat makan, tapi hampir habsi?
"Buat apa?" tanyaku.
"Buat aku ke dokter. Buat ... emm ... ya kebutuhan aku. Aku kan kalau gak mau makan di rumah beli makanan di luar," ucapnya dengan pelan. Masih menundukkan kepala seperti takut kena omel.
"Harusnya kamu mikir lah, Han. Mas Hilman sekarang ini sedang susah, kamu jangan boros dong!" seruku menasehatinya.
"Ya habisnya mau gimana lagi, Mbak. Aku kan sekarang ini gak bisa makan sayur." Dia berkata dengan alasan yang sama.
"Paksain kenapa sih? Kamu ini harus sadar kalau suami kita sedang menganggur. Bisa ngerti sedikit gak sih jadi orang?" geramku.
"Yu, sudahlah. Kalau uang itu sudah tidak ada ya mau bagaimana lagi?" ucap Mas Hilman membelanya lagi.
"Bela terus wanita itu, Mas. Wanita yang gak mau ngerti keadaan kamu!" bentakku pada Mas Hilman seraya mematikan kompor dan pergi dari dapur. Terserah makanan yang ada di atas kompor akan berpindah tempat atau bahkan tetap disana. Aku tidak peduli!
__ADS_1
Mbak kenapa, sih? Kamu gak mau ngertiin aku? Ini kan bukan mau aku! kalau kamu iri kamu bilang saja!" teriak Hana saat aku hampir menggapai pintu kamar.