
Aku diperiksa oleh dokter yang menangani programku selama ini, beliau memeriksa keadaanku dengan baik dan juga teliti, sedikit naik tensi darahku kali ini daripada bulan kemarin.
Dokter juga senang mendengar kabar yang aku berikan padanya. Tespek yang tadi aku bawa sebagai bukti juga membuktikan jika benar aku memang sedang positif, lalu dokter menyarankan untuk melakukan USG supaya lebih meyakinkan lagi. Aku jujur saja masih belum yakin jika belum melihat yang sesungguhnya. Entahlah, aku hanya tidak mau membuat diriku sendiri merasa tertipu oleh hanya bukti garis dua di benda pipih tersebut, tanpa melihat bukti lain.
"Jangan capek-capek, ya. Jangan terlalu berat kegiatannya, jaga emosi, juga jaga porsi makannya," ucap dokter padaku sambil tersenyum.
Aku berpikir, kegiatan apa yang membuat aku capek sedangkan aku saja sudah tidak melakukan banyak pekerjaan rumah, semua sudah dikerjakan oleh asisten.
"Tuh, denger, Yu. Jangan terlalu capek kamu. Istirahat yang banyak," ucap Arga padaku, dia terlihat sedikit kesal di wajahnya.
"Eh? Aku gak pernah kerja berat, kok. Kan ada Mbak Sus sama Sari juga di rumah," ucapku.
"Ya, tapi kan kamu masih suka masak, kasih saja tugas itu ke Mbak Sus. Kamu kalau aku bilangin jangan masak tetep masak aja," ucap laki-laki ini dengan sebal.
"Masak gak capek juga, Pa. Cuma bikin sarapan aja. Lagian kalau masak buat siang dan malam juga kan dibantu Mbak Sus." Aku sedikit kesal karena hal itu, tidak pernah aku merasa capek selama di dalam rumah Arga. Malah seringnya kesal dan bosan karena menganggur, apalagi kalau Gara sekolah. sepi rasanya. Tidak ada kegiatan.
"Eh, sudah. Kok malah debat," ucap dokter dengan terdengar nada tak enak hati.
__ADS_1
"Pak Arga, cuma masak doang mah gak akan capek juga kali. Kan masak juga gak sampai satu jam. Kalau Bu Ayu masak sampai dua atau tiga jam, baru dilarang gak masalah, tapi dibicarakan lagi berdua dengan baik, ya." Dokter tersenyum kepada kami berdua, sedangkan Gara hanya melihat kami dengan bosan.
"Selama itu tidak membuat Bu Ayu mual atau merasa terganggu tidak masalah dengan apa yang dikerjakan, selama itu aman."
"Tuh, denger! Bu Dokter juga bilang gak apa-apa."
"Ibu hamil memang diharuskan banyak gerak, tapi ya jangan berlebihan juga. Itu supaya ibunya sehat, janin yang ada di dalam kandungan juga sehat," ucap dokter. Arga hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum malu.
"Denger juga, kan, Pa. Jangan larang aku buat beberes," kataku kesal padanya.
"Yuk baring di atas," ajak dokter tersebut padaku menunjuk ranjang tinggi yang ada di samping kursinya.
Dokter mengoleskan gel ke permukaan perutku, terasa dingin di sana. Perlahan sebuah alat menelusuri kulit perut, terasa geli.
Aku memperhatikan layar monitor berwarna hitam yang ada di atas meja di samping brankar. Tidak tahu apa yang ada di sana, tapi dokter menunjuk satu buah titik yang terlihat dengan sangat jelas di layar yang hitam.
"Bisa lihat jelas, Bu Ayu?" tanya dokter itu padaku sambil menunjuk ke arah layar. "Di sini ukuran janin sudah mencapai sekitar lima milimeter, sangat kecil sekali, sedikit lebih kecil dari biji apel," ucapnya lagi sambil menerangkan. Aku mendengarkan dengan baik apa yang dia terangkan. Untuk urusan ini aku sama sekali belum paham.
__ADS_1
Mataku rasanya panas dengan rasa hati yang sangat bahagia melihat ke layar itu. Alhamdulillah, akhirnya aku bisa juga menjadi seorang ibu. Ternyata aku tidak seperti yang mantan ibu mertuaku dulu katakan, aku bukan wanita mandul. Buktinya, sekarang aku sedang mengandung di usia pernikahanku yang baru menginjak tiga bulan dengan suamiku.
Air mata tak kuasa aku tahan sehingga tenggorokan ku sedikit kering, sedikit sesak juga dalam bernapas. Pandanganku pada layar memburam karena terhalang air mata yang membasah di bola mataku. Ku biarkan saja air hangat itu turun. Air mata bahagia setelah selama ini aku menunggu dan menunggu.
"Alhamdulillah," ucap Arga. Dia mengambil tanganku dan mencium punggungnya dengan sangat lembut.
"Alhamdulillah, Yu. Aku akan punya anak lagi," ucap Arga dengan sangat senang sekali. Aku lihat dia juga menangis kali ini, tangis bahagia karena kabar baik hari ini.
Dokter hanya tersenyum. Dia juga terlihat senang sekali dengan kejadian ini. Selesai dokter memeriksa dan menutup kembali bajuku, Arga mengambilku ke dalam pelukannya dan mencium keningku dengan sangat lembut sekali.
"Terima kasih. Terima kasih, ya Allah!" ucap Arga dengan penuh syukur, dia memelukku dengan sangat erat sekali dan berkali-kali mengucap rasa syukur. Bisa aku rasakan kebahagiaan yang teramat sangat ada di dalam dirinya. Sama seperti aku yang seakan sekarang masih belum percaya dengan apa yang aku dapatkan hari ini.
"Bu Dokter, adik Gara cewek apa cowok?" tanya Gara aku dengar dari belakang ayahnya. Aku melihat anak itu menatap dokter dengan mata yang bulat. Sedikit berdebar dengan jawaban yang akan dokter katakan.
"Gara inginnya adik perempuan atau adik laki-laki?" tanya dokter sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku baju kebesarannya.
Gara terlihat sedikit berpikir, membuat aku menahan napasku. Takut saja jika semua tidak sesuai dengan inginnya anak itu. Bagaimana jika keinginannya tidak sesuai dengan apa yang akan kami dapatkan di kemudian hari?
__ADS_1
"Apa saja lah, cewek atau cowok yang penting Gara punya adik!" seru anak itu membuat aku mengembuskan napasku dengan lega, begitu juga dengan Arga. Dia beralih mengambil pundak Gara dan mencium puncak kepalanya.
"Tapi kalau dapat dua, laki-laki sama perempuan lebih baik, sih!" ucap anak itu sambil tersenyum lebar.