
"Terima kasih, tapi kalian tidak perlu melakukan ini untuk aku," ucap Mas Hilman kini sambil membuang wajahnya ke arah lain, sapu tangan yang aku berikan tadi dia kembalikan kepadaku. Kedua orang itu kini pergi menjauh dari kami tanpa menoleh sama sekali.
"Apa yang kamu bilang, Mas? Kami tidak bisa begitu saja diam saat melihat orang lain kesusahan. Apa lagi kami kenal dengan kamu," ucapku dengan ada protes. Tidak suka sama sekali dengan ucapannya barusan.
"Tapi ya kalian akan kena masalah kalau berhubungan dengan aku. Kalian tidak salah sama sekali."
"Kamu juga tidak salah. Apa uang itu bukan kamu yang pinjam?" tanyaku kepadanya. Dia hanya menundukkan kepalanya menghindari tatapan dari kami berdua.
"Iya. Uang itu dipinjam oleh Mas Dirga. Dan laki-laki itu kamu sekarang tidak ada kabar sama sekali meninggalkan hutang yang banyak," ucapnya terdengar sedih dan juga geram di dalam nada ucapannya barusan.
Aku semakin iba melihatnya. Entah apa yang terjadi dalam hidupnya kini, tapi jujur saja hati ini terasa sakit. Bukan karena aku masih punya rasa kepadanya, anggap saja dia menjadi temanku sekarang.
"Aku akan bantu kamu selesaikan soal hutang ini."
"Tidak perlu, Arga. Biar ini menjadi urusanku sendiri," ucapnya dengan keras kepala.
"Aku sudah terlanjur memberikan kartu namaku sama dia. Bagaimana kalau dia datang ke kantorku dan menagih uang tadi? Kalau aku tidak memberikannya bukankah aku akan dihajar juga?" ucap Arga menatap malas pada Mas Hilman.
"Aku ragu tidak akan bisa membayarnya sama kalian."
"Lalu apa kamu juga akan bisa membayarnya kepada mereka?" tanya Arga. Mas Hilman tidak menjawab pertanyaan Arga. Aku menebak hal itu akan sulit untuk dia lakukan mengingat seperti apa pekerjaannya saat ini.
"Tidak. Aku juga tidak akan bisa membayar mereka."
Arga menghela napas sedikit kasar, dia berdecak kesal kepada laki-laki ini. "Ikut dengan kami ke rumah sakit. Luka kamu harus segera diobati." Arga kini mulai berjalan menjauh dari kami.
"Tidak perlu, aku akan mengobatinya sendiri," ucap Mas Hilman lagi membuat Arga menghentikan langkahnya.
"Ikut saja jangan menolak!" ucap Arga lagi lalu benar-benar meninggalkan kami.
Mas Hilman menatap Arga yang kini mendekat ke arah mobil.
"Tolong ikut dengan kami, meskipun Arga dingin sama kamu tapi dia perhatian. Tolong jangan tolak kebaikan dia," pintaku kini kepada Mas Hilman. Terdengar helaan napas yang kasar dari bawah hidung laki-laki ini.
"Kamu mendapat suami pemaksa rupanya," ucapnya sambil terkekeh.
"Ya, suami pemaksa. Tapi dia lebih baik daripada suamiku yang dulu. Selalu ucapkan kata cinta, tapi tidak pernah memaksaku untuk mencintainya."
Mas Hilman tertawa kecil, dia menatap ke arahku dan kembali memberikan sapu tanganku yang telah ternoda dengan darah.
"Kamu ambil saja, suamiku gak akan suka jika apa yang telah dipakai orang lain kembali kepadaku," ucapku padanya.
"Apakah aku seperti itu dulu, Yu?" tanya Mas Hilman padaku. Kami berjalan mendekat ke mana Arga kini menunggu kami.
"Seperti apa?" tanyaku.
"Aku bukan suami yang baik?"
"Kamu baik, Mas. Tapi maaf, jika dibandingkan dengan suamiku yang sekarang kamu biasa saja," ucapku jujur. Tak aku sangka dia tertawa lagi.
"Oke, terima kasih. Berarti nanti kalau aku sudah memiliki istri lagi aku akan lebih baik sama dia," ucapnya. Tak ada nada marah di sana, yang ada dia tersenyum di bibirnya yang mulai membengkak.
__ADS_1
Arga menunggu kami di dekat mobilnya dia mengulurkan tangan meminta kunci dariku.
Kami pergi ke rumah sakit dengan Mas Hilman bersama gara di belakang.
"Om, tadi kenapa?" taya Gara dengan polosnya. Aku melirik ke belakang, takut jika Mas Hilman menjawab dengan sembarangan.
"Tadi kenapa?" tanya Mas Hilman, terdengar nada pura-pura bertanya.
"Tadi kok Abang lihat Om dipukul," ucap anak itu seperti biasa, banyak ingin tahu.
"Om dipukul? Kapan?"
Aku semakin tidak nyaman dengan pembicaraan mereka.
"Tadi. Itu di sana luka," ucapnya lagi sambil menunjuk luka pada wajah Mas Hilman.
"Salah lihat kamu, tuh. Ini bukan luka, tapi ini riasan. Kamu gak tau apa tadi Om lagi ngapain?" tunjuk Mas Hilman pada wajahnya. Aku memperhatikan mereka pada kaca spion yang ada di depan. Kedua orang itu sedang berinteraksi
"Memangnya lagi apa?"
"Lagi akting. Gimana? Bagus gak tadi akting Om?" Dari rasa khawatir tiba-tiba saja aku menjadi ingin tertawa. Sumpah demi apa laki-laki itu bisa dengan mudah menjawab pertanyaan anak kecil?
"Masa akting? Tapi itu luka?"
"Yee, gak percaya. Ini tuh riasan. Gak percaya coba deh pegang." Mas Hilman mendekat dan menunjukkan luka itu pada Gara, sedikit membuat risau jika saja Gara benar-benar menyentuhnya, yang pasti Mas Hilman akan merasakan sakit.
"Gak ah, serem lihatnya. Terus Om mau kemana sekarang?" Duh, Gara cerewet sekali!
"Mau apa? Gak sakit kok ke rumah sakit?"
"Kan Om lagi akting nih, tadi akting lagi berantem terus luka, sekarang mau ke rumah sakit biar nanti di sana syutingnya sama dokter, buat diobati," ucapnya dengan lancar.
"Loh, kenapa gak sama crew? Kan biasanya kalau main film itu barengan?"
Duh, Gara. Terbuat apa sih isi kepalanya? Kok pintar banget?
"Tadi mobilnya gak muat, gimana Om mau masuk ke dalam mobil kalau gak muat? Jadi, Papa sama Mamanya Abang antarkan Om ke sana."
Aku saling melirik dengan Arga, ku lihat dia menggelengkan kepalanya. Entah apakah yang dia pikirkan dan yang aku pikirkan adalah hal yang sama?
"Jadi, di sana Abang bisa lihat syuting, dong!" seru anak itu.
"Bisa, tapi jangan kaget ya kalau nanti gak bisa lihat kameramennya," ucapnya.
"Loh, kenapa?" Nada suara Gara terdengar heran.
"Iya, karena ini kan syuting di dalam ruangan, jadi kameranya di simpan di sudut yang gak kamu tau."
"Kok begitu?"
"Tidak tau, coba nanti cari tau kenapa kameranya harus disembunyikan," ucap Mas Hilman.
__ADS_1
Gara tidak lagi bertanya, terlihat dari sudut mataku anak itu sedang berpikir dengan keras.
Kami telah sampai ke rumah sakit. Segera kami membawa Mas Hilman bertemu dengan dokter. Kebetulan dokter yang ada di rumah sakit ini adalah laki-laki yang sudah sangat lama tidak aku temui. Dokter Wira.
Bingung dia saat melihat kami masuk ke dalam ruangannya. Dia tidak bertanya banyak, segera melakukan tindakan untuk mengobati Mas Hilman.
"Aku tunggu di luar saja dengan Gara, ya?" pintaku pada Arga, tidak tahan karena mendengar Mas Hilman yang harus dijahit luka di keningnya.
"Oke, tunggu saja di luar ruangan ini, aku akan keluar kalau sudah selesai," ucapnya. Aku mengangguk dan membawa Gara keluar dan duduk.
"Ma, tadi mana katanya syuting? Apa papa juga ikut syuting?" tanya anak itu. Aduh, kenapa ingat dengan apa yang tadi mereka bicarakan sih?
"Eh, Mama tidak tau, tanyakan saja nanti sama om-nya atau papa." Aku menghindar menjawab pertanyaan anak pintar ini, terlalu pintar sehingga terkadang aku sendiri bingung untuk mencari jawabannya.
Seorang laki-laki dengan rompi oranye datang mendekat dan bertanya. Aku membenarkan jika Mas Hilman ada di dalam ruangan bersama dengan dokter.
"Terima kasih, ya Mbak sudah menolong teman saya," ucapnya dengan napas yang masih ngos-ngosan. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Saya baru tau Mas Hilman di bawa kesini soalnya tadi saya lagi istirahat, jadi baru denger dari yang lain. Maaf apakah Mbak kenal dengan Mas Hilman?" tanya pemuda itu, usianya sepertinya masih dua puluh tahunan. Terlihat muda dan tampan meski tertutup oleh kulitnya yang gelap.
Aku menatap Gara, ada di sampingku.
"Abang mainan hp dulu, ya. Mama mau bicara sama Om ini." Hp milikku aku keluarkan dan kuberikan kepada Gara. Anak itu selalu senang jika aku memberinya hp, pasalnya ini bukan waktunya dia bermain benda pipih itu.
"Mama bicara di sana, ya." Tunjukku pada anak itu. Dia mengangguk dan kemudian fokus pada benda pipih di tangan.
Aku berdiri sedikit kesulitan karena perutku yang sudah membesar. Bersama dengan dia sedikit menyingkir, mencari tempat yang aman untuk berbicara. Sepertinya dia cukup tahu soal kehidupan Mas HIlman kini. Biar lah aku kepo dengan hidup orang lain, aku penasaran!
"Maaf, Mas-nya kenal lama dengan Mas Hilman?" tanyaku sambil duduk. Dia juga mengambil jarak mengosongkan dua kursi di antara kami.
"Saya kenal sih, satu kampung sama Mas Hilman," ucapnya.
"Oh, begitu. Saya temannya. Saya sudah lama gak ketemu sama Mas Hilman. Kenapa ya Mas Hilman jadi begini, maksud saya kan dulu tidak begini." Aku sedikit enggan menyebut jika diriku adalah mantan istrinya. Bisa-bisa ada yang akan dia tutupi dari ceritanya.
"Eh, gak baik kalau cerita sama orang asing," ucapnya.
"Saya bukan orang asing lagi. Kalau saya orang asing untuk Mas Hilman apa mau dia saya bawa ke sini?" tanyaku meyakinkan. Dia sedikit berpikir dan mengangguk. Semoga saja dia mau bercerita tentang sedikit kehidupan mantanku itu.
"Yang saya tahu sih, dia begitu setelah pisah sama istri pertamanya," ucapnya. Lalu mengalirlah cerita yang membuat aku menutup mulutku tidak percaya. Tentang sulitnya mencari pekerjaan setelah dipecat dari kantor, tentang perceraian dia yang telah dikhianati oleh istri keduanya dan mendengar jika putri yang ada padanya bukan lah darah dagingnya. Dan yang paling mengejutkan adalah ... ayah dan kakaknya pergi dari rumah meninggalkan ibu dan Mas Hilman serta anak Hana di rumah itu.
"Itu cerita bohong kan? Bagaimana bisa ...."
Aku tidak melanjutkan ucapanku, terlalu shock mendengar cerita dari pemuda itu.
"Itu beneran, Mbak. Malahan ibunya Mas Hilman sekarang tuh kayak stress gitu, gak pernah kelihatan keluar rumah, yang biasanya suka pamer tuh dandan mulu, sekarang mah. Maaf nih ya, kayak hilang akal," ucapnya.
Pembicaraan kami terhenti saat aku melihat Arga telah ada bersama dengan Gara.
***
Apa sih yang terjadi? 🤔🤔
__ADS_1
Kok Othor sendiri kepo ya😂