
"Lho memangnya kenapa harus sampai dijual?" tanya Bapak mertua.
"Jujur saja Hilman cuma punya uang sedikit untuk bantu biaya resepsi." Aku menundukkan kepalaku. Rasanya sedikit malu juga karena tidak ada di dalam pikiranku ini menikah dengan resepsi.
"Oh kalau untuk masalah itu bapak nggak masalah. Bapak sudah persiapkan uang untuk resepsi Dewi dari jauh-jauh hari. Kamu nggak perlu mikirin biaya apa-apa lagi. Pakai saja uang yang ada di kamu untuk modal usaha. Tidak mungkin selamanya kamu akan menjadi buruh di pabrik. Coba kamu cari-cari peluang usaha lain, siapa tahu bisa mendapatkan lebih dan juga bisa mempekerjakan orang-orang sekitar," ucap bapak menerangkan.
Aku terharu dengan pemikiran bapak yang seperti ini. Sungguh berbeda sekali dengan pemikiran bapak kandungku. Dia lebih ingin anaknya menjadi seorang karyawan yang memiliki kedudukan daripada membuka usaha.
"Kira-kira kamu ahli di bidang apa? Kalau memang minat berjualan kayak bapak aja buka toko. Sewa aja dulu di pasar nanti lama-lama juga kamu bisa buka toko sendiri," ucap bapak lagi.
Aku menganggukkan kepala, sebenarnya sudah dari lama ingin membuka usaha, tapi modal yang menjadi kendala. Kemarin sudah terkumpul modal aku pakai untuk diberikan kepada Dewi dua juta, hanya tersisa uang tujuh juta dan juga motor yang aku pakai.
"Jadi begini kalau untuk resepsi, kamu sama Dewi bicarakan dulu konsep sama gaun yang kamu mau pakai, nanti kalau untuk soal biaya bapak yang tanggung."
Malu sebenarnya, biasanya pihak laki-laki juga ikut membantu mengeluarkan uang. Sedangkan di sini bapak bilang ingin menanggung semuanya.
"Jangan dari Bapak semua lah, Pak. Hilman rasanya malu kalau tidak ikut mengeluarkan biaya untuk pesta nanti," ucapku meminta kepada bapak.
Bapak mengulurkan tangannya padaku dan menepuk pundakku sedikit keras.
"Kenapa harus malu? Kita ini kan sudah jadi keluarga. Ini memang sudah jadi nazar bapak kalau Dewi menikah bapak yang akan biayai pernikahan ini. Dewi kan anak perempuan satu-satunya, dan lagi menikah juga tidak di usia muda. Uang yang Bapak kumpulkan selama ini sudah cukup untuk membuat pesta."
"Sudah kamu jangan seperti itu. Lebih baik uang yang ada sama kamu untuk modal jualan saja."
"Tapi Hilman takut, Pak. Jualan itu kan harus merintis modal dari awal. Sedangkan sekarang aja Hilman masih punya tanggungan ke bank yang cukup besar perbulannya. Takut kalau sampai nggak bisa bagaimana?"
__ADS_1
"Man, sepuluh dari jalan rezeki itu delapan diantaranya adalah berjualan. Kalau kamu ngerasain takut tidak balik modal itu ya wajar. Namanya juga orang sedang merintis kok, istilahnya orang lain yang belum tahu kalau kamu itu sedang menjual sesuatu. Kamu harus yakin."
"Kamu tahu nggak perjuangan Bapak dulu kayak gimana sampai bisa seperti ini sekarang? Jatuh bangun Bapak pernah ngerasainnya. Sampai habis modal terus pinjam lagi juga pernah. Sekarang alhamdulillah semua orang sudah tahu Bapak menjual barang di pasar, sekarang bukan lagi bapak yang mencari pembeli, tapi pembeli yang mencari Bapak. Yakinkanlah saja kalau rezeki itu datang dari apa yang kita lakukan."
"Terus berusaha dan jangan lupa berdoa, salat lima waktu, jangan lupa dengan salat malamnya, insya Allah kalau seumpamanya kita terus berikhtiar berdoa pasrah diri kepada Allah rezeki akan datang dengan sendirinya. Dan jangan lupa satu aja, bahagiakan istri. Jangan pernah bikin istri menangis. Apapun yang dia mau beli biarkan saja, tidak apa-apa uang kita habis sama istri, toh Allah akan mengembalikan yang lebih banyak daripada yang dihabiskan. Jangan lupa juga shodaqoh, meskipun sedikit yang kita keluarkan maka berkali-kali lipat yang kita dapatkan," ucap Bapak lagi panjang lebar. Aku tidak marah dan juga tidak kesal mendengar ucapan bapak yang seperti ceramah, tapi hati ini rasanya adem sekali, nyaman dan damai mendengarkannya.
"Iya Pak saya mengerti. Terima kasih atas nasihat Bapak."
***
Berita tentang pernikahanku sudah menyebar di pabrik. Janda anak satu yang sering mendekatiku juga kini bersikap cuek, tidak lagi mendekati seperti dulu. Hanya melirik sekilas saja jika kami berpapasan di tempat parkir, makanan juga tidak pernah lagi dia berikan kepadaku saat pagi hari.
Setiap kami bertemu dan aku menyapanya dia selalu membuang muka, pura-pura tidak mendengar atau hanya menjawab sewajarnya dan lalu menghindar.
Sudah lah, padahal dari dulu kami baik-baik saja dan aku hanya menganggapnya sebagai teman.
"Pak, dipanggil bos tuh ke ruangannya," ucap salah satu bawahanku.
"Bos yang mana?" tanyaku, di sini istilah bos kadang dipakai sembarangan sehingga kadang bingung bos siapa yang memanggil.
"Pak Eka, di suruh ke ruangannya," ucap anak itu lagi.
"Oh, oke." Aku bangkit dan menuju ke ruangan kantor Pak Eka, yang awalnya aku sedikit bingung siapa Eka sedangkan yang aku tahu suami Ayu adalah Arga.
Ruangan kerja Arga memang beda dengan yang lainnya, hanya ada satu dan tidak ada lagi di area pabrik ini. Sangat nyaman dan juga luas, serat bersih, pantas saja jika para tamu yang berasal dari luar sering kali disambut di sini.
__ADS_1
"Mbak, mau ketemu Pak Eka," ucap ku pada wanita cantik yang ada di depan pintu ruangan Arga.
"Ada perlu apa?" tanyanya tanpa melihat ku.
"Tadi ada yang bilang katanya dipanggil ke ruangan Pak Eka," jawabku menjawab pertanyaannya.
"Beneran?" Dia malah bertanya.
"Hem, masa saya bohong? Ngapain juga saya jauh-jauh dari gudang ke sini kalau bukan karena dipanggil Pak Eka."
Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatapku. "Ya sudah, tunggu sebentar, biar saya hubungi dulu Pak Eka. Kalau bohong saya kasih SP ya, meninggalkan area kerja," ucapnya dengan ketus.
"Ya jangan salahkan saya juga, salahkan yang kasih info lah." Aku tidak mau begitu saja kena masalah. Orang lain yang iseng aku yang kena!
Wanita itu baru saja selesai menghubungi Arga, dia menunjuk pintu ruangan tersebut yang berati aku boleh masuk ke dalam sana. Sedikit tidak sopan wanita itu, mentang-mentang kerja di bawah bos.
Pintu ruangan aku ketuk dan aku buka, masuk ke dalam sana dan melihat Arga yang sedang berkutat dengan laptopnya.
"Assalamualaikum," ucapku mengucap salam.
Laki-laki itu mengangkat kepalanya dari laptop dan tersenyum saat melihatku.
"Sudah datang, silakan duduk," ucap laki-laki itu dengan ramah.
"Ada apa panggil saya ya, Pak?" tanyaku padanya, jarang sekali seorang atasan memanggil bawahannya ke ruangan ini, kecuali ....
__ADS_1
Apakah aku akan dipecat?