
Gara sudah tertidur beberapa saat yang lalu, setelah Arga selesai dengan dongeng yang dia bacakan. Dia tidur dengan lenganku yang menjadi alas kepalanya. Manja sekali anak ini sampai ingin tidur dengan aku memeluknya dan mengelus punggung tangannya.
"Sudah tidur?" tanya Arga padaku saat Gara tidak terlihat lagi pergerakannya.
"Sudah," jawabku. Arga bangun dengan sangat hati-hati, menata bantal milik Gara dan dengan pelan memindahkan kepalanya ke atas bantal.
"Pelan-pelan, Ga." Aku berbisik, takut jika Gara terbangun karena di pindahkan. Arga hanya mengangguk pelan, dengan sangat hati-hati mengangkat kepala Gara agar aku bisa menarik tanganku darinya.
Selesai dengan itu, dia menarik selimut dan menutupi sebagian besar tubuh Gara hingga sampai ke dada.
"Gara sudah tidur, berarti aman kan?" tanyanya tiba-tiba dengan sambil menaik turunkan alisnya dengan cepat. Senyum jahil terlihat di bibirnya, membuat aku curiga.
"Eh, kamu mau apa?" tanyaku, masih berbisik karena kami masih ada di sana.
"Gak apa-apa. Tadi kan Gara yang kamu tidurkan, sekarang giliran aku dong!" ucapnya dengan senyum di bibirnya.
Heh. Aku kira apa!
"Gak! Ingat ya, ini masih siang. Di luar masih banyak orang!" ucapku dengan ketus, lalu berjalan meninggalkan dia. terdengar langkah kakinya mengikutiku dari belakang.
"Oh, aku lupa! Kenapa tidak pada pulang saja sih semua orang?" tanya Arga dengan nada yang sedikit protes. "Kan biar kita bisa kelon-kelon!" Ujarnya sambil mencolek bahuku.
"Ish, Arga! Jangan aneh-aneh deh. Sudah, yuk. Kita ke bawah lagi. Kasihan yang lain nungguin kita lagi," ucapku padanya. Arga hanya tersenyum kecil dan mengikutiku kembali ke lantai bawah.
__ADS_1
Di bawah sana, masih ada beberapa orang yang hadir, beberapa tidak lagi terlihat. Kata Bibi, ada sesuatu hal yang harus dikerjakan dan tidak bisa lanjut ikut acara di rumah ini sampai dengan selesai. Ya, memang mereka ini adalah para pebisnis yang sangat hebat.
"Kami kira kalian mau lanjut bobo siang," ujar satu yang lain sambil menutupi mulutnya yang tertawa.
"Pengennya sih gitu, Bi. Tapi ya kan kalian masih ada di sini. Jadi bobo manjanya nanti saja, deh," ucap Arga dengan gamblangnya, membuat aku malu karena di tatap sedemikian rupa oleh semua saudaranya. Semua orang tertawa.
"Huh, mentang-mentang sekarang sudah ada istri, jadi gitu ya maunya kami cepat pulang. Kami sudah luangkan waktu kami di sini cuma untuk lebih jauh kenal dengan Ayu loh!" ujar wanita yang tadi dipanggil Bibi. Aku sedikit bingung, karena ternyata keluarga Arga adalah keluarga besar. Ini Bibi, itu juga Bibi. Ah, nanti aku tanyakan pada Arga, siapa saja mereka ini.
"Haha, iya lah. Kalian sih enak ada pasangan sedari dulu, aku kan baru dapat pasangan lagi, Bi. Jadi ...." Arga menarik pinggangku sehingga kami berdempetan sangat dekat.
"... wajar lah kalau aku juga ingin berduaan dengan istriku. Iya kan, Sayang?" tanya Arga kini padaku dengan senyum yang sangat lebar sekali.
Aku jadi tergagap mendapatkan sikap Arga yang seperti itu. Malu karena Arga melakukan itu di hadapan semua orang, sehingga mereka memperhatikan ke arah kami berdua.
"Jangan harap kami akan pulang, kami belum makan siang, loh!" ujar Bibi dengan suara yang dibuat ketus.
"Huh dasar! Sudah lah. Bibi juga sudah pesankan makanan untuk kita semua. Tentu saja kami juga gak akan repotkan pengantin baru untuk masak," ujar Bibi. Dia berdiri dan menggerakkan tangannya untuk kami mengikutinya ke ruangan makan.
Aku sempat takut dengan raut wajah Bibi yang seperti tadi. Sedikit judes jika aku lihat, meski aku juga tidak boleh menilainya hanya dari luarnya saja.
"Ayo, kita makan siang bersama," ucap Arga padaku, kami berjalan bersamaan ke ruang makan.
"Ga, harusnya kamu gak boleh bicara kasar kayak gitu sama Bibi," ucapku padanya.
__ADS_1
"Ah, sudah biasa aku sama Bibi kayak gitu, kok. Bibi memang orangnya rame."
Di ruangan makan, karpet sudah tergelar di lantai. Meja makan dan kursinya di singkirkan ke dekat dinding. Tentu saja semua ini sudah ada yang mengaturnya, karena kami tidak akan cukup jika makan di dalam satu meja makan. Satu tumpuk piring terdapat di sana, diantara lauk dan juga nasi serta lalapan yang sangat segar sekali. Aku bersyukur dengan keluarga ini, meski mereka orang yang berada, bahkan makanan mereka juga tidak jauh dariku. Sangat sederhana sekali.
Kami memulai makan siang bersama. Aku teringat dengan Gara, yang mungkin saja belum makan, tapi dia sudah tidur siang. Anak itu mungkin saja lapar.
"Kenapa, Yu?" tanya Arga saat aku hanya diam tidak meneruskan memasukkan makanan yang ada di tangan ke mulutku. Semua orang yang ada di sana menatapku dengan bingung.
Aku menggelengkan kepala seraya tersenyum.
"Gak apa-apa. Cuma aku salah, harusnya aku menyuapi Gara dulu sebelum dia tidur. Dia bangun nanti pasti sangat lapar," ucapku merasa bersalah. Kasihan jika dia tidur dengan rasa lapar, tentu tidurnya juga tidak akan nyenyak.
"Tenang saja. Meskipun Gara belum makan nasi, tapi tadi dia makan banyak kue dan minum susu, kok," ucap Bibi tiba-tiba dengan sambil tersenyum.
Aku menghela napas lega jika memang seperti itu kejadiannya. Setidaknya perutnya tidak benar-benar kosong.
"Duh, Ayu perhatian banget ya sama Gara. Beruntung kamu, Ga dapatkan Ayu. Dia pasti akan jadi ibu yang baik buat Gara dan anak kalian nanti. Semoga cepat nambah ya, biar Gara ada temannya," ucap Bibi itu lagi sambil tersenyum dengan senang.
Aku hanya tersenyum seraya menganggukkan kepala, mengucapkan kata aamiin. Berbeda dengan Arga yang kulihat dia menatapku dengan tatapan yang sedih. Aku juga tersenyum padanya, ku harap dia mengerti akan arti senyuman ku ini. Aku baik-baik saja. Ya, aku harus belajar untuk baik-baik saja dengan keadaanku.
Suasana kini mendadak hening. Bibi, adik Papa menyenggol Bibi yang tadi sehingga dia melirik dengan tanda tanya pada wanita dengan baju biru itu.
"Iya, Bi. Aamiin. Doakan saja yang terbaik untuk kami," ucap Arga pada Bibi.
__ADS_1
Meski rasanya hati ini tidak karuan, tapi aku tidak boleh terlihat sedih di hadapan mereka. Papa dan adiknya hanya melirikku dengan raut wajah yang merasa bersalah.
Aku harus bisa menerima kenyataan. Ya, benar kata Arga barusan. Doakan saja yang terbaik, itu sudah cukup.