Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
180. Tetap Jadi Istri Yang Baik


__ADS_3

Aku meninggalkan Arga dan menuju kamar mandi untuk melepas gaunku dan memakai piyama dengan celana panjang yang sebelumnya sudah aku ambil dari koper. Sedikit susah karena gaun ini lumayan lebar, juga ada beberapa yang berlapis-lapis, terutama di bagian dalam rok terdapat petticoat yang melebar yang berfungsi untuk mengembangkan gaun pengantin. Aku kesulitan membukanya, tapi dengan sedikit usaha, aku bisa melepas semua gaunku.


Kesal rasanya, masih ingin meledak lebih daripada ini.


Apa yang aku lakukan? Ini adalah malam pengantin, tapi kami malah berdebat seperti ini.


Rasanya ingin pergi ke ruangan lain untuk menenangkan diri, tapi tidak baik juga jika hal tersebut diketahui oleh keluargaku atau keluarga Arga, kami baru saja menikah, apa kata orang jika aku dan Arga berpisah kamar?


"Yu, apa kamu butuh bantuan?" tanya suara Arga dari luar disertai ketukan pelan di pintu.


"Gak perlu. Aku bisa lepas sendiri!" ucapku dengan keras. Aku lipat dengan asal gaun yang lumayan berat ini dan menyimpannya di atas toilet duduk yang tertutup. Begitu juga dengan petticoat, tidak tahu bagaimana caranya melipat benda kaku ini.


"Kalau kamu ada kesulitan panggil aku saja, ya," ucap suara itu lagi. Aku diam, tidak menjawab. Kesal dan juga sedang berusaha untuk membereskan gaun ini.


"Yu!" panggilnya lagi. Aku kira dia sudah tidak ada lagi di sana.


"Sudah tidur saja. Aku bilang aku bisa sendiri!" teriakku lagi. Suara itu kemudian tidak terdengar lagi.


Selesai dengan membereskan gaun, aku mandi dengan menggunakan air hangat. Nyaman rasanya berendam di dalam bathub. Jika saja kepala ini tidak ada luka, tentu aku ingin sekali merendam kepala ini dan seluruh tubuhku di dalam air wangi dengan aroma mawar. Siapa tahu saja dengan hal seperti itu bisa mendinginkan kepalaku. Akan tetapi, aku tidak mau ambil resiko kesakitan juga, sih.

__ADS_1


Membayangkan tadi, saat wanita itu mencium Arga, membuat aku kembali kesal.


"Kenapa tidak didorong saja!" gumamku kesal. Senyum wanita itu sangat nakal sekali dengan kerlingan mata yang menyebalkan! Tidakkah dia tahu siapa yang dia berikan senyuman? Suamiku! Dasar wanita gatel!


Kesal dengan memikirkan yang tadi, aku menggosok tubuhku dengan sabun, cukup keras. Tidak tahu lagi harus bagaimana dan hanya bisa gemas dengan diriku sendiri. Kenapa? Apa yang terjadi? Apakah kali ini aku salah lagi dalam memilih?


Aku hanya diam, merenung. Tidak tahu lagi harus bagaimana. Ingin menangis, tapi buat apa? Tidak ada yang tahu dengan masa depan. Aku pikir, Arga bukan pria yang semacam itu.


Ah, entahlah. Aku pusing memikirkan hal ini. Sudah terlanjur basah.


Aku harus bagaimana? Ibu, Bapak. Ayu harus bagaimana?


Hembusan napas kasar aku keluarkan dari mulutku. Gegas aku menyelesaikan mandi dan memakai piyama panjang. Untung saja aku bawa piyama panjang. Kalau aku bawa pakaian minim yang Arga belikan kemarin mungkin saja akan adanya bahaya di setiap malam. Ya ... kalian mengerti lah apa maksudku dengan 'bahaya'.


Ku lihat Arga sudah berbaring di sofa, tanpa mengganti pakaiannya. Tangannya terlipat di depan dada, bahkan sepatu pun masih dia pakai. Napasnya mengalun halus, terdengar dengan jelas di ruangan yang sunyi ini.


Gaun yang ada di tangan, aku simpan di samping koper, di atas kursi rias. Ku dekati Arga dan membuka sepatunya dengan hati-hati. Entah apakah aku sudah gila atau apa, aku sedang marah padanya, tapi aku malah membukakan sepatunya.


Ku hela napas kasar.

__ADS_1


Aku menyuruh dia untuk tidur di atas kasur, bukan di sini. Tapi ya sudah lah. Bukan salahku juga kalau dia memilih tidur di sini, yang terpenting aku sudah menyuruhnya tadi.


Hei, aku bukan istri yang durhaka 'kan?


Arga menggeliat di dalam tidurnya, tapi tidak sampai membuka matanya. Sepatu yang aku lepaskan tadi ku simpan di bawah sofa, lalu dengan hati-hati dan melangkah ke arah ranjang.


Tak tahan, aku melirik kembali pada laki-laki yang sedari kemarin sudah menyandang gelar suamiku. Jas yang ada pada tubuhnya mungkin saja bisa membuat dia kepanasan.


Ah, masa bodoh!


Ku hempaskan tubuhku di atas kasur hotel yang empuk, memunggungi Arga yang sudah terlelap sejak aku masih di dalam kamar mandi.


Tidak sampai satu menit, aku memutar tubuhku, menatap Arga yang masih dengan posisinya.


Ah, ada apa dengan aku ini? Ingin lanjut tidur, tapi melihat dia yang tidur dengan pakaian tebal rasanya tidak tega juga.


Aku berdiri, mengambil remot AC yang ada di depan sofa tempat Arga tidur, mengatur suhu udara sedikit lebih dingin. Terdiam sebentar, ku rasakan suhu di kamar ini sedikit dingin hingga aku tidak tahan ingin segera membungkus diriku dengan selimut hangat. Mungkin ini pas untuk Arga yang tertidur dengan pakaian lengkap.


Aku kembali ke dekat ranjang, melirik kembali ke arah Arga. Sedikit berpikir jika dia sampai kedinginan tentu dia bisa saja sakit esok hari.

__ADS_1


Aku merutuki diriku sendiri, sedari dulu memang tidak bisa abai dengan yang namanya suami. Argghh!! Kesal rasanya!


Aku bangkit dan membawa selimut tebal untuknya. Untukku, biar saja aku pakai yang lain. Dengan langkah pelan, aku mendekat ke arah Arga dan menyelimuti tubuhnya dari kaki hingga ke lehernya. Setelah itu aku kembali membaringkan diriku di atas kasur. Selimut tipis aku pakai menutupi tubuh dari terpaan udara dingin AC. Lelah yang mendera tidak lagi bisa menahan kantukku yang datang. Perlahan mulai terlelap membawaku ke dalam mimpi.


__ADS_2