
Hari ini aku akan pergi ke kantor keagamaan. Aku ingin bertanya syarat apa saja yang aku butuhkan untuk pengajuan perceraian. Ibu sudah mendukung apa yang aku mau dan aku harus segera menguruskan semua itu.
Dengan hati yang berdebar aku pergi. Rasa sedih pasti masih ada, berpisah dengan orang yang sangat kita cintai bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi, semua harus aku selesaikan. Aku tidak akan sanggup terus bertahan jika terus seperti ini, apalagi jika nanti Ibu mertua ikut campur dengan masalah kami seperti yang selama ini. Terus menyalahkan aku karena aku belum bisa memberikan keturunan kepada keluarga mereka.
Aku sudah tidak diinginkan semenjak itu. Apakah masih pantas untuk aku bertahan? Tidak. Biar saja jika Mas Hilman akan marah atau tidak terima dengan apa yang aku lakukan sekarang ini. Jika dia bilang tidak cinta, buktinya dia bisa sampai memiliki anak dengan Hana.
Cinta datang karena terbiasa. Mungkin saja dia sudah merasakannya, tapi perasaannya terhalang olehku yang masih bertahan disana.
Panas yang terik, tak menyurutkan aku untuk meneruskan niat pergi ke tempat itu.
Motor aku parkirkan bersama dengan kendaraan lain yang ada di sana.
Dengan hati yang berdebar, aku mulai melangkahkan kaki ke dalam sana. Tempat yang tidak aku sangka akan membuat hubunganku dengan dia berakhir.
Suara panggilan telepon terdengar dari dalam tasku. Sambil berjalan aku membuka tas dan meraih hp. Takut jika ada hal yang penting. Beberapa barang yang ada di dalam tas membuat hp yang ada di sana tidak lantas bisa aku raih. Sedikit kesulitan.
Bruk!
Tak sengaja aku menabrak seseorang karena kelalaianku. Beberapa helai kertas miliknya terjatuh di lantai.
"Eh. Maaf. Maafkan saya, Mbak."
Aku segera berjongkok, meraih kertas yang ada di lantai itu. Aku yang salah.
"Maafkan saya juga, Mas. Saya yang lalai, gak lihat jalan," ucapku seraya bangkit dan menyerahkan kertas itu padanya.
"Ayu?" Dia memanggil namaku. Refleks aku menoleh ke arahnya.
"Loh. Arga?"
__ADS_1
Aku melihat pria itu dengan terkejut, refleks menyebut namanya. Dia juga sama terkejutnya, lalu tersenyum manis ke arahku. Senyum itu masih sama seperti dulu. Senyum ramah yang selalu dia tampilkan di wajahnya yang selalu ramah.
"Eh, kita bertemu di sini. Kamu ... apa kabar?" tanyanya dengan mengulurkan tangan setelah tadi menyambut kertas yang aku sodorkan padanya.
Aku menjabat tangan itu, masih sama hangat seperti dulu.
"Aku baik, Ga. Kamu juga, apa kabar?" tanyaku balik padanya. Rasa canggung seketika datang menghampiriku, tapi entah dengan dia.
"Aku baik," jawabnya.
Aku segera menarik tanganku, tidak nyaman dengan pandangannya yang seperti itu. Kuhindari sorot matanya yang seperti menyiratkan sesuatu.
"Kamu ada urusan di dalam?" tanya Arga lagi, nada suaranya sedikit canggung.
"Iya, kamu?"
"Aku juga ada urusan, tapi sudah selesai." Tunjuknya pada map yang ada di tangannya.
Aku menghentikan langkahku setelah masuk tak jauh melewati pintu, entah kenapa rasa hati ingin berbalik. Dia masih berada di sana dengan masih menatapku. Seketika pandangan mata kami beradu. Dia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
Aku pun sama, membalas senyumannya seraya menganggukkan kepala, lalu dengan cepat berbalik dan kembali melangkahkan kakiku. Malu rasanya, kenapa juga harus seperti di dalam adegan film.
Ah, bodohnya aku. Kenapa aku harus berbaik untuk melihat dia? Dan kenapa juga dia masih berada disana dan melihat aku?
Aku merutuki diriku sendiri.
Hampir saja meja informasi terlewat karena aku memikirkan pertemuan kami tadi.
Aku diarahkan untuk menemui seseorang di ruangannya. Terlihat beberapa orang yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada juga yang sama sepertiku, datang kesini, tapi entah urusan apa yang dia lakukan disini.
__ADS_1
"Silahkan, Mbak." Seorang pria tersenyum ramah kepadaku, mempersilahkan aku untuk duduk di kursi di hadapannya. Dengan sedikit basa basi, aku menyampaikan maksud kedatanganku saat ini. Pria yang aku ketahui bernama Purnama itu sangat ramah dan menjawab semua pertanyaanku dengan baik, hingga aku tidak kesulitan untuk mengatakan apa yang menjadi maksu kedatanganku kesini.
"Maaf, Mbak. Sebaiknya Mbak Ayu memiliki buku nikah sehingga kami bisa memproses pengajuan Mbak Ayu, selain syarat yang saya sebutkan tadi," ucap Pak Purnama.
Aku menghela napas panjang. Tidak tahu apakah aku akan bisa mendapatkan buku itu atau tidak, sepertinya akan susah meminta dari tangan Mas Hilman.
"Maaf, Pak. Apakah tidak akan bisa dengan cara lain tanpa buku itu?" tanyaku pada Pak Purnama.
Pria dengan tubuh kurus, dengan kacamata lebar di depan hidungnya itu tersenyum seraya menggelengkan kepala.
"Mohon maaf, Mbak. Sudah cukup sering ada kasus yang sama seperti Mbak ini, tapi juga susah untuk diproses karena buku nikah adalah salah satu syarat wajib yang harus disertakan di dalamnya."
Aku keluar dari kantor itu setelah mendapatkan jawaban yang pasti. Pak Purnama bilang akan sangat sulit dan permintaan tidak akan diproses oleh pihak pengadilan jika aku tidak mendapatkan buku itu.
Apa yang harus aku lakukan? Aku bergumam sendiri seraya mendekat ke arah motorku yang kepanasan. Jok sudah sangat panas saat aku menyentuhnya. Kuambil kain dan kuberi sedikit air pada jok motor lalu mengusap keseluruhan, tak ingin bagian belakangku menjadi matang karena menduduki tempat panas itu.
Motor kembali kulajukan di jalanan yang ramai. Debu-debu saling beterbangan bersamaan dengan asap knalpot yang keluar dari kendaraan lain. Suara klakson terdengar disana sini. Saling menyalip dan juga saling mengumpat kepada yang lain itu hal yang sudah biasa. Tak terkecuali kepadaku yang melajukan motor dengan tak stabil. Stang yang aku pegang sedikit oleng sedari tadi, serasa jika kendaraan ini agak berat untuk aku bawa.
"Mbak. Ban motornya kempes!" seru seorang pengendara pria yang ada di sebelahku seraya menunjuk ke arah ban dengan tangan kirinya, setelah itu dia melaju sedikit lebih cepat meninggalkanku dan menghilang di antara pengendara-pengendara yang lainnya.
Dengan melihat ke belakang dari spionku, aku mulai berbelok sedikit demi sedikit ke tepi jalan, tak lupa lampu sen kiri aku nyalakan.
"Ya ampun, pantas saja motor ini berat. Memang kempes," gumamku seraya menatap iba ban motorku. Ban bagian depan sudah hampir tak berangin. Aku bangkit berdiri dan menatap ke sekeliling, tak ada bengkel atau sekedar tambal ban.
Perlahan aku mendorong motor ini mencari bengkel. Rasa panas yang menyengat, keringat yang bercucuran, membuat langkah kaki ini menjadi berat? Lelah rasanya, lapar juga. Ingat jika aku belum makan siang.
Entah sudah berapa puluh meter aku mendorong motor ini. Rasa haus di tenggorokan mulai mendera, aku lupa tidak membawa minum di dalam bagasiku. Tidak ada toko atau kios yang ada disini, bahkan penjual asongan juga tidak ada.
Ya ampun, nasibku ....
__ADS_1
Sebuah mobil melaju dengan pelan di sampingku, aku tak hiraukan. Kulangkahkan kaki ini sedikit lambat karena aku pikir mobil itu akan menepi.
"Ayu, kenapa motornya?"