
Pov. Hilman
Lelah yang mendera tubuh ini membuat aku langsung merebahkan diriku di atas kasur. Seharian mencari pekerjaan membuat aku lelah. Kesana kemari mencari lowongan pekerjaan yang ada di koran maupun internet. Sial sekali, datang kesana dan mengalami penolakan. Selalu saja seperti itu. Apakah mungkin video waktu itu mempengaruhi kehidupanku?
Ah ....
Aku menghela napas berkali-kali.
Rumah ini tidak ada orang, Hana tidak tahu kemana. Dia juga tidak bilang jika akan pergi ke luar.
Ayu dan Hana, dua wanita yang berbeda. Jika Ayu akan menurut untuk diam di rumah dan selalu mengabariku jika akan pergi. Berbeda dengan Hana, dia tidak pernah mengabariku sedikitpun meski hanya chat sederhana. Dia juga selalu marah jika aku menegurnya. Dia bilang bosan tinggal di rumah, maka dari itu dia terkadang ke rumah tetangga yang seumuran dengannya untuk sekedar berkunjung dan mengobrol seharian.
Tenggorokanku terasa kering sekali, aku juga lapar. Seharian tidak mendapatkan nasi karena Hana juga tadi bangun siang hingga aku hanya makan roti tawar selembar, itu pun tanpa selai atau susu. Kopi sudah hampir kosong di toples, begitu juga dengan gula putih yang tinggal terakhir tadi aku seduh dengan kopi. Itu pun tidak manis sama sekali.
Aku keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur.
Astaga! Dapur sangat berantakan dengan pring dan gelas kotor yang ada di wastafel. Panci dan wajan ada di atas kompor yang berminyak.
Lagi-lagi aku menghela napas dengan lelah. Hari ini aku harus mencuci piring lagi.
Lapar yang mendera belum bisa kuredakan dengan nasi. Aku tidak terbiasa dengan kekacauan seperti ini. Rasanya risih untuk makan sedangkan benda-benda kotor terpampang di depanku.
Hampir sepuluh menit membereskan dapur, perut ini sudah tidak tahan lagi. Bisa-bisa sakit lambungku kumat kalau tidak segera makan. Dengan langkah yang lelah aku mendekat ke arah mejikom dan mengambil nasi, hanya tinggal sedikit. Biarlah aku makan sedikit dulu, biar nanti setengah sisanya untuk Hana.
Makan dengan lauk seadanya kini menjadi hidangan yang tersisa di atas meja. Hanya sayur sop dengan asin dan sambal. Seringnya, seperti itu kini makanan yang terhidang di dapur ini. Aku selalu menekankan pada Hana untuk hidup dengan berhemat.
"Sudah pulang, Mas?" tanya suara yang terdengar kini di ambang pintu dapur.
"Kamu dari mana? Sudah makan?" tanyaku padanya. Kulihat dia memakai pakaian rapi dan sedikit bersolek.
__ADS_1
"Oh, sudah makan di mall sama Nuri. Jalan-jalan cari angin!" serunya seraya menyimpan sandal milik Ayu di rak sepatu di belakang pintu dapur.
"Hana. Kamu harusnya hemat dong. Jangan main-main terus. Aku ini lagi bingung belum dapat pekerjaan. Kamu jangan sering-sering keluar dan habiskan uang!"
Gerakan Hana terhenti dan menolehkan kepalanya ke arahku. Tatapan tajam ia layangkan padaku.
"Habiskan uang? Mas, aku cuma bawa uang seratus ribu keluar dan kamu bilang aku habis kan uang? Aku ini bosan Mas tinggal di rumah setiap hari! Kamu udah gak pernah bawa aku main dan belanja di luar. Kamu juga gak pernah belikan apa yang aku mau. Sekarang aku cuma makan di luar dengan Nuri kamu bilang aku habiskan uang!" tanya Hana dengan nada suara tinggi. Terlihat wajahnya kini marah.
"Kamu ini suami yang pelit!" teriak Hana seraya berlalu dari hadapanku dan terdengar suara bantingan pintu kamar.
Aku menghela napas dengan lelah. Makanan yang ada di depanku sudah tidak selera lagi untuk aku makan, padahal aku masih lapar sekali.
"Hana!" aku berteriak dari luar pintu kamar seraya mengetuk pintu dengan pelan.
"Aku minta maaf. Aku salah," ucapku mengalah. Daripada dia nanti minta kembali ke rumahnya seperti beberapa hari yang lalu.
Pintu terbuka sedikit hingga memperlihatkan sosok bertubuh mungil yang bersembunyi di balik pintu, terlihat wajah Hana yang mengerucut sebal.
"Janji?" tanya Hana.
Aku tersenyum, tidak tahan dengan wajahnya yang menggemaskan seperti ini.
"Janji, tapi kamu sabar, ya." pintaku padanya. Aku mendorong pintu itu lebar dan masuk ke dalam kamar. Menarik kepala yang menunduk itu hingga wajahnya kini berhadapan denganku. Wajah manis dan imut ini sangat cantik dengan perona pipi dan juga lipstik yang tidak berlebihan. Kukecup bibirnya dan ********** meski dia tidak membalas. Manis.
"Nanti, kalau aku sudah bekerja dan mendapatkan gaji, kita akan liburan ke laut." Janjiku padanya. Wajah yang temaram itu kini berbinar dengan senyum manis terkembang dari bibirnya.
"Beneran?" tanya Hana. Aku mengangguk.
"Beneran. Kamu bilang kemarin mau main pasir, kan?" Hana mengangguk dengan cepat dan memeluk leherku dengan kedua tangan. Kakinya berjinjit hingga kini dia lebih tinggi. Dengan cepat dia meraih bibirku dan mel*matnya dengan lembut hingga membuat aku terbuai dan melupakan rasa laparku.
__ADS_1
Setelah itu ... kami ...
Aku bangkit dari kasur yang kini berantakan karena ulah kami barusan. Rasa lelah setelah seharian mencari kerja dan juga lapar tergantikan dengan perlakuan Hana yang terkadang lembut terkadang liar. Dia sekarang sudah sangat lihai membuaiku di atas ranjang. Aku tidak pernah lelah bermain dengannya, karena kebanyakan aku hanya tidur rebahan tanpa harus berbuat banyak. Dia lah yang bergerak naik turun dengan lincah hingga membuat buah kembar yang ada di depan tubuhnya naik turun dengan menggemaskan.
Kulirik Hana yang kini menaikkan selimut hingga menutupi dadanya. Dia terlihat lelah dengan apa yang telah kami tadi lakukan. Kudekati dia dan mengecup keningnya dengan lembut.
"Mandi?" tanyaku.
"Nanti, ah. Capek," ujarnya. Aku membiarkan dia untuk melaju ke arah mimpi.
Ku buka lemari pakaian setelah barusan mandi dengan singkat. Aku terdiam ketika melihat kunci yang tergantung di laci. Perasaan aku tidak pernah menyimpan kunci menggantung disana.
Segera kubuka laci itu, seketika pemikiran buruk terlintas di kepalaku. Mungkinkah?
Beberapa kertas aku singkirkan dan aku mencari benda penting yang jangan sampai hilang dari sini. Tidak ada! Aku melirik ke arah Hana yang masih tertidur dengan pulas.
Malam hari aku bertanya pada Hana tentang buku nikah milik Ayu yang hilang dari dalam laci. Wanita itu hanya bicara dengan santai jika dia sudah memberikannya pada Ayu siang tadi. Jadi, dia berbohong padaku, Dia bukan keluar dengan temannya, tapi bertemu dengan Ayu untuk memberikan dia buku itu.
"Kamu tau gak sih kalau buku itu penting buat aku?'' tanyaku dengan nada marah.
"Aku tau, tapi aku gak peduli! Aku tau kamu gak mau pisah dengan Ayu, kamu mikir gak sih, Mas! Ayu udah gak mau sama kamu! Ayu juga bilang kalau dia ingin mundur dari pernikahan ini! Kamu harusnya sekarang perhatikan aku dong! aku ini sedang mengandung anak kamu!" teriak Hana dengan marah. Aku tidak bisa mendebatnya. Rasanya marah sampai ke ubun-ubun. Ingin sekali aku meremas wajahnya yang menatap dengan menantangku seperti itu.
"Akh!!! Dasar istri ...." Aku tidak bisa menahan amarah ku lagi. Segera aku menyambar kunci mobil dan pergi ke rumah Ibu.
Di rumah, Ibu tidak mendukungku. Ibu malah membenarkan apa yang Hana bilang tadi sedari dulu memang Ibu menyuruhku untuk menceraikan Ayu, tapi sampai kapan pun aku tidak mau!
Keesokan harinya aku pergi ke rumah Ayu. Kulihat dia sedang berjalan kaki dengan Sinta. Anak tetangga yang menyebalkan hingga membuat aku diusir malam itu.
"Ayu!" Ku tahan tangannya dan sedikit menariknya saat dia akan masuk ke dalam.
__ADS_1