
Hilman
Sudah hampir satu minggu aku bekerja di perusahaan milik Arga. Alhamdulillah selama di sini tidak ada orang-orang yang memberatkanku. Mereka semua baik sekali, beberapa orang mau membantuku untuk menerangkan dan membimbing jika aku merasa bingung dengan pekerjaanku. Jujur saja sebelumnya aku tidak pernah memegang bagian gudang. Ini pertama kalinya untukku, tapi aku harus banyak belajar agar bisa memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini, untuk orang yang telah baik hati memberikan pekerjaan ini untukku.
Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan. Barang yang datang harus aku catat dan aku awasi, menghitung segala sesuatunya agar valid dengan catatan yang lainnya. Aku mencoba bekerja sebaik mungkin, jika salah mencatat tentu saja yang akan repot aku sendiri juga.
Beberapa barang telah diturunkan di dalam gudang dari sebuah mobil box milik perusahaan. Beberapa karung berupa bahan mentah untuk pembuatan benang yang akan diolah kembali menjadi lembaran kain dan kemudian dipotong dan dijahit sehingga akhirnya menjadi baju yang cantik. Awalnya aku tidak tahu bagaimana tahu cara pembuatan pakaian, meski hanya tahu seperti itu prosesnya tapi di sini aku bisa belajar banyak. Saat jam istirahatku sesekali aku pergi ke bagian lain, beberapa mesin membuat aku penasaran. Ternyata pembuatan pakaian itu tidak mudah cukup rumit dari bahan dasar.
Orang-orang yang ada di sini juga sangat ramah. Meski terkadang aku menemukan satu atau dua orang yang berbicara padaku dengan nada yang aku pikir dia tidak suka dengan kehadiranku. Apalagi aku masuk dengan koneksi di sini, melalui Arga. Akan tetapi, ya sudahlah. Namanya juga resiko pekerjaan. Yang terpenting di sini aku bekerja sama seperti yang lainnya. Jika saja dipikirkan dengan ijazahku tentu saja aku bisa mendapatkan yang lebih dari ini, tapi kembali lagi kepada usia, aku kalah dengan anak-anak muda zaman sekarang.
Tidak ingin berlarut dalam pikiranku, aku segera berjalan ke arah kantin. Setelah beberapa menit yang lalu berkutat dengan pekerjaan menurunkan dan juga mencatat, ini waktunya istirahat tiba. Aku berjalan ke arah kantin dan duduk di sana. Belum banyak kenalan yang bisa aku ajak bicara, lagi pula posisi pengawas cukup disegani, terkadang beberapa orang memilih bergaul bersama dengan orang-orang yang setara dengan mereka. Padahal aku pribadi tidak akan memilah dan memilih siapa yang akan menjadi temanku, meski mereka bawahanku sekalipun.
"Hilman," panggil seseorang. Saat aku menoleh aku mendapati atasanku mendekat dan duduk di depanku. Makanan yang hampir saja aku suapkan ke dalam mulut kini kusimpan lagi di atas piring.
"Iya ada apa, Pak?" Meskipun usianya satu tahun di bawahku, tapi aku juga harus hormat kepada dia sebagai atasanku.
"Apakah kamu lusa ada acara?"
Aku berpikir sejenak, ada maksud apakah Arga bertanya seperti itu.
"Tidak ada. Ada apa ya, Pak? Apa kita akan lembur lagi?" tanyaku kepadanya, jika memang benar akan lembur tentu aku senang sekali akan mendapatkan uang tambahan saat awal bulan nanti.
"Tidak bukan lembur. Tapi saya khusus mengundang kamu di rumah untuk acara aqiqah anak kami," ucapnya.
"Alhamdulillah, Ayu sudah melahirkan? Eh, maksudku Ibu Ayu? kapan dia lahiran?" Aku meralat ucapanku, meski dia adalah mantan istriku tapi sekarang dia juga istri dari bosku.
"Alhamdulillah, sudah ada sekitar lima hari. Kami ingin mengadakan acara aqiqah lusa, sekalian pemberian nama padanya," ucapnya sambil tersenyum ramah.
"Alhamdulillah saya ikut senang mendengar kabar bahagia tersebut. Boleh tahu laki-laki atau perempuan?" tanyaku kepadanya. Sungguh di dalam hati ini ada rasa bahagia mendengar bahwa Ayu telah melahirkan. Ada rasa sedikit iri juga.
"Laki-laki. Alhamdulillah meskipun lahir belum pada waktunya tapi dia lahir dengan sehat," ucapnya lagi.
"Sudah, saya hanya mau menyampaikan itu. Kalau Mas Hilman berkenan kami tunggu kehadirannya bersama dengan keluarga," ucapnya lagi.
Aku terdiam mendengarnya, Keluarga, bukankah aku juga harus mengajak ibu?
"Insya Allah, saya akan usahakan untuk datang. Terima kasih atas undangannya."
Dia tersenyum. "Nanti akan saya kirimkan pesan alamat lengkapnya. Saya menunggu kehadirannya ya."
"Tentu saja. Saya juga akan senang menerima undangan dari Bapak," ucapku membalas undangannya. Dia tersenyum lalu kemudian pergi dari sini. Aku melanjutkan makanku.
__ADS_1
Terdengar desas-desus samar-samar di telingaku. Aku paham karena dulu aku juga pernah seperti mereka saat ada seseorang yang masuk ke dalam perusahaan karena koneksi dari atasan. Ternyata begini rasanya, sekarang aku mengalaminya.
Aku melanjutkan makan, tidak peduli dengan desas-desus yang masih terdengar. Makanan yang ada di piring harus segera aku habiskan dan kembali ke gudang. Banyak sekali pekerjaan hari ini, semoga saja aku bisa pulang tepat waktu.
"Duh enak ya yang kenal dengan bos," ucap seseorang saat aku sudah kembali ke gudang. Yang aku tahu dia adalah pengawas dari bagian lain, memegang kendali atas mesin benang yang besar.
"Eh enak kenapa?" tanya ku berpura-pura tidak tahu.
"Beda kalau kenalannya sama bos. makan siang aja disamperin," ucapnya terdengar sinis. Aku hanya tersenyum saja menanggapi kata-katanya tersebut. Tidak ada gunanya jika berdebat dengan orang yang seperti itu.
"Udah masuk lewat koneksi, makan siang disamperin bos, bisa cepat naik pangkat nih jadi orang kantoran," ucapnya lagi. Aku kembali tidak menggubrisnya, lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaanku sendiri.
"Eh Mas, meskipun kamu masuk dengan koneksi dari bos tapi di sini kita kerja sama, ya. Jangan semena-mena kerjanya, mentang-mentang deket sama bos, suruh suruh anak buah semaunya." Dia terus berbicara meracau tidak jelas sampai telinga ini rasanya panas.
"Sudah selesai belum bicaranya?" tanya aku memotong ucapannya.
"Meskipun di sini saya masuk karena koneksi dari atasan, tapi di sini saya kerja seperti kalian. Tidak ada namanya diskriminasi kepada sesama pekerja lainnya. Memangnya kamu tidak tahu kalau saya juga ikut angkut-angkut karung? Kenapa kamu cuma melihat saya karena koneksi? Kenapa melihat saya karena kenal dengan bos? Apa kamu tidak bisa melihat saya dari kinerja? Saya bekerja di sini sama seperti kalian, tidak ada bedanya. Meskipun saya kenal dengan bos, saya dekat dengan beliau, tapi justru karena saya kenal dengan dia saya harus bekerja dengan sungguh-sungguh. Itu karena beliau sudah percaya kepada saya," ucapku panjang lebar. Aku memutuskan untuk meninggalkan laki-laki itu. Takut jika menjadi gila diri ini. Terutama karena memang aku masih belum bisa mengendalikan emosiku.
Bukan hanya bicara saja tadi aku mengatakan hal itu, tapi di sini aku juga benar-benar bekerja seperti yang lainnya, membantu mengangkat karung dari mobil box ke dalam troli. Memang mereka pikir aku masuk karena koneksi aku hanya kerja tinggal tunjuk-tunjuk begitu?
Kadang aku berpikir rasanya tidak enak jika mereka memandangku seperti itu. Akan tetapi, kembali lagi kepada keadaan diriku jika aku menyerah. Kapan lagi aku mendapatkan pekerjaan yang baik? Kapan lagi aku akan bisa mendapatkan uang yang banyak untuk mengumpulkan biaya pengobatan Vita?
"Saya gak papa kok, dunia kerja memang sudah biasa seperti ini. Mungkin ini juga karma buat saya sendiri, dulu saya pernah julidin orang, sekarang saya yang jadi artisnya." Aku tertawa membuat beberapa bawahanku juga ikut tertawa.
Di sini aku memang harus merendah, jika dulu aku bersikap angkuh di perusahaan, di sini aku tidak akan bersikap seperti itu lagi. Kami sama-sama bekerja, kami sama-sama mendapatkan uang, meskipun sebutan yang kami miliki berbeda.
"ini sudah selesai semua," ucap salah satu pemuda yang lain dari dalam mobil box. Aku juga melihat sudah tidak ada apa-apa lagi di sana. Ku gerakan tangan ini kode sebagai dia menutup pintu mobil box tersebut dan membawa mobil itu keluar dari sini.
Aku bersama rekan-rekan yang lain mulai membereskan barang yang datang barusan. Mulai membuat laporan barang masuk dan kemudian melakukan pengecekan yang lainnya.
...***...
Seperti janjiku kemarin kepada Arga aku datang ke rumahnya. Sengaja tidak mengajak Ibu karena aku takut jika ibu akan membuat masalah di sana. Mengingat sekarang sikap beliau menjadi labil dan terkadang aku tidak bisa mengaturnya sama sekali. Aku berdusta dengan mengatakan kepada Ibu bahwa kami akan berkunjung ke rumah dokter untuk berkonsultasi.
Sebenarnya tidak enak hati juga meninggalkan Ibu seperti itu, tapi melihat dari perangainya aku sangat takut sekali jika nanti terjadi hal yang tidak diinginkan.
Aku mengendarai motorku dengan Vita yang ada di dalam gendongan. Vita aku pakaikan jaket yang tebal dan juga topi serta sepatu, sebenarnya tidak baik terkena angin sore seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? untuk menyewa taksi online aku tidak mampu. Uang yang ada dompetku sudah menipis, hanya bisa berangkat dan aku yakin tidak akan sampai ke rumah nanti.
Perjalanan sedikit lama karena aku melajukan motorku dengan kecepatan yang sedang, menghindari angin yang sudah mulai dingin. Vita sedari tadi berceloteh riang, seperti itulah jika aku membawa dia keluar dengan menggunakan motor. Dia jarang sekali aku bawa pergi, karena kesibukanku selama ini. Hari ini pekerjaan di pabrik hanya setengah hari karena ini adalah hari Sabtu, dan juga aku mendapatkan undangan dari Arga kemarin. Waktuku ini kugunakan untuk pergi berdua dengan Vita saja.
Hampir dua jam kami baru sampai di rumah Arga. Aku memperhatikan rumah itu sangat besar sekali. Mobil-mobil yang ada di garasi sana terlihat bagus, dan dari mereknya aku tahu jika mobil itu mahal. Sedikit ragu masuk ke dalam rumah tersebut, aku melihat pakaianku yang mungkin tidak layak jika dibandingkan dengan mereka. Jujur aku minder. Aku diam di depan rumahnya, bingung apakah akan melanjutkan masuk atau pulang kembali.
__ADS_1
"Eh. Hilman kenapa tidak masuk?"
Aku menolehkan kepala saat mendengar suara itu.
Duh, di saat seperti ini saat aku ingin kembali saja malah bertemu dengan tuan rumah.
"Ayo masuk ke dalam, Ayu pasti sudah menunggu kamu," ucapnya berteriak dari dalam mobil. Aku mengganggukan kepala, menggerakkan tanganku pertanda agar dia masuk terlebih dahulu. Niat hati ingin pulang aku batalkan, sudah terlanjur ketahuan aku ada di sini. Motor butut dengan asap yang keluar dari knalpot kini memasuki rumah tersebut.
Ah, rasanya aku semakin kecil di sini. Sedikit menyesal karena tadi aku memutuskan untuk datang.
"Ayo cepat masuk acara mungkin sebentar lagi akan di laksanakan," ucapnya sambil menggerakkan tangannya memintaku untuk masuk. Helm yang aku kenakan aku gantungkan pada motor, juga dengan kain gendongan Vita yang aku lepaskan dan aku simpan bersama dengan helm. Menatap deretan-deretan mobil yang ada di sana sangat kentara sekali jika kendaraanku memang yang paling tidak layak.
"Ayo kita sama-sama masuk," ucapnya lagi sambil mengulurkan tangan mengusap kepala putriku. Aku terpaku karena sikapnya barusan. Terkadang sering berpikir apakah dia tidak punya rasa cemburu? Mengundang aku untuk bekerja di perusahaannya, yang sekarang ini mengundang aku di acara yang pentingnya. Apakah dia tidak punya pemikiran atau rasa cemburu saat aku bertemu dengan istrinya?
Di dalam rumah sudah banyak orang yang hadir, aku mengedarkan pandanganku tidak ada yang aku kenal disini kecuali ....
Aku menundukkan kepala saat tatapan ku beradu dengan seseorang. Jelas sekali wanita yang dulu sangat ramah senyum terhadapku kini berwajah datar dan seakan tidak peduli dengan kehadiranku di sini. Aku sadar pastilah beliau masih marah, siapa yang akan terima jika aku berbuat jahat kepada anaknya.
Vita terlihat senang saat melihat banyak orang di sini. Mungkin karena di rumah dia selalu hanya berdua dengan ibu atau sesekali Dewi datang ke rumah.
"Eh ternyata kamu sudah datang Mas?" Ayu mendekat bersama dengan bayinya. Terlihat sangat tampan sekali lagi-lagi mirip dengan ayahnya. Sepertinya sedikit tidak adil untuk Ayu, kenapa tidak mirip dengan ibunya?
Ayu mengusap kepala Vita, senyum tersungging pada bibirnya, beberapa yang ada di sana menatap heran kepada kami. Mungkin karena aku adalah orang asing di sini.
"Iya, rasanya aku tidak enak kalau tidak datang, sudah diundang kemarin sama Arga. Maaf aku tidak bisa mengajak Ibu, dan juga aku tidak bawa apa-apa" ucapku malu.
"Gak apa-apa, kok."
Ayu menggangguk seraya tersenyum. "Sepertinya aku mengerti, kenapa kamu gak bawa ibu" ujarnya.
Aku tersenyum malu karena ucapannya tersebut. Mungkin masih ada rasa tidak senang pada hatinya terhadap ibu.
"Ini siapa namanya cantik sekali?" tanya dia menjawil pipi putriku.
"Namanya Vita."
"Oh, Cantiknya Vita!" Ayu mengajak Vita berbicara Dan disambut oleh Vita dengan teriakan khasnya. Vita memang belum lancar berbicara, mungkin karena sakitnya itu yang menurut dokter bisa sedikit membuat lambat kembang tumbuhnya.
"Mas aku ke sana dulu ya. Silakan kamu nikmati hidangan yang ada di sini, jangan sungkan-sungkan," ucapnya kepadaku aku hanya mengangguk sebagai jawabannya dan kemudian dia pergi mendekat kepada suaminya.
Acara pengajian aqiqah ini berjalan dengan lancar, bagiku acara ini cukup meriah, karena mendatangkan grup marawis dan juga mengundang anak yatim piatu. Aku senang dan bahagia melihat senyum Ayu di sana. Dia sudah menemukan laki-laki yang tepat untuknya. Orang yang bisa menerimanya dengan baik dan juga tulus.
__ADS_1