
“Saya akan memaksa Uwak untuk berikan Mbak Dewi buat saya.”
“Kamu kira anak saya barang diberikan?” ujarnya dengan nada yang sangat dingin sekali sehingga membekukanku.
“Bukan begitu, Saya akan meminang Mbak Dewi untuk saya. Saya akan bawa keluarga saya datang kemari untuk meminta izin kepada Uwak meminta Mbak Dewi dengan baik-baik,” ucapku lagi dengan yakin, kepalang tanggung sudah bilang seperti itu tadi kepada ayahnya. Sekalian saja aku lamar anaknya. Soal penolakan ya jangan sampai. Aku bisa gila nanti kalau ditolak sama bapaknya!
“Kamu mau nikah sama anak saya, kamu tuh punya apa?” tanya Wak Hendro lagi.
Deg!
Dari jantung yang berlompatan, kini rasanya dipaksa berhenti untuk berdetak. Pertayaan yang jelas sulit aku untuk mencari jawabannya. Hanya cinta? Mana ada menikah dengan bermodalkan cinta saja, jelas mereka mengharapkan jika anaknya akan hidup aman, bahagia, dan sentosa.
Aku menunduk dalam, tidak tahu lagi harus bicara apa dengan pertanyaan tadi. Punya apa? Jelas aku tidak punya apa-apa, punya utang yang menumpuk yang belum aku lunasi.
“Kamu gak bisa ngomong, kan? Lalu apa hak kamu minta Dewi untuk kamu kalau kamu saja gak bisa jawab?” ucap Wak Hendro lagi.
Aku benar tidak bisa menjawab kali ini. Pertanyaan yang sangat sulit sekali.
“Jujur saja, saya hanya punya modal sedikit jika untuk meminang Mbak Dewi, tapi saya yakin kalau saya bisa membahagiakan dia, saya akan berusaha keras untuk membahagiakan Mbak Dewi, tidak akan buat dia kecewa.”
“Yakin? Gimana dengan dua istri yang lain? Kamu pernah menikah dua kali dan kamu bercerai karena pertama, istri kamu yang pertama di kecewakan, yang istri kedua karena kamu tidak bisa memberi materi yang cukup untuk dia. Terus sekarang anak saya mau kamu kasih apa? Dengan track record kamu selama ini bagaimana bisa kamu dengan beraninya meminta Dewi, hah?” tanya uwak padaku. Aku menunduk semakin dalam, tidak bisa berkutik dengan ucapan uwak yang benar adanya.
“Saya memang pernah gagal dengan dua pernikahan saya. Uwak gak salah kalau khawatir dengan Mbak Dewi jika menyerahkan kepada saya. Saya hanya bisa bilang jika akan melalukan segala yang terbaik untuk membahagiakan Mbak Dewi.”
“Hanya modal nekat?” tanya uwak padaku.
__ADS_1
Aku terpaksa mengangguk. Yang saya punya hanya itu. Saya hanya punya tekat dan saya yakin kalau saya bisa membahagiakan Mbak Dewi jika hidup dengan saya.”
“Ibu mu?” tanya uwak.
Apa lagi ini ya Allah! Kenapa sampai bertanya dengan ibu?
“Ibumu bagaimana? Kamu tahu lah, dia orang yang seperti apa,” ujar uwak, benar-benar seperti aku sedang dihadapkan pada keputusan sulit yang jika salah menjawab maka sebuah belati siap untuk menghujam ke tubuhku.
“Saya … ibu akan setuju apa pun keputusan yang saya ambil,” ucapku.
“Ibu juga sudah mengerti bagaimana porsinya kini, tidak akan ikut campur soal kehidupan kami kelak.” Entah apakah itu jawaban yang benar atau tidak, tapi aku hanya bisa memikirkan jawaban yang itu saja.
Uwak mengubah duduknya, dari bersandar kini menjadi condong ke depan.
“Kamu punya uang berapa untuk menikah dengan anak saya?” tanya Wak Hendro lagi.
“Hanya segitu? Dan kamu bilang itu untuk modal kamu menikah? Berapa uang yang akan kamu berikan tiap bulannya kepada anak saya?” tanya uwak lagi. Aku semakin ciut ditanya seperti itu olehnya.
Aku jawab saja dua juta setengah. Takut, rasanya emejing ditanya seperti itu oleh uwak. Entah apkah jawabanku itu bisa diterima atau tidak.
“Apa kamu punya hutang? Saya dengar kemarin baru dapat pinjaman?” tanya uwak.
Duh, mati aku!
"Iya, Wak. Saya memang punya tanggungan hutang ke bank, maka dari itu saya hanya bisa memberi Mbak Dewi dua juta setengah dari gaji saya, sisanya saya cicilan utang ke bank.”
__ADS_1
Sudah lah pasrah saja, bagaimana nanti ke depannya. Sepertinya aku akan diusir dari sini sebentar lagi, karena kening Wak Hendro kini sudah mengkerut dan senyum itu terlihat sangat sinis.
“Tapi saya juga jadi ojek online, Wak. Saya bisa mendapatkan tambahan dari sana,” ucapku.
“Kamu kasih anak saya uang segitu lalu ibu kamu?” tanya wak Hendro lagi.
Aku tidak tahu. Jujur saja jika uang gaji yang aku terima setelah dikurangi cicilan utang ke bank memang jumlahnya sekitar segitu. “Saya akan carikan dari hasil ngojek,” ucapku lagi, entah bagaimana nanti hasilnya, tapi hanya itu yang bisa aku katakan pada Wak Hendro.
“Berarti kamu akan kasih uang yang gak tentu sama ibu kamu?” tanya nya lagi. Apakah pertanyaan orang yang lamaran sebanyak ini? Rasanya aku ingin berteriak dan meminta tolong kepada orang lain untuk menolong menjawab semua pertanyan ini.
“Jika saya sudah menikah, saya akan prioritaskan istri dan anak saya terlebih dahulu, tapi saya akan meminta izin juga untuk tetap bertanggung jawab kepada ibu dengan cara saya sendiri. Bukan berarti saya akan mengkhianati istri saya dengan soal pendapatan, saya akan jujur dengan dia jika masalah uang, tapi izinkan saya untuk bisa mencari nafkah dengan cara mengojek untuk ibu.”
Wak Hendro kini terdiam, tidak bicara lagi, tapi anehnya malah membuat aku merasa takut degan kediamannya ini.
“Anak saya tidak akan bisa punya anak,” celetuk Wak Hendro tiba-tiba yang membuat aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dengan tidak percaya.
“Dulu, Dewi memiliki sakit, dan terpaksa untuk kesembuhannya rahimnya harus diangkat. Jadi, apakah kamu mau terima wanita yang tidak bisa memberi keturunan?” tanya Uwak.
Baru aku tahu ternyata ada kejadian pahit yang menimpa Dewi, mungkin inilah alasannya kenapa sampai usia sekarang ini Dewi belum menikah dengan orang lain.
Aku masih menatap Wak Hendro dan istri, terlihat di wajah tua itu tersirat kesedihan yang mendalam, terutama sang ibu yang kini sudah menitikkan air matanya.
“Hilman juga tidak bisa memiliki anak, Wak. Anak yang ada sama Hilman sekarang adalah anak mantan istri Hilman dengan selingkuhannya,” ucapku dengan jujur. Terlihat uwak menatapku seakan tidak percaya. “Kalau Dewi mau mengurus bayi yang lain Hilman persilakan. Hilman gak akan larang karena Hilman juga tidak bisa memberi seorang wanita keturunan,” ucapku lagi.
Wak Hendro terlihat mengusap sudut matanya, sedangkan aku menahan napas ku kini. Menunggu apakah ku akan diusir dari sini?
__ADS_1
“Sekarang kamu pulang!”
Aku menatap Wak Hendro dengan tidak percaya, ternyata aku memang diusir!