Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
96. Maaf tentang Masa Lalu


__ADS_3

"Kamu harus lebih hati-hati, karena dengan kamu hidup sendiri, semakin banyak cobaan dan godaan yang mendekat sama kamu. Terutama para lelaki. Kamu harus hati-hati, ya."


Deg!


Ucapan Arga membuat hatiku serasa aneh. Entah seperti apa, tapi membuat dada ini berdebar saja. Ya ampun, rasa ini ... ada apa dengan diriku ini?


Jangan sampai ada sesuatu hal yang membuat aku gamang dan ingkar dengan apa yang aku katakan kemarin kepada Dokter Wira. Rasanya tidak adil juga jika aku membiarkan perasaan ini berubah menjadi suatu hal yang tidak diinginkan. Aku harus bisa menjaga diri dan juga perasaanku terhadap orang lain.


"Iya, tentu saja aku akan menjaga diriku. Terima kasih," ucapku kepadanya.


Arga tersenyum seraya mengangguk, lalu kembali fokus pada jalanan di depan.


Suasana kembali hening tak ada yang berbicara diantara kami. Risma juga masih tertidur.


Hampir setengah jam kami di perjalanan dan masih hanya diam. Sesekali Arga melirik kepadaku, aku tahu dari sudut mata ini, dan aku hanya bisa menundukkan kepala. Malu rasanya dan aku juga tidak tahu kenapa serasa ingin segera sampai ke rumah dan tak lagi dekat dengan dia.


"Gang rumah kamu, dimana ya? Aku agak lupa," ucap Arga.


Aku mengangkat kepala dan melihat ke arah sekitar. Ini memang sudah dekat dengan gang rumahku.


"Em, itu. Masih di depan. Gak jauh, kok." Aku menunjuk ke arah depan. Arga hanya menganggukkan kepalanya.


"Ya ampun, sudah sangat lama sekali aku gak kesini," ucapnya dengan tawa kecil.


Aku juga ikut tertawa mengingat masa lalu saat bersama dengan pria ini. Di bonceng menggunakan motor besar hingga aku kesulitan saat naik atau turun menggunakan rok sekolah yang pendek, jadilah dia memarkirkan motornya dulu setelah itu membantuku untuk turun.


Aku hanya gadis miskin yang tak pernah naik motor gede sama sekali, dan dengan Arga aku merasakan bagai jadi gadis-gadis di dalam drama TV yang aku tonton pada masanya.


"Kenapa tertawa?" tanya Arga, kini mobil sudah mendekati gang besar menuju ke rumah.


"Gak ada," jawabku. Aku malu jika harus membahas soal yang tadi aku pikirkan.


"Bohong! Kalau gak ada yang kamu pikirkan gak mungkin kamu ketawa seperti itu." Arga mendesakku.


"Apaan sih? Aku jadi kepo!"

__ADS_1


"Itu, tidak ada!" Sungguh aku tak mau mengulangi cerita masa lalu.


"Ya sudah," ucapnya pasrah.


"Eh, gangnya yang mana ini? Sudah sangat lama gak kesini, semua sudah berubah banyak. Aku jadi lupa ke mana beloknya."


Aku menunjuk gang yang masih berjarak beberapa ratus meter dari sini. Arga hanya mengangguk dan memelankan laju mobilnya supaya tidak kebablasan.


"Ini kan?" tanya Arga. Aku mengangguk. Dia membelokkan mobil ke dalam gang yang lumayan besar. Cukup lah untuk dua mobil lewat meski salah satu harus mengalah untuk berhenti.


"Dulu masih banyak pohon di sekitar sini, sekarang sudah berubah banyak menjadi rumah dan toko," ucap Arga.


"Iya. Sudah banyak yang berubah," jawabku.


"Kamu juga berubah banyak, Yu."


"Eh? Apa?" Aku menatap padanya dengan tak mengerti.


"Eh. Tidak! Hehe. Maaf," ucapnya dengan tawa kecil.


"Sama seperti tempat ini, kamu juga banyak berubah. Makin dewasa," tambahnya.


"Eh, iya lah. Semakin tambah usia kan harus semakin dewasa," ucapku berusaha untuk bersikap biasa, padahal dalam hati ini rasanya tak karuan.


"Iya. Aku senang ketemu lagi sama kamu, Yu. Aku kira kita gak akan bertemu lagi." Aku menundukkan kepala, entah kenapa tak ingin menatapnya sama sekali. Ucapannya membuatku merasa aneh.


"Maaf ya, soal masa lalu yang sudah menimpa kamu karena ulahku," ucap Arga lagi.


"Yang mana?"


"Yang waktu itu sampai terciduk polisi. Aku gak tau kalau ternyata Vano bawa kamu ke apartemen," ucap Arga dengan suara yang pelan.


"Tidak apa-apa, itu sudah jadi masa lalu, kenapa harus di sesali?"


Terdengar helaan napas yang berat darinya.

__ADS_1


"Kau saja polisi tidak datang, mungkin kita gak akan berpisah, Yu."


Refleks aku menatap padanya. Arga hanya terfokus pada jalanan di depan sana. Dia berbicara seperti ini, apakah dia masih berharap padaku?


"Aku memang pemakai, tapi aku masih bisa menahan diriku. Hari itu aku gak pake barang haram sama sekali, tapi polisi datang dan menciduk kita. Aku masih merasa bersalah sedari waktu itu. Andai Vano gak bawa kamu kesana, kamu gak akan kecewa karena tahu aku adalah pemakai dan juga parahnya kita harus berpisah," ucap Arga terdengar sendu.


Arga juga bercerita setelah apa yang terjadi waktu itu hingga dia kemudian menghilang dari sekolahan. Teman-temannya pun tak tahu pergi kemana, ternyata Arga masuk panti rehabilitasi dan dikirim sang ayah ke tempat kakeknya.


"Aku minta maaf, ya." sesalnya sekali lagi.


"Sudah lah, Ga. Aku bilang juga itu hanya masa lalu," ucapku padanya.


"Aku gak mau bahas itu lagi. Mungkin memang itu jalan yang terbaik untuk kita, supaya kamu gak terjerumus semakin dalam ke jalan yang tidak benar."


"Hem, iya. Aku pikir juga begitu, bisa jadi kalau tidak ada polisi mungkin aku bisa saja terjerumus semakin parah, tapi sayangnya semua itu kamu melihatnya. Apa aku sudah bikin kamu sedih dulu?" tanya Arga sekali lagi.


Aku mengangguk. "Iya, aku sedih karena orang yang aku kenal ternyata tidak dalam keadaan baik-baik saja," jawabku.


Sekali lagi Arga menghela napasnya dan mengembuskannya dengan kasar.


"Aku sangat menyesal, Yu."


Aku tak bisa berkata apa-apa lagi untuk menjawabnya. Mendengar dia menyesal seperti itu membuat perasaanku jadi aneh tapi juga menjadi lega, kami terdiam setelah itu.


Entah dengan Arga, tapi aku jujur saja merasa menjadi tidak nyaman sekarang ini. Ingin segera sampai di rumah dan tidur.


Untungnya memang tidak terlalu jauh lagi, dari sini hingga hanya beberapa menit saja mobil sudah sampai di depan rumah.


Arga menatap ke arah rumahku.


"Semua banyak yang berubah, tapi rumah ini masih tetap sama," ucap Arga.


Aku tersenyum, ternyata Arga masih mengingat rumah ini yang memang tidak ada perubahan kecuali cat dan genteng yang sudah tak lapuk lagi.


"Iya, semua yang ada disini tidak berubah, Ga. Masih tetap sama seperti dulu," ucapku.

__ADS_1


Arga masih menatap rumah tempat aku dan Ibu tinggal.


"Iya, masih tetap sama, tidak berubah. Dan aku harap kamu juga tidak berubah. Tetap lah menjadi Ayu yang kuat seperti yang aku kenal dulu."


__ADS_2