Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
138. Arga. Sakit Hati Kedua Kali


__ADS_3

Pov Arga


"Ibu ... Ibu bilang sama aku kalau Ibu sedang menunggu seseorang untuk datang mengkhitbah aku."


Aku terkejut saat Ayu mengatakan hal itu. Kepalanya tertunduk, suaranya terdengar lirih tidak bersemangat sama sekali. Jari jemarinya bergerak saling meremat satu sama lain. Suara orang-orang dan kendaraan yang terdengar dengan jelas, kini tidak terdengar apapun lagi di telingaku. Fokusku kini ada pada wanita dengan jilbab biru langit yang ada di depanku. Di mana wanita ini yang sedari dulu membolak-balikan hati dan pikiran. Jangankan sekarang aku yang sedang sendirian, dulu saat aku menikah pun ... ah, aku rasa aku sudah gila! Aku tidak bisa menghentikan kepala ini untuk terus memikirkan dia.


Maafkan aku Haifa, aku sudah berlaku dzolim sama kamu selama kita berumah tangga. Meskipun aku tidak pernah menyebutkan nama Ayu di depan Haifa, tapi sikapku padanya selama ini biasa saja, tidak pernah berlebihan. Tidak bisa memberikan cinta yang seutuhnya. Jangankan untuk bermesraan, bicara saja kami hanya seperlunya, dan sialnya saat kami melakukan hal itu ... yang aku pikirkan adalah Ayu.


Aku pria brengs*k!


Kutatap Ayu yang masih saja menunduk, tidak menyangka dan tidak bisa mengucapkan apa-apa selain hanya bisa mengepalkan jari pada telapak tangan. Aku mencoba untuk menahan diri, jika saja aku masih Arga yang dulu, tentu aku sudah menculik Ayu dan membuatnya tidak bisa lepas dariku. Biar saja, biar Ibunya terpaksa mengizinkan kami untuk bersama. Akan tetapi, aku masih bisa berpikir dengan baik dan waras. Aku tidak mau rasa yang ada untuk Ayu membuat dia jadi benci terhadap diri ini.


Ayu masih terdiam, kami tidak berbicara sepatah kata pun. Suara orang-orang yang berlalu lalang di dekat kami sudah kembali terdengar.


Apa yang aku dengar ini seharusnya tidaklah aneh dan mengejutkan sebenarnya, mengingat jika Ayu sudah resmi sendiri dari beberapa bulan yang lalu dan Ibunya pasti ingin Ayu memiliki seorang pendamping yang bisa menjaganya. Entah apa yang membuat Ibunya tidak merestui aku yang ingin dekat dengan dia. Akan tetapi, ucapannya barusan itu ....


Ah, sial! Hatiku ....


Bagai bunga yang kehilangan kelopaknya. Lebah yang kehilangan madunya, dan peternak yang kehilangan sapinya. Arrgghh! Ada apa denganku? Bukankah sudah jelas jika dengan penolakan Ibunya, harusnya sudah membuat aku mematikan harapan dan asaku pada wanita ini?


Ya, Tuhan! Aku hanya ingin hidup tenang. Kenapa Kau hadirkan dia jika harus membuat aku kembali terluka?

__ADS_1


"Kalau begitu selamat. Aku turut senang dengan kabar berita ini," ucapku seraya mengulurkan tanganku padanya.


Ayu mengangkat kepalanya, dia menatap tanganku dan beralih padaku, tatapannya terlihat lain dari biasanya, matanya berkaca-kaca.


"Kamu ... Aku minta maaf," ucapnya lagi kembali dia menundukkan kepalanya tanpa ada niatan untuk menyambut tanganku. Kutarik tangan ini dan menatapnya dengan tajam. Ada rasa sedih dan juga tidak terima dia akan bersama dengan yang lain.


Ya, Tuhan! Aku pernah patah hati, tapi patah hati kali ini sangatlah sakit sekali mengetahui Ayu akan bersama dengan yang lain untuk yang kedua kalinya. Ku coba untuk menetralkan rasa di dalam hati ini meski rasanya sulit sekali.


"Tidak apa-apa. Kamu berhak untuk dapatkan kebahagiaan kamu," jawabku.


Sejenak aku terdiam. Bodoh! Kenapa aku mengatakan kalimat itu? Tentu jika dia dijodohkan dengan yang lain Ayu tidak bahagia, bukan?


Kami kembali terdiam.


"Aku akan berusaha, meski rasanya sangat sulit, Yu. Tapi kamu jangan khawatir, aku ini laki-laki. Sakit hati tidak apa-apa, yang penting kamu baik-baik saja," jawabku.


Ayu menatapku, tatapannya lembut dan sendu.


"Jadi kamu rela saja kalau aku dengan yang lain? Kamu tidak akan mencoba untuk berusaha lagi?" tanya Ayu lagi.


Aku bingung. Jika aku terus maju, bagaimana tanggapan Ibunya? Bukankah beliau akan merasa tersakiti jika putrinya tidak menurut pada ucapannya?

__ADS_1


"Aku ... jika Ibu kamu sudah memutuskan, aku bisa apa, Yu? Aku tidak mau membuat Ibu sedih lagi. Kamu lebih baik menurut saja dengan ucapan Ibu. Bagaimanapun juga restu dari seorang Ibu adalah hal yang terbaik di dunia ini."


Ayu tersenyum mendengar ucapanku. Senyum yang mungkin sebentar lagi tidak akan kutemui jika Ayu tidak lagi bekerja di kantor. Hal yang pernah aku bayangkan bersama dengan Gara tentang Ayu harus benar-benar dikubur di dasar hingga tidak akan muncul lagi ke permukaan.


"Kalau begitu, aku tunggu kamu di rumah."


Aku tersentak mendengar ucapannya. Tidak mengerti dengan maksud dia. Apakah dia juga mengundangku di saat pernikahannya nanti? Secepat ini kah dia akan pergi?


Aku menunduk, mengatasi debaran hati yang berdebum kencang, ingin sekali rasanya berteriak dan juga membanting sesuatu ke tanah. Atau ... aku datang saja nanti dan mengacaukan pesta mereka?


Sedetik aku menutup mata, mencoba untuk menenangkan hatiku kembali. Tidak ingin terlihat di matanya jika aku sedang marah dan emosi.


"Aku tunggu kamu datang, Ga. Jangan lupa bawa orang tua kamu serta," ucapnya.


Aku mengalihkan tatapanku. Luka di dalam hati ini semakin melebar, senyumannya saat dia mengundangku tadi memperlihatkan jika dia pun bahagia. Apakah dia sudah bertemu dan cocok dengan pria itu? Apakah dia pria yang baik? Seberapa tampannya dia? Apakah dia akan sayang dengan Ayu dan juga Ibunya? Apakah dia akan menerima kekurangan Ayu yang sulit mempunyai keturunan? Bagaimana jika Ayu dipersulit oleh keluarganya nanti?


Ya, ampun! Kenapa aku berpikiran seperti ini? Harusnya aku mendoakan hal yang baik-baik untuk dia.


"Aku tidak bisa janji. Tapi akan aku usahakan untuk datang," ucapku. Sakit! Aku patah hati kembali!


"Jadi, kamu gak mau datang? Kalau begitu kamu akan melewatkan kesempatan untuk dapatkan restu dari Ibuku?"

__ADS_1


"A-apa?"


__ADS_2