Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
82. Ajakan Dokter Wira


__ADS_3

Rasa hati senang karena akhirnya aku menjadi seorang yang bebas. Bukan berarti aku senang dan bebas karena tak ada yang mengaturku. Eh ... benar. Tak ada yang mengaturku!


Alhamdulillah, meskipun kini dengan predikat single, tapi aku tak masalah. Nafkah juga sudah lama Mas Hilman tidak berikan, tapi aku masih tetap bisa makan dengan enak. Tidur pun juga nyenyak.


Ibu sudah berangsur pulih, sudah tidak merasakan sakit lagi pada kepalanya. Uang sisa operasi masih cukup banyak, aku kembalikan lagi pada Diana sebanyak yang Diana pinjamkan untukku. Dan soal pembayaran atas jasa Mbak Wanda, wanita itu menolak saat aku bertanya berapa banyak yang harus aku bayarkan padanya. Dia bilang tidak usah, karena dia berniat membantuku. Aku jadi tidak enak hati padanya. Apa mungkin karena Dokter Wira membayarkan untukku? Akan tetapi dia menjawab, bukan. Ini murni karena dia ingin menolongku saja.


Kini aku membuka warung kecil di depan rumah dengan sisa uang yang aku punya. Lumayan sambil menunggu warung, aku juga bisa sambil mengetik di kala menunggu pembeli. Tak besar tempat ini, hanya seukuran 2×3 meter. Ruang tamu yang luas aku bagi dua untuk membuka warung kecil ini. Sabun, minyak, garam, kopi, dan juga jajanan snack serta minuman aku jual. Apapun asal menjadi uang tak apa lah.


Cibiran para tetangga yang seringkali julid terhadapku sudah tak aku hiraukan lagi. Memangnya kenapa jika janda? Adakah yang salah?


"Awas jangan lama-lama, nanti kepincut sama penjualnya!" seru seorang tetangga saat ada tetangga lain membeli roko dan juga kopi di warungku.


"Apaan sih, Mbak!" seru pria yang ada di depanku. Dia terlihat salah tingkah dan segera mengambil uang kembalian lalu pergi dari warungku.


Aku keluar dari warung dan melihat tetangga yang sering julid itu sedang mengambil jemuran.


"Mbak, apa sih Mbak ini. Saya itu cuma melayani pembeli aja, loh. Kok ucapannya itu begitu? Seperti saya yang godain aja! Gak bisa ya mulutnya di jaga? Nanti kalau pelanggan saya sudah gak mau datang lagi ke sini karena terus di julidin sama situ, situ mau tanggung jawab borong dagangan saya?" tanyaku dengan kesal


Wanita itu hanya salah tingkah seraya menarik jemuran terakhirnya.


"Eh, Mbak Ayu. Jangan salah paham. Saya gak bemaksud julidin orang lain. Saya kan cuma bercanda aja. Dia kan ada istri di rumahnya, cuma candain aja kok. Sudah ya, saya mau beresin ini dulu," tunjuknya pada pakaian yang ada di tangannya kemudian masuk ke dalam rumah.


Aku hanya bisa menarik napas dengan kasar. Selama aku di sini, sedari aku belum bercerai dengan Mas Hilman dan sekarang aku bercerai dengannya masih saja dia bersikap seperti itu. Seringkali berkata dan membuat hati ini terasa di cubit saja. Padahal aku tidak pernah seperti itu padanya.


"Kenapa, Mbak Ayu?" suara Sinta terdengar di belakang sana. Aku menoleh padanya, terlihat seperti bingung.


"Biasa!" jawabku lalu masuk ke dalam rumah. Sinta hanya mencebik karena aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Jika Sinta tahu tetangga julid lagi, bisa-bisa heboh seperti dulu. Hampir saja ada acara jambak menjambak gara-gara omongan tetangga yang satu itu.


"Assalamualaikum!"

__ADS_1


Baru saja aku duduk dan ingin melanjutkan acara menulisku ada seseorang yang mengucap salam dari luar.


"Waalaikum salam!" jawabku, lalu bangkit dan berjalan ke arah luar.


"Ayu!" Dia tersenyum saat melihatku. Aku hanya membalas senyumnya dengan terpaksa.


Ku persilakan dia masuk dan duduk di sofa. Laptop aku tutup kembali dan ku singkirkan dari atas meja.


"Sebentar, saya buatkan minum, ya." Pintaku meminta dia menunggu.


"Ah, tidak perlu. Jangan, Mbak Ayu. Saya kesini hanya sebentar saja, kok." Tangannya melambai dengan cepat di depan dadanya


Aku kembali duduk.


Dia terlihat salah tingkah saat aku menanyakan kedatangannya.


"Anu ... saya, mau ajak Mbak Ayu ke pesta pernikahan saudara saya. Saya agak gimana ya, kalau datang sendirian," ucapnya dengan malu. Kaca mata yang merosot dia benarkan kembali di tempatnya.


"Dokter Wira!" Seru suara Ibu, kini melangkah mendekat ke arah kami. Eh, aku kira Ibu masih tidur. Duh, ini ....


"Ada apa, Dokter? Apa ada perlu?" Ibu duduk di sampingku, sambil tersenyum dengan senang. Aku sepertinya mengerti dengan raut wajah Ibu yang seperti itu.


Astaghfirullah, suudzon memang, tapi yang ada di dalam pikiranku sekarang ini adalah ... ya begitu deh! Gelagat Ibu mencurigakan!


"Eh, ini Bu Diah. Saya datang kesini untuk meminta tolong sama Mbak Ayu," ucapnya dengan malu-malu.


"Minta tolong apa, ya." Ibu semakin antusias.


"Kalau boleh, dan kalau Ibu mengizinkan tentunya, saya ingin meminta Mbak Ayu menemani saya ke pesta pernikahan saudara saya."

__ADS_1


Eh, apa-apaan ini. Aku belum mengiyakan loh!


"Dokter, saya belum mengatakan iya," protesku menatapnya dengan tajam. Dokter Wira tersenyum kikuk.


"Ayu, gak boleh seperti itu, ah! Dokter Wira sudah banyak menolong kita, masa kamu gak mau menolong Nak Wira!"


Eh, kenapa panggilan dari Dokter jadi Nak?


"Bu, tidak apa-apa kalau Mbak Ayu tidak mau. Mungkin Mbak Ayu sedang sibuk!" ucap Dokter Wira dengan cepat, dia merasa tidak enak hati, tersenyum dengan canggung dan terlihat lesu di wajahnya.


"Ayu gak sibuk apa-apa. Lah, kerjaannya cuma di rumah aja. Lagian Yu, sekali-kali kamu pergi ke luar, cari angin biar gak suntuk di rumah!"seru Ibu dengan menatapku.


Ibu sudah bicara, aku bisa apa? Mau protes lagi di depan tamu juga rasanya tidak sopan. Nanti saja kalau Dokter Wira pulang aku akan protes sama Ibu!


Dokter Wira kini sudah pulang, dia akan menjemputku lusa. Aku hanya tersenyum mejawabnya tadi. Terpaksa. Sebenarnya aku merasa tak enak jika sudah keluar dengan seorang pria padahal masa iddahku masih belum selesai.


"Ibu hanya tidak enak sama Dokter Wira, Yu! Dokter itu kan sudah banyak membantu kita, masa sih kamu gak mau sedikit saja membantu Dokter Wira? Lagian kan kalau bukan karena Dokter Wira juga yang perkenalkan kamu sama Mbak Wanda, kamu akan kesusahan mencari pengacara," ujar Ibu saat aku protes.


"Ayu tau kalau masalah itu, Bu. Ayu juga gak akan lupa kalau Dokter Wira yang sudah banyak membantu kita, tapi Ibu tolong deh. Ayu ini baru saja bercerai, masa iddah pun belum selesai. Apa kata orang nanti? Dan lagi, Ayu gak ingin dulu berhubungan dengan orang lain, Bu. Ayu ingin istirahat dulu dan menata hati ini kembali."


Ibu terlihat sedih dan merasa bersalah melihatku yang marah.


"Jadi Ibu salah, ya, kalau Ibu ingin Dokter Wira yang mendampingi kamu di kemudian hari?" tanya Ibu dengan sendu. Matanya terlihat sayu. Aku selalu tak tahan dan juga merasa tak enak hati dengan apa yang aku katakan tadi.


Aku memeluk Ibu dari samping, menyimpan daguku di bahunya.


"Ayu gak salahkan Ibu, tapi juga tidak membenarkan apa yang Ibu lakukan sekarang ini. Hanya saja, Ayu gak mau berhubungan dulu dengan orang lain, Ayu ingin nikmati kesendirian Ayu, dan mengurus Ibu," ucapku.


"Ya, Bu. Ayu mohon, kalau ada Dokter Wira tolong Ibu jangan seperti itu lagi. Selain Ayu gak ada hati dengan Dokter Wira, kasihan juga dia yang seperti diberi harapan oleh kita," ucapku. Ibu mengelus lenganku dan mengangguk dengan pelan.

__ADS_1


"Maafkan Ibu ya, Yu."


__ADS_2