Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku

Berbagi Cinta: Suamiku Menikah Tanpa Izinku
271. Kabar Bahagia


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu, kini Azka berusia 4 bulan. Dia sudah mulai bisa tengkurap, juga kini sudah bisa berceloteh dengan riang. Suaranya seringkali memekakan telinga, apa lagi jika orang yang dipanggilnya tidak menggubris sama sekali. Atau, justru menjadi ajang kakak dan ayahnya menggodanya. Sengaja supaya anak itu berteriak memanggil mereka.


Azka sudah bisa merespon dengan baik, baik itu dari penglihatan maupun pendengarannya. Tadinya aku sedikit takut dengan kelahirannya dulu yang lebih cepat daripada dugaan, banyak yang berkata ini dan itu tentang anak yang lahir prematur. Akan tetapi, pada kenyataannya Azka tumbuh dengan sangat baik. Bahkan kini daging yang ada di tubuhnya sangat banyak. Lihat saja pipi, tangan, dan pahanya, sangat menggemaskan dan enak untuk dicubit.


Ketiga para lelaki sedang berada di ruang bermain, mereka duduk dengan beralaskan karpet, beberapa mainan ada di depan Azka. Ini memang bukan hari libur, tapi Arga tidak berangkat ke pabrik dengan alasan tidak banyak pekerjaan dan sudah dilakukan sejak kemarin. Aku sedikit kesal jika berbicara dengannya mengenai hal ini. Sebagai bos seharusnya dia tidak seenaknya saja seperti itu, bekerja jika dia mau saja. Akan tetapi, Arga berkata jika hal itu tidak masalah, jika ada sesuatu hal yang harus dilakukan di pabrik akan ada sekretarisnya yang menghubunginya segera.


"Aku tuh sangat suka sekali bermain dengan Azka. Mumpung dia masih kecil, kalau dia sudah besar nanti dia nggak akan mau lagi main sama ayahnya." Begitu dia bicara jika aku sedang mengomelinya. Aku bisa apa jika dia sudah mengatakan hal itu, lagi pula kalau dia sudah mulai bekerja dia akan sangat fokus kepada pekerjaannya.


Suara tawa terdengar dari ruangan main tersebut, aku agak tenang juga meninggalkan mereka dan sekarang ini aku sedang menyiapkan makan siang. 


"Bu biar saya saja yang masak, Ibu bisa ikut bermain dengan yang lainnya," ucap Mbak Sus mendekat ke arahku. Lagi-lagi dia ingin mengambil alih pekerjaanku.


"Tidak apa-apa, Mbak. Lagi pula anak-anak ada ayahnya. Saya juga sudah lama nggak masakin buat mereka." Aku menolak untuk memberikan tugasku kepadanya. Mumpung anak-anak sedang teralihkan bersama dengan harga aku bisa leluasa bereksplorasi di dalam dapur ini. Benar sudah lama semenjak aku ingat terakhir kalinya memasak untuk mereka.


"Ada yang bisa saya bantu?" Mbak Sus kini bertanya kepadaku.


"Tolong bereskan meja makan saja deh, bawa nasi dan siapkan piring-piring juga. Ini sebentar lagi juga matang," ucapkan kepadanya. Mbak Sus mengganggukkan kepala tanda mengerti, dia kemudian melakukan apa yang aku perintahkan tadi. Meja makan yang kosong kini terdapat beberapa piring di atasnya, sendok dan juga masing-masing ada gelas yang belum terisi kan air. Panci nasi menyusul kemudian.


Masakan tidak begitu lama sudah matang, aku membuat dua masakan saja. Jelas Arga dan Gara tidak mau memakan kentang, mereka tidak suka dengan sayur itu. Berbeda denganku kini, sudah dari kemarin aku ingin sambal goreng kentang dengan ati ampela. Kemarin aku bicara dengan Mbak Sus untuk membeli sayuran tersebut, barulah hari ini terlaksana karena Mbak Sus baru membeli sayuran tersebut tadi pagi.


Wangi aroma masakan membuat aku semakin lapar, apalagi sekarang ini aku sedang menyusui. Azka menyusu sangat kuat sekali sehingga baru saja makan aku sudah merasakan lapar lagi. Menurut kata yang lain ya begitulah orang yang sedang menyusui, rasanya terus-terusan lapar.


"Sayang! Papa, Abang!" Aku berteriak kepada yang lainnya, memanggil mereka untuk makan siang. Arga menggendong Azka dan kemudian duduk di meja makan, begitu juga dengan Gara. Aku juga memanggil Mbak Sus, minta dia untuk memegang sementara Azka, agar tidak mengganggu kami makan. Anak itu sudah mulai bisa memasukkan apa yang dia temukan ke dalam mulutnya.


"Ayo kita makan, Mama sudah lapar," ucapku kepada keduanya. Mereka berdua menganggukkan kepala dan mulai mengambil piring serta menyodorkannya kepadaku. Begitulah setiap kali mereka makan, harus aku yang mengambilkan nasi. Sangat manja sekali. Bagaimana kalau aku tidak ada? Apakah mereka akan tetap menunggu seseorang mengambilkan nasi?


"Tumben masak kentang?" tanya Arga saat aku mengambil makanan tersebut ke atas piringku.


"Aku sudah lama pengen, tapi kan nggak ada bahannya di kulkas," ucapku. Satu gelas minuman es teh tersedia di depan piringku.


"Ma, biasa kan kalau minum itu air putih. Jangan sering minum teh apa lagi dingin. Bagaimana kalau Azka pilek?" tanya Arga mengingatkan.


"Aku haus, kayaknya panas dalam jadi pengen yang dingin-dingin," ucapku kepadanya.


Kami memulai makan siang bersama. Akan tetapi, baru saja tiga suapan aku merasakan makanan yang aku makan kini berbalik lagi ke atas. Tidak tahan, aku menutup mulutku yang hampir menyemburkan sesuatu dari dalam sana. Gegas aku berlari ke arah kamar mandi yang berada di dekat dapur.


"Huwek!!" Sesuatu yang ada di dalam perut kini keluar lagi. Aku tidak tahu kenapa padahal biasanya juga tidak ada masalah. Apakah aku sedang masuk angin?


Rasa tidak enak itu kini membuat aku kembali berjongkok di atas kloset. Lagi-lagi makanan yang aku makan maupun apa yang aku minum keluar dari sana. Sakit tenggorokan ini, rasanya perih.


"Ayu kamu kenapa?" tanya Arga terdengar suaranya di dekatku. Tangannya yang besar kini mengurut punggungku dengan lembut. Dia kembali bertanya dengan khawatir.


"Aku gak tau, rasanya gak enak. Pengen … huwekk!!!" Lagi-lagi aku memuntahkan isi di dalam perutku. Tidak tahu apa yang sedang terjadi, tidak biasanya seperti ini. Kalau pun sedang masuk angin tidak pernah sampai muntah seperti ini.


"Kamu sakit, kah?" tanya Arga kini, tidak berhenti mengusap punggungku dengan lembut. Aku menggelengkan kepala, sekilas ingat dengan sesuatu. Aku menatap Arga dengan tajam.


"Pa, tanggal berapa kemarin aku dapat haid?" tanyaku pada Arga. Dia menghentikan laju tangannya, menatapku dengan tidak mengerti, lalu menggelengkan kepalanya. Segera aku membasuh wajahku dan berkumur, lalu bergegas melangkah dengan cepat ke arah kamar. Kalender yang ada di samping tempat tidur aku lihat angkanya, beserta coretan yang ada di sana. Bulan ini aku belum mencoretnya sama sekali. Apakah aku …

__ADS_1


Sesuatu di dalam laci aku ambil, kembali aku melajukan langkah kaki dengan cepat ke dalam kamar mandi di kamar.


"Ayu!" teriak suara Arga dari luar sana menggedor pintu kamar mandi.


"Iya?"


"Kamu kenapa?" tanya Arga kini berteriak lagi.


"Aku gak apa-apa, jangan gedor pintu terus! Nanti aku juga keluar!" "teriakku lagi, wadah kecil yang tadi aku ambil kini telah terisi dengan urine, mungkin sedikit jorok, tapi aku ingin memastikan sesuatu. Test pack yang aku ambil dari meja kini aku masukkan ke dalam wadah tersebut, sebentar saja sudah pergerakan merah menuju ke atas dan lalu meninggalkan garis di sana. Dua. Aku lihat dua?


Tidak percaya dengan apa yang aku lihat kini. Aku pikir tidak akan secepat ini. Memang kami tidak menghalanginya, atau melakukan KB mandiri. Tidak punya niatan seperti itu sedari dulu.


"Ayu. Kamu baik-baik saja?" tanya Arga kini, gedoran di pintu terdengar kembali.


Aku segera meraih gagang pintu bertepatan dengan Arga yang akan menggedor kembali pintu kamar mandi.


"Kamu kenapa? Aku …."


"Aku hamil lagi, Pa." Potongku dengan cepat, membuat dia menatapku dengan diam. Mulutnya terbuka dengan lebar.


Benda pipih yang aku kenakan tadi aku perlihatkan kepada dia. Ada dua garis sekarang, terlihat jelas tidak samar seperti saat aku memakai benda ini dulu.


Akhirnya Arga tersadar dan mengambil test pack itu dari tanganku. Dia menatapnya dengan tatapan tidak percaya.


"Ini serius?!" tanyanya sambil mengangkat test pack itu melihatnya dengan lebih jelas.


"Serius aku akan punya anak lagi?" Dia bertanya gini dengan wajahnya yang terlihat aneh. Tak lama satu bulir air mata mengalir dari sana.


"Alhamdulillah!" Dia mengambilku ke dalam pelukannya dan mencium wajahku beberapa kali, kening, pipi, bibir, hidung, tidak ada yang dilewatkan.


"Alhamdulillah, aku sangat senang sekali jika ini benar. Ayo kita ke rumah sakit, periksa," ucapnya sambil menarik tanganku.


Aku menahan laju kakinya, menyingkirkan tangannya dariku membuat dia menatapku bingung dan tidak percaya.


"Kita harus bawa anak-anak ke rumah sakit juga," ucapku.


"Tidak perlu, kita saja berdua yang berangkat. Mereka kita titip saja di rumah dengan Mbak Sus," ujarnya lalu kembali menarik tanganku lagi.


Tanpa mengganti pakaian, kami pergi ke rumah sakit. Azka dan Gara kami tinggalkan di rumah.


Di mobil, aku tidak tahan dengan bau AC sehingga rasanya ingin muntah lagi. Terpaksa Arga mematikan AC dan juga membuang pewangi mobilnya keluar dari mobil. Dengan bergegas kami pergi ke rumah sakit. Beberapa orang mengantri pada dokter yang sama denganku, ada yang perutnya datar, hingga yang perutnya telah membesar. Hampir menunggu satu jam lamanya, akhirnya aku bertemu dengan dokter yang sama yang mengurusku sebelum ini.


Arga mengikutiku ke ruangan dokter, dan di sana kami melihat hal yang sama seperti lebih dari satu tahun yang lalu. Ada biji kecebong di dalam perutku!


Arga kembali mengucap syukur atas rezeki yang kami dapatkan lagi kali ini.


Pulang ke rumah, kami sudah disambut oleh Gara dengan Mbak Sus. Mbak Sus yang sudah menebak kini tersenyum dengan senang. 

__ADS_1


“Alhamdulillah. Akhirnya Abang Gara mau punya dedek lagi. Ini Abang, ini juga Abang,” ucap Mbak Sus sambil mengangkat Azka yang kini tertawa saat wanita yang semakin tambun itu mengangkatnya ke atas.


“Beneran, Ma? Abang mau punya dedek lagi?” tanya anak itu. Aku mengangguk pelan, ingin tahu reaksinya bagaimana, apakah dia akan senang seperti waktu itu atau dia punya pemikiran yang lain, takut jika dia merasa kasih sayang kami akan terbagi lebih banyak lagi kepada selain dirinya.


“Abang akan punya dedek bayi lagi, jadi Abang puhya dua adik. Abang senang gak?” tanyaku dengan menahan napas. Pasalnya, wajah dia sekarang ini datar saja sehingga ku tidak tahu apakah dia suka atau tidak.


“Suka! Yeaay!!! Banyak adik!” teriak anak itu dengan keras sambil berlari berputar dengan tangan terentang seakan membentuk pesawat terbang,


Alhamdulillah, aku lega mendengar dia senang seperti itu, Memang pikiranku e\=seringkali memikirkan hal yang jelek sehingga terkadang aku takut sendiri.


“Papa akan telepon kakek!” seru Arga lalu pergi dengan berlari ke dalam kamar.


“Abang juga mau telepon nenek!” teriak anak itu kemudian berlari ke arah di mana telepon rumah berada.


“Mbak Sus akan kasih tau kabar ini sama yang lain,” ucap asisten ku ini tidak mau ketinggalan. Dia pergi dengan membawa serta Azka ke rumah belakang.


Aku terduduk di sofa setelah kepergian mereka semua. Melihat apa yang tadi aku dapatkan dari dokter, hasil USG dengan satu titik kantong di sana.


“Ya Allah, terima kasih atas rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami,” gumamku penuh syukur. Masih tidak percaya dengan apa yang aku dapatkan.


Aku memang menginginkan anak lagi, tapi tidak menyangka jika akan sedekat ini. Bagaimana aku akan mengurus kedua anakku nanti? Azka masih terlalu kecil.


“kamu kenapa, Yu?” tanya ARga setelah kembali dari dalam kamar dan duduk di sebelahku.


“Aku lagi bingung,” ucapku.


“Bingung kenapa?” 


“Azka masih terlalu kecil, gimana aku harus urus dia? Maksudku dia saja masih ASI,” ucapku dengan sedikit bingung.


Arga mengusap lenganku, membawa aku ke dalam pelukannya. “Kenapa juga kamu bingung? Kan tadi dokter juga sudah bilang, tidak akan apa-apa kalau kamu mau menyusui Azka. Asalkan kamu makan dengan banyak, istilahnya kamu makan tiga piring untuk kasih makan dua yang lain, satu untuk kamu, satu untuk Azka, dan satu untuk calon anak kita,” ucap Arga.


“Tapi kalau kamu sekiranya gak sanggup, kita akn coba gantikan susu formula untuk Azka,” ucap Arga dengan sedih. Aku pun sedih jika Azka berganti dengan susu formula, apakah anak itu akan mau ASI nya diganti susu yang lain?


Aku menyandarkan diri pada Arga. Seperti ada rasa sesal di dalam hati ini dengan kejadian sekarang ini. Harusnya aku mendengarkan apa kata bibi dulu, untuk menunggu sampai Azka setidaknya bisa berjalan.


“Hei, kok diam? Kamu pikirkan apa?” tanya Arga padaku.


Aku menggelengkan kepala. Jika aku bicara ini dengan dia mungkin saja dia akan marah.


”Ah, aku jadi berpikir, kenapa kita tidak lakukan dengan cara aman saja, ya? Misal pakai pengaman gitu. Azka masih kecil dan kau akan sangat repot nantinya,” ucapnya dengan nada menyesal, Aku jadi menatapnya dengan bingung. Tadi dia berbinar dengan wajah yang senang, kenapa sekarang malah seperti menyesal?


“Kamu nyesel aku hamil? Tidak suka?” tanyaku padanya. Seharusnya aku senang dengan pemikirannya karena bukan hanya aku saja yang berpikir demikian, tapi rasanya … aku malah tidak suka dia bicara seperti itu.


“Eh, enggak bukan gitu. Aku cuma nyesel sama diri sendiri, nggak mikirin kesusahan kamu. Enggak ingat kamu lahiran Azka seperti apa,” ucapnya.


“Sudah, lah, bagaimanapun juga ini sudah ada, harus diterima dengan baik, rezeki,” ucapku akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2