
Aku membeku saat mendengar suara ibu yang baru saja menyalakan lampu dapur.
"Ibu kira kalian masih tidur," ucap ibu dengan melirik curiga ke arah kami.
Malunya bukan kepalang, rasanya ingin bersembunyi. Lagu lirik Arga yang ada di belakangku. Wajahnya sudah merah, sepertinya dia juga malu sama sepertiku.
"Iya Bu sudah bangun. Em, apa Gara masih tidur?" tanya Arga kepada ibu.
"Gara belum bangun, semalam minta Ibu cerita sampai larut malam. Dia bilang mengetuk pintu kamar kalian tapi tidak dibukakan," ujar Ibu lagi.
"Hah? Kapan?" tanyaku. Senyenyak apapun aku, jika ada suara seperti itu pasti akan bangun juga.
"Sebelum jam sebelas malam," jawab ibu.
Aku mencoba mengingat. Apa mungkin saat kami sedang ... Oh ya ampun. Malu.
"Tapi ya untung saja deh Gara tidak rewel. Ibu ceritakan kisah kerajaan di masa lalu," ucap Ibu lagi.
"Kalian berdua sudah selesai mandinya? Ibu mau ambil air wudhu."
Mendengar ucapan Ibu barusan aku menjadi semakin malu. Dari kalimatnya bukankah Ibu sudah tahu jika kami berada di dalam sana berdua?
"Sudah, Bu. Silakan kalau ibu mau pakai kamar mandinya," ucap Arga. Dia menyingkir untuk memberikan jalan untuk ibu masuk ke kamar mandi.
Setelah ibu masuk ke dalam sana aku segera melarikan diriku ke dalam kamar. Duh, malu sekali rasanya ketahuan. Semalam juga Ibu pasti sudah tahu dengan Gara yang tidak bisa masuk ke dalam kamar kami.
Arga masuk ke dalam kamar. "Apa ada sarung? Celanaku sepertinya kotor," ucap laki-laki ini.
"Aku carikan di kamar ibu, sebentar." ucapku padanya lalu keluar dari kamar menuju ke kamar ibu. Di dalam sana Gara masih tertidur dengan sangat pulasnya. Aku mengambil sarung milik almarhum Bapak dari lemari, lalu membangunkan Gara. Untuk kali ini gara sulit untuk dibangunkan. Hingga sampai Ibu kembali masuk ke dalam kamar.
"Sudah jangan dibangunkan tunggu setengah jam lagi," ucap Ibu padaku.
"Tapi Gara harus salat subuh."
"Kalian berdua saja dulu nanti Gara ibu yang bangunkan," ucap Ibu lagi.
__ADS_1
Aku mengangguk dan keluar dari kamar kembali ke kamarku. Di sana harga sudah menunggu, dia sudah memakai kaosku yang kebesaran. Ah, aku lupa. Seharusnya aku mengambilkan pakaian bapak untuk dia pakai.
"Aku lupa padahal baju Bapak ada di kamar ibu. Sebentar aku ambilkan."
"Tidak usah, Yu. Ini juga sudah cukup. Yang penting bersih kan? Sudah dapat sarungnya ayo kita salat berjamaah. Mana Gara. Apa kamu tidak bangunkan dia?" tanya Arga.
"Semalam Gara tidur larut, Ibu bilang akan membangunkannya setengah jam lagi dan akan salat bersama dengan ibu."
Arga mengganggukkan kepalanya lalu memakai sarung dan menggelarkan sajadah, sementara aku mengambil mukena dan sajadah yang lain untuk bersiap-siap salat bersama dengan Arga. Meski pinggang ini rasanya masih sakit, tapi tetap saja aku tidak boleh meninggalkan kewajibanku.
Hampir jam tujuh pagi, kami telah bersiap untuk kembali ke rumah. Sebelumnya aku sudah mencuci sprei bekas permainan kami semalam. Untung saja ada mesin cuci yang bisa membantu, jadi tidak sulit untukku mencucinya. Kami juga sudah sarapan. Ibu yang memaksa kami untuk sarapan di rumah.
"Dadah, Nenek. Nanti kalau Garrll libur dari sekolah Garrlla sini lagi." Anak itu melambaikan tangannya kepada ibu. Ibu membalas lembayan tangan Gara. Sedikit kecut di wajahnya. Tentu saja karena akan kehilangan kebersamaan dengan anak bawel ini. Dari semalam Ibu terlihat sangat senang bermain bersama Gara.
"Iya, sering-seringlah main ke sini," ucap Ibu sambil tersenyum dan masih melambaikan tangannya.
Gara masuk ke dalam mobil, sementara aku dan Arga masih berpamitan dengan ibu.
"Ibu baik-baik saja di sini ya, kalau ada apa-apa telepon Ayu." Pintaku pada beliau.
"Kamu juga sehat-sehat di sana, ingat nasehat Ibu semalam."
"Iya, Bu."
"Bu, saya juga pamit untuk pulang. Tunggulah sekitar dua hari lagi, saya akan bawa seseorang untuk menemani Ibu di sini. Ibu baik-baik ya, jaga kesehatan ibu. Untuk sementara ibu bersama Yu Tarni dulu," ucap Arga kepada ibu.
Ibu mengangguk dan menepuk bahu Arga. "Terima kasih, maaf Ibu sudah merepotkan ya. Titip Ayu. Tegur dia kalau dia berbuat salah," ucap ibu. Aku sedikit sebal, seperti aku ini adalah anak kecil yang tidak bisa diatur.
"Iya, tentu saja. Saya akan menjaga Ayu dengan sangat baik," ucap Arga sambil tersenyum dan mengambil tangan Ibu untuk dia cium punggung tangannya.
"Kami pamit ya, Bu." Ibu mengangguk sekali lagi dan melambaikan tangannya. Aku dan Arga berjalan ke arah mobil. Rasanya berat juga meninggalkan Ibu sendirian di rumah ini. Andai saja Ibu mau ikut dengan kami, tentu saja aku tidak akan risau. Akan tetapi, bagaimanapun juga aku harus menghormati keinginan Ibu.
"Hati-hati di jalan!" seru ibu saat kami sudah berada di dalam mobil. Ibu masih melambaikan tangannya dari teras rumah, menatap kami dengan tatapan yang sedih.
"Iya, ibu juga!"
__ADS_1
"Dadah, Nenek!" seru gara dari pintu belakang. Anak itu mengeluarkan tubuhnya dari pintu belakang dan melambai kepada ibu.
Mobil Arga nyalakan, dan dilajukan dengan kecepatan yang pelan saat keluar dari halaman rumah.
"Sayang sekali ini Nenek tidak bisa ikut," ucap Gara.
"Cerrllita Nenek semalam bagus banget," ucapnya lagi sambil mengangkat kedua jempol tangannya.
"Wah, iya kah? Bagus sekali dong. Nenek cerita tentang apa?" Tanya Arga pada putranya. Gara dengan senang hati bercerita apa yang Ibu ceritakan semalam. Dengan nada yang sangat riang dan bersemangat dia menjelaskan apa saja yang dia dengar.
Tanpa terasa kami sudah sampai di rumah. Gara segera turun dari mobil dan seperti biasa dia berlari ke dalam rumah. Aku pun yang berteriak diabaikan olehnya.
"Sudah lah, dia memang seperti itu tidak akan mendengarkan."
"Aku cuma takut dia jatuh, Ga."
"Tidak apa-apa kalau dia jatuh. Dia itu anak laki-laki, harus belajar dari rasa sakit," ucapnya dalam.
"Iya, tapi dia tetap saja masih anak kecil, kalau luka ya tentu saja menangis," ucapku padanya.
Kami berjalan memasuki rumah, terlihat Gara berlari ke lantai atas diikuti oleh pengasuhnya.
"Gara ganti baju kita berangkat ke sekolah!" Teriak Arga pada anak itu.
"Iya!" Balas Gara berteriak dari lantai atas.
"Aku juga harus berganti baju," ucap Arga sambil menjawil pakaian yang dia kenakan.
Aku ingin tertawa sebenarnya karena pakaian yang dia pakai adalah milikku. Berwarna peach dengan gambar Barbie di sana. Lucu sekali dia memakainya, sedangkan celana masih celana semalam yang dia pakai saat ke rumah ibu.
"Ayo bantu aku berganti baju," ucapnya sambil menggandeng tanganku.
"Hanya ganti baju ya, jangan yang lain!" Tunjukku kepadanya sebagai peringatan.
"Hehe, tidak akan. Palingan minta bonus tambahan," ucapnya dengan tersenyum meringis.
__ADS_1