
Hari ini aku akan pergi ke persidangan. Keadaan Ibu mulai membaik, sudah bisa berbicara seperti biasanya. Aku menelepon Sinta, meminta dia menjaga Ibu di sini, sementara aku akan pergi ke persidangan nanti agak siangan. Yu Tarni akan menyusul ke sini nanti, setelah selesai memasak dan anak-anaknya pergi ke sekolah.
Aku sudah bersiap dengan pakaian rapi, kemeja lengan panjang berwarna putih dan kerudung dengan warna krem. Bersiap untuk pergi dan kembali ke rumah dengan menjadi diriku yang baru.
Sinta telah sampai saat aku baru saja keluar dari kamar mandi. Dia sedang duduk di samping Ibu sambil menyuapi Ibu dengan bubur sedikit demi sedikit.
"Jadi berangkat sekarang, Mbak?" tanya Sinta.
"Iya. Mbak titip Ibu ya, Sin. Tolong jaga Ibu sampai Mbak kembali. Kamu ada kelas gak hari ini?" tanyaku.
"Ada, tapi nanti sih jam sebelas. Nanti keburu lah, Ibu datang kesini aku berangkat," ujarnya.
Aku berpamitan kepada Ibu dan meminta doanya untuk kelancaran urusanku hari ini.
Dengan menggunakan motor aku segera pergi menuju ke pengadilan agama. Di sana aku bertemu dengan Mbak Wanda, pengacaraku yang di rekomendasikan oleh Dokter Wira.
Sidang akan dilakukan pada pukul sepuluh nanti, tak kurang dari satu jam lagi. Aku dan Mbak Wanda sudah menunggu, terkadang melihat ke sekeliling, tapi sampai hampir di jam sidang di mulai, orang yang kami tunggu tidak kunjung datang juga.
Beberapa kali aku melihat ke arah jam tangan dan sesekali melihat hp ku. Tidak ada notif pesan atau sekedar panggilan dari Mas Hilman. Rasa gelisah pasti ada, karena ini adalah sidang pertamaku.
Apa dia sengaja tidak akan datang kemari?
"Tenangkan diri Mbak Ayu. Kita tunggu saja sampai nanti," ucap wanita muda itu padaku. Aku hanya mengangguk menanggapinya.
Sampai persidangan itu dimulai, Mas Hilman tidak datang juga hingga akhirnya mediasi kali ini ditunda.
Hakim hanya memeriksa berkas laporanku dan bertanya apa sebab aku mengajukan permohonan cerai. Aku tak mau lagi malu-malu mengatakan sebab ingin bercerai dengan dia. Ku ceritakan saja semua yang terjadi pada kami. Semua, tanpa aku menutupi satupun yang terjadi.
Hakim hanya manggut-manggut mendengarkan ceritaku.
Sidang mediasi hari ini ditunda beberapa hari ke depan, karena sampai sidang selesai ternyata Mas Hilman tidak datang. Hakim memutuskan untuk mempertemukan kami di sidang selanjutnya.
"Tenang saja, Mbak Ayu. Kalau Hilman tidak datang juga di sidang selanjutnya, jalan Mbak Ayu untuk terbebas dari dia akan lebih mudah." Mbak Wanda mengusap lenganku. Sepertinya merasakan jika hati ini sedang gundah.
__ADS_1
Aku tersenyum mendengar ucapan Mbak Wanda barusan. Percayakan saja kepada dia yang membantu perceraian ini. Entah berapa aku harus membayar jasanya nanti, yang penting aku ingin segera terbebas dari Mas Hilman.
"Terima kasih, Mbak."
Kami berdua pulang ke tempat masing-masing. Aku kembali melajukan motorku ke rumah sakit.
Semenjak Ibu masuk ke rumah sakit kemarin aku belum lagi pulang ke rumah, segala kebutuhanku Sinta yang bawakan.
Motor baru saja aku parkirkan bersama dengan motor lain yang telah lebih dulu ada disini. Tidak ada tempat yang teduh membuat aku pasrah membiarkan motor ini kepanasan. Baru saja melangkah beberapa langkah, aku terhenti karena mendengar suara seseorang memanggil namaku.
Setelah menoleh, kulihat Mas Hilman berjalan mendekat ke arahku dengan tergesa.
Aku malas sekali melihat dia ada di sini. Bukannya tadi dia datang ke pengadilan untuk menyelesaikan urusan kami!
"Ayu, bisa kita bicara?" tanya Mas Hilman kini mengikuti langkah kakiku.
"Bicara apa lagi?" tanyaku dengan malas.
"Kamu ternyata beneran daftarin perceraian itu?" tanya Mas Hilman.
Aku tak menghentikan langkah kaki ini, terus saja berjalan dengan tujuan menghindarinya. Akan tetapi, langkah kaki ini terhenti saat tanganku dia tahan.
"Aku sudah bilang kalau aku gak mau, Yu!" serunya, menatapku dengan tatapan memohon.
Aku mencoba melepaskan tangannya dariku.
"Terserah Mas Hilman, tapi laporan juga sudah masuk ke sana dan aku gak mau cabut gugatanku dari sana!"
"Yu ...."
"Kamu itu maunya apa sih, Mas? Kalau kamu ingin tetap dengan aku, aku gak mau!" seruku setengah berteriak. Ku hentakkan tanganku darinya dengan keras hingga membuat tangannya terlepas dariku. Beberapa orang yang ada di sana menatap kami dengan heran.
"Lebih baik kamu pulang saja, Mas. Dan persiapkan diri kamu untuk panggilan selanjutnya. Kamu harus datang untuk menyelesaikan urusan kita, karena aku gak mau lagi bertemu dengan kamu!" cerca ku lalu pergi dengan cepat.
__ADS_1
"Ayu! Jangan begitu, Yu! Aku gak mau pisah dengan kamu!" teriak Mas Hilman dari kejauhan sana. Aku tak peduli, kini terus melangkahkan kakiku menjauh dari pria itu.
Dari kejauhan sana terlihat Dokter Wira yang tengah berdiri menatapku. Entah sedang apa dia di sana. Kenapa aku sama sekali tidak menginginkan dia ada di saat seperti ini.
Aku berharap kalau dia pergi dari sana sekarang juga, karena jujur saja aku sedang tidak ingin bertemu dengan dia. Akan tetapi, keinginanku sepertinya tidak akan terwujud karena aku lihat dia masih saja berdiri di depan sana sampai aku mendekat ke arahnya. Sial, jalanan menuju kamar Ibu hanya ini yang terdekat.
"Mbak Ayu tidak apa-apa?" tanya Dokter Wira, dia melihat ke arahku lalu pandangannya itu dia alihkan ke belakangku. Aku juga melakukan hal yang sama, takut jika Mas Hilman datang dan kemudian terjadi hal yang tidak diinginkan seperti tempo hari.
"Tidak apa-apa, Dokter," jawabku. Namun, pandangan mata ini masih menatap Mas Hilman yang kini hanya diam di tempatnya, tak lagi mendekat. Kami beradu pandang, terlihat sorot matanya yang kecewa entah karena apa, lalu dia memilih untuk memutar tubuhnya dan pergi dari sana. Menjauh, hingga tak terlihat lagi tubuhnya di antara mobil yang kini berderet rapi.
Aku berucap syukur di dalam hati ketika melihatnya pergi, sempat ada ketakutan jika dirinya akan mendekat dan juga memaksaku kembali, atau dengan adanya Dokter Wira disini akan menimbulkan kekacauan yang tidak diinginkan.
"Apa dia mengganggu, Mbak Ayu?" tanya Dokter Wira. Aku menggelengkan kepalaku.
"Tidak, Dokter. Tidak ada apa-apa," jawabku. Dokter Wira seperti yang tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Wajahnya menatapku dengan tajam seakan dengan tatapaannya itu dia ingin menemukan jawaban dari pertanyaannya, tapi hal itu yang membuat aku ingin pergi sekarang juga.
Terdengar helaan napasnya yang kasar. Aku memalingkan wajahku ke arah lain menghindari tatapan yang diberikan Dokter itu terhadapku.
"Ya sudah. Syukurlah kalau Mbak Ayu gak apa-apa. Saya sempat khawatir tadi saat melihat Mbak Ayu dengan Hilman," ujarnya kini dengan nada yang lembut.
"Apa sekarang Mbak Ayu akan ke ruangan Bu Diah?" tanya dokter itu.
"Iya, saya tentu akan ke ruangan Ibu, tapi sebelumnya saya mau ke toilet dulu. Kalau Dokter mau ke ruangan Ibu, silakan Dokter duluan saja." Terllihat raut wajahnya yang kecewa, tapi senyum tipis kemudia dia perlihatkan juga di bibirnya.
"Baiklah, kalau begitu saya duluan," ucapnya lalu segera pergi setelah mendapatkan jawaban dariku.
Dokter Wira sudah menghilang di ujung lorong, sementara aku berbelok ke arah toilet. Baru aku sadar saat aku lewat di depan toilet itu, kamar Ibu kan ada toilet juga!
"Astaghfirullah!" seruku sambil menepuk jidatku. Kenapa hal ini tidak terpikirkan olehku, bisa saja Dokter Wira berpikiran kalau aku sedang menghidarinya, meski memang iya, sih!
"Ah, masa bodoh lah!" Aku memilih tak peduli, kini mulai melangkahkan kaki ini ke dalam toilet. Sedetik aku kembali keluar lagi dari sana saat tadi melihat seseorang keluar dari toilet pria. Kuperhatikan punggungnya dan juga gaya rambutnya, seperti aku kenal, tapi siapa?
***
__ADS_1
Hay, Hay mampir yuk