
Aku termenung di ruang keluarga setelah Ibu tertidur di dalam kamarnya. Luka goresan di tangannya sudah aku bersihkan dan aku beri plester. Beruntung luka itu tidak dalam, hanya sedikit saja tapi sudah membuat darah segar keluar dari kulit yang mulai keriput itu.
Mas Dirga duduk di sampingku. Punggungnya dia lemparkan cukup kasar pada sandaran kursi. Dia menghela napasnya dengan berat.
Kami hanya terdiam tidak saling berbicara. Aku dan Mas Dirga punya masalah tersendiri. Tadi saja aku mendengar Mas Dirga dan istrinya bertengkar. Suaranya tentu terdengar lumayan keras, karena Mas Dirga tinggal di rumah ini juga.
Rumah ini lumayan besar, Bapak tidak ingin Mas Dirga jauh darinya. Mas Dirga adalah anak sulung di keluarga ini. Dia kesayangan Bapak, sedangkan aku lebih dekat dengan Ibu daripada Bapak. Setelah menikah, Mas Dirga tinggal di rumah ini juga. Bagian samping rumah yang tadinya lahan pekarangan ditambahkan bangunan dengan beberapa ruangan. Bapak sendiri yang mengerjakannya bersama dengan Mas Dirga.
Bapak di masa mudanya adalah seorang tukang bangunan meskipun bukan menjadi mandor, hanya menjadi kuli, tapi pengalaman puluhan tahun membuat Bapak bisa melakukan hal dari yang mudah hingga bagian rumit.
Waktu itu Mas Dirga masih tinggal dalam satu rumah ini sebelum Bapak membangun ruangan tambahan itu, tapi Ibu dan istri dari Mas Dirga lama kelamaan sering cekcok entah karena apa. Maka dari itulah. Bapak memutuskan untuk membangun ruangan tambahan di samping rumah, memakai halaman yang cukup luas untuk tempat tinggal anak sulungnya itu. Sedangkan aku, Bapak bilang rumah ini adalah bagianku. Mas Dirga tidak protes dengan perkataan Bapak, karena rumah ini aku yang menyumbang sebagian besar dana merenovasi beberapa tahun lalu.
Mas Dirga tidak seberuntung aku. Meski pendidikan kami sama, tapi aku lebih beruntung karena bisa masuk ke dalam perusahaan besar. Dia kini hanya kerja di pabrik. Perusahaan tempatnya bekerja dulu mengalami pailit dan tidak bisa diperbaiki. Oleh karena itu, perusahaannya mengadakan pemutihan, memilih beberapa orang untuk bertahan disana, dan sisanya dirumahkan entah sampai kapan, tanpa kejelasan status dan juga nasib mereka.
Mas Dirga yang saat itu sedang membutuhkan banyak biaya untuk lahiran Yudi akhirnya melamar ke pabrik yang sedang membutuhkan karyawan, setelah berjuang kesana kemari mencari perusahaan. Sulit sekali mencari perusahaan yang membutuhkan karyawan. Jika saja perusahaan tempatku bekerja sedang membutuhkan karyawan tentu aku akan memasukkan Mas Dirga ke kantor yang sama dengan ku. Sayang, dulu aku masih karyawan baru dan sekarang prusahaan tidak membuka lowongan pekerjaan. Sungguh kasihan sekali aku kepadanya mendengar cerita tentang kesulitannya. Ya kami –meskipun kami ini adalah anak laki-laki–, tapi kami saling terbuka satu sama lain.
"Mas bertengkar lagi ya dengan Mbak Yana?" tanyaku kepadanya. Kakak laki-lakiku itu hanya menghela nafasnya dengan berat dan menghembuskannya, terdengar kasar.
__ADS_1
"Aku tadi bicara dengan Yana soal Yudi yang dilarang dekat dengan ibu, tapi Yana marah. Aku nggak tahu lagi harus bujuk dia seperti apa. Dia tidak mau Yudi dekat-dekat dengan ibu, atau dia akan membawa Yudi pulang ke rumahnya." Mas Dirga berbicara dengan lesu. Dia tampak tidak bersemangat sama sekali. Terlihat bingung pada wajahnya.
"Maaf ya, Man. Mas gak bisa membujuk Ibu ataupun Yana," ucapnya dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, Mas. Ibu memang orangnya keras kepala. Bapak juga kadang nggak bisa hadapin ibu," ucapku sambil menatapnya.
"Aku nggak tahu lagi harus bicara dengan Yana seperti apa. Sifatnya dan ibu sama-sama keras. Aku nggak nyangka dia bisa seperti itu, padahal dulu dia adalah wanita yang lemah lembut." Mas Dirga menundukkan kepalanya, jari-jari tangannya saling bermain di atas pangkuan pertanda jika dia sedang dalam keadaan risau dan resah.
"Sudahlah, Mas."
"Lalu bagaimana sama kamu?" tanya Mas Dirga kepadaku.
Aku menggelengkan kepalaku.
"Kamu tetap mau menuruti apa kata ibu?" tanya Mas Dirga lagi.
"Sepertinya begitu. Mas tahu sendiri bagaimana sifat Ibu. Ibu orangnya gigih dan keras kepala. Kalau Ibu tidak mengancam untuk melakukan hal yang berbahaya seperti tadi lagi sih tidak apa-apa. Bagaimana kalau Ibu nekat lagi?" tanyaku kepadanya.
__ADS_1
Kami sama-sama menghela napas dengan berat.
"Bagaimana dengan Ayu?" tanya Mas Dirga lagi. Aku menggelengkan kepalaku. Sudah pasti Ayu akan menolak rencana ini.
"Kamu mau bicara sama dia?" Aku menggelengkan kepalaku tanda tahu.
"Aku bingung, Mas. Sepertinya tidak akan ada wanita yang mau dimadu," ucapku kepadanya.
"Bagaimana kalau kamu bicara sama Bapak? mungkin Bapak bisa membujuk Ibu," ucapnya lagi.
"Iya. Nanti aku akan bicara sama Bapak kalau Bapak pulang," jawabku.
Hari sudah hampir gelap di luaran sana saat aku melihat jam yang ada di dinding. Sudah mulai petang. Aku segera bangkit dari sofa.
"Aku pulang dulu, deh. Tolong Mas jaga Ibu," pintaku. Mas Dirga menganggukan kepalanya. aku segera berjalan keluar dan kali ini benar-benar masuk ke dalam mobil.
Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar tidak mau menghianati istriku. Menikah dengan orang lain sudah pasti akan membuat istriku itu terluka hatinya, tapi bagaimana dengan Ibu? Bagaimana kalau ibu nekat lagi?
__ADS_1