
"Aku capek, Yu," keluh Arga dengan suara yang lemah, terlihat lemas dia saat ini berbaring menghadap ke langit-langit kamar. Tubuhnya yang polos dia biarkan tanpa tertutupi selimut. Aku pun sama sekarang, tengah mengatur napasku yang masih ngos-ngosan. Permainan yang luar biasa, setelah tadi kami bermain di tengah air, kini bermain kembali di daratan, di tempat yang nyaman.
Jujur, milikku sakit, perih. Memang terasa sekali, entah benar apakah milikku yang menyempit atau miliknya yang membesar, pembuktian jika aku memang puas atas perlakuannya sehingga mungkin menjadi ingin lagi dan lagi.
"Aku juga capek, Pa," ucapku lalu melirik kepadanya, tidak ada sahutan lagi. Aku melihat dia kini tengah menutup matanya.
Selimut yang ada di bawah kaki aku naikkan pada tubuhnya. Lantas setelah itu aku pergi ke kamar mandi, membersihkan diri untuk yang kedua kalinya.
Lelah, sakit, perih, tapi jujur aku bahagia. Warna merah di leher dan juga tulang selangka bertambah dua akibat permainan kami barusan.
Selesai mandi, aku masih melihat Arga tertidur. Dia terlihat kelelahan sekali. Jam yang ada di dinding aku lihat, sepertinya kami keterlaluan dalam bermain, setelah kami tadi masuk ke dalam kamar mandi dan bermain naik turun barusan, lumayan juga kalau di hitung dalam menitan. Puluh menit jadinya. 🙈
Lapar kini mendominasi perutku, aku keluar dan mencari makanan di dapur. Mbak Sari sedang memasak entah apa di sana.
"Mbak masak apa?" tanyaku penasaran, wanginya sangat menggoda. Oh, aku sedikit sebal jika sudah seperti ini. Kenapa aku jadi suka makanan milik orang lain? Apakah itu hal yang baik?
"Ini masak mie instan, Bu." Tunjuknya pada makanan yang ada di atas kompor.
"Wangi, ya." Aku mencoba menahan diri, tapi rasanya ingin makanan tersebut.
"Ibu mau? Nanti biar saya bikin yang lain," ucapnya menawarkan.
"Eh, kalau boleh sih mau, tapi kan saya dilarang makan mie instan," ucapku sedih. Rasanya air liur sudah hampir menetes meski hanya aromanya saja.
"Kalau mie telur boleh gak? Kalau boleh saya buatkan?" tanyanya.
"Boleh mungkin, mau bikinkan buat saya ya?" tanyaku.
"Mau lah, Bu. Masa gak mau. Sebentar deh, saya siapkan dulu," ucapnya lalu mengambil bahan yang lain di dalam kulkas dan di atas lemari.
Mie yang dia masak kini sudah matang dan dia pindahkan ke dalam mangkok kaca.
"Saya boleh icip sedikit gak?" tanyaku malu. Tak tahan rasanya inginkan makanan itu.
Duh, dedek. Kenapa harus mau makanan orang lain?
Aku mengusap perutku, semoga saja setelah lahir nanti tidak ada lagi drama inginkan makanan orang lain seperti ini.
"Boleh dong, Bu. Tapi itu pedes loh." Sari mengambilkan sendok untukku. Memang kuah yang ada di sana lumayan merah dengan saos dan juga potongan cabai di atasnya, terbayang rasa segar jika nanti masuk ke dalam mulutku.
__ADS_1
"Mbak Sus gak ada, kan?" Aku bertanya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, antisipasi jika ada asisten yang satu itu pasti akan mengoceh panjang kali lebar.
"Gak ada, tadi pamitnya ke supermarket mau beli ayam," terang Sari. Aku tersenyum senang, kini mulai menyendok kuah yang ada di mangkok tersebut. Enak, segar sekali.
"Bu, ini mau pedas atau tidak?" tanyanya. Irisan bawang merah dan bawang putih serta tomat dia masukkan ke dalam wajan.
"Boleh, tapi dikit aja lah." Kuah yang ada di mangkok aku ambil lagi, menikmatinya untuk yang ketiga kali.
Tergoda untuk mengambil kuah lagi untuk yang keempat dan kelima, tapi aku kasihan juga pada Sari, tak enak hati menghabiskan makanan miliknya.
"Masih lama? Ini bawa ke sana saja, nanti saya bisa habiskan, lagi," Ucapku seraya mendorong mangkok tersebut menjauh dari hadapanku. Sari tertawa kecil dan mengambil mangkok tersebut dan dia simpan di dekat kompor.
"Gak lama, kok. Palingan dua menit lagi, ini sudah mulai empuk mie nya. Mau ditambah tomat lagi gak di atasnya? Biar seger?" tanya Sari lagi.
"Gak ah, jangan banyak tomat, kalau ada sih kasih irisan kol mentah ya, atau tauge kalau ada, masukin nanti kalau mienya mau diangkat." Pintaku.
"Siap!"
Aku menunggu sambil menjilati sendok yang ada di tangan. Gak sabar rasanya ingin makan.
"Sudah jadi," ucapnya lalu mengambil mangkok yang berbeda darinya dan memindahkan mie milikku. Wanginya sama, semoga rasanya juga tidak mengecewakan.
"Terima kasih. Kamu mau makan di mana?" tanyaku saat dia berbalik dan mengambil mangkoknya.
"Makan di belakang, Bu. Deket kolam ikan," ucapnya.
"Ikut, deh."
"Oh, sebentar. Ambil nampan dulu." Sari mengambil nampan dari rak piring dan membawa milik kami berdua ke belakang, tak lupa dengan dua gelas air putih.
Kolam ikan yang baru saja jadi dua minggu yang lalu kini sudah ada isinya meski belum terlalu banyak, untuk Gara yang sering kali merengek karena ingin ikan di akuarium yang ada di rumah ibu. Maka dari itu, Arga membuatkan kolam ikan dengan ukuran yang tidak terlalu luas, hanya sepanjang satu kali tiga meter, memanjang karena menggunakan lahan yang tersisa tepat di dekat ruang laundry.
Kami duduk di teras sambil menikmati pemandangan ikan yang berenang ke sana dan kemari. Sangat sejuk terlihat karena Arga juga membuat air yang keluar dari dindingnya sebagai hiasan, tanaman dari plastik menghiasi di beberapa sudut dinding tersebut.
"Enak juga masakan kamu," pujiku pada Sari.
"Hehe, makasih, Bu. Sari belajar dari Mbak Sus," ungkapnya.
"Iya, dong. Harus mau belajar masak. Mumpung ada yang mau ngajarin. Nanti kalau sudah berumah tangga, gimana coba kalau gak bisa masak?" tanyaku padanya.
__ADS_1
"Iya, Bu. Bener sekali. Sari juga mikirnya gitu, sih.
"Oh, ya. Kamu kan sudah lama gak pulang, kalau gak salah selama saya di sini kamu gak pernah cuti ya?" tanyaku padanya. Dia menggelengkan kepalanya.
"Gak pernah, Bu. La wong siapa yang mau saya datangi? Ibu sudah tidak ada, bapak gak tau kemana, kakak kerja di luar kota. Ya, mau kemana pulangnya?" ucapnya dengan sedikit tawa di bibirnya. Akan tetapi, aku melihat tawa perih di sana.
"Eh, maaf, saya tidak tau," ucapku dengan rasa tak enak hati. Sungguh aku tidak tahu dengan apa yang terjadi pada Sari. Salahku karena aku tidak bertanya pada Mbak Sus terlebih dahulu.
"Gak pa-pa, kok, Bu. Saya sudah ikhlas jalaninya. Lagipula sudah menjadi takdir ya mau bagaimana lagi?" ucapnya, satu sendok mie dia masukkan ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan pelan.
"Saya sudah ikhlas kok, sudah pasrah. Lagi pula kalau kehidupan kita terus disesali, diratapi, dan dibikin pusing kapan kita akan bahagia? Iya, toh?" ucapnya lagi. Aku mengangguk setuju dengan pemikiran gadis usia awal dua puluh tahunan ini.
"Iya, benar. Saya juga pernah hidup seperti itu. Sedih, sakit, rasanya ingin menangis terus, tapi ya kalau diratapi terus justru akan bikin bad mood, bikin gak bisa maju," ucapku padanya.
Makanan yang ada di mangkok kami habiskan semua, tanpa sisa. Sambil mengobrol ringan, lebih banyak tentang kehidupan Sari yang tidak aku tahu. Aku kagum dengan dia, ditinggalkan oleh ibunya di usia muda, diabaikan oleh ayahnya dan hidup hanya berdua dengan kakaknya, dan kini sang kakak harus bekerja di luar kota sedangkan Sari berada di sini.
"Kenapa kamu gak ikut kakak?" tanyaku penasaran.
"Kakak kerja di rumah juga, Bu. Mana bisa saya ikut, kalau butuhnya dua orang sih bisa. Butuh asisten cuma satu."
"Lalu komunikasi? Lancar?" tanyaku lagi.
"Alhamdulillah, lancar. Sering telepon kok."
"Alhamdulillah."
Pembicaraan kami terhenti saat Gara memanggil dari dalam rumah. Aku sama berteriak menyuruh dia ke tempat ini. Tak lama Gara terlihat sambil mengucek matanya.
"Mama Abang lapar," ucap Gara seraya berbaring dan merebahkan kepalanya di atas pangkuanku. Ku usap rambutnya yang sedikit basah oleh keringat.
"Sama Mbak Sari aja, yuk. Abang mau makan apa?" ajak Sari pada Gara. Dia menggelengkan kepalanya.
"Makan di sini," ucapnya dengan lesu. Tak ada semangat sama sekali.
"Baso masih ada?" tanyanya.
"Kayaknya habis, sih," ucap Sari pada Gara.
"Apa aja deh," tambahnya. Sari segera pergi ke dapur sambil membawa mangkok kosong milikku dan miliknya. Tak lama dia kembali dan membawa makanan untuk Gara.
__ADS_1
Gara disuapi, anak itu makan dengan sangat lahap sekali, padahal tadi dia sudah makan dengan bakso lumayan banyak.